Mengapa ?

Mengapa ?
Pergi dan Pertengkaran...


__ADS_3

Ia berjalan gontai masuk ke gerbang rumahnya, di sana ia hanya melihat mang juki yang tengah duduk di kursi taman sambil menikmati kopi sore itu.


“Selamat sore mang” ucapnya sambil tersenyum melangkah untuk duduk sebentar di sudut kursi taman itu.


Sambil sesekali menikmati pemandangan didepannya, di mana terdapat beberapa bunga tengah mekar dengan segar. Ia kembali tersenyum mengingat bagaimana ia bersikap kekanakan saat berkebun bersama orang terdekatnya dalam beberapa tahun terakhir ini.


“Selamat sore non.! Non habis dari mana?” tanya mang juki yang tengah duduk disampingnya.


“Seperti yang mang tahu, biasalah mencari hiburan dan udara segar bersama teman-teman” Gres.


“Apakah non sudah tahu, kalau tuan dan nyonya akan pindah ke Paris?" Mang Juki.


“Ya, aku sudah tahu dan aku tidak peduli. Toh, hidupku dari tahun ke tahun kan selalu ku habiskan bersama mang juga bi Ima dan yang lainnya. Jadi tidak perlu khawatir akan hal ini. Ini sudah hal biasa kan!” sela Gres.


“Tapi, mereka akan tinggal lama di sana, mang takut non tidak bisa mengahadapi ini, seperti sebelumnya yang pernah terjadi”. Mang Juki.


“Aku sudah dewasa. Mungkin ini saatnya aku harus mandiri tanpa mereka. Aku bahkan merasa mereka tidak terlalu punya peranan dalam hidupku, selain terus dan terus memberiku uang yang begitu banyak dan tak terhitung. Menurut mang juki itu sudah bisa membahagiakan bukan?!” Gres.


“Tuan dan Nyonya sebelum berangkat,  sempat menunggu non pulang tadi. Tapi melihat hari sudah semakin sore, mereka sudah tidak bisa menunggu lagi. Mereka akan menghubungi non saat sampai nanti”. Mang Juki.


Pikirannya yang tengah berkelana belum mencerna baik apa yang di sampaikan barusan. Seketika ia kaget dan menoleh ke sumber suara dan melihat seorang paruh baya yang tengah duduk disampingnya.


“Tunggu..! Mereka sudah berangkat??. Bukankah besok jadwal mereka pergi ?” tanya Gres tak percaya apa yang di dengar.


Belum sempat mendengar jawaban dari mang juki. Ia berlari sekencang mungkin memasuki rumah mewah itu, berlari dan membuka lebar kamar kedua orang tuanya.


Di sana ia hanya melihat kekosongan yang hampa, tak ada kata yang mampu terurai lagi, ia bahkan tak bisa lagi untuk sekedar menangis.


Rasa kecewa sudah mengalahkan semuanya. Ia benci dengan keadaan ini, ia benci dengan dengan suasana ini bahkan ia telah membenci dirinya sendiri.


Kemudian ia berlari menaiki tangga, dan berakhir memasuki kamar ternyamannya, tapi kembali ia merasakan kekosongan itu, kehampaan beberapa tahun lalu saat ia harus sendiri dan menangis dalam kegelapan itu.


Disinilah, disudut ruangan bernuansa biru langit dengan atap putih tersebut. Ia menangis sekencang-kencangnya meratapi hal yang tengah dihadapi dan yang akan dihadapi. Ia sudah kembali membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Semua orang yang menurutnya paling ia sayangi walaupun tidak pernah memiliki waktu untuk hidupnya beberapa tahun yang sudah terlewati, meninggalkannya sendiri lagi.


Ia merasa hidup dan kehadirannya ditengah mereka tidak berarti apa-apa dalam hidup mereka.


1jam berlalu...


Ia bangkit dari tempat duduknya, untuk sekedar membaringkan tubuhnya, yang sudah tidak bisa di topang oleh kedua kakinya. Seketika ia melihat sebuah kertas berisikan beberapa tulisan di atas nakasnya di samping tempat tidur itu, ia segera mengambil kertas itu dan perlahan duduk untuk siap membaca isi dari kertas tersebut.


Untuk anak ku Gres yang manis,,,,


Maaf jika mama hanya bisa pamit lewat surat ini.


Satu hal mama ingin kamu tahu, mama sayang Gres selalu dan selalu.


Maaf jika keadaan harus memaksa kita harus seperti sekarang.


Mama tahu ini sulit untuk mu.


Papa sama Mama begitu menyayangimu, sampai kami harus mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaanmu.


Saat ini, kamu harus tahu, dewasa itu menyakitkan sayang, jika kamu tidak siap ke tahap itu kamu akan menyesali banyak hal dalam hidup mu.


Dari sini kami ingin melatihmu untuk menyiapkan hal itu, menghadapi dewasa yang orang sering bilang tesebut.


Mama tahu, kamu pasti kecewa. Tapi ini untuk masa depanmu. Kami harus mencari uang yang banyak untuk membahagiakanmu.


Beli lah apa pun yang kamu mau, habiskan uang seberapa banyak yang kamu mau. Karena kita tidak akan pernah kekurangan sayang.


Kami tengah berjuang untuk mencarinya lagi.

__ADS_1


Papa sama mama janji akan berikan semua yang kamu inginkan dan mewujudkan semua yang kamu impikan. Kamu hanya perlu menjadi anak yang baik untuk kami


Dari mama


Untuk Gres.


Seketika ia runtuh dan terbaring di lantai melihat apa yang telah ia lihat. Mereka menyayanginya, tapi mereka meninggalkannya. Itu yang ada dalam benaknya saat ini.


“Aku  tidak butuh uang yang banyak itu sial. Aku bahkan bisa hidup tanpa tumpukkan kertas bernilai itu. Aku bahkan sudah banyak mengabiskan tumpukkan kertas itu, tapi tidak pernah merasakan bahagia yang kalian maksudkan itu!.


Aku seakan tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan kertas itu di mata kalian.


Apa yang perlu ku banggakan? Apa yang perlu ku lakukan dengan tumpukkan itu!


Dengan aku menghabiskan mereka pun tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan itu. Apa dengan uang aku bisa mendapatkan kasih sayang dari kalian.


Apa perlu aku harus menjadi dewasa memiliki banyak uang seperti kalian bisa membeli kasih sayang dari kalian.


Dari kecil aku selalu menyesalinya bahkan sampai sekarang ini.


Aku benci berada di puncak seperti ini,  dipuncak paling membahagiakan menurut banyak orang. Tapi kehampaan dan kekosongan yang aku dapatkan!...” ia mengeluarkan segala isi hati yang ia pendam saat ini.


Tanpa ia sadari ada beberapa orang yang tengah menatap pilu padanya saat ini, seakan mereka juga merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Itulah yang membuat ia bertahan selama ini, melihat masih ada mereka yang peduli padanya.


Walaupun mereka hanya pengerja dalam rumah mewah itu. Tapi ia merasa beruntung berada di sekitar mereka.


“Non.. jangan menangis lagi, nanti kamu akan sakit. Kamu mau bibi masakan apa?” kata bi Ima yang sudah memeluknya.


“Kamu harus kuat, yang sabar dan selalu berdoa sama Tuhan. Bibi yakin kamu akan menjadi anak yang baik suatu saat nanti”.


Ia tidak merespon ucapan orang tersebut. Ia hanya sesegukan di pelukan orang terdekatnya beberapa tahun in, itu adalah pelukan ternyaman dalam hidup selama ini.


***


.


.


.


Tibalah saat yang telah dinantikan oleh semua siswa lebih tepat siswa kelas 12. Mereka akan menghadapi ujian akhir mereka yang menentukan perjuangan mereka selama ini. Hari ini adalah hari pertama ujian tersebut.


“Yak..! Lo ada masalah hidup apa? Sudah dari bulan yang lalu, seperti mayat hidup yang berkeliran di bumi hah? Bahkan lo udah nggak ada gairah hidup lagi sekarang.” Teriak Jek saat mereka sedang berada di kelas sambil menunggu pengawas ujian datang.


“Iya. Bahkan lo udah berubah tau nggak...!  Mana diri lo yang suka bacot dan mengatai orang dengan mulut busuk mu itu hah?. Aku bahkan bosan jika harus berada di samping mayat bernyawa ini” tambah Eca merasa kesal dengan perubahan temannya akhir-akhir ini.


“Benar apa yang dikatakan oleh dua curut ini. Kamu kenapa Gres? Apa yang terjadi? Cerita ke kita. Kita ini sudah bersahabat lama bahkan dari orok juga udah kenal. Kenapa kamu berubah tanpa sebab?” sambung Rendi.


Jangan salah jika mereka bertiga meneriaki dirinya pagi ini. Mereka sudah bosan dan penasaran melihat tingkah Gres akhir-akhir ini. Bahkan seringkali ia menjauh dari teman-temannya itu.


Mereka sakit hati melihat sikapnya selama ini, bahkan terkadang mereka kesal dengan kelakuannya. Ia sering menghabiskan waktunya sendiri tanpa mau di ganggu oleh mereka.


Sebagai teman pasti akan merasa heran dengan peubahannya itu, sementara mereka bersahabat sudah dari mereka masih kecil selain Eca, yang merupakan sahabat mereka pas SMA saja.


Tapi mereka sudah seperti saudara boleh dikatakan.


Orang tua dari mereka saja sudah mengenali mereka  bahkan Gres sangat dekat dengan orang tuan dari ketiga temannya itu. Hanya orang tua dari Gres saja yang tidak terlalu dekat denga teman-temannya karena selalu sibuk dengan pekerjaan.


Mereka paham betul kisah hidup Gres, mereka tahu anak itu kesepian di setiap sisi hidupnya jika saja tidak ada mereka dan orang-orang yang bekerja di rumah Gres.


Mereka benar-benar tahu kalau Gres adalah anak yang kurang kasih sayang dari kedua orag tuanya. Itulah sebabnya mereka selalu mengajaknya bermain kerumah mereka jika pulang sekolah.


Mereka tahu, Gres begitu kaya. Tapi ia tidak memiliki kasih sayang seperti yang mereka dapatkan dari setiap orang tua mereka.

__ADS_1


Namun melihat hidup Gres yang sekarang membuat mereka bertanya-tanya. Apa masalah yang tengah ia hadapi.


Gres memang adalah tipe orang yang tidak suka membicarakan masalah pribadinya ke orang lain, biarpun itu adalah sahabatnya. Dari mereka bertiga, Gres lebih dekat dengan Rendi karena selain ia adalah teman dari masa kecil mereka juga bersebelahan rumah. Akan tetapi jarang juga ia mencurahkan segala bebannya kepada Rendi, kecuali jika ia sudah tidak bisa lagi. Ia akan menangis dan menceritakan semuanya, dan itu jarang ia lakukan.


“Yak.... Gres! Kamu tuli hah, kamu nggak tahu seberapa khawatirnya kita melihat perubahan lo selama ini hah....!” marah Eca karena dari tadi ia tidak mendengar apapun kata yang terucap dari mulut anak itu.


“Asal kamu tahu ya. kita bingung harus bagaimana melihat lo berubah !. Kita merasa seperti asing dalam hidup lo dengan kelakuan lo yang terus seperti ini” tambah Jek dengan nada yang tidak kalah tinggi juga.


“Lo pikir cuma lo aja yang punya masalah hidup disini, kita juga punya. Tapi dengan tingkah lo yang kayak gini benar-benar membuat gue muak tau nggak! Gue cape lihat lo terus kek gini, kalo memang lo nggak ada gairah hidup mati aja lo sana. Kesal gue lama-lama” timpal Eca saat itu.


“Lo seharusnya lebih terbuka sama ki---.” Belum sempat Jek melanjutkan kata-katanya tiba-tiba,


“BRAAAAAK!!!!”.......    (bunyi meja dipukul)


“APA PEDULI KALIAN HAAH. APAAA?  Ia benar kata lo gue  udah bosan hidup.


Gue tanya sama kalian apa peduli kalian?


Kalian nggk berhak marah sama gue.


Gue tahu gue emang menyusahkan, itu sebabnya gue berusaha menjauh dari hidup kalian.


Gue cukup tahu diri! Tapi kenapa kalian harus terus menyalahkan gue..???


Apa hubungannya dengan kalian hah?.


Gue bahkan juga muak dengan ini semua, asal kalian tahu. Kalau kalian merasa terbebani,  pergi....!!!


Pergi dari gue.!


Kalian jangan merasa bersalah atas gue, ini hidup gue, yang jalani pun gue.


Kenapa kalian harus berusaha ada di posisi gue kalau itu membosankan ?.” Balas  Gres marah setelah memukul kuat meja tadi karena merasa bosan di teriaki dari tadi.


Ia cukup sabar selama ini karena mereka tidak mengerti apa yang tengah ia hadapi.


“Itu karena lo egois bodoh...!


itu karena lo merasa lo bisa menanggapi itu semua.


Lo nggak pernah sadar ada saatnya lo harus lari dan bersandar seharusnya.


Tapi lo terlalu percaya diri sampai lupa kalau kita selalu beruasaha ada untuk lo, di saat orang tua lo meninggalkan lo sendiri keparat...!” jawab Eca dengan amarah yang meluap juga.


“Berhenti sebut nama mereka di depan gue sial!!!


Mereka nggak pantas lo sebut di hadapan gue. Lo tahu apa soal mereka?.


Kalian tahu apa soal gue bangsat?!!” ucap Gres dan beranjak pergi dari hadapan ketiga sahabatnya.


Tanpa memperdulikan suasana kelas yang hening karena ulah mereka. Dan siswa lain yang tengah heran melihat pertengkaran keempat sahabat itu.


“Pergi lo sana!! Gue juga muak lihat lo. Gue bahkan menyesal pernah kenal sama manusia egois seperti lo!.” Jawab Eca sambil menunjuk kepergian Gres.


Gres yang mendengar kata terakhir yang di ucapkan sahabatnya itu pun seketika berhenti dan tersenyum miris kemudian berjalan dan mengilang di ujung lorong sekolah entah kemana.


Rendi yang melihat hal itu berlari mengejar Gres sambil memanggilnya tetapi tidak di hiraukan. Ia terus berlari menuju belakang gedung sekolah tesebut dan memanjat tembok pagar sekolah.


Ia bahkan tidak peduli dengan keadaannya yang memakai rok seragam saat ini. Bahkan ini kali pertamanya bolos dari sekolah di saat ujian akhir pula.


Ia sudah tidak peduli dengan itu. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah berlari dan berlari tanpa tujuan sambil menangisi dirinya yang begitu egois. Ia tidak pernah menyalahkan teman-temannya akan hal itu.


Ia marah pun hanya karena butuh pelampiasan.

__ADS_1


****


__ADS_2