Mengapa ?

Mengapa ?
Rendi Pulang


__ADS_3

...“Orang mengatakan bahwa semua hal terjadi karena suatu alasan, aku percaya itu. Saya pikir semuanya adalah takdir__Baekhyun EXO.”...


...☻☻☻...


Deringan ponsel di atas meja tersebut sudah ketiga kalinya berbunyi....


Hingga sampai sang pemiliknya meraih ponsel tersebut dan menerima panggilan tersebut.


“Halo Mas! Maaf aku lagi di dapur jadi gak kedengaran tadi,” ujarnya membuka percakapan.


“Iya gapapa. Bagaimana disana?”


“Baik-baik saja. Mas juga bagaimana kabarnya? Maaf aku jarang memegang ponsel akhir-akhir ini. Aku terlalu sibuk menghabiskan waktu yang terlewat,” ujarnya tersenyum simpul.


“Nikmatilah waktumu dengan baik. Maaf juga belum bisa kembali. Aku masih terlalu sibuk akhir-akhir ini. Bagaimana dengan Gres?” Raditya bertanya pada sang istri.


“Masih sama. Dia mungkin masih membutuhkan sedikit waktu lagi. Kita biarkan saja, kasihan dia terlihat lelah dan terkekang saat aku memandangnya dalam tatapan untuk pertamakalinya 3 bulan yang lalu.” Siena mengingat pertemuan mereka di New York saat acara kelulusan anak mereka. Mereka memang hadir di sana tapi karena kesibukan sang suami membuat mereka tidak bisa tinggal lebih lama waktu itu.


“Baiklah. Anak itu sedang dalam masa di kelilingi banyak pilihan. Dia baru memulai hidup yang sesungguhnya. Mas janji tidak akan mengekang ataupun mengambil waktu istirahatnya. Kamu baik-baik disana. Jika Gres menelponmu beritahu aku juga. Karena aku tidak yakin ia kan menghubungiku.” Ujar Raditya.


“Iya Mas. Sudah dulu ya. aku mau ke rumah Renata sekarang. Dia sedang menungguku. Kami akan membuat cake hari ini. Beristirahatlah untuk beberapa waktu. Jangan terlalu lelah.!” Ujar Siena mengakhiri telponnya.


...***...


Tok. Tok, tok....!

__ADS_1


“Ya ampun. Udah ditunggui dari tadi lho. Kenapa baru datang?” Renata langsung menyambut sahabatnya dengan pertanyaan saat membuka pintu.


“Aku masih menerima telpon tadi. Bagaimana adonannya sudah siap?” Siena dengan muka berseri.


“Sudah! Ayok kita langsung ke dapur saja!” mereka pun bergelut di dapur dengan banyak barang yang berserakan. Untungnya mereka hanya berdua saja di rumah. Ayah Rendi sedang di kantor, jadi tidak akan ada yang mengganggu mereka.


“Bagaimana dengan rencana kita malam ini?” tanya Renata.


“Tenang. Sudah kusiapkan semuanya. Kita tinggal ke rumahku saja sebentar malam. Tadi sudah ku beritahu Bi Ima juga untuk membantu kita membuat kuenya. Dan besok pagi bisa langsung kita antar ke beberapa panti asuhan yang sudah di data sama sekeretarisku tadi pagi.” Siena bersemangat.


Akhir-akhir ini mereka memang tengah sibuk menyiapkan berbagai hal untuk membantu orang-orang berkesusahan di luar sana. Siena sendiri bahkan sudah di kenal baik beberapa panti asuhan karena sudah mendonasi begitu banyak dana untuk satu tahun terakhir ini.


Baginya, setelah berhenti dari pekerjaan saatnya menghabiskan uang dengan memberi kepada yang lebih butuh.


Ditengah kesibukan mereka dalam pekerjaan masing-masing.


Karena baik Renata maupun Siena mereka benar-benar mengosongkan hari ini untuk membaut cake kemudian di lanjutkan malam ini lagi di rumah sebelah tepatnya rumah Siena.


“Aisshh! Siapa yang lagi yang mau bertamu siang begini. Tidak tahu apa kita lagi sibuk. Lihat saja nanti, jika tamu tak berkepentingan akan ku tendang keluar dia!!” kesal Renata menuju ruang depan dengan celemek yang masih tersampir di tubuhnya dengan Siena yang terkekeh mendengar sahabatnya mengomel.


“Siap-” ucapannya menggantung saat tahu siapa sosok di depannya. Ia bahkan tak berbicara lagi dan masih sibuk dalam pikirannya tanpa memperdulikan teriakan Siena dari dapur yang menanyakan siapa tamunya.


“Apakah saya terkesan begitu transparan sampai membuat wanita cantik ini tidak mampu melihatku? Atau aku terlalu ganteng untuk di pandang sampai kedua bola mata indah itu belum juga kunjung lepas!” ujar sosok yang di tatap dari beberapa menit yang lalu dengan senyuman mengejek.


“Yaak!!! Mengapa kau tak memberitahu kami, bahwa kau akan pulang hari ini. Kami bisa menjemputmu di bandara!” Ujar Renata memukul kesal lengan anaknya yang sudah lama tidak dilihatnya.

__ADS_1


“Sakit MA!!!” teriak Rendi menjauh dari pukulan sang ibu dan berlari masuk kedalam rumah dengan koper yang ia tinggalkan di ruang depan pintu utama.


“Tante Siena!!!” Rendi terkejut melihat sosok lainnya di dapur saat lari dari jangkauan Mamanya. Ia sudah lama sekali tidak pernah bertemu dengan sosok ini. Bahkan ia lupa terakhir kali ia bertemu dengannya kapan, 4 tahun lalu mungkin.


“Nak Rendi!!” Siena tak kalah kaget juga dengan sosok yang didepannya sekarang.


“Ya ampun tante, apa kabar? Rendi udah lama gak ketemu tante lho!” ujar Rendi memeluk Siena dengan punggungnya yang di tepuk lembut oleh wanita itu.


“Tuhkan. Mamanya sendiri gak di peluk. Tapi udah meluk tantenya duluan. Anak yang mengesalkan!” dengus Renata tersenyum melihat keakraban yang diberikan Rendi pada ibu dari sahabat kecilnya.


“Mama mau peluk juga sini! Mama sih anaknya baru juga pulang udah di pukul!” ujar Rendi beralih memeluk erat sang ibu seraya mencium ujung kepala Renata. Siena yang melihat itu tersenyum hangat dan merindukan kepulangan sosok yang ia tunggu juga.


1 jam berlalu....


Rendi tengah menikmati cake buatan kedua wanita di depan matanya yang tengah sibuk membuat cake sambil mengajaknya bercerita tentang bagaimana di Jerman dan juga di perjalanan pulang.


“Nak Rendi kenapa gak ngabarin kita kalo mau balik. Kan bisa kita jemput ya kan mba?” tanya Siena.


“Kan mau ngasih kejutan tante! Rendi gak mau pulang sebenarnya. Tapi rendi tuh diancam bakal di coret dari kelurga ini. Makanya buru-buru balik deh!” Rendi mulai menjahili sang ibu.


“Yak! Siapa juga yang menyuruhmu pulang bocah tengik!” teriak sang ibu fokus dengan pekerjaannya.


“Gak kok tante. Rendi bercanda barusan! Oh, ya. MA, Tante.. Rendi pamit buat istirahat dulu ya. Nanti sore Rendi bakal bantu deh. Janji.” Ujarnya melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat.


“Iya nak!” jawab Siena. Kemudian mereka kembali sibuk sesekali bercerita mengenai kedatangan Rendi yang tiba-tiba.

__ADS_1


“Adakalanya kita menjadi rindu pada beberapa orang di masa lalu yang tak bisa kita temui di waktu kini. Entah karena jarak, keadaan, waktu atau beberapa hal lainnya. Memang benar, pulang adalah kata yang mewakili banyak rasa disana kita bisa bertemu dengan mereka yang sering terlantun dalam doa dan dalam rindu yang tak berujung kala jauh dari sekitar mereka. Dan aku gak menyesal memilih pulang di waktu yang sekarang, sepertinya menunggu sosok yang akan pulang untuk menemui kita juga tidak buruk,” ujar Rendi dalam kilas senyumnya saat menaiki tangga menuju kamarnya.


__ADS_2