Mengapa ?

Mengapa ?
Pilihan...


__ADS_3

...“Tunggu saja dan lihat mengapa takdir membuatmu menunggu. Apa yang sedang disediakan untukmu melampaui apa yang pernah kau doakan ataupun pikirkan”...


...°°°...


Sebagian orang punya takdir disukai, dikagumi dan dicintai tanpa perlu melakukan apa-apa. Sedang sebagian yang lain harus berusaha sekuat tenaga dan bertaruh-berjalan setengah sadar, sembari menutup mata; berharap tak tersandung kecewa, patah, redup dan tak diterima_ig:sajaktanpaabjad.


Seingatnya, mereka tak cukup dekat saat masa kecil diwaktu lalu. Kalau saja ia sedikit mengulas balik bagaimana hubungan mereka awalnya. Haruskah ia sebut mereka bertemu dalam kata takdir. Sean hanyalah sosok yang datang saat ia tengah bingung dengan permainan takdir menurutnya. Kalaupun pada akhirnya jejak yag mereka pijak berada pada saat yang sekarang, harus bagaimanakah ia menanggapinya?


Pernyataan cinta yang Sean yang lakukan kemarin mampu membuatnya banyak berpikir sepanjang hari ini. Bukan karena merasa punya perasaan yang sama, tapi karena ia bingung saja apa yang ia dengar, ia lihat dan yang mesti ia lakukan.


Jika saja berbicara tentang perasaan, sosok empat tahun yang lalu masih teringat jelas dan punya tempat tersendiri di dasar hatinya.


Ia ingat persis, bagaimana sosok itu mengakui perasaannya dan harus siap berpisah diwaktu yang bersamaan.


Kalau saja ia bisa sedikit berharap kala itu. ia mau menerimanya dan menjalani hari bersama bukan lagi sebagai sahabat tapi lebih dari itu. Buktinya beberapa tahun terlewat ini, walaupun jarak, waktu dan keadaan menjadi penghalang, namun sosok itu akhirnya benar-benar ia memahaminya dengan baik setelah ia tak lagi di sampingnya.


Ia mencintainya waktu itu dan sekarang masihkah mungkin!.


Lalu, “Hah! Ku pikir aku hanya sedang bahagia saja saat itu. Aku lupa masih ada takdir yang setia dalam mempermainkan ku.” Gres melepas napasnya kasar setelah lelah dalam berpikir sepanjang hari ini.


Satu hal terlintas di otaknya, hanya satu orang yang mampu memahami dan paling memahaminya saat ini. Mengingat empat tahun lalu dijalanan Kota ini dengan hujan yang mengguyur mobil yang mereka gunakan.


Ia mendapatkan kelegaan tersendiri setelah berbincang dengan sosok itu. “Sudah lama, lama sekali aku tidak pernah mengeluhkan kata padanya. Terakhir kali, pertemuan kami hanya bertukar sapa lewat senyuman dirahang tegas miliknya. Haruskah?” jeda Gres meraih ponselnya mencari nama kontak yang diberi nama khusus.


“Sebaiknya, harus saja.” Ujarnya seraya mendial nomornya diponsel dan terhubung diseberang sana.


Setelah beberapa menit berlalu, “Ah. Aku sering saja lupa. Jika orang ini adalah orang tersibuk di hidupnya!” Gres membuang napasnya secara perlahan.

__ADS_1


“Halo!” sapa orang tersebut


"Woah..." Deru nafas kelegaan dari Gres terdengar jelas untuk orang diseberang sana.


"Hm?"


“Gres bahkan lupa, kapan terakhir kalinya kita berbincang!”


“Heheh, bagaimana kabarmu? Kalau dingat-ingat kita memang tak pernah bertelpon lagi sebelumnya.”


“Ah, ya. Gres lupa. Baik. Baik sekali saking baiknya aku bingung apakah aku benar-benar baik sekarang!”


“Heheh, pelan-pelan kamu akan lebih paham setelahnya.”


“Dari banyaknya kata yang ada. Gres cuma mau bilang capek! Heheh,”


“Wajar. Gak ada orang yang terus dan terus menikmati harinya tanpa capek! Kenapa? Hm?”


“Mungkin, orang sengaja menjatuhkannya di jalanan. Karena ia pikir ada yang lebih membutuhkan dibandingnya!”


“Aku hanya bingung. Apakah diwaktu ia menjatuhkannya, hujan telah reda? Atau saat ia menjatuhkannya ada tumpangan yang lebih baik selain payung miliknya? Atau payung itu tidak lagi bisa memberinya perlidungan saat hujan datang bersama angin sampai membuatnya terjatuh?”


“Mungkin! Kenapa? Apa kamu tidak menyukai payung itu?”


“Bukan. Lebih tepatnya, aku sudah terlanjur basah kuyub saat melihatnya. Lalu, jika demikian harus ku apakan payung itu? biarkan saja atau tetap mengambilnya dan bisa ku gunakan lagi jika esok kembali hujan?”


“Woah. Sepertinya kamu sudah dewasa sekarang. Lihatlah pilihan yang tersedia untukmu sudah mulai sedikit sukar. Tak apa, kamu bisa memilih salah satu dari pilihan itu. Kamu sudah terbiasa dan terlanjur basah karena hujan, kamu bisa untuk tidak mengambilnya karena percuma. Toh, sudah biasa dan basah juga kan! Kamu juga bisa mengambilnya jika kamu mau. Bukankah kamu sedikit tidak suka hujan? Kalau kamu mengambilnya sedikit tidaknya hujan diperjalanan selanjutnya bisa kamu silih bukan!”

__ADS_1


“Hah! Entahlah. Ini semakin rumit!”


“Yang jelas. Kamu akan menemukan banyak payung yang lebih baik dari itu. Tapi, payung yang seperti itu hanya satu yang kamu lihat dijalanan itu. Dan mungkin tidak ada payung seperti itu lagi saat kamu menemui hujan keesokannya”


“Papa!” panggil Gres.


“Gapapa. Pilihlah salah satunya. Hidup dan proses yang kamu jalani adalah milikmu. Jadi, kamu berhak atas itu.” jawan Raditya dengan senyum simpulnya yang tak bisa dilihat oleh Gres. “Tapi, terkadang juga orang-orang sering beranggapan, lebih baik terjebak hujan dari pada terjebak sama pilihan! Haruskah Papa melihat payung yang kamu temukan itu?”


“Dewasa yang membingungkan.”


“Seharusnya memang demikian. Rindu tidak dengan makan yang tak buru-buru? Dengan tidur yang harus tepat waktu. Tentang berteman antara perlu tanpa harus berpikir lebih dulu. Kamu sekarang hanya sedang memikirkan tentang hal-hal yang sendiri sering dibikin ragu!” ujar sang ayah.


"Kalau dilihat ulang sepertinya anak Papa akan lebih dewasa lagi. Tidak apa-apa. Jangan terburu-buru. Nanti salah langkah, salah jalan dan salah orang lagi.


Lagipula, waktu masih terlalu panjang. Kau akan lelah begitu cepat jika memaksakan beberapa hal sekarang." lanjut sang ayah di seberang sana.


"Tapi, Pa! Dia terlalu baik untuk membiarkannya di tengah perjalanan!" Gres sedikit memikirkannya.


"Berarti kamu sudah punya pilihan, hanya sedikit bingung dan masih ragu saja." Ujar sang ayah.


"Mungkinkah?"


"Istirahat saja dulu. Tidak semua dikejar hari ini bukan?"


"Tapi, Gres bingung Pa. Kalaupun Gres mengambil payung itu, lalu payung yang sudah ada dan tinggal di rumah, ku apakan?


"Selalu seperti itu. Jika kamu tak mengambil payung di jalanan itu. Maka salah duanya jika tidak di ambil orang lain maka ia akan rusak dan berujung di tempat yang seharusnya. Lalu payung yang di rumah, tidakkah kamu berpikir bisa saja ada yang sudah menggunakannya di rumah atau sudah usang dan rusak karena terlalu lama di biarkan atau bahkan mungkin sudah hilang."

__ADS_1


Ayah menjeda ucapannya setelah itu, "Banyak hal memang yang harus kamu pertimbangkan. Semua keputusan ada di tanganmu. Papa percaya kamu bisa memilih dan melakukan yang terbaik. Maaf. Papa sering lupa untuk selalu ada untuk setiap keadaan dan suasana yang kamu hadapi.


Baik-baiklah. Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu masih punya banyak waktu dan hari esok untuk memilih, memutuskan dan masih banyak hal lain lagi." Ujar sang ayah pada akhir kalimatnya setelah telpon di matikan.


__ADS_2