Mengapa ?

Mengapa ?
Penyesalan kadang mengerikan


__ADS_3

✨✨✨


"Gres!!" panggil Sean dari luar ketika sadar pintunya tak kunjung di buka.


"Sandinya apa ya?" gumam Sean lagi sambil melihat deretan angka di pintu tersebut.


Dia terus menekan bel di depannya sekarang karena kesal di buatnya.


Dia seperti orang yang sudah menagih hutang yang tak terbayar lama.


"Siapa sih," gumam Gres dalam keadaan bantal bertumpuk di kepalanya.


Ia pun dengan tampang baru bangun tidur tanpa nyawa sepenuhnya berjalan menuju pintu depan dengan pelan dan malas ia membuka pintu tersebut.


"Siapa?" tanya Gres masih dalam keadaan mengantuk.


"Pantasan gue nunggu lo sampe lumutan di sini," ucap Sean melemah dan dengan malas melangkah masuk kedalam apartemennya.


"Lagian ngapain lo kesini?" tanya Gres kesal merasa terganggu dengan kehadirannya.


"Lo lupa kita kan mau jalan!" ucap Sean kesal.


"Siapa yang juga yang udah setuju mau jalan sama lo!" jawab Gres yang sudah duduk sambil tiduran di sandaran sofa.


"Lo baru bangun?" tanya Sean.


"Menurut lo?" tanya Gres.


"Ya kira gue kan lo baru abis berpetualang di alam lain!" Ucap Sean .


"Iya gue berperang di alam mimpi!" jawab Gres malas dengan mata yang masih tertutup.


"Masih ngatuk?" tanya Sean.


"Hm," gumam Gres.


"Ya udah tiduran lagi aja," ucap Sean sengaja.


"Ya udah gue lanjut dah," ucap Gres yang sudah mau melangkah pergi.


"Janganlah, kita kan mau jalan. Mandi sana gue tungguin!" ucap Sean senyum.


"Tadi lo nyuruh gue tidur," ucap Gres malas.


"Ga, sekarang Lo siap-siap kita berangkat!" ucap Sean.


"Gue lagi malas keluar nih," ucap Gres.


"Ga bisa lo harus temani gue jalan. Apa perlu gue bantu lo siap-siapan?" tanya Sean dengan smirknya.


"Ga! Ga perlu!" jawab Gres bangkit dan pergi ke kamarnya.


"Jangan tiduran lagi lo," teriak Sean.


"Bodo amat!" jawab Gres.


"Kalo lo gak keluar-keluar, jangan salahhin gue jika terjadi apa-apa sama lo bareng gue di kamar!" Teriak Sean puas sambil tertawa renyah mendengar bantahan Gres dari kamarnya.


"Cepatan Gres, jangan buat gue berubah pikiran!" jawab Sean lagi karena merasa lucu dengan ucapan Gres yang sepertinya sedang kesal di dalam sana.


Beberapa menit kemudian....


"Jadi gak?" tanya Gres yang melihat Sean malah fokus pada ponselnya.


"Oh, udah?" Ucap Sean beralih dari ponselnya.


"Udah. Lo juga kalo sibuk ngapain ngajakin gue jalan," gerutu Gres melihat Sean sibuk dengan ponselnya.


"Ayok!" ajak Sean berjalan mendahului Gres.


Gres yang di ajak pun mengikuti dari belakang, sambil berjalan dengan malas.


"Kita jalan make apaan?" tanya Gres lagi yang melihat Sean berjalan tapi masih fokus pada ponselnya hanya sesekali melihat jalan.


"Kaki lah, masa kita jalannya make tangan," ucap Sean terkekeh.


"Serah lo, gue mah apa. Cuma diajak kan!" Ucap Gres kesal.

__ADS_1


"Baperan amat, kita make motor gapapa kan?" tanya Sean setelah puas mengerjai cewek di sampingnya sekarang.


"Menurut lo aja," jawab Gres yang melangkah lebih dulu keluar dari lift karena apartemen Gres di lantai 25 sedangkan Sean di lantai 26.


"Ngegas mulu deh, makin jelek tu muka!" seru Sean tertawa sambil kembali menaruh ponselnya di kantong jaketnya.


"Sejak kapan lo jadi sok akrab gitu sama gue?" Tanya Gres mengangkat sebelah alisnya.


"Hm, ga tau juga ya. Tapi seru juga buat lo kesal ya!" Ujar Sean melihat tingkah Gres yang makin manis jika sedang menggerutu.


"Alay lo!" ucap Gres mempercepat langkahnya dari lobi menuju parkiran.


"Emang lo tahu gue parkirnya di mana?" tanya Sean yang malah menghentikan langkahnya melihat Gres yang bahkan sudah sampai di area parkiran.


"Sean. Lo gangguin gue sekali lagi, gue balik buat tiduran aja mending!" ucap Gres makin kesal.


"Ga lagi deh, heheh-" ucap Sean mengalah.


Di perjalanan...


Suasana yang cukup canggung dimana Sean memelankan laju motornya sampai yang di gonceng pun hampir sono dibelakangnya.


"Gue saranin, kita lebih bagusnya jalan kaki aja deh," ucap Gres malas dan memecah suasana dari mereka.


"Kenapa begitu?" Tanya Sean tanpa berpikir.


"Iya, jalan kaki lebih cepat dari kita naik motor sekarang!" Ucap Gres menyindir.


"Gue bukannya ga mau ngebut Gres," ucap Sean sambil melihat wajah Gres di spionnya.


"La terus?" Tanya Gres heran.


"Mana bisa gue ngebut kalo lo aja ga pegangan. Kan gue takut lo jatuh!" ucap Sean tersenyum seperti sedang berpikir sesuatu.


"Ya udah gue pegangan nih, gue sampe ngantuk tau Lo!" Gerutu Gres yang sudah memegang besi tepat di tempat duduknya.


"Lo kalo diliat orang, mereka bakal ketawain serius," ucap Sean tertawa ringan.


"Mengapa begitu, kan gue ga sedang melucu!" Seru Gres.


"Gue tanya lo, orang kampung mana yang naik motor pengangnya di besi kek Lo?" tanya Sean.


"Pegangan disini aja, gapapa biar ga jatuh!" Seru Sean yang sudah menarik sebelah tangan Gres dan menaruh tepat di pinggangnya.


"Ta-" ucapan Gres terpotong.


"Udah, tangan lo yang satu mana?" ucap Sean dan menarik tangannya agar pegangan.


"Gue ngebut gapapa?" Tanya Sean lagi.


Gres yang dibuat begitu menjadi gugup dan tak menjawab pertanyaan Sean barusan.


Ia malah sibuk melihat punggung Sean dari belakang.


"Meluknya yang erat biar ga jatuh!" Seru Sean yang sudah melajukan motornya kencang.


Mereka pun sampai di suatu tempat, yang di penuhi banyak lampu pada setiap pohon yang berderet lurus tak berujung dan di depannya mereka seperti lapangan luas yang di penuhi rerumputan hijau namun di sana sudah tersedia beberapa meja yang bisa duduki oleh pengunjung. Ada beberapa orang juga di tempat tersebut boleh di bilang cukup ramai pengunjungnya.


Sean sudah menarik pelan tangan Gres dan menempati meja yang ia sudah pesan sebelumnya.


Ya, mereka harus memesan meja terlebih dahulu jika ingin menghabiskan malam bersama teman atau yang lainnya.


Di sana mereka bisa melihat bintang dengan leluasa tanpa ada penghalang karena pepohonan hanya sederet lurus saja di belakang lapang yang seperti taman tersebut.


"Woah!!! Gue baru tahu ada tempat seindah ini!" ucap Gres takjub.


"Ya ialah lo baru tahu, orang lo nyampe sini aja ga pernah kemana-mana selain kampus, kafe sama mall kan!" ucap Sean melirik Gres yang terus memandangi sekiranya.


"Ia sih. Tempatnya bagus banget!" ucap Gres yang sudah duduk manis di meja paling ujung yang di susun oleh pemiliknya.


Sean sengaja memilih tempat paling ujung agar tidak ada yang mengganggu waktunya bersama Gres.


"Gimana suka?" Tanya Sean tersenyum.


"Suka! Lo sering ke sini?" tanya Gres kembali menatap pemandangan lampu yang sengaja di gantung di pepohonan yang sedikit jauh dari meja mereka.


"Gue sering kesini kalo liburannya di New York!" seru Sean dengan pandangan jauh ke lapangan luas.

__ADS_1


"Sejak dari kapan?" tanya Gres penasaran.


"Waktu SMP, gue sering liburan ke sini karena orang tua gue juga waktu itu menetap di kota ini!" ujar Sean beralih menatap Gres.


"Hm, iya sih. Lo kan udah lama kenal daerah sini, jadi wajar kalo lo udah banyak tahu tempat disini," ucap Gres.


"Iya. Gue sering ngabisin waktu sendiri kadang juga sama teman-teman SMP gue dulu disini!" cerita Sean.


"Lo SMPnya disini?" tanya Gres.


"Iya. Gue lulus SMP baru ke Indo!" Ucap Sean.


"Pantas lo banyak tahu," ujar Gres memutar bola matanya.


"Heheh, iyalah!" Jawab Sean.


"Lo ga bosan disini, SMP udah di sini terus kuliah juga?" tanya Gres sambil menyesap minumannya.


"Lebih tepatnya, gue ga ada tujuan lain lagi selain di kota ini!" seru Sean.


"Mengapa begitu, bukanlah ada banyak kampus di luar sana bahkan lebih bagus dari New York!" seru Gres.


"Gue cuma mau ngabisin beberapa momen hidup gue di sini, karena seseorang!" ucap Sean memandang lurus kedepan.


"Oh, pantas lo ga punya tujuan lain," ucap Gres tidak bertanya lagi karena takut terkesan merujuk pada privasi Sean.


"Lo ga nanya gue siapa seseorang gue maksud itu?" tanya Sean menatap teduh kedua mata Gres.


"Gue rasa gue ga ada hak buat nanya berkaitan privasi lo!" jawab Gres.


"Tapi entah kenapa, gue merasa lo berhak nanya soal itu!" ucap Sean kembali tersenyum.


"Hahah, mana ada? Gue ga nyaman bicarain sesuatu yang berkaitan sama privasi seseorang!" ucap Gres tersenyum.


"Kalo gitu, gue mau ngasih tahu lo siapa orangnya," ucap Sean tersenyum hangat.


"Lo ga perlu cerita. Gue bukan orang yang bisa di percaya buat beberapa hal seperti itu!" Jawab Gres lagi.


"Orang itu, sangat cantik. Dia perempuan yang baik. Senyumnya juga manis, Bisa menjadi orang yang berarti dalam hidupnya adalah hal yang ga pernah saya sayangkan. Hebatnya dia bisa membuat saya merasa disayangi dan mampu membuatnya kecewa dalam waktu yang bersamaan. Walaupun demikian, saya tetap menyayanginya sampai detik ini," ucap Sean dengan pandangan jauh.


"Berarti dia begitu berarti buat lo!" ucap Gres yang ikut terlarut dalam ceritanya.


"Jika boleh, mungkin lebih dari itu!" Ucap Sean menatap teduh wajah Gres.


"Lalu, mengapa kau tidak mengenalkannya padaku?" tanya Gres sambil menikmati kopi hangat.


"Sayangnya, dia udah ga bisa di temui!" Ujar Sean.


"Dia pergi kemana?" tanya Gres lagi.


"Di suatu tempat yang belum pernah gue kunjungi!" jawab Sean.


"Memangnya dia kemana?" tanya Gres semakin penasaran.


"Gue ga tahu. Yang jelas gue paham, mereka akan selalu pergi, mereka selalu punya tujuan dan semua orang yang gue sayang selalu begitu. Dan saat itulah aku menyadarinya. Aku tidak punya tempat tujuan jika melihat setiap jejak dari itu, benar kehidupan ini tidak memiliki akhir," ucap Sean menunduk.


"Mungkin yang lo maksud-"ucapan Gres menjeda ketika Sean menjawabnya.


"Ya. Mama pergi begitu saja, bahkan untuk meminta maaf pun gue gak sempat. Dia meninggal di saat gue terpuruk dan masih dalam keadaan membencinya!" ucap Sean yang bahkan mungkin sudah dengan mata yang berkaca-kaca jika Gres lebih dekat melihatnya.


"Gue ga tahu apa yang terjadi antara lo dan mama lo saat itu. Tapi, gue cuma mau bilang ke lo hidup gak akan berhenti disaat kita sudah kehilangan banyak hal. Nyatanya beberapa yang hilang juga indah di saat yang tepat!" ucap Gres dengan tatapan hangat pada manik mata Sean.


"Tapi, gue bahkan mampu mengecewakan dan membencinya di saat yang tepat!" ucap Sean makin menunduk.


"Lo ga sedang membenci. Lo hanya ga tahu cara yang tepat dalam mencintai dan menyayanginya," jawab Gres yang sudah menarik lembut tubuh Sean merapat dan memeluknya untuk memberikan penguatan.


"Mungkin lo benar, gue ga padai dalam menunjukkan perasaan gue ternyata!" jawab Sean yang sebelah tangannya sudah memeluk tubuh Gres.


"Dan dia di mana sekarang?" tanya Gres pelan.


"Tempatnya ga jauh dari sini!" jawab Sean kembali duduk di sebelah Gres dan memaksa tersenyum.


"Lain kali lo boleh ngajak gue ke sana bareng lo!" ucap Gres lembut.


Dan benar dalam hidup, penyesalan dan ketidak relaan dibandingkan dengan ketakutan, lebih mengerikan berkali-kali lipat.


Dan beberapa orang dari mereka yang mengalami hal demikian tidak pernah luput dari kenyataan hidup yang sedikit rumit, namun mereka malah terlihat baik-baik saja bagi orang-orang yang tidak tahu bagaimana sulitnya hidup itu.

__ADS_1


_Minggu, 08 Agustus 2021


__ADS_2