Mengapa ?

Mengapa ?
Kepergian Rendi


__ADS_3

Happy Reading!!


°


°


°


Part ini mengandung bawang ya!


Di rumah, Rendi sedang sibuk mengemas semua barang-barangnya dibantu oleh orang-orang rumah tak lupa juga ia sudah menghubungi Gres untuk membantunya packing.


"Mama, jangan semua dibawa ke sana. Rendi kan masih pulang Ma!" rengek Rendi melihat Ibunya mengemasi barang Rendi yang hampir tidak terpakai di sana.


"Ya jaga-jaga siapa tahu di butuhkan! Mama bantu doang nih," seru Renata yang sudah menatap kesal ke anaknya.


"Tapi gak harus semua juga Ma!" ucap Rendi sama kesalnya.


"Kamu ke sana kan lama Ren!" ucap Renata keras kepala.


"Gak usah Ma!" jawab Rendi yang sudah meraih barang yang tidak mau ia bawa dan menjauhkan dari jangkauan Mamanya.


"Hisss, ya sudah semuanya udah kan? Mama mau ke dapur buat siapin sarapan dulu," jawab Renata yang sudah keluar menuju tangga untuk turun ke lantai bawah.


"Dasar emak. Suka buat kesal deh!" ujar Rendi sengaja ngomong kuat biar mamanya dengar.


"Mama dengar lho Ren!" teriak Renata dari lantai bawah.


"Gak ngomong apa-apa kok!" teriak Rendi dari atas.


Renata pun geleng kepala melihat tingkah anaknya tersebut lalu berjalan menuju dapur namun ia terpaksa berhenti dan memutar arah menuju pintu utama karena ada yang sudah berteriak sampai lupa diri.


"Hm, pasti si Gres yang di depan tuh! Kebiasaan dia teriak-teriak," ujarnya tersenyum dan membuka pintu, dan orang yang di sangka tengah berdiri dengan cengiran khasnya.


"Maaf Ma. Ku kira Rendi yang bakal bukain pintu, makanya teriak!" ucapnya sedikit malu.


"Kebiasaan ya, ngapain malu kek gitu? Biasa juga gak tahu malu tuh sama kayak Rendi," ucap Renata yang sudah mengacak rambut gadis itu.


"Ah, Mama paling tau deh. Ma, gak disuruh masuk nih?" serunya karena Renata dari tadi tengah mengelus lembut rambutnya dengan tatapan lega melihatnya baik-baik saja.


"Ya udah masuk. Samperin aja noh dikamar lagi beres-beres dia!" ucap Renata berlalu menuju dapur.


"Siap boss!" jawab Gres yang sudah berjalan menuju tangga.


"Dia terlihat baik-baik saja. Walaupun senyumnya sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin aku akan kesepian setelah kepergian Rendi. Gres mungkin juga akan jarang ke sini. Mereka terlihat kurang baik disaat seperti ini," gumam Renata seraya membayangkan kedua anak tersebut tidak akan sesering mungkin lagi main di rumah itu.


Sementara itu, Gres sudah berjalan mengendap-endap disudut tembok kamar Rendi. Berniat untuk mengagetkan target.


"Ngapain kamu jalan jingkrak gitu?" tanya Rendi yang sudah melihatnya dari samping ruangan karena ia barusan menyimpan barang di gudang lantai atas.


"Yahh! Padahal niatnya mau ngerjain tuh. Kenapa sih kamu gak di kamar aja tadi?" tanya Gres sambil berjalan gontai memasuki kamar Rendi.


"Ya kali aku mau di kerjain kek gitu! Mikir tuh pake otak, eh lupa otak kamu kan kecil gak bisa mikir!" ejek Rendi.


"Apapun yang terjadi otak aku bisa setara sama anak jenius ya!" ucap Gres sombong.


"Mana, sini liat otakmu yang kecil itu masih ada atau gak lagi!" ucap Rendi yang sudah meraih kepala kecil Gres dan mengapitnya di kedua tangannya.


"Ren. Jangan ih, malas banget. Rambutku baru keramas ya, kamu tadi pegang barang pasti tangannya banyak abunya!" teriak Gres melepaskan diri.


"Makanya aku numpang lap!" ucap Rendi tertawa terbahak-bahak.


"Dasar jahil! Sini Lo!" teriak Gres yang sudah mengejarnya.


Mereka pun saling mengejar mengelilingi tempat tidur king size milik Rendi. Gres yang tidak menyerah pun menaiki kasur Rendi berniat akan menangkapnya.


Namun, Rendi dengan cepat menghindar hingga Gres yang menangkap angin pun tumbang di sudut kasur tersebut.


Rendi yang melihat itu pun dengan cepat memeluk Gres yang masih dalam keadaan berbaring. Rendi memeluknya dari samping lalu pelan merasakan kenyamanan sesaat tersebut.


"Ren, udah. Cape tau!" ucap Gres berusaha lepas dari pelukan Rendi.


"Please, tetap kek gini. Bentar doang!" ucap Rendi yang masih memeluknya erat dengan kedua matanya ditutup.


"Hm," gumam Sena merasakan kehangatan pelukan Rendi.


"Aku pasti akan kangen masa-masa kek gini bareng kamu!" ucap Rendi yang sudah mengelus lembut rambutnya.


"Ya udah, gak usah pigi aja kamu!" ucap Gres tertawa ringan.


"Dasar kamu. Otak kecil sering ngomong sembarang ya!" seru Rendi yang sudah kembali duduk dan menatap Gres yang juga tengah bangun dari kasur tersebut.


"Hari ini jadi ketemu Jek sama Eca?" tanya Gres.

__ADS_1


"Jadilah. Tuh anak mereka rela datang dari Jakarta hanya buat ucapin kata perpisahan sama gue! Mana mungkin gak jadi," ucap Rendi bangga.


"Iya. Aku juga udah kangen banget sama mereka. Terakhir ketemu juga pas aku lagi di rumah sakit. Setelah itukah mereka emang lagi sibuk pendaftaran buat masuk kampus!" ucap Gres sedih karena jarang bertemu kedua temannya dikarenakan ada begitu banyak masalah yang ia alami akhir-akhir ini.


"Gapapa. Mereka juga sibuk kasihan. Mungkin sore baru bisa ketemu mereka tuh." ucap Rendi yang sudah kembali mengacak rambutnya.


"Ah, dasar pengganggu. Sini Lo!" ucap Gres yang sudah melihat Rendi berlari.


"Kita gak jadi atur barang-barang nih?" tanya Gres.


"Oh, iya sampai lupa. Aku udah packing dari pagi sih dibantu Mama. Tinggal buku aja yang belum dan itu tugas kamu!" ucap Rendi yang sudah berbaring di tempat tidurnya.


"Ya udah. Mana yang mau dibawa?" tanya Gres melihat tumpukan buku di lemari samping  ruang belajar.


"Pokoknya buku yang bisa dibutuhkan di sana!" ucap Rendi yang sudah menutup matanya.


Setelah mendengar ucapan Rendi. Gres pun menyusun rapi buku-buku tersebut dan meletakkannya di koper yang sudah disediakan terkhusus untuk buku.


Setengah jam berlalu...


"Yah, malah tidur ni anak!" ucap Gres ketika kembali dari ruang belajar ia melihat Rendi tengah tidur disudut tempat tidur.


"Sayang, waktunya sarapan!" ucap Renata yang sudah tiba di depan pintu kamar Rendi.


"Ini Ma, masa Rendinya tidur pas aku lagi beresin bukunya.


"Ya ampun kebiasaan tuh anak. Ya udah bangunin aja, biar sarapan. Mama tunggu dibawah" ucap Renata.


Setelahnya, mereka pun menikmati sarapan bersama pagi itu.


***


Sorenya....


Kedua bersahabat itu sudah sampai beberapa menit yang lalu di cafe tempat mereka biasa nongkrong saat masih sekolah kemarin.


"Mereka kemana sih, belum datang dari tadi!" gerutu Eca.


"Sabar elah. Baru juga nyampe kita," jawab Jek santai sambil memainkan ponselnya.


"Gue gak sabaran tau. Gue kangen banget sama Gres!" ucap Eca.


"Kemarin juga baru ketemu tuh!" jawab Jek singkat.


"Lo kenapa sih dari tadi pro kontra mulu sama gue? Lupa lo kita disini cuma berdua, gak takut apa kalau seandainya kita berantem terus gak ada yang pisahin!" seru Eca kesal.


"Jek! Gelud kita ayok!" ucap Eca makin kesal.


"Jangan marah mulu, makin jelek nanti!" seru Jek lagi.


Ditengah pertikaian, perkelahian dan tawuran maut tersebut. Eh salah pertengkaran dan adu mulut antara Jek dan Eca maksudnya.


Tibalah sang penyelamat!.


"Hai curutku!!!" teriak Gres tanpa mempedulikan beberapa orang yang melihat ke arah mereka.


"Diam gak! Malu-maluin aja." ucap Rendi melihat tingkah eror sahabatnya.


"Gue kangen banget tahu!" ucap Gres tak peduli ucapan Rendi yang berakhir memeluk tubuh Jek dan mengerjai Eca yang sudah merentangkan tangan untuk memeluknya.


"Gue ngambek nih!" ucap Eca kesal.


"Kek bocah ngambekan!" ucap Jek membuatnya makin panas hati.


"Jek, kalau lo gak suka sama gue bilang aja. Gak usah cari gara-gara ya!" ucap Eca yang sudah meraih tubuh Gres dan memeluknya erat.


"Siapa juga yang mau sama Lo!" jawab Jek lagi.


"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Rendi bosan melihat pertengkaran mereka dari tadi.


"Dia tuh yang ngajak gue perang!" jawab Eca yang sudah duduk.


"Gue kangen banget sumpah. Gimana kuliahnya seru?" tanya Gres antusias.


"Belum kuliah bege. Baru juga selesai ospek!" jawab Jek.


"Tuh anak ngeselin mulu dari tadi!" jawab Eca menatapnya tajam.


"Udah-udah, daripada berantem mending pesan noh gue yang traktir!"  seru Rendi menengahi mereka.


"Kalau ditraktir langsung diam dongs!" ucap Gres yang sudah merampas buku menu ditangan Jek.


"Gue kira jagoan ternyata mental traktiran!" ejek Jek yang diiringi tawa oleh Rendi.

__ADS_1


"Gue pinjem kata lo nih, semua makanan akan terasa lebih enak jika di traktir! Oke pas!!" ucap Gres yang sudah menulis beberapa pesanannya.


"Kalian berdua musti makan banyak biar badan gak kayak bocah!" ucap Rendi mendukung ejekan Jek.


Mereka pun menikmati makanan, sambil sesekali bercerita.


"Kita bakal jarang banget buat ngumpul kek gini nantinya!" ucap Eca menunduk.


"Lo bisa kali ngumpulnya sama gue atau sama Gres" ucap Jek.


"Betul tuh. Nanti kalau libur juga masih bisa kita kayak gini!" jawab Rendi tak mau melihat sahabatnya sedih karena ia akan bepergian jauh.


"Tapikan masih lama," jawab Eca.


"Halah, hidup lo aja yang kebanyakan dramatis Ca, kita pasti bakal ngumpul lagi nantinya!" ucap Gres sedikit menguatkan padahal ia juga merasa sedih dengan hal tersebut.


"Udah gapapa. Nanti gue bakal usahain buat hubungi kalian. Kita bisa Vc bareng-bareng tuh!" ujar Rendi.


"Ia sih kita bakal lama buat ketemu. Tapi kan demi masa depan dan pilihan kita masing-masing. Ini emang yang terbaik buat kita. Jadi jalani ajalah ada waktunya kita bakal balik dan bahagia!" ucap Jek serius dan teman-temannya mengiakan hal itu.


"Lo berangkat pagi kan?" tanya Eca.


"Iya. Gue chek in jam 06.00," jawab Rendi.


"Ya berarti lo gak bisa habisin malam bareng kita dong. Gapapa deh," ujar Jek.


Setelah makan malam terakhir untuk kebersamaan mereka sebagai sahabat mereka pun membeli bir untuk diminum sebagai ucapan perpisahan.


"Oke. Ini untuk kelulusan kita kemarin. Selamat buat kita!!" ucap Jek mengangkat kaleng bir mengajak mereka bersulang.


Mereka pun tertawa ria.


"Dan ini untuk kebersamaan kita malam ini, sebagai sahabat. Yang selalu ada disaat suka maupun duka. Disaat keadaan yang bahkan sudah tak bersahabat tapi kita tetap ada untuk satu sama lainnya. Gue bangga pernah hidup dan itu bareng kalian. Gue janji suatu saat ketika usiaku semakin senja aku akan menceritakan kisah kita pada anak cucuku kelak. Terimakasih untuk kebersamaan ini!" ucap Gres lantang.


"Dari gue terimakasih buat kebersamaan ini, dari kalian gue bisa belajar bahwa sahabat adalah orang yang tak pernah absen disaat suka dan dukamu. Mereka adalah sosok yang hebat dan teladan yang pas saat gue pernah muda dan itu bareng kalian!" ucap Eca yang sudah menetaskan air matanya.


"Dan untuk semuanya, yang pernah terjadi, yang pernah kita lalui adalah pengalaman berharga buat gue ketika gue berada di masa SMA. Masa yang paling indah menurut orang-orang. Tapi masa kita adalah masa yang lebih indah lagi. Karena disaat itu kita tidak sedang dan belum mengenal yang namanya patah hati karena cinta. Tapi kita sudah tidur bangun merasakan cubitan, tonjokan dan pukulan guru disaat kita bolos bersama dan itu menyenangkan! Terimakasih" ujar Jek serius.


"Dan untuk semuanya. Terimakasih sudah hadir dimasa mudaku dan di masa paling indah menurut orang. Aku akan selalu mengenang semuanya yang tak bisa ku rangkai dengan kata. Aku bersyukur disaat orang-orang berpisah tanpa sempat mengucapkan perpisahan, disaat orang-orang berpergian tanpa sempat mengucapkan maaf. Namun, kita masih disini dengan kata yang mewakili kita belum terlalu terlambat untuk mengucapkan perpisahan dan maaf untuk semuanya. Aku menyayangi kalian semuanya!" Tegas Rendi yang pada akhirnya mereka meneguk bir itu sekali lagi.


Mereka pun saling berpelukan satu dengan yang lainnya. Dan yang terakhir mereka berpelukan bersama dan mengucapakan beberapa kata untuk Rendi.


***


Esoknya....


"Lo di sana hati-hati bro. Jangan lupa selalu kasih kabar!" ucap Jek memeluknya.


"Lo baik-baik di sana ya. Kalau balik jangan lupa buat info ke kita. Kita bakal selalu nunggu kedatangan lo!" ucap Eca dalam pelukannya.


Dan yang terakhir Rendi menatap manik mata Gres yang di sana ia bisa dapati kesedihan namun berusaha untuk menutupinya. Sampai ia pun meraih tangan Gres dan memeluknya erat.


"Aku tau, kamu sedang berusaha keras untuk kuat. Aku bisa melihatmu lebih jauh bahkan matamu sudah berkaca-kaca dalam penglihatan ku. Baik-baik ya, jangan kek gini terus. Jangan sembunyiin semua yang kamu rasa seorang diri. Aku udah gak ada di setiap kamu butuh untuk ada disamping kamu. Jangan sakit-sakitan lagi, aku bakal sedih jika itu terjadi. Aku bakal gak fokus kuliah jika kamu sakit.


Dan maaf, gue udah berusaha buat sembunyiin ini dari kamu begitu lama. Tapi sampai saat ini aku makin gak bisa bohongi perasaan aku.


Kalau aku sayang sama kamu! Aku cinta sama kamu!


Dan kamu cinta pertama aku Gres!" ucapnya dengan dekapan yang makin erat


Deg!


Deg!


"Kamu tenang aja, aku gak nuntut kamu balas perasaan aku. Kamu ada dan baik-baik saja udah cukup buat aku. Maafin aku yang udah lancang menyimpan perasaan ini selama itu. Maaf! Dan bahkan aku hanya bisa mengungkapkannya disaat aku sudah tak bisa menggapaimu lagi!" ucapnya yang semakin erat memeluk hangat tubuh Gres yang sudah menangis dalam diam di pelukannya.


"Gres..! Janji sama aku. Kamu gak akan benci sama aku apapun yang terjadi! Janji sama aku, kamu akan tetap jadi Gres yang aku kenal sampai saat ini. Aku gak mau kamu benci sama aku!" ucap Rendi pelan.


"Hm?" tanya Rendi yang dibalas anggukan oleh Gres.


"Ren, udah! Dari tadi nangis mulu gak malu apa dilihatin banyak orang" ucap Renata yang juga turut sedih melihat mereka.


"Udah? Marah gak sama aku?" tanya Rendi.


Namun Gres hanya geleng kepala lalu kembali memeluknya.


"Sampai kapan kamu meluk aku terus!" ucap Rendi terkekeh.


"Kamu di sana jangan lupa belajar, jangan lupa makan sama jangan lupa ngabarin aku!" jawab Gres yang sudah tersenyum.


"Gak dibalas nih perasaan aku?" tanya Rendi mengejek.


"Gak tahu! Udah sana cepatan keburu ditinggal pesawat nanti!" seru Gres dengan muka yang memerah.

__ADS_1


"Ya udah. Aku digantung ya!" Ucapnya lalu memeluk kedua orang tuanya dan melangkah pergi dan menghilang di ruangan tersebut.


Aku bakal lakuin yang terbaik buat kalian. Aku sayang banget sama kalian semua. Aku janji bakal beri kalian hadiah terbaik dalam hidupku suatu saat nanti. Dan saat itu, kita udah kembali dan saling memeluk dengan nyaman sembari cinta terbalas dan pada akhirnya bahagia. Terimakasih orang baik untuk semua kebaikan dalam kenangan yang akan ku kenang baik. Sampai bertemu dilain waktu! :)  gumamnya ketika pesawat lepas landas saat itu!.


__ADS_2