
...Happy Reading :)...
'
'
Banyak hal boleh terjadi. Banyak hal juga boleh kita lakukan semasih kita bisa dan mampu melakukannya.
Rajin sewajarnya. Malas juga perlu dilakukan sewajarnya dan beberapa kali juga butuh begadang untuk memikirkan hal-hal unfaedah.
Sesekali jalan tanpa tujuan juga perlu. Berbicara sendiri di waktu sendiri juga sangat perlu.
Marah tanpa hal yang jelas, menangis dengan tiba-tiba karena cuma ingin menangis saja, atau karena lelah tiba-tiba mau menumpahkan dalam tangis.
Tiba-tiba ingin teriak hanya untuk merasa lega. Minum kopi untuk setiap jam pada jadwalnya juga harus perlu. Makan yang sedikit menantang dan minum yang sedikit bergengsi buat gaya juga perlu sesekali.
Hidup sebenarnya adalah serangkaian melakukan banyak hal yang tidak menutup kemungkinan juga ada beberapa intuisi gila di sela banyaknya hal yang di lakukan.
Sebenarnya malas untuk belajar juga perlu heheh, malas mengerjakan tugas misalkan, malas masuk kelas juga misalkan, wajar sih.
Tapi apa pun itu yang ada di depan tetap terdepan dan tak akan terlewat. Jadi, kita perlu menghadapinya juga.
'
'
"Joanaaa! Bisa-bisanya lo nawarin gue ke kafe di jam yang padat ini!" ujar Gres sedikit kesal.
"Kita tuh perlu makan untuk tetap bertahan hidup dan bisa berkuliah dengan lancar! So, kita harus makan sekarang!" ucap Joana yang sudah duduk dengan tampang memelasnya di depan bangku Gres.
"Jangan bilang lo lupa gue hari ini ada jadwal kuliah lintas kelas bisnis di gedung yang berbeda. Gue gak mau ya terlambat masuk dan menjadi pusat perhatian!" seru Gres tidak mau menerima ajakan sahabatnya.
"Tapi lo juga kan belum makan!" tegas Joana.
"Dia udah makan bareng gue tadi!" seru Justin yang tiba-tiba muncul di depan kedua sahabatnya.
"Teganya lo berdua! Gue mah apa? cuma teman ngontrak di antara kita," ujar Joana mendramatis.
"Eh bocah. Mana ada kita ngajak lo makan kalo lo aja lagi enakan jalan sama pacar lo itu!" kesal Justin dengan tingkah dan rengekan Joana.
"Tau tuh! Emang lo gak di kasih makan sama pacar lo?" Tanya Gres lagi.
"Mana sempet. Orang dianya aja buru masuk kelas karena terlambat balik dari perpustakaan kita!" Kesal Joana lagi.
"Nah, itu sih resiko lo! Jangan protes sama kita!" seru Justin yang sudah mengambil tempat duduk di samping Gres.
"Lo bisa gak sih, gak usah adu bacot sama gue yang lagi lapar?" kesal Joana.
"Lo yang duluan!" seru Justin tak mau kalah.
"Lo!" Joana.
"Lo!!" Justin.
Jangan tanya Gres di mana dia mah udah malas jika dua curut itu bertengkar. Biarkan saja mereka akan lelah dengan sendirinya. Ia bahkan tak ada niat sekalipun untuk melerai.
"Permisi!!" ucap seseorang dengan sedikit lantang dalam ruang kelas tempat Gres dan teman-temannya duduk dengan masih ada beberapa mahasiswa lainnya juga yang masih duduk di bangku mereka.
Dan hebatnya, ucapan dari orang tersebut juga mampu menghentikan pertengkaran hebat, eh salah pertengkaran ringan, salah lagi. Maksudku adu bacot kedua manusia di samping Gres sekarang.
"Woah. Untunglah ada orang lain yang punya niat baik membantu untuk mengakhiri drama mereka ini!" ujar Gres malas tanpa menoleh ke arah orang yang sedikit berteriak tadi.
"Ganteng banget, sumpah!" ujar Joana tanpa sadar.
"Liat yang bening gitu aja mata lo hampir lari keluar tuh!" ucap Gres tertawa sedangkan Justin menatap penuh tanya siapa sosok yang masuk di ruang kuliah mereka sekarang.
"Di sini ada yang kenal Gres Presmana?" tanya orang tersebut sedikit lantang dan mampu membuat Squad Gres menoleh dan jangan lupa tatapan Joana masih sama dari tadi.
"Nyariin elo tuh!" ujar Justin.
"Gue? Siapa emang?" Gres balik tanya karena belum juga menoleh untuk melihat siapa.
"Mana gue tahu, balik aja lo dan liat sono orangnya!" tegas Justin.
__ADS_1
"Eh, Mark! Disini!!" ucap Gres sedikit teriak dan melambaikan tangan agar Mark yang masih di depan pintu mendengar dan melihatnya.
"Hai!!" Sapa Mark setelah menghampiri ketiga orang tersebut.
"Hai. Ngapain ke sini? Nyariin gue pula!" tanya Gres.
"Kita kan ada jadwal kuliah lintas sekarang. Kebetulan gue dari Fakultas tadi sekalian dah mampir ke sini buat ngajak lo bareng ke gedung kuliah sebelah!" ucap Mark sedikit salah tingkah karena ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah pertemuan mereka waktu pertama masuk kelas tersebut.
"Oh. Eh, kenalin ini teman-teman gue. Justin sama Joana!" ucap Gres
"Kenalin gue Mark teman kelas Gres di kuliah lintas!" ucapnya sambil menyalami kedua orang di depannya.
Setelah adu bacot unfaedah dengan kedua temannya tadi, akhirnya Gres sama Mark berangkat juga.
"Apa kabar? Udah lama ya, gak ketemu?" tanya Mark.
"Baik. Ia udah lama sih, abisnya lo jarang sih ikut kuliah offlinenya!" ujar Gres.
"Iya, heheh. Lagi sibuk ngurus perusahaan soalnya, gak sempet ke kampus juga. Baru dia angkat jadi direktur kemarin gue!" ujar Mark menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Wah,hebat! Selamat ya!"ujar Gres antusias.
"Makasih. Lo gimana kuliahnya, lancar? Pasti sering sendiri ya waktu di kelas!" ucap Mark terkekeh.
"Huh lancar sih, tapi teman-teman kelas kita pada sibuk sendiri-sendiri tau. Gak pernah tuh gue liat ada yang sedikit akrab di kelas. Palingan kalo mau bicara pun hanya seputar perkuliahan saja! " gerutu Gres.
"Heheh, ini kan bukan di Indo. Jadi gak bisa seramai pasar saat gak ada dosennya!" ucap Mark, mengingat dia juga pernah ke Indo sedikit lama dan tahu banyak tentang Indonesia.
"Iya sih. Tapi rasanya suasana kek kaku gitu. Lain kalo lo ada bisa gue ajak ngobrol selain soal perkuliahan kan!" Ucap Gres.
"Hahah. Tapi setelah ini gue gak akan ikut kelas online lagi deh. Biar lo ada kawannya di kelas." ucap Mark.
Dan mereka pun sampai di kelas.
"Uhm, Mark!" panggil Gres dengan suara pelan sambil menunggu dosennya masuk.
"Hm?" jawab Mark sambil menoleh.
"Hei, lo kok nanya sambil tunduk gitu? Santai kali. Iya gue nanti pasti di perusahaan sambil kerjalah, hehe. Kenapa? Lo belum dapet perusahaannya?" tanya Mark penasaran.
"U-udah sih. Tapi-" ucapan Gres menggantung.
"Hai Gres! Udah lama?" sapa Sean yang tiba-tiba saja muncul dan duduk disamping Gres dengan sedikit mepet ke arah Gres.
"Oh, hai! Lo kok sedikit terlambat?" balas Gres.
"Abis dari kafe gue, makan. Langsung dari kantor tadi, Dia?" jawab Sean sambil melihat dengan ekor mata cowok disamping Gres seakan bertanya siapa.
"Oh, hampir lupa, kenalin ini Mark dia juga teman sekelas kita. Mungkin karena kalian sama-sama sibuk jadi gak pernah ketemu pas kita kuliah, di tambah lagi kalian berdua kan sering ngikut kelas online. Dan Mark ini Sean teman gue dari Indo yang kebetulan satu kelas sama kita juga!" ujar Gres panjang lebar.
"Kita udah saling kenal kok Gres!" Jawab Mark.
"Hah? Kalian kok gak bilang sih?" ucap Gres sedikit kaget.
"Ngapain bilang ke lo?" ujar Sean sinis.
"Dan lo juga, udah kenal Mark tapi masih nanya!" Kesal Gres melihat sikap Sean yang menjengkelkan.
"Bacot!" ujar Sean sambil mengeluarkan alat tulisnya karena dosen sudah di depan kelas.
"Apa sih? Bikin kesal aja!" sela Gres tak mau kalah sampai Mark menepuk pelan bahu Gres agar tenang dan itu semua tidak luput dari pandangan Sean sehingga makin menjadi-jadi si Sean mengganggu ketenangan Gres.
"Udah, gak usah di ladenin. Dosennya udah mau mulai tuh!" ucap Mark pelan tanpa intonasi dan untungnya Gres juga mengalah.
"Hm,Mark! Gue duduk di situ boleh? Malas gue deket sama nih serigala satu. Tukaran please!" ucap Gres memohon dan tingkahnya itu membuat Sean kesal. Kenapa pula dia bersikap manja ke Mark itu pertanyaan yang terlintas di pikirannya.
"Eh, bocah. Jangan ngadi-ngadi lo. Duduk situ aja gak usah pindah, gak gue ganggu lagi!" seru Sean tak mau jika Gres pindah ke pinggir tembok tempat mereka duduk sekarang. Dimana Mark duduk disamping tembok, Gres ditengah dan Sean di sampingnya. Jadi deretan meja diurutkan empat kursi dan kursi satu lagi di samping Sean dibiarkan kosong.
"Mark gue disitu aja ya!" Ucap Gres dengan mode sedikit manja.
"Gres! Berani lo bangun aja dari tempat lo duduk sekarang, gue jamin lo gak bakal aman setelah ini!" Kesal Sean melihat sikap Gres ke Mark beda sekali dengan sikapnya jika bersama dia.
"Huh, ngancam gue lo? Siapa takut!" ujar Gres yang sudah pindah dan duduk ditempat duduk Mark dan Mark yang ditengah jadinya.
__ADS_1
"Oh!! Oke." Jawab Sean dingin sementara Mark heran melihat sikap keduanya.
"Blee!!" Ejek Gres pada akhirnya.
Mereka pun mengikuti perkuliahan dengan tenang. Tapi tidak dengan Sean, pasalnya dari tadi dia seperti dikacangin. Mark sama Gres saling diskusi dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkannya dosen. Walaupun Gres yang sedikit banyak tanya sih, tapi Sean tetap tidak suka itu. Ditambah lagi Gres yang tidak mau dekat dengannya membuat ia semakin panas.
Setelah perkuliahan...
Tanpa menunggu dosennya keluar kelas terlebih dahulu. Sean yang melihat Gres sudah merapikan tas dan tinggal siap keluar pun langsung menarik paksa tangan Gres dan membawanya pergi dari ruangan kelas dengan beberapa mahasiswa melihat mereka ditambah dosennya juga. Tidak heran sih karena Sean cukup terkenal di sana maka semua mata tertuju pada mereka.
"Sean!! Apa-apaan sih?" kesal Gres dengan tangannya yang masih ditarik paksa oleh Sean.
"Sean, berhenti!" Ucap Gres makin kesal.
"Sean!!!" teriak Gres ketika mereka melewati taman kampus yang tidak terlalu ramai karena hari juga sudah sore.
"Lepas! Tangan gue sakit tau," ucap Gres sambil mengelus lembut tangannya setelah di lepas oleh Sean.
"Lo apa-apaan bersikap seperti tadi ke Mark?" tanya Sean to the point.
"Maksudnya?" Gres bingung.
"Aiss, bisa gila benaran gue! Ditanya malah balik nanya!" ujar Sean frustasi.
"Ya gue ke Mark kenapa memangnya?" jawab Gres juga sedikit lantang.
"Sejak kapan lo sedekat itu sama dia?" tanya Sean.
"Sejak,,, gak tahu!" jawab Gres asal.
"Gres! Gue nanya serius!" ujar Sean datar.
"Ya, udah gue jawab tadi! Apa lagi? Lagian kenapa juga?" susul Gres dengan banyak tanya.
"Gue gak suka sikap manja lo ke dia tadi!" tegas Sean dan itu mampu membuat Gres cengo.
"Manja? Siapa yang bersikap manja?" tanya Gres.
"Gres berhenti bertanya! Gue lagi kesal!" ujar Sean dengan wajah datar.
"Ya, terus kenapa juga lo jadi kesal?" Gres malah bertanya lagi.
"Berhenti bertanya ku bilang!" seru Sean membentak karena sudah semakin kesal dibuatnya.
"Kok lo jadi ngegas?" tanya Gres dengan mimik yang sudah berubah.
"Ya, lo bikin gue tambah kesal tau!!" Ucap Sean makin keras tanpa melihat perubahan wajah Gres yang makin kaget dengan teriakan Sean barusan.
Setelah itu tidak ada Jawa lagi dari Gres, karena tidak mendengar ucapannya pun Sean menoleh dan melihat Gres dengan tampang yang sudah berubah dan sulit di tebak tatapan apa sekarang?
"O, ah, Gres! Maaf gue gak bermaksud tadi, ya elah kok malah ke gini sih gue?" Ujar Sean gagap dan menyesal dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Dan sialnya itu membuat ia takut jika Gres makin takut dan menjauh darinya.
"Oh, gapapa! Gue duluan ya!" Ujar Gres yang tanpa menunggu persetujuannya sudah melangkah pergi dan menjauh.
"Gres, maaf!" Ujar Sean entah sudah beberapa kalinya ia meminta maaf dan itu malah terus menunggu terucap sampai mereka di parkiran.
"Gres, jangan jalan dulu. Biar baliknya sama gue aja. Lagian kan kita juga balik sama-sama," tahan Sean karena Gres yang mau berangkat.
Dan setelah adu pikiran antara mereka berdua. Akhirnya Gres setuju untuk pulang bareng Sean tapi dengan tampang yang sama dan menganggap sudah kembali biasanya saja.
"Gres! Kita makan malam di luar aja ya! Sekalian, mumpung kita masih di luar!" ajak Sean.
"Ayo aja sih gue!" jawab Gres.
Sambil makan...
"Gres, soal yang tadi maaf ya!" ujar Sean meras bersalah.
"Oh, gapapa. Santai kali!" jawab Gres seadanya dan mereka melanjutkan makannya sampai selesai dan balik ke apartemen masing-masing.
"Masa gue cemburu! Tapi ngapain juga si Gres malah bersikap ke tadi kan emosi gue. Mana tadi gue sampai bentak dia lagi!" Ujar Sean sambil berbaring di kamarnya.
^^^_28 sept. 2021^^^
__ADS_1