
..."Ya, namanya hidup. Minta sesuatu yang sangat diinginkan, eh dikasih sesuatu yang sangat dibutuhkan. Awalnya kesal, merasa doa enggak terkabul. Ternyata jalan yang dikasih Tuhan jauh lebih baik _Fiersa Besari"....
...🌼🌼🌼...
Seperti pengangguran pada umumnya ia juga tengah menikmati hari-hari panjang yang membosankan. Rebahan, makan, main ponsel dan masih ada rutinitas lainnya yang tidak habis-habisnya. Seperti nonton, bersantai dan kembali tidur. Siklusnya selalu seperti itu terjadi secara berulang kali.
"Woaahh! Hari-hari yang membosankan!" Ujar menikmati sore harinya di balik tirai kamarnya, jangan salah dia baru saja bangun dari tidur panjangnya seharian tadi. Setelah mandi dan makan pagi tadi di langsung cus ke alam mimpi. Yang berakhir bangun setelah terusik dengan sorotan senja dari balik tirainya.
"Mana gw belum makan lagi? Lebih baik tiduran lagi aja sambil ngumpul nyawa!" Setelahnya ia kembali ke memeluk bantalnya yang seakan meraung-raung jika di tinggalkan sebentar saja.
Di lain tempat....
Sosok yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya tengah duduk santai di jok mobilnya menuju arah jalan pulang. Dia sepertinya kelelahan sehingga saat menyetir pun hanya fokus pada jalanan tanpa melakukan hal lainnya.
Setelah memasuki area parkir di lobby apartemennya, ia pun memarkirnya mobilnya dengan rapi dan meraih barang-barangnya lalu berlalu menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai atas. Ia terlihat sangat lesu sekali. Rasa lelah, lapar dan ingin tidur bercampur menjadi satu sekarang. Bahkan hanya untuk sekedar singgah makan saja ia tak sempat.
Pikirannya sekarang bukan kasurnya lagi melainkan menekan tombol angka 25. Tujuannya adalah numpang makan di apartemen bocah yang ia tidak tahu saja sekarang sedang menikmati rebahan tanpa berusaha untuk makan ataupun minum.
Setelah pintu lift terbuka ia punya berjalan menuju pintu di ujung kanan karena lantai tersebut hanya terdapat dua apartemen saja. Bayangkan luasnya bagaimana. Setelah menekan berulangkali bel apartemennya ia bukan mendapatkan sahutan melainkan pintu masih saja setia tertutup. Setelah bosan dan sedikit kesal ia pun memasukkan sandi apartemennya tanpa peduli jika sang pemilik akan marah nanti. "Tuh bocah kemana sih?" ujarnya setelah mengendarakan pandang di setiap sudut ruangan.
Setelah beranjak dari sofa tempat ia duduk beberapa menit lalu, ia pun manaiki tangga yang akan memawanya ke kamar, " pasti dia sedang tidur!" Ujar setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali.
"Gres!! Lo di dalam kan?" Teriaknya dari luar sedikit kencang.
"Iya!! Kenapa lo?" Teriakan Gres pun terdengar dari dalam.
"Gw masuk gapapa kan?" Tanya Sean dengan penampilan yang sudah layu dan tak semangat lagi.
"Hooh!" Teriak Gres yang berakhir pintu kamar di buka dan menampilkan Sean dengan kemeja putihnya yang bahkan sudah terlipat kedua lengannya sampai siku dan baju yang bahkan sudah tak disisip lagi.
"Kenapa lo? Acakan gitu? Baru pulang?" Ujar Gres menyembulkan kepalanya di balik selimut tebalnya.
"Hm, Lo kenapa belum bangun? Gw ikut rebahan gapapa ya?" tanyanya melemah.
"Ya gapapa. Ngakak gw sumpah, penampilan lo sama kek pegawai yang di PHK" ujar Gres ngakak dibalik selimut setelah bangun dan duduk bersandar.
"Ketawa aja teruss! Sampai mampus lo tau rasa!" Kesal Sean yang sudah memeluk guling Gres disebelahnya.
"Lagian elo bukannya balik buat ganti sama mandi dulu, malah ke sini," Gres yang masih tertawa.
"Gres!" Panggil Sean yang beralih menarik tangannya kanannya dan memeluk tangan yang sedikit kecil tersebut.
"Apaan lo?"
"Gw capek! Gw lapar. Gw ngantuk pula!" Sean dengan mode manjanya.
__ADS_1
"Ya udah balik sana makan sama istirahat lo!" Ujarnya menarik-narik pelan rambut Sean.
"Gw numpang makan ya! Gw udah malas ke atas."
"Gw aja gak makan seharian!" Ujar Gres terkekeh.
"Lo kenapa ga makan?" Sean bahkan mengangkat kepalanya kaget menatap Gres.
"Gw tidur dari pagi, eh malah kelepasan sampai sore, ini aja gw baru bagun tadi!" Ujar Gres fokus mainin rambut Sean yang masih menatapnya kaget.
"Kebiasaan lo bocah. Ya udah pesan makan gih, gw lapar banget. Udah gak mampu duduk lagi gw nih," Sean berakhir menenggelamkan kepalanya di bantal dan kedua mata yang sudah tertutup.
"Ya udah. Lo tiduran aja dulu nanti gw bangunin setelah makanan udah ada," ujar Gres yang bangkit dan mencharger ponselnya lalu keluar menuruni tangga ke arah dapur. Yap dia akan memasak saja kali ini, lagian terbiasa makan instan ga sehat juga kan!
Dia pun fokus mengerjakan pekerjaannya dibawah sana sambil sesekali menyanyi mengiringi lagu yang di putarnya di ruangan tersebut.
20 menit berlalu...
Makan sudah tertata rapi di atas meja, ia hanya menggoreng ayam dan sedikit membuat sup jagung yang sepertinya cocok ditemani nsi putih untuk orang yang memang sudah kerja dan kelelahan.
Setelah mengatur alat-alat makan ia pun beranjak ke kamar atas untuk mandi dan membangunkan Sean. Jangan kaget Sean memang sering masuk dan tidur di kamarnya. Walaupun sedikit canggung karena beberapa waktu lalu Sean mengutarakan perasaannya. Tapi itu hanya berlaku sehari saja. Setelahnya mereka kembli seperti kucing dan anjing yang tidak pernah akur. Mereka tidak pacaran atau apapun. Hanya saja Sean tidak memaksa Gres untuk menerimanya secepat itu. Ia tahu Gres juga butuh mikir.
Gres setelah membuka pintu kamar terlihat Sean yang tertidur lelap dengan muka polosnya. "Hahah!! Kalo lo tidur gini kan adem gw liat muka lo tenang gak banyak bacot, tapi kalo mata lo terbuka kebalikan lo emang ngeselin pake banget. Mulut yang ngajak berantem, ah,, intinya lo lebih bagus kalo ke gini aja. Bila perlu ga bangun-bangun lo haha" ujar Gres terkekeh dan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit Sean pun bangun, "gini amat gw dibangunin pake gebukin lagi. Kasar banget lo jadi orang!"
"Orang tuh jangan kebo kalo di bangunin ya bangun!"
"Ngaca lo bocah! Lebih parahan elo ya!"
"Apa sih, gw ngajak makan ya, bukan ngajak tawuran!"
"Ilih bicit! Gayaan lo ngomong gitu, okedah entar gw ganti uang lo yang make bayar pesanan tadi! Biar gak galak lagi lo." Ujar Sean beranjak menuju pintu.
Sebelum pintu terbuka, "heh bocah jangan jorok lo! Setidaknya cuci muka dulu noh baru pergi makan! Gayaan lo mau ganti uangnya, ia tahu yang udah jadi konglomerat! Tau gitu gw pesan aja buat elo tadi!" kesal Gres beranjak lebih dulu membuka pintu dan turun ke dapur lebih tepatnya di meja makan dan bahkan tak peduli Sean yang beralih ikut turun juga dan pakai kamar mandi di lantai bawah untuk sekedar mencuci muka.
Tanpa menunggu Sean ia pun sudah makan dengan lahap, kebawa kesal sama tuh bocah makanya gas duluan aja lah, mana cacingnya udah meraung-raung dari dalam sana.
"Woah!!! Lo masak ya!" Sean dengan mata berbinar-binar. Secara dia selalu makan makanan instan, jarang makan makanan rumah seperti ini.
"Duduk dan makan aja, jangan banyak bacot!"
"Ya elah, galak benar lo! Tapi makasih ya, jarang-jarang lho gw dibaikin kek gini!" Ujarnya sumringah.
Udah dibilangin kan, tuh bocah kalo tidur aja baru damai tentram dan sejahtera. Jadi biarin aja ia dan ekspektasi liarnya, Gres udah malas meladeni, lebih baik memelihara cacingnya di dalam sana.
__ADS_1
"Gres! Lo sesekali gini dong masak. Sayang punya talenta di anggurin. Atau buka resto aja sekalian gw jamin dah makannya bahkan minum sama segala hal berkaitan dengan konsumsi gw disana deh,"
"Gak doyan duit gw. Doyan rebahan aja,"
"Wah! Criing banget otak lo. Lebih tepatnya doyan di ranjang ya!" Ujar Sean terkikik sambil makan.
"Mati aja lo bangsat!"
"Abisnya lo yang ngomong barusan kok,"
"Terserah. Gw udahan!" Gres bangkit menaruh piring di wastafel.
"Tirsirih. Gw idihin!" Ulang Sean mengejek. "Piringnya biar gw yang cuci aja, lo udah capek masak tadi. Gw baikkan?" Ujar Sean yang tak mendapat respon dari sosok yang tiada hari tanpa kesal ia buat.
Setelah menyelesaikan makannya, Sean pun beralih mencuci piring dan melangkah ke ruang tamu. Di sana ada Gres yang tengah menonton sambil sesekali melihat ponselnya.
"Geser! Gw juga mau duduk!" Sean dengan masih berdiri di depan Gres.
"Heh bocah! Ini sofa luas dan tak berujung, lo silahkan duduk dimana aja tanpa harus mengganggu tuannya." Kesal Gres yang sudah menatapnya tajam.
"Gw mau duduk disitu biar lebih fokus sama acara yang di tayangkan!"
"Tanpa lo harus duduk disini pun lo bisa fokus buat nonton. Bila perlu nih sekalian angkat TV nya simpan di pangkuan lo biar puas!" Pekik Gres.
"Darting mulu jadi people!" Sean yang sudah duduk di sebelahnya.
"Elo yang buat gw darah tinggi! Ngajakin ribut mulu lo jadi orang. Bosan gw!"
"Ya udah diam aja gak harus lo ngajak debat kan!"
"Ngaca lo bocah! Kesal gw lama-lama"
"Bukannya udah kesal dari tadi?"
"Sean!" Panggilnya datar. "Balik gih di apartemen lo! Gak mau nambah dosa gw. Lagi diet buat bikin dosa!" Ujar Gres melangkah menuju karpet lantai ruang santai.
"Ia ia. Marah mulu lo jadi orang. Gw setelah ini jalan!" Ucap Sean yang sudah menenteng barang-barangnya dan melangkah menuju pintu keluar. "Makasih ya udah masakin gw" ujarnya tersenyum hangat. Kalo gini kan baik gak bikin kesal.
"Jangan GeEr lo. Gw masak karena gw lapar ya! Udah sana balik lo, jangan ke sini lagi!" Ujar Gres fokus menonton.
Sean yang masih memegang gagang pintu pun balik dan melangkah mendekati Gres. Dan mengacak rambut Gres lalu berlari diiringi sumpah serapah dari mulut Gres.
"Woah!! Bisa mati dini gw kalo bareng dia terus. Adanya darah tinggi mulu." Kesal Gres.
...Saturday, 14 Mei 2022...
__ADS_1