
Seminggu sudah setelah Sean mengajak Gres jalan waktu itu. Kini mereka tengah disibukkan dengan kegiatan perkuliahan yang banyak menyita waktu apalagi masih dalam tahap awal tentunya ada banyak tugas dan kesibukan lainnya yang membuat mereka jarang untuk bertemu lagi.
Apalagi di kampus tempat mereka berkuliah adalah salah satu kampus bergengsi di New York.
Tidak heran jika mereka yang satu angkatan saja jarang bertemu di karenakan mereka punya mata kuliah pilihan masing-masing.
Dan hari ini, Sean tengah duduk di kafe dalam kampus tersebut. Ia tengah menikmati kopi sorenya ditemani oleh beberapa kawan lamanya di New York yang ternyata kuliah dalam kampus yang sama juga tapi beda jurusan.
Mereka tengah bersantai dan sesekali berbincang tentang banyak hal.
"Eh, lo gak ada niatan gitu buat nyari cewe aja! Gue bosan dari dulu kita SMP lo selalu belajar tentang bisnis mulu," ucap Gerald malas.
"Iya sih, gue tuh cuma takutnya lo gak sempat nikmati masa muda lo. Di tambah lagi lo sekarang udah mimpin di perusahaan, jadi bagi gue tipis kemungkinan lo punya waktu buat ke gituan!" tambah Bryan mendukung argumen Gerald.
"Lo berdua pada sirik ya sama gue. Nanti juga bakal ada tenang aja!" seru Sean dengan mengangkat alis sebelahnya.
"Ingat bro, kita hidup tuh gak melulu soal pekerjaan. Ada saatnya juga kita bicara tentang hati sama perasaan," jawab Bryan.
"Dahlah lo ngomong sampai segitunya juga gak bakalan paham dianya. Percuma banyak yang ngejar dia sampai hari ini tapi gak satu pun yang di gaet!" ucap Gerald malas.
"Tenang aja nanti gue kenalin. Gue bukan lo pada ya, yang hari ini lain besoknya cewek lain lagi. Gue mah cukup satu aja gak lebih," jawab Sean pasti.
"Gak percaya gue ma lo, dari dulu kan emang lo tuh gak pernah ngenalin satu cewekpun ke kita!" ujar Gerald serius.
"Gue sih, kalo lo bawa dan ada didepan gue baru tuh gue percaya!" Tambah Bryan lagi.
"Kenapa sih lo pada gak percayaan amat? Gini ya gue tuh gak punya waktu buat kek gituan jadi kalo pun udah ada ngapain buang-buang waktu buat kenalin kek lo pada!" jawab Sean tersenyum mengejek.
"Udahlah lo memang gak pernah dekatin cewek mana pun, jadi lo fokus belajar sama mimpin perusahaan aja bangkrut baru tau lo!" seru Gerald mengejek pula.
"Liat aja nanti!" ucap Sean pasti.
"Eh, tapi senior yang kemarin nyamperin lo tuh boleh juga!" seru Bryan dengan senyuman nakal.
"Iya tahu yang playboy kelas atas. Liat yang kek gituan aja udah melebar pupil lo!" jawab Sean.
"Kalo lo gak respon dia gue embat ajalah!" Ucap Bryan lagi.
"Ambil aja buat lo, gak suka gue tipe gituan!" jawab Sean serius.
"Gue pegang kata lo bro!" jawab Bryan terkekeh.
"Noh, cewek pada liatin lo dari tadi, lo gak ada niat buat ngerjai mereka gitu? buat main-main!" tanya Gerald yang melihat sekeliling kafe memangĀ di dominasi sama cewek sore ini.
"Biarin ajalah, mata mereka juga yang dipake buat liat!" seru Sean malas tahu.
__ADS_1
Tidak heran sih, jika banyak yang tergila-gila pada seorang Sean selain tampan dia juga cukup dikenali di kalangan dosen maupun mahasiswa di kota ini karena siapa yang tidak tahu perusahaan keluarganya yang terkenal besar dan banyak cabangnya.
Bahkan dari semasa SMA saja dia sudah memimpin perusahaan besar yang di Indonesia.
Di kampus pun perusahaan milik keluarganya menjadi tujuan banyak mahasiswa untuk mulai berkarir di perusahaan seperti itu.
Pihak kampus saja mengenal baik keluarga mereka, jadi tidak heran jika ia terkenal.
Setelah perbincangan mereka di kafe tersebut, membuat Sean sadar jika sudah seminggu ini tidak bertemu dengan Gres.
Maka ia pun berinisiatif untuk mengajaknya bertemu malam ini. Entahlah mungkin karena kesibukannya di kampus dan mengurus perusahaan membuat ia bisa melupakan cewek tersebut.
Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo" jawab seseorang diseberang.
"Lo di mana?" tanya Sean singkat.
"Di kampus"
"Jadwal kuliah malam lo?" tanya Sean.
"Ga. Ini baru mau balik!"
"Gue jemput ya, lo tunggu di kafe dalam kampus aja!" seru Sean mengakhiri telpon tanpa menunggu persetujuan dari orang yang ditelpon.
.
.
.
Di kampus....
"Gres!" panggilnya yang sudah berdiri di samping meja kafe yang menjadi tempat Gres duduk.
"Lo kenapa sih, ga nunggu gue selesai bicara dulu baru tutup telponnya?" tanya Gres kesal.
"Ya maaf. Gue kan buru mau jemput lo!" jawab Sean.
"Kan tadinya gue udah mesan taxi, dan lo tahu taxinya udah sampe gerbang kampus dan dengan terpaksa gue cancel dan berujung tetap bayar ya!" ucap Gres kesal.
"Jadi lo marah karena gegara lo bayar denda di taxi itu?" tanya Sean tidak percaya dengan cewek di depannya sekarang.
"Iyalah. Orang gue gak pulang dengan taxi tapi bayar kan sayang!" seru Gres menyeruput cokelat hangat di depannya.
__ADS_1
"Oke deh, biar gue ganti duit lo! Percuma kaya raya tapi perhitungan sama diri sendiri lo!" ucap Sean yang sudah duduk dan tertawa melihat tingkah lucu Gres yang terus mengomel.
"Eh, bokap gue kerjanya gak istirahat cuma mau hidupin gue ya. Jadi gue make duit pun gak boleh boros boros!" Ucap Gres kesal.
"Sejak kapan bokap lo permasalahin uang? Yang ada masalahnya sekarang kenapa lo belum ngabisin duit bulanan lo bulan lalu kali!" ucap Sean tersenyum.
"Ya. Tetap aja gue kesal sama lo!" ucap Gres
"Berati lo bukan kesal sama taxi yang di cancel tapi lo kesalnya sama gue!" ucap Sean terkekeh.
"Serah lo. Terus lo ngapain nyuruh gue tunggu di sini?" tanya Gres malas.
"Kan mau jemput lo, gak mungkin kan gue jemput lo sambil ngejar taxi yang lo tumpangi!" seru Sean yang sudah meraih cokelat miliknya dan meminum sampai habis.
"Yak! Lo ngapa minum punya gue?" teriak Gres kesal.
"Gue dingin Gres. Lo gak liat cuaca lagi mendung!" seru Sean.
"Tapi gak harus minum punya gue juga kan!" ujar Gres makin kesal.
"Lo kenapa sih, sejak gak ketemu seminggu ini makin jutek aja!" gerutu Sean.
"Lo yang bikin gue kesal ya!" jawab Gres.
"Ya udah sini gue bayarin dan kita balik!" ucap Sean menarik tangan Gres menuju kasir.
"Mba nih buat meja paling pojok atas nama Gres!" ucap Sean menyodorkan kartunya untuk membayar.
"Oh, maaf. Meja itu sudah membayar kak!" jawab petugas kasir tersebut dan mengembalikan black card miliknya.
"Gres lo!" ucap Sean menoleh ke arah Gres yang sudah melangkah pergi keluar kafe.
Gres terus tertawa karena berhasil mengerjai Sean.
Ia terus melangkah dan menunggu Sean di samping motor milik Sean yang terparkir di sana.
"Terniat sekali lo ngerjain gue ya!" ujar Sean menatap tajam cewek didepannya.
"Ayok balik. Katanya mau balik!" ajak Gres tak peduli ocehan Sean.
"Gue mah apa. Ayok!" ucap Sean yang sudah duduk manis di atas motornya.
Mereka pun pulang tapi entah kenapa jalan yang mereka lalui bukan arah untuk pulang.
"Lo mau bawa gue kemana Sean? Ini udah malam lho!" ujar Gres dingin.
__ADS_1
"Tenang aja. Dikit lagi kita sampe kok!" jawab Sean hangat.
"Terserah lo!" ucap Gres malas ketika mereka dalam perjalanan dan dihabiskan dengan berantem saja tak memperdulikan suasana di jalan yang sedikit ramai.