Mengapa ?

Mengapa ?
Aku butuh seseorang...


__ADS_3

"Nyatanya, orang yang paling terdekatlah yang punya banyak peran lebih dalam menyakiti"


✨✨✨


Gres Pov


Seketika aku tersadar. Aku merasakan hantaman yang begitu keras di seluruh tubuhku. Aku juga merasa tulang-tulang ku menjadi remuk. Aku benar-benar merasa ini seperti mimpi ketika tubuhku terpental jauh dan kembali merasakan sakit yang teramat sakit kala aku kembali terbentur ke jalan itu.


Hanya satu yang menyita pikiran dan penglihatan ku saat ini. Seorang cowok yang sedang berlari dengan sangat kencangnya mengarah pada ku sambil tangannya mengarah ke depan seakan ingin meraih tubuhku yang sudah terpental jauh.


Ya aku mengenalnya, dia yang sempat berdebat dan menggangguku tadi. Entah apa yang ku rasakan saat ini. Aku benar-benar tidak dapat berpikiran jernih lagi. Aku kembali merasakan ngeri dan ngilu di sekujur tubuhku, sama seperti yang kurasakan beberapa tahun lalu ketika tubuhku tertusuk oleh ribuan serpihan kaca. Ini sangat sakit.


Aku takut.! Aku butuh seseorang untuk membawaku pergi jauh dari kenyataan ini. Siapa pun tolonglah! Aku merasa begitu lemah. Seakan seseorang tengah datang dan membawaku kembali dalam kegelapan itu.


Aku butuh Mama. Aku butuh Papa!!.


Mereka di mana??. Kenapa mereka sangat jauh untuk di jangkau oleh pikiranku saat ini.


Aku takut tidak dapat melihat mereka lagi ketika aku terbangun! Aku berusaha untuk tidak menutup mataku saat ini. Aku benar-benar membutuhkan mereka. Aku cuma mau melihat mereka saat ini. Aku akan menjadi anak yang penurut jika mereka benar-benar datang saat ini. Aku akan berubah lebih baik lagi. Tolong aku Pa, Ma!!


"Mama,....!"


"Papa.....! kalian di mana?. Gres takut Pa!. Hiiiks,,,," ucapku terasa lirih saja.


Aku berusaha memanggil mereka dengan sekeras mungkin. Tapi mengapa suaraku bahkan sudah tidak mau lagi untuk keluar. Aku merasa seakan bisu. Aku benci keadaan seperti ini. Aku merasa bahwa orang-orang terdekatku begitu jauh. Mereka meninggalkanku terlalu jauh.


Hanya kekosongan yang aku dapat kan ketika aku melihat di sekitarku. Banyak orang menatap ku dengan tatapan iba dan kasihan. Aku benci dengan tatapan mereka saat ini. Aku tidak suka mereka berdiri mengelilingi ku dengan tubuh yang sudah tidak bertenaga lagi. Aku ingin mereka pergi menjauh dari ku. Aku kembali tidak suka pada keramaian seperti ini.

__ADS_1


Namun, di antara banyaknya mereka yang ada saat ini. Hanya satu orang yang ku lihat dengan tatapan yang berbeda. Ia menatapku dengan tatapan seperti mengisyaratkan dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dia cowok yang menggangguku tadi, tengah menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca.


Ketika aku berusaha untuk sadar sepenuhnya. Saat itu pula semuanya berubah menjadi gelap. Orang-orang yang tengah mengerumuniku tadi seketika hilang dari pandangan ku. Mereka meninggalkan ku atau aku yang sudah menghilang?. Entahlah!!.


Semuanya gelap seperti saat kejadian itu. Aku seperti tidak akan bisa lagi melihat kedua orang tuaku yang sangat ku rindukan saat ini. Dan setelahnya aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi.


Gres Pov End


"Heii.... Bangun.! Kamu gapapa kan?" ucap Sean yang tengah memapah tubuh Gres yang tidak sadar lagi.


"Yak!. Kenapa kau selalu menyusahkan ku? Jawab aku!.. Aku lebih baik melihatmu mabuk dan tidak sadarkan diri dari pada harus melihat mu dengan kejadian mengerikan seperti ini hah!. Ku mohon bangun dan bilang mana yang sakit?" ucap Sean dengan suara yang agak keras. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang tengah menatapnya saat ini.


"Tolong panggilkan ambulance!! Dia harus di bawa ke rumah sakit. Tolong!" teriaknya dengan memohon.


"Kamu harus bertahan. Aku yakin kamu pasti kuat. Gadis pemabuk seperti mu selalu saja membuat aku tidak tenang dan khawatir haais!" seru Sean.


***


Sean Pov


Ketika aku duduk dengan nyamannya di ujung kursi yang terdapat di pinggir jalan tersebut. Ponselku bergetar menandakan ada yang menelpon.


"Halo.." ucapku sambil menyandarkan diri di kursi tersebut.


"Maaf mengganggu waktumu tuan muda. Sepertinya tuan melupakan jika sore ini, tuan ada jadwal meeting dengan perusahan yang akan bertanggung jawab dengan proyek kita di Singapur".


"Oh baiklah. Aku akan ke sana jika mereka sudah tiba" ucapku pada sekretaris ku.

__ADS_1


"Baik tuan, saya akan mengurus tempatnya dulu. Selamat sore".


Ya sore ini aku harus bertemu dengan klien ku yang akan mengambil proyek besar yang tengah ku jalankan di Singapur. Jangan heran aku memang seorang siswa SMA di salah satu sekolah di kota Bandung. Tapi selain ke sekolah, aku juga harus ke kantor untuk mengurus perusahan Papa.


Aku bertanggung jawab dengan perusahan yang ada di kota ini. Selain itu juga sesekali aku akan keluar negeri untuk mengurus perusahan atau proyek yang menjadi bagian dari perusahan ku. Aku yang bekerja sebagai CEO muda di umur yang sekarang pada perusahaan yang boleh di bilang cukup besar, membuat masa remajaku tidak terlalu ku nikmati. Karena di sibukkan dengan pekerjaan yang tertumpuk dan banyak.


Tapi beriringnya waktu aku sudah terbiasa dengan ini. Walau demikian di sekolah saja, aku tetap menjadi juara pertama. Aku bekerja di usia yang sekarang pun bukan karena kemauanku. Tapi lebih tepatnya aku tidak punya pilihan, sebagai anak tunggal aku tentunya tidak bisa hidup semauku saja. Aku di paksa untuk hidup lebih dewasa dan mandiri. Awalnya aku menentang keras akan keinginan orang tuaku.


Tapi pada akhirnya aku menyadari, dibalik keras kemauanku tersebut. Ada ribuan karyawan yang harus ku pertaruhkan. Mereka berkerja untuk mencari dan membiayai hidup mereka dan keluarga mereka, dengan sangat terpaksa aku pun menyetujui itu karena mereka yang tengah bekerja dengan keras dan aku bahkan sudah tidak punya pilihan.


Kembali pada kegiatanku sore ini, yang keluar dari kantor hanya untuk mencari udara yang segar.


Gadis itu pergi meninggalkan ku karena merasa terganggu dengan pertanyaan konyolku tadi. Aku memang bertanya jika aku aku pernah bertemu dengannya. Terasa konyol memang dia saja bahkan tidak mengenaliku bagaimana mungkin aku pernah bertemu dengannya. Aku yang mengingat kejadian konyol tersebut pun tertawa ditambah lagi aku melihat punggung gadis itu yang sudah menjauh dengan langkahnya yang terlihat kesal karena ku. Aku semakin ingin tertawa saja. Akan tetapi sesuatu terlintas di kepalaku, aku seperti mengingat sosok gadis itu tapi di mana?.


Ketika aku hendak pergi dari tempat ini, sekali lagi aku menatap tubuh kecilnya yang sudah menjauh. Namun, di sana aku bisa melihat ia seakan melangkah dengan pikirannya yang menerawang entah kemana. Sampai tidak memperdulikan teriakan orang-orang di sekitar jalan tersebut. Tak kala melihat tubuh mungil gadis itu menyebrangi jalan yang begitu ramai. Aku yang melihatnya pun segera berlari untuk berusaha menarik tubuh itu agar kembali sadar.


Dari jarak yang cukup dekat aku melihat dengan jelas sebuah truk dengan kecepatan di atas rata-rata berusaha untuk menghentikan truk tersebut oleh sang pengemudi sambil sesekali membunyikan klaksonnya. Tapi gadis itu tidak menyadari sama sekali. Ia terus berjalan dengan topi hoddienya yang setia menutupi kepala kecilnya.


Aku pun berlari sekencang mungkin untuk meraih tubuhnya. Namun kecepatan truk tersebut mengalahkan ku ia lebih dulu menyerang tubuh gadis kecil itu. Entah ia sadar atau tidak seakan waktu terhenti yang membuat aku tetap berada pada tempatku.


Dari sini aku dapat melihatnya dengan jelas ia tengah memandangiku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Ia terlihat miris dengan tatapan itu. Tubuh kecilnya terpental jauh dan jatuh ketengah jalan tersebut.


Seketika aku mengingat sosok gadis itu. Ya dia gadis yang tengah mabuk di hari ujiannya, dia yang gadis yang ku bawa pulang ke rumah. Tapi apa yang ku lihat ini terjadi begitu cepat. Bahkan aku tak bisa menggapai tangannya untuk menolongnya sama seperti saat aku membawanya pulang dari bar itu.


Aku yang melihat ia tergeletak dengan mata yang masih terbuka. Berlari dan memapah kepalanya di pangkuanku. Aku bahkan tidak berani bertanya apakah ia baik-baik saja tau tidak. Saat ini aku hanya merasa dia pasti sangat kesakitan.


Tersadar dari lamunanku setelah meluapkan amarahku yang tak bisa menahan tubuh kecilnya agar tidak menyebrangi jalan itu. Aku meminta tolong untuk menghubungi ambulance secepatnya.

__ADS_1


Aku begitu khawatir dengan keadaannya saat ini. Aku mau dia harus bertahan apa pun yang terjadi. Kejadian ini begtu tragis di depanku. Aku masih merasakan gemuruh karena kaget.


Sean Pov End


__ADS_2