
^^^New York, December 2021^^^
...***...
Suasana akhir tahun yang menyenangkan. Banyaknya pertujukan di sepanjang jalanan tak lupa juga jalan yang ramai akan pengujung yang berdatangan untuk sekedar berlibur ataupun sekedar singgah untuk beberapa hari.
Yang jelas kedua sosok itu, sedang menikmati suasana akhir tahun juga di sudut jalanan sambil tertawa ria seperti orang-orang pada umumnya. Siapa yang tahu jika cowok di sebelah cewek tersebut adalah pemimpin perusahaan terkenal di beberapa negara baik Asia maupun Eropa. Sedangkan gadis disebelahnya tak lupa juga ia merupakan anak dari seorang pengusaha terkenal yang jarang di ketahui orang terkait statusnya tersebut karena beberapa tahun terlewat ini ia pandai sekali menutup siapa dirinya.
Semua itu dilakukan hanya demi ketenangan dan mendambakan hidup bergaul dengan siapa saja tanpa dibedakan sendiri.
“Gres! Lo rencana mau menetap di sini atau balik ke Indo?” Sean menatapnya menunggu jawaban.
“Gue masih mau menikmati hidup di sini. Bila perlu mau bekerja saja dulu di negara ini. Gue pikir-pikir terlalu sedu jika harus kembali secepat itu.” Gres menikmati setiap objek terlewat oleh langkah kaki mereka yang memutuskan berjalan-jalan sebentar menikmati suasana malam.
“Lo mau coba kerja disini?” tanya Sean tak percaya. Ia hanya mengira jika Gres mungkin sudah rindu untuk kembali setelah beberapa tahun ini.
“Hm. Buat nambah pengalaman mungkin!” jawab Gres sambil sebelah kakiknya menendang beberapa batu kecil di depannya.
“Baiklah. Kalau begitu gue juga akan berlama-lama juga disini bareng lo!” Sean menyolek dagu Gres yang tengah menatapnya jengah dengan keputusan yang ia ambil.
“Cih, ngapain ikut-ikutan lo? Bukannya lagi sibuk tuh perusahaan lo di beberapa tempat? Lagian lo juga kan udah kelar kuliahnya gak punya pikiran buat nambah cabang lagi?” Gres risih dengan tangan Sean yang malah berujung merangkul sebelah tangannya.
“Ngapain gue beri gaji besar pada orang-orang hebat di perusahaan kalau gue sendiri yang turun tangan!” Sean yang selalu percaya diri dan tidak mau merendah jangan lupa itu.
“Ya udah cari kesibukan lain atau cari hal yang belum lo kuasai mungkin!” usul Gres lagi.
“Lo ngapain desak gue buat jauh dari lo atau sibuk dari semua urusan? Palingan tinggal urusan cewek yang belum gue kuasai mungkin!” ujar Sean sedikit menatap jauh.
“Mana ada cewek yang suka sama lo!” ejek Gres.
“Dihh, gak tahu aja lo bagaimana cewek menanggapi gue di luar sana! Semua orang menyukaiku kalo lo lupa.” Ujar Sean percaya diri dan memang kenyataannya juga seperti itu. siapa yang tidak menyukai sosok Sean coba.
__ADS_1
“Siapa bilang? Gw nggak tuh!” Gres menaikan alisnya makin mengejek.
“Gw bilang semua orang bukan babi!” ujar Sean balik menyerangnya.
“Yak! Lo ngomong kalo gw babi ya!” teriak Gres tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
“Lo yang bilang sendiri tuh, barusan.” Ujar Sean merasa menang.
“Bagimana bisa sifatmu sejelek itu hah?” ujar Gres kesal dan tak percaya dia diserang balik.
“Sifat gw terinspirasi dari muka lo! Makanya jelek!” Sean makin menjadi-jadi lagi.
“Sean! Apakah lo ada niat buat mati gitu? Gw bantu lo serius!” Gres dengan tatapan mematikan melihatnya yang jauh dari jangkauannya sekarang.
“Gak ada niatan kok. Masih mau menikmati kehidupan ini dengan tenang dan damai seperti sekarang ini.” Ujar Sean terkekeh.
“Baiklah. Kau menang saja untuk yang satu ini.” Ujar Gres mengambil tempat di ujung bangku taman pinggir jalan tersebut.
“Beli aja sendiri. Noh, banyak yang jual.” Ujar Gres masih kesal dengan yang tadi.
“Gw malas Gres. Apa salah lo tinggal ngasih gw yang udah ada di tangan lo sekarang, gak bakal gw abisin deh. Janji.” Ujar Sean yang sudah benar-benar haus.
“Kalau malas ya udah gak usah minum!” balas Gres makin menjauhkan botol minumnya.
“Ya, Gres. Gue udah cegukan juga lo masih tega gak mau ngasih!” ucap Sean memelas dikasihani.
“Tahan nafas aja!” balas Gres.
“Berapa lama?” tanya Sean serius karena bakal mengira cegukannya akan berhenti.
“Selamanya!!” ucap Gres santai.
__ADS_1
“Nanti gw mati dong!” jawab Sean menatapnya heran.
“Setidaknya lo bisa berhenti cegukan!” ujar Gres mulai tersenyum akan menang.
“Lo balas dendam ya sama yang tadi?” tanya Sean yang akhirnya sadar dengan suasana barusan.
“Menurut lo?” Gres menaikan alisnya sebelah.
Sean yang merasa di kerjaipun bertindak untuk membalas. Dengan cara menatap Gres lebih dekat, semakin dekat diikuti Gres yang makin menjauh dengan menggeser duduknya makin di ujung bangku. Sean masih mengikuti pergerakan Gres dengan terus maju dan begitu saja terus sampai kedua tangannya mengapit badan Gres di ujung bangku tanpa ada pergerakan dari Gres selain tatapan dari pupil mata indah miliknya. “cantik” batin Sean dalam pandangannya yang terpaku. Mukanya makin dekat sampai hembusan nafas terasa di kulit wajah Gres.
Sesenti lagi hidung mereka akan bertemu sampai botol minum itu sudah berpidah di tangan Sean pun Gres masih belum sadar. Senyum licik terbit dari wajah Sean mampu menyadarkannya kembali “Yak bocah iseng!” ujar Gres disertai tangannya yang sudah mencubit kuat perut Sean yang sudah meringis merasakan panas dan sakit di bagian yang tercubit dan belum terlepas juga tangan Gres dari sana.
“Ampun! Ampun Gres!!” rintih Sean dengan tangan yang terus memegang botol minum tersebut. Gres yang merasa cukup pun melepaskan tangannya dan tertawa puas, “mampus lo!” ujarnya makin kencang tawanya. Sementara Sean yang sambil meringis meneguk air dari botol minumnya sampai habis tak menyisakan lagi.
“Gimana? Enak? Makanya jangan jahil jadi orang.” Ujar Gres masih sedikit terkekeh.
“Gres berhenti gak lo ngetawain gue?” ujar Sean kesal.
“Gak mau!” jawab Gres yang mulai tertawa lagi.
“Dasar bocah ngeselin emang lo!” ujar Sean masih kesal.
“Emang. Masalah!” ejek Gres dengan tersenyum menantangnya.
Sean yang merasa tidak terima di kerjai sampai cegukan pun makin kesal hingga dengan kecepatan kilat pun menarik ikat rambut Gres dan membawanya lari sekencang mungkin, yang ia yakin persis Gres tengah mengejarnya dari belakang.
“Yak! Sean balikin gak?” ujar Gres yang berakhir lelah dan berhenti mengejar.
“Ayok sini! Nih, gue balikin.” Ujar Sean di depan sana tapi Gres malah berhenti dan duduk di trotoar jalanan. Sean yang melihat itupun kembali balik dan menghampiri Gres dan duduk di sebelahnya seraya mengembalikan ikat rambutnya, “dasar lemah. Baru juga berapa meter udah capek,” ujar Sean mengacar gemas rambut Gres lalu kembali merapikannya lagi dengan pelan.
^^^_21 des. 2021^^^
__ADS_1