Mengapa ?

Mengapa ?
Di Ajak Jalan


__ADS_3

"Kemudian perlahan kita perlu menyederhanakan urusan-urusan kita, misalnya yang ini tidak perlu terlalu dipikirkan, tidak semua harus disenangkan, urusan yang ini tidak perlu dicampuri , dan masih banyak lagi yang perlu kita rubah saat sadar bahwa hidup ternyata memang tak akan pernah sesuai rencana."


°


°


°


Banyak hal yang perlu disederhanakan. Entah itu keinginan, harapan, atau bahkan mimpi dan lain sebagainya berkaitan tentang hidup. Tak akan ada yang bisa meraih semua apa yang menjadi harapan, apa yang menjadi mimpi dan juga apa yang menjadi tujuan awal.


Ada kalanya kita di beri kegagalan, kehancuran, keputusasaan dan bahkan rasa ingin menyerah saja dalam hidup. Lewat perjuangan yang kita lalui, lewat orang-orang yang kita temui, lewat apapun yang kita peroleh.


Wajar. Jika semua itu tak luput dari kita. Karena begitulah kenyataan, kita kadang dipermainkan dalam berbagai situasi yang ada. Hanya satu hal yang masih menjadi dasar, dari semua yang kita alami adalah guru terbaik sepanjang sejarah hidup kita.


Saat kita lagi berharap tetap bersama dengan beberapa orang yang kita harapkan, saat kita berusaha mengikhlaskan kehilangan dan saat kita mencoba fokus untuk masa depan sembari sesekali mengingat beberapa dari mereka adalah konsep hidup yang secara bersiklus terjadi setiap kita.


Kemarin, mungkin kita tak rela berpisah dari mereka. Ada seseorang atau beberapa orang yang tak bisa di tinggal, ada banyak hal yang disayangkan terlewatkan tanpa jejak.


Namun, ketika menikmati hari ini kita bersyukur bisa sampai dan berdiri disini.


Oleh karenanya kita belajarlah memahami, bahwa apapun yang dihadirkan dalam hidup ialah suatu kebaikan, termasuk kehilangan.


Dan kehilangan yang paling baik adalah kehilangan yang membuat kita semakin menemukan maksud dan tujuan hidup sebenarnya.


Kalo kata Bang Fiersa;


Hidup bukan tentang membanding-


bandingkan, tapi tentang giliran. Kalau orang lain bahagia dan kamu sedih, ya udah. Nanti juga ada waktunya gantian_


Kita juga tidak sedang melupakan. Kita hanya sedang berusaha melanjutkan hidup tanpa mempersoalkan banyak hal.


Kita juga tidak kehilangan, kita hanya cukup tau diri dan menepi jika hidup sudah tak seperti biasanya.


Drrt, drrt, drrt! (Deringan ponsel)


"Halo Mama!" ucapku ketika menggeser tombol hijau dalam layar ponselku.


"Halo sayang! Kamu apa kabar hm?"


"Hm, seperti biasanya. Mama apa kabar?" tanyaku.


"Mama baik sayang. Gimana kuliahnya?"


"Lancar Ma. Papa di mana?" tanyaku.


"Yang rajin ya, belajarnya. Papa disini lagi duduk di samping Mama!"


"Hm, Ma!!" panggilku pelan.


"Iya sayang,"


"...." namun tidak ku lanjutkan panggilanku.

__ADS_1


"Jangan terlalu memaksakan diri untuk terlihat kuat. Ada masanya kamu berada di fase kurang menguntungkan," ucap Mama diseberang.


"Sebenarnya ada banyak hal yang membingungkan Ma!" ucapku melemah.


"Mengapa demikian?" tanya Mama.


"Ada begitu banyak yang berubah!" ucapku lagi.


"Tidak ada yang berubah, itu memang keasliannya dari awal. Hanya saja baru terungkap. Jadi, temukanlah tempat dimana kamu dihargai bukan dibutuhkan karena banyak manusia yang mencari ketika membutuhkan namun lupa bagaimana menghargai," ujar Mama pasti.


"Ma! Apa Papa masih sibuk seperti biasanya?" tanyaku mengingat mereka sudah tidak di Indonesia setelah Papa mengantarku bulan lalu mereka juga sudah kembali melanjutkan pekerjaan mereka di Paris. Aku tahu mereka selalu sibuk, aku hanya sedang memastikan saja mengapa dan kapan mereka menjeda sejenak.


"Papa hari ini lagi istirahat sayang!" Jawab Papa ketika mendengar aku bertanya akan dirinya.


"Papa jangan  bekerja terlalu keras," ucapku lagi karena menyadari untuk apa terus dan terus bekerja terlalu keras dan memperoleh banyak uang jika pada akhirnya sakit dan kenyataannya sehat tidak bisa dibeli dengan uang terkadang.


"Iya. Papa tidak sesibuk dulu, kan pemilik perusahaannya Papa!" Ucapnya terkekeh.


"Pa! Gres sepertinya harus banyak belajar tentang bisnis. Ternyata cukup rumit, Gres baru sadar masih kurang banyak dalam belajar," ucapku mengeluh.


"Heheh, apa perlu Papa memberimu jadwal untuk kuliah dengan Papa yang jadi dosennya?" ucapnya mengejekku.


"Papa!!" teriakku merajuk.


"Jangan lengah dalam setiap situasi! Ada kalanya orang lain akan melompat begitu tinggi untuk lebih dulu menggapai apa yang kamu impikan. Dalam dunia bisnis sesekali mementingkan ego itu perlu. Tidak semata berbicara tentang keadaan yang sesungguhnya, kamu perlu belajar lebih banyak hal lagi!" ucapnya panjang lebar.


"Gres semakin mau hidup seperti Papa!" ucapku pasti.


"Hidup penuh dengan hal-hal untuk ditunggu nak. Kita harus menunggu sebentar saat memancing misalnya.


"Hm.... Gres akan lebih berusaha lagi!" Ucapku.


"Baik-baiklah dalam berproses, ada waktunya kamu akan sama seperti yang kamu mau!" ucap Papa mengakhiri telpon tersebut.


.


.


.


"Hahhh. Cukup melelahkan hari ini," ucapku sambil merentangkan tangan sambil berdiri di trotoar jalanan.


Waktunya pulang dan berkutat lagi dengan tugas. Dan esok akan menjadi surga tersendiri untukku. Siapa yang tidak mendambakan hari minggu untuk sekedar berlibur heheh.. kita semua pasti menunggu hari tersebut.


"Mau balik?" tanya Sean yang entah bagaimana sekarang ia sudah berdiri dengan tenang di sampingku.


"Selalu saja datang dan pergi secara tiba-tiba!" ucap Gres sinis.


"Tidak ada yang tiba-tiba, memang begitu alurnya!" serunya dengan sumringah.


"Bukankah lo selalu seperti itu! Atau apa jangan-jangan lo juga buat hal yang sama bagi setiap orang yang lo temui?" tanya Gres karena merasa heran saja dengan kehadiran dan kepergiannya yang sering tiba-tiba.


"Entah!" ucap Sean singkat.

__ADS_1


"Hmm!!! Nanti,,, kalo lo datang ke kehidupan orang lain, beritahu alasannya. Hingga saat lo harus berhenti juga beritahu alasannya. Jangan menyiksa mereka untuk menebak kelanjutan ceritanya," ucap Gres dengan pandangan jauh.


"Bukankah tidak ada yang bisa menebak tentang hari esok!" jawabnya terkekeh.


"Jika begitu, sedikit tidaknya tinggalkan beberapa jejak," balas Gres.


"Mungkinkah kamu sedang menceritakan diri sendiri?" tanya Sean tersenyum.


"Hilih, mana ada gue begitu. Ga ya!" jawab Gres membuang muka.


"Maaf. Gue hanya berusaha mengikuti alurnya," jawabnya pelan.


"Sean, antara lo dan takdir sama-sama tidak bisa di tebak!" ujar Gres sambil menendang batu kecil di pinggir jalanan tersebut.


"Jangan melelahkan diri dengan mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan rasa. Adakalanya, kita hanya butuh menerima tanpa harus mempersoalkan apa-apa," ucap Sean pasti.


"Lalu, mengapa kau tak memberitahuku sama sekali jika kau juga berkuliah disini!" ucap Gres kesal.


"Surprise mungkin!" jawab Sean mengejek.


"Jadi, Lo juga udah tahu kalo gue bakal kuliah disini?" tanya Gres sinis.


"Hm, lebih tepatnya semuanya!" ucap Sean sambil memainkan kedua alisnya.


Bagaimana Gres tidak kesal, Sean membuatnya cukup terkejut di mulai dari mereka yang punya apartemen dalam satu gedung, Sean yang turut serta membantu sekretaris keluarganya untuk mendaftarkan dirinya di kampus yang sama dengannya dan masih banyak lagi.


"Ah, terserah mu saja!" Ucap Gres yang sudah bangkit karena taxi yang dipesannya sudah tiba.


"Setelah ini, lo ada acara?" Tanya Sean yang sudah mendudukkan dirinya di kursi sebelah Gres.


"Tidak kemana-mana," jawab Gres tanpa menoleh sedikit pun.


"Nanti gue jemput di apartemen lo. Kita butuh refresh otak bukan?" ucapnya mengajak.


"Kemana?" tanya Gres.


"Ada!" Ucap Sean singkat.


"Huh!" Gres sudah malas berbincang dengan manusia di sampingnya sekarang.


"Gres!!" Panggil Sean.


"Apaan?" jawab Gres singkat.


"Benaran mau jalan sama gue?" tanya Sean memastikan.


"Lihat nanti!" ucap Gres tanpa kepastian.


"Lo gue jemput pokoknya!" ucap Sean tegas.


"Orang apartemen udah satu gedung juga, masih gayaan lo mau jemput. Ga paham dah!" ujar Gres menyindir.


"Liat aja nanti!" ucap Sean dengan smirknya.

__ADS_1


Setelahnya, mereka pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing seraya melepas penat dan lelah hari ini.


__ADS_2