
•
•
•
Seperti halnya kampus lainnya, yang namanya mahasiswa baru tentunya banyak disibukkan dengan berbagai hal. Dari hal administrasi hingga sampai perkuliahan yang jadwalnya juga boleh dibilang full setiap harinya.
Sejak empat hari berkuliah disini cukup membuat aku kelelahan dan banyak tahu tentang suasana kampus, begitu juga dengan orang-orang di dalamnya.
Hanya bedanya disini bebas menggunakan pakaian apapun ketika hendak mengikuti perkuliahan. Intinya, mahasiswa datang, duduk dan tidak lupa mengerjakan tugas.
Oh, sampai lupa, mahasiswa paling identik dengan tugas jadi sampai hari ini pun aku betul-betul disibukkan dengan tugas yang begitu banyak sampai-sampai aku tidak punya waktu sama sekali untuk menghubungi kedua orang tuaku dan juga orang-orang rumah.
Dan hari ini aku bersama beberapa teman sekelompok ku tengah duduk di kafe yang terdapat di lingkungan kampus, jangan heran ya kampus tempatku berkuliah boleh dibilang elit dan semuanya sudah tersedia. Siapa sih, yang tidak tahu bagaimana suasana kampus di New York!.
Sombong dikit gapapa kan?
Ya, kami tengah mengerjakan tugas yang bakal dipresentasikan beberapa hari lagi.
Saking sibuknya, aku kadang sampai lupa jika tidak diingatkan untuk segera makan atau apalah oleh teman-temanku.
Disini, gaya hidupnya cukup menarik tergantung bagaimana kita beradaptasi sih, menurut ku. Semuanya serba ada dan serba cepat tinggal bagaimana kita mahir didalamnya. Itu aja sih,
"Na, gimana materinya udah di rangkum semua?" tanya Justin.
"Udah ko. Tinggal kita print aja untuk dosen sama pegangan kita nantinya" jawab Joana.
"Gimana sama susunan makalahnya udah benar Gres" tanya Justin lagi karena di a juga sebagai ketua kelompok.
"Tenang! Semuanya sudah siap. Tinggal di presentasikan" jawab Gres semangat.
"Ya udah siniin filenya biar gue yang print nanti!" seru Justin sambil menengadahkan tangan untuk menerima kedua flash dari kedua temannya.
"Semangat Justin. Kita pasti bisa!" seru Joana sambil memberikan flashnya.
"Gres setelah ini lo masih jadwal kuliah?" tanya Justin sambil menyeruput minumannya.
"OMG. Gue sampai lupa, hari ini gue ada jadwal kuliah lintas minat. Jam berapa sekarang?" tanya Gres yang sibuk merapikan barang-barangnya.
"Kebiasaan Lo! Jadwalnya sering dilupain! Lain kali masang alarm aja di ponsel lo tuh!" Seru Joana terkekeh.
"Udah jam Tiga sekarang. Buruan biar Lo ga telat!" ucap Justin sambil membantunya memasukkan beberapa kertasnya ke dalam tas yang di bawa Gres.
"Gue duluan ya!" teriak Gres yang sudah membuka pintu kafe tersebut.
"Iaia. Hati-hati lo!" Jawab Joana sambil mengangkat sebelah tangannya kepada Gres.
__ADS_1
"Kasian tuh anak, mana ruang kuliahnya masih jauh dari sini. Gue jamin dia bakal terlambat banyak tuh!" seru Justin sambil menatap jauh langkah Gres di luar kaca penghalang dalam kafe tersebut.
"Semoga dosennya ga killer!" Jawab Joana.
Setelah sampai di gedung ruang kuliah....
"Woahh,,, jauh juga ternyata! Lain kali lebih sedu lagi deh kedepannya. Mana dari teman sekelas gue gak ada yang ngambil mata kuliah ini lagi!" Ucapnya.
"Baru juga pertemuan pertama udah terlambat gue. Dan ini kesan yang kurang bagus. Semoga dosennya ga killer!" Serunya lagi.
"Masuk ajalah!"
Akhirnya ia pun berhasil masuk ke dalam kelas tersebut karena dosennya juga tidak mempermasalahkan hal itu mengingat ini baru pertama kalinya mereka memulai perkuliahan di semester baru.
Pelajaran sedang berlangsung. Pembahasan dalam ruangan diskusi pun cukup rumit karena hampir semua masalah yang di angkat adalah masalah-masalah dalam dunia bisnis yang sedang marak terjadi di berbagai perusahaan.
Jangan salahkan Gres yang hampir tidak mengerti untuk sebagian banyak hal yang sedang di perbincangkan dalam ruang diskusi tersebut. Ia saja jarang menanyakan soal bisnis kepada ayahnya apalagi sampai harus belajar dan mendalami semua yang berkaitan dengan hal itu.
Dan yang lebih mengejutkan lagi. Semua orang yang masuk dalam kelas lintas minat tersebut adalah mereka-mereka yang sudah terjun dan bekerja langsung di perusahaan bersama orang tua mereka untuk dibimbing dan bahkan hampir semuanya sudah memegang beberapa cabang perusahaan.
Mereka hanya berkuliah untuk menambah wawasan saja dalam berbisnis.
Lalu bagaimana dengan Gres yang baru memulainya?
Ku kira ia akan memulai semuanya dari awal. Semoga ia kuat selalu.
"Pelan-pelan saja, semuanya akan dimengerti beririnya waktu. Gue juga begitu sebelumnya!" ucap seseorang disebelah ku.
"E-eh! Maaf, sepertinya suara gue cukup mengganggu konsentrasi mu ya!" jawab ku kikuk karena malu.
"Tidak masalah. Kamu terlihat sampai frustasi dengan beberapa hal yang dibahas. Apa kamu kurang mengerti?" tanya cowok tersebut dengan senyuman hangat.
"Ah, katakanlah kalau dalam sebuah permainan. Mungkin, aku adalah pemula. Heheh-" ucapku garing.
"Kamu lucu! Pasti kau masuk salah jurusan ya?" tanyanya lagi.
"Entahlah! Oh, ya kenalin gue Gres!" Ucapku memperkenalkan diri pada cowok manis tersebut.
"Panggil saja Mark!" Jawabannya ketika kami bersalaman.
Setelah acara perkenalan dan jam pelajaran yang telah selesai. Kami terus bercerita beberapa pengalaman dan ternyata Mark adalah orang yang memang hidup sudah menetap di New York cukup lama. Jadi tidak heran jika mukanya saja sudah menjawab pertanyaan beberapa orang yang bertemu dengannya.
Saking seriusnya kami bercerita sampai kami berjalan bersama juga untuk hendak keluar dari ruangan tersebut.
Sesekali Mark juga menanyakan bagaimana Indonesia sebenarnya. Dan tak lupa juga ia sesekali tertawa jika ada yang lucu dalam cerita kami.
Karena banyaknya mahasiswa yang berebut untuk cepat keluar mengingat hari juga hampir gelap tak terasa ada beberapa yang juga mendorong dari belakang untuk cepat keluar sehingga membuat tubuh kecilku terpental dari pintu dan entah bagaimana ceritanya aku bisa terbuang sampai pada kursi di lorong kampus dekat dengan pintu ruangan kelas tersebut.
__ADS_1
Aku sudah merasa akan jatuh dan terbentur pada kursi tersebut. Namun, ketika aku sedang dalam keadaan masih menutup mata karena takut, aku merasakan ada kedua tangan yang tengah menahan beban dai tubuhku.
Dan betapa kagetnya aku ketika melihat siapa yang sudah berhasil menahan tubuhku saat ini. Dan tanpa sadar aku pun sudah berucap.
"Dunia begitu sempit ya!" Ujar ku pelan dan masih terus menatap kedua manik orang tersebut.
"Dan ini adalah takdir seperti yang kamu katakan sebelumnya!" Jawabnya dengan sebelah alisnya di naikan.
"Hah, hidup memang tidak bisa ditebak sama sekali!" ucapku lagi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sean lagi sambil merapikan helaian rambutku.
"Seperti yang kamu lihat!" Jawabku.
"Sudah ku duga, jawabanmu akan seperti itu dan tidak akan pernah berubah!" jawab Sean tersenyum.
"Kenapa sih, lo bisa ada disini?" tanya ku tanpa menghiraukan ucapannya.
"Kalau gue gak disini mungkin kepala kecil mu ini akan pecah karena terbentur di kursi ini!" ucapnya sambil melihat ke sudut kursi tersebut.
"Ya, mungkin orang lain yang akan menolong ku!" jawab ku.
"Dan kamu juga akan terus duduk dan nyaman di pangkuanku seperti ini jika itu adalah orang lain!" ucap Sean dengan senyum nakalnya.
"Apaan sih, lepasin!" ucapku yang baru sadar jika perbicangan kami dari tadi dengan posisi aku yang masih terduduk dalam pangkuannya.
"Udah gapapa, duduk aja. Lagian ini juga bukan di Indonesia yang apa-apa bakal di viralkan sampai pelosok-pelosok pada tahu!" jawab Sean yang malah semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggangku.
"Sean! Lepas gak?" ucapku dengan tatapan tajam.
"Ia, gue lepas. Galak amat sih!" ucapnya yang sudah melepaskan kedua tangannya.
"Gara-gara lo nih, tuh teman gue udah duluan!" ucapkan melihat Mark yang sudah masuk ke dalam lift.
"Ya, Lo tinggal bareng gue aja baliknya. Selesai perkara!" ucap Sean santai.
"Idih. Malas banget," jawabku yang sudah melangkah pergi.
"Kenapa sih, kemarin di Indo lo gak sejudes ini deh!" Ucap Sean heran.
"Ya bedalah. Sekarang gue bukan di Indo ya!" jawabku yang tidak memperdulikan langkah Sean yang terus mengikuti.
"Oh, gue baru ingat. Kemarin kan lo lagi sakit makanya ramah banget. Please jangan judes kek gini dong. Gue gak biasa!" Ucap Sean.
"Alay lo!" Jawabku yang sudah meninggalkannya pergi karena keburu masuk taxi untuk pulang.
"Gue ga nyangka kita bakal ketemu di kota ini, dan bakal kuliah bareng disini. Gue janji, gue bakal jaga lo baik-baik kedepannya sampai lo sadar akan keberadaan gue di sisi lo. Walaupun ada banyak orang spesial yang tengah menunggu dan berharap untuk kebaikan lo di setiap perjuangan yang ada. Namun, gue jamin Lo akan terus menjadi cewek yang bahagia setiap Lo berada di sisi gue. Karena sekarang gue udah mulai paham dan mengerti tentang perasaan gue ke lo" gumam Sean mengiringi laju taxi yang ditumpangi Gres di depannya yang sudah hampir menghilang.
__ADS_1