
'Banyak hal yang mungkin menghancurkan hati dan perasaan kita di setiap segi kehidupan tetapi memperbaiki penglihatan dan pemahaman kita tentang hidup'
***
Hidup itu seperti sebuah drama. Sulit bagi kita untuk bertemu, untuk saling memahami, untuk saling mengerti dan bahkan untuk menyadari beberapa hal tentang real life yang seharusnya.
Jika saja hidup masih sama seperti cerita yang dikendalikan oleh author ataupun seperti film yang punya sutradaranya maka ia akan lebih terarah dan berjalan sesuai dengan urutan dan kronologi kerangka alurnya.
Banyak hal boleh terjadi dan banyak penyesalan juga sudah dilalui dan dirasakan. Masihkah kita tetap menyalahkan hidup?
Dalam hidup juga akan ada beberapa orang terlahir membosankan. Beberapa orang lainnya terlahir dengan penuh warna. Jika kita bertemu dengan orang yang penuh warna. Maka mungkin saja saat itu hidup kita pun akan berwarna.
"Kata banyak orang keluarga adalah kumpulan dimana mereka-mereka yang hidup dalam suatu lingkungan yang terdiri dari beberapa peran yang dimainkan oleh orang-orang di dalamnya.
Mereka akan saling mendukung dalam berbagai situasi, saling menguatkan dalam berbagai persoalan dan saling mengisi dalam berbagai kekosongan.
Mereka yang akan marah sejadi-jadinya jika mendapati bagian dari mereka disakiti oleh orang luar yang tak mengenal baik tentang mereka, mereka yang akan menangis bersama jika kesedihan menghampiri, mereka yang sering berdebat bahkan pro kontra dalam beberapa hal namun tidak sampai saling menjatuhkan, mereka yang akan menjadi yang terdepan jika salah satu darinya dihancurkan atau diganggu dari luar.
Terlihat seperti akur di luar tapi menjadi musuh dalam rumah untuk sekedar mengusir lelah, penat dan bosan.
Begitulah menurut yang ku pahami perihal keluarga yang saling ada dan menopang diberbagai situasi dan keadaan dengan beberapa cara yang mungkin berbeda. Beberapa dari mereka mencurahkan kasih dan sayang dengan cara yang beda juga ada beberapa yang tidak bisa memperlihatkan bagaimana mereka saling menyayangi. Intinya, mereka adalah beberapa orang yang saling melengkapi, menerima, dan menjadi tempat pulang untuk setiap lelah dan penat dari setiap jenuh dalam keseharian mereka," ucap wanita dewasa dalam lamunannya ketika tengah beristirahat untuk sekedar membayar lelah dari pekerjaan panjangnya.
"Tapi entah kenapa, dalam keluarga yang kami bangun setelah banyak waktu dan langkah jauh yang mengantar kami sampai detik ini. Ada beberapa dan banyak hal yang terlewati atau mungkin belum dimulai sama sekali. Bagaimana mungkin aku begitu mendalami peran dalam hidup tanpa menyadari suatu hal yang luar biasa penting itu!" tambahnya lagi dengan pandangan jauh kedepan dalam kesendiriannya.
"Apakah aku sudah benar-benar terlambat atau melewati banyak hal selama ini? Bagaimana dengan anakku? Bagaimana dengan kesehariannya seorang diri menjalani hidup yang bahkan tidak aku tahu bagaimana ia hidup. Apakah ia makan dengan baik. Minum dengan baik. Tidur secara teratur. Mengurus diri dengan baik. Tumbuh dengan baik. Dan masih banyak lagi.
Woah, aku sudah melewatkan banyak hal. Bagaimana mungkin aku masih bisa tertawa dengan bahagia tanpa beban selama ini?
Mungkin aku orang tua, ibu dan sekaligus istri yang payah," ucap Siena dalam pandangan yang berkaca-kaca ketika mengingat bagaimana ia bersikap dalam beberapa peran tentang hidup untuk tahun-tahun terakhir ini.
"Aku harus menghubungi dia!" serunya mengingat ia sudah tidak bisa menerka lagi kapan terakhir kalinya ia bertemu ataupun bertukar kabarnya dengan putrinya.
Deringan telpon yang menandakan tersambung dengan orang diseberang sana terdengar namun belum kunjung di angkat oleh sang pemiliknya.
"Halo anak mama!" ucapnya tersenyum ketika menampilkan muka sang anak dilayar ponselnya. Ia melakukan video call untuk dapat melihat bagaimana wajah anaknya sekarang.
"Hai Ma! Mama apa kabar?" tanyanya dengan mimik sedikit kaget, mungkin karena terkesan jarang ia dihubungi seperti sekarang.
__ADS_1
"Mama baik sayang. Gimana kabar kamu?" tanya Siena tersenyum miris ketika mendapat tanggapan yang sedikit canggung dari sang anak.
"Baik Ma. Papa gimana kabarnya? Gres udah lama dan lupa terakhir kali kapan aku dihubungi Papa," Ucap Gres sedikit terkekeh untuk menutupi beberapa hal.
"Papa kamu baik. Sehat. Kami baik-baik aja sayang. Maafin Mama nak!" ucap Siena tersenyum getir mengingat bagaimana sikap dan tingkah lakunya selama ini.
"Mama kenapa minta maaf? Mama terlihat lebih cantik dan muda sekarang!" gurau Gres mendekatkan mukanya di kamera utama lebih fokus melihat sang ibu.
"Mama melewatkan banyak hal ternyata, Mama adalah yang terpayah mungkin," ucap Siena sedikit berkaca-kaca.
"Heheh, Ma!!" panggil Gres.
"Iya sayang!" jawab Siena.
"Jangan bekerja terlalu lelah. Juga jangan terlalu mengirimi Gres uang yang banyak. Mama harus jaga kesehatan!" ucap Gres tersenyum.
"Iya. Mama usahain untuk banyak istirahat. Mama akan tetap mengirimkanmu uang yang lebih jika demikian. Kamu kan lagi kuliah sayang pasti banyak keperluan dan kebutuhan jadi jangan bicara seperti itu. Gres adalah anak Mama dan kamu masih kecil ya, kamu jangan dewasa terlalu cepat! Mama belum rela," ucap Siena sedikit terkekeh.
"Gres udah besar Ma. Udah bisa cari uang sendiri juga! Mama jangan sering bilang Gres kecil lagi dong!" Jawab Gres pura-pura ngambek.
"Gak mau. Gres tetap akan jadi anak kecilnya Mama! Dan jangan coba-coba bekerja atau mencari uang sendiri! Kami tidak kehabisan uang untuk menghidupi mu!" ucap Siena mantap.
"Gres!!" panggil Siena.
"Hm," gumam Gres yang masih setia memandangnya di layar tersebut.
"Apa kamu makan dengan baik? Minum dengan baik? Dan tidur secara teratur?" tanya Siena berturut-turut.
"Iya dong. Aku selalu makan yang enak, minuman juga yang mahal-mahal. Abisnya blackcard milik Gres gak pernah habis dari tahun ke tahun. Mama gak usah khawatir Gres juga tidur dengan baik setiap malamnya!" jawab Gres penuh kebohongan jika ia tidur ataupun makan dengan baik. Mungkin nominal di kartu kreditnya tak terhitung tapi baginya itu bukannya sesuatu yang bisa di andalkan.
Banyak hal ia pelajari bahwa terkhusus hidup tidak semua situasi bisa di tukar dengan uang. Kasih sayang, kenyamanan dan cinta misalnya.
"Hiduplah dengan baik dan bahagia Ma. Jangan terlalu sibuk. Mama perlu jeda dalam hidup. Mama juga perlu menikmati senja disore hari dan sunrise di pagi hari. Suasana malam di tepi pantai juga seru Ma!" Tambah Gres tersenyum hangat mengingat ia tahu betul kedua orang tuanya mungkin tidak pernah merasakan suasana tersebut.
"Heheh, benar sekali ternyata Mama melewatkan banyak hal selama ini. Mama bahkan gak pernah melihat senja dan sunrise, juga gak pernah merasakan suasana pantai di malam hari!" ucap Siena tertawa getir.
"Mama hebat. Udah melakukan banyak hal yang luar biasa. Gres sayang Mama! Gres juga sayang Papa!" ucap Gres pada akhirnya.
__ADS_1
"Mama mau pulang Gres," ucap Siena jujur.
"Kemana?" tanya Gres yang bahkan sudah tidak bisa menebak mana tempat pulang sang ibu. Setahunya Papa adalah tempat ia bersandar selain itu mungkin dimana lagi.
"Mama akan pulang Indo. Ke rumah kita. Mama mau memulai semuanya dari awal. Mama lelah dan kalah juga akhirnya, heheh-" ucap Siena jujur.
"Mama harus hidup dengan baik dan bebas melakukan apapun yang mama mau. Mama harus hidup dan melakukan apa yang membuat Mama bahagia tanpa harus merasa tertekan. Nanti Gres yang bicara sama Papa! Jika semuanya selesai nanti, Gres akan pulang juga!" ucap Gres.
"Mama rencanain ini sendiri. Papa gak tahu, jangan bilang ke papamu dulu. Dia sedang sibuk," ucap Siena mengingat suaminya tak pernah ada waktu untuk sedikit bersantai dari dulu.
"Baiklah. Mama hati-hati di perjalanan. Jangan telat makan" Ucap Gres kemudian.
"Halo Gres!!" teriakan dari telpon anaknya terdengar jelas.
"Siapa sayang?" tanya Siena heran ia tahunya Gres sedang di apartemen dan tinggal sendirian.
"Oh, itu si Sean pasti. Gue di balkon oii!" jawab Gres dan juga teriak menjawab panggilan dari temannya.
"Teman kuliah kamu sayang?" tanya Siena penasaran.
"Ia Ma. Masa masa gak kenal!" Ucap Gres heran.
"Halo Tante apa kabar? Tante gak lupakan sama Sean?" tanya Sean yang tiba-tiba menampilkan mukanya dari kamera ponsel anaknya.
"Ya astaga! Nak Sean, kamu kuliah di New York juga?" tanya Siena kaget.
"Ia Tante. Lebih tepatnya di kampus yang sama dengan si bocil ini!" ucap Sean mengejek Gres.
"Heheh, Tante gak nyangka kalian ketemu di sana. Nak Sean, tante titip Gres ya. Anaknya suka nakal, sering makan gak teratur tuh dia!" ucap Siena tersenyum.
"Sama satu lagi Tan. Dia sering begadang juga!!" Ucap Sean dengan bantahan terdengar dari anaknya yang menyangkali kesalahan.
"Pokoknya tante percayakan Gres ke kamu ya! Sudah dulu nanti Mama hubungi lagi ada tamu soalnya!" Ucap Siena dengan mengakhiri video call tersebut karena ada tamu katanya.
Terkadang real life benar-benar memupuskan harapan dan impian tentang hidup. Namun, bagaimana pun kenyataannya menerima adalah cara terbaik untuk lebih mensyukuri hidup ini.
Semua orang terdekat kita terkadang hidup di jalan pilihannya masing-masing untuk mengekspresikan diri dan tidak menutup kemungkinan kita akan melakukan kesalahan juga dalam hidup dan hidup dengan cara menerima adalah choice terbaik untuk setiap persoalan walaupun terkadang kita akan sakit terlebih dulu.
__ADS_1
_09 sept. 2021