
Annyeong.....
Woahhh.. udah lama hilang ya🤗
Maafkan jika merasa di gantung... Kesibukan ini benar-benar membuatku tak berpaling, He He He😁
Semoga dalam keadaan baik dan sehat-sehat kalian 🤗🌹🌹
Sambil Ngopi ☕ Mari Membacanya dengan santai 😀🥰
.
.
.
'Andai kami tidak perlu berpamitan, aku tidak akan tahu betapa berharganya momen ini. Betapa terbatasnya waktu kami. Saat seseorang pergi, kenangan itu akan bertahan selamanya. Perpisahan selalu menyakitkan. Tapi beberapa hari terakhir, aku sangat bahagia. Mungkin saat kamu harus berpisah dengan seseorang, Akhirnya kamu sadar betapa kamu sangat mencintai orang itu.' _anonim.
...***...
"Nak! Kamu gapapa temani tante sore-sore gini?" Siena tak enak pada Rendi yang mungkin saja anak muda pasti punya banyak janjian.
"Gapapa kok. Lagian Rendi juga gak kemana-mana hari ini!" Rendi yang fokus menyetir menemani sahabat Mamanya tersebut.
"Tante takutnya kamu ada janji sama teman lagi. Abisnya mobil Tante belum bisa di ambil sore ini karena masih belum selesai perbaikannya." Siena tak enak.
"Tante gk usah sungkan. Biasa juga Rendi sering nemanin mama sama tante bepergian."
"Iya sih. Oh, iya. Kamu setelah lulus kemarin mau rencana kemana lagi?"
__ADS_1
"Masih belum tahu Tante. Aku sih mau fokus buat bantu Papa di perusahaan aja. Lagian Rendi juga udah malas kuliah Tan!"
"Kamu hebat ya! Tante bahkan kaget lho. Waktu kamu tiba-tiba balik waktu itu, Tante pikir kamu masih lanjutin kuliah kamu lagi."
"Aku sih lagi mikir aja Tante. Buat apa kuliah terus tapi gak punya pengalaman. Toh banyakan juga mereka kuliah sebanyak itu untuk mempermudah mereka masuk di lapangan kerja yang kita mau bukan ? Sedangkan Rendi kan gak bingung lagi harus masuk atau lamar dimana!"
"Kamu benar. Dari pada membuang waktu kan ya! Bagus sih. Kamu masih muda masih semangat juga. Jadi ini waktunya untuk kamu berkarya!" Ujar Siena yang diangguki oleh Rendi.
Setelah beberapa menit kemudian....
"Tante!" Panggil Rendi.
"Hm?" Siena fokus pada jalanan di depannya.
"Aku pernah sekali membaca novel waktu kuliah."
"Di sana ada deretan kata yang mampu mengacaukan pikiran ku sampai sekarang. Aku seperti tidak menemukan titik temunya," Rendi menggantung ucapannya dengan menarik nafas dalam.
"Setiap kita suka sama seseorang. Orang itu malah ga suka sama kita. Juga setiap orang suka sama kita, kitanya yang gak suka sama dia. Sampai hari ini aku sering mikir kok bisa sih Tan, orang saling suka?" tanya Rendi makin serius dengan menatap Siena sekejap.
"Heheh, kamu pernah dengar gak kata-kata ini, 'untuk masalah perasaan orang yang berpikir dewasa pun bisa ngelakuin hal bodoh'. Gak ada yang tahu dan paham betul tentang perasaan lho! Betul gak?" Tanya Siena tersenyum simpul.
"Di bumi ini bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat memang hanyalah sebuah fenomena. Sama halnya dengan rasa suka kita bisa saja menyukai beberapa orang yang kita temui dalam hidup. Dan orang yang kita sukai tersebut belum tentu juga mereka menyukai kita balik bukan!
Kagumi saja sewajarnya, daripada kamu kecewa pada khayalan mu sendiri nak!" Ujar Siena tersenyum hangat.
"Tapi Tante! Bagaimana dengan tokoh sebelahnya lagi yang menyukai orang yang sama dari masa ke masa?" Ujar Rendi seakan menuntut jawaban.
"Hm? Sebenarnya buku cerita apa yang kamu baca itu nak?" Tanya Siena seakan penasaran siapa sebenarnya tokoh tersebut.
__ADS_1
"Rendi sudah lupa judulnya Tan," ujar Rendi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Memangnya orang kamu sukai tidak menyukaimu balik? Hm?" tanya Siena tersenyum jahil.
"B-bukan aku kok tan!" Tegas Rendi menutupi kegugupannya.
"Memangnya orang itu berterus terang bilang tidak suka sama kamu?" tanya Siena.
"Gak sih tante. Akunya aja yang pikirannya sampai ke sana! Eh, maksud ku pemeran tokohnya!" Ujar Rendi yang makin panik karena kelepasan.
"Gapapa. Kamu seharusnya, eh maksud Tante. Pemeran tokoh sebelah itu seharusnya jangan mengambil kesimpulan dari asumsinya sendiri. Sejauh yang Tante tahu ni ya. Gak ada yang bisa memahami perasaan dengan baik." Ujar Siena.
"Harusnya, waktu itu gak harus make acara suka lagu yang sama. Harusnya,
aku jangan terlalu menjadi suka dengan wangi parfumnya. Harusnya,
tidak perlu punya tempat favorit saat butuh healing. Karena tiap kali aku bertemu salah satu dari itu semua, membuatku harus mengingat kita yang dulu." Gumam Rendi menatap jalanan didepannya dan ucapan yang terdengar jelas di telinga wanita setengah baya disampingnya.
"Jangan pernah mengira setelah bahagia, tidak bakal lagi dikasih kecewa. Semesta tidak sesederhana yang kamu kira. Ada saatnya kamu menjadi rindu pada hal-hal yang pernah kamu miliki dan bisa gapai kali lalu, tapi tidak untuk kembali ke sana. Hidup ini dinamis begitupun orang-orang di dalamnya. Semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Dan kita harus menerima itu," ujar Siena menanggapi ucapan Rendi barusan.
"Bahkan kami berpisah saat belum memulai sama sekali!" Rendi pasrah.
"Tidak ada yang abadi. Semua akan berlalu semestinya. Kalau ia ditata baik untukmu, maka ia akan dengan sendirinya kembali." Siena mengakhiri perbincangan mereka karena sudah sampai ditempat tujuan.
"Maaf Tante, kalo kelak di waktu yang ga kita kira gue berusaha keras untuk mementingkan ego dibanding kebaikan bersama. Aku udah terlalu larut dalam suasana rasa yang masih sama." Ujar Rendi serius dalam ucapannya.
"Kita ga tahu kedepannya nak. Tapi satu hal jangan salah mengambil langkah jika waktu itu tiba." Jawab Siena tersenyum hangat.
Bahkan untuk meyakinkan diri saja tidak berani aku lakukan, benar kata orang 'dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan ga ada yang murni, salah satunya pasti bakal punya perasaan lebih entah saat mereka bersama atau saat mereka sudah tak lagi bersama' maaf aku orangnya. Bahkan lo pun sendiri tahu bagaimana perasaan ku saat terakhir kali berpisah. batin Jeno dalam perjalanan mereka.
__ADS_1