
🍂
🍂
🍂
°HAPPY READING :)
Rendi POV
Kita masih bersuara namun sudah
tidak senada. Kita masih melihat namun sudah tidak saling menatap.
Kita masih bisa berjalan namun sudah
tidak satu tujuan. Kita masih berperasaan namun sudah tidak saling memberi kasih sayang.
Aku gak mau egois dengan diriku
yang ingin bersamamu. Aku juga tahu diri dengan sikapku yang melelahkan hatimu. Aku tidak lagi menyalahkan segala pilihanmu.
Aku memilih ikhlas dan sabar
melepas kepergianmu. Semoga kamu semakin menyayangi dirimu sendiri.
Semoga kamu selalu menjaga hatimu dengan hati-hati.
Terimakasih sudah jujur dan pergi tanpa jejak. Terimakasih meski perih kamu gores terlalu dalam untukku. Kita dengan jalan masing-masing pada akhirnya.
Dihari lalu terimakasih telah merelakan dan tak menahanku, juga terimakasih sudah membiarkanku pergi, meski pada akhirnya
kamu yang paling berani meninggalkan dan mengakhiri semuanya.
Terimakasih untuk masa kecil yang membahagiakan. Terimakasih untuk rumah yang tak pernah sungguh. Terimakasih untuk harapan dan keinginan kita yang tak akan tercapai.
Terimakasih untuk rasa yang tak searah. Jagalah dirimu baik-baik, dan jika suatu saat mampu membuat kita kembali akan kuperbaiki segala salah yang belum sempat termaafkan.
"Gres aku kangen sama kamu!" Ucap Rendi pada akhirnya.
"Kamu dimana sih sebenarnya?" ucap Rendi memandang jauh beberapa bangunan tinggi di depannya sekarang.
Ia sudah tahu jika Gres sudah tidak di Indonesia lagi. Ia bahkan sempat pulang hanya untuk membuktikan apa Gres masih ada atau tidak.
Benar kata mamanya, jika Gres menghilang begitu saja.
Tidak ada yang tahu dimana keberadaannya sekarang, bahkan kedua orang tuanya pun sudah tidak tinggal di Indonesia lagi. Rumahnya di Indo hanya di tempati oleh beberapa pengerja yang tetap setia ada dan tak pernah pulang.
Orang-orang rumahnya pun sudah Rendi tanyakan satu persatu tapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu keberadaannya.
__ADS_1
Setelah benar-benar menyadari bahwa Gres memang sudah tidak di Indo lagi, ia pun memutuskan untuk kembali ke Jerman minggu lalu.
"Kamu di mana sih? Aku bahkan sampai hari ini gak pernah bisa hilangin perasaan sialan ini Gres!!" Ucap Rendi frustasi.
"Gimana hari-hari aku selanjutnya setelah tahu kamu sudah pergi dan tak tahu kemana?. Gres sakit banget asal kamu tahu! Aku merasa terlalu sesak didadaku sekarang," ucap Rendi yang bahkan sudah menangis dalam diam.
Dan ternyata benar, menangis sambil menahan suara biar gak kedengaran is another level of pain.
Sakit banget. Nyerinya bahkan menjalar di seluruh nadi.
'
'
'
Untuk sementara....
"Semuanya biarkan terjadi sesuai dengan hukumnya. Berjalan semestinya, terlewati sewajarnya dan seharusnya memang demikian untuk setiap kita yang mencoba menerima bagaimana alam dan manusia membuat kita semakin tak memahami diri.
Jika hari ini kita dengan banyak penyesalan, ada baiknya kita memberi diri untuk sekedar istirahat. Banyak hal memang akan dan harus terjadi tanpa bisa kita kendalikan.
Untuk saat ini, mungkin aku tidak sedang merelakan, tidak sedang mengikhlaskan ataupun menerimanya dengan lapang.
Aku hanya sedang memberi ruang dan waktu. Kita hanya perlu melihat diri sendiri dan memperbaiki apa yang mau kita perbaiki.
Kalaupun nanti kita tak ada kesempatan untuk itu, setidaknya kita pernah menjadi bagian dari momen dan kenangan masa lalu.
Bukan memasrahkan takdir yang terjadi, hanya saja memperbaiki diri untuk lebih baik juga perlu bukan?.
Teruntuk kamu, yang pernah ada dan selalu ada di hati dan di setiap bayang hidupku, baik-baik ya, kadang hidup kita gak tahu dari mana dan akan kemana, nyatanya kita gak akan pernah bisa menebaknya.
Kita hanya sedang ingin mengisolasi diri dari banyak hal atau mungkin dari dunia ini dan menghabiskan sisa hidup untuk merefleksi diri.
Dan untuk perasaan, aku tahu tidak bisa sesuai kehendak hati, tapi perasaan juga tidak bisa diabaikan. Karena kebanyakan orang terluka karena tidak bisa mengendalikan perasaannya," gumam Rendi dalam suasana malam yang cukup dingin di tempat biasa ia melepaskan penat.
Ya dia tengah berada di balkon apartemennya sambil menikmati malam dengan pandangan yang ribuan lampu memerangi kota dimana ia tinggal.
Rendi POV End.
Deringan ponselnya memecah suasana sunyi malamnya.
"Halo Pa," ucap Rendi ketika berhasil menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo Nak, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Papa sama Mama gimana kabarnya? Mama gak buat Papa repot lagi kan? Heheh-" tanya Rendi terkekeh. Entah bagaimana setiap kali orang rumah menelponnya ia kembali merasa baik dan nyaman saja terasa hangat, apalagi sambil mengejek sang Mama.
"Baiklah. Kami juga baik-baik nak! Mama kamu makin hari makin cerewet! Pokoknya gak ada hari tanpa omelannya. Kadang tuh papa mau pergi aja dari rumah-"
__ADS_1
"Ya, hentikan Pa! Papa membuatku sakit perut saja karena tertawa. Aku gak bisa bayangin kalo Mama ada sekarang, mungkin ia akan menjambak rambut kita sampai rontok!" seru Rendi dengan masih belum bisa berhenti tertawa.
"Beruntunglah dia lagi gak ada jadi kita bisa leluasa membicarakannya, heheh-"
"Eh, gimana sama perusahaan Papa lancar?" tanya Rendi penasaran karena sudah lama ia tidak di telpon oleh ayahnya, akhir-akhir ini kebanyakan sang ibu yang menelpon.
"Papa sekarang udah banyak lelah, kadang juga maunya ngabisin waktu untuk bersantai aja di rumah atau ke mana. Cepat-cepatlah kuliah biar kamu ganti Papa saja. Sepertinya Papa butuh liburan panjang bersama Mamamu!"
"Ya ya. Akan ku usahakan lebih cepat dari perkiraan Papa. Sehat-sehat Pa!" ujar Rendi tersenyum.
"Hm, apakah kamu baik-baik saja?"
"Woahh, akhir-akhir ini. Ada beberapa hal yang sangat menggangu pikiran!" ujar Rendi melemah.
"Coba bicarakan itu dengan dirimu sendiri,"
"Sudah ku lakukan. Bahkan sampai saat ini pun aku belum juga mengerti," jawab Rendi membuang nafas panjang.
"Yang Papa tau, semua persoalan punya titik temunya masing-masing kecuali perasaan!"
"Hm. Papa benar dan aku tengah berada di lingkaran itu sepertinya, lebih tepatnya aku bingung sama perasaan aku sendiri!" jawab Rendi jujur.
"Jatuh cinta itu gak bisa kita kendalikan, tapi cinta bisa. Kita gak akan tahu kepada siapa kita akan jatuh cinta, tapi biasanya ada beberapa yang bisa mengendalikan perasaannya. Tergantung apakah mereka bertahan untuk terus mencintai atau malah memutuskan perasaan itu dan berujung mencari yang lain. Semuanya bisa diatur oleh diri mereka sendiri yang mengalaminya!"
"Aku bingung Pa! Untuk sekarang mungkin aku hanya sedang mengistirahatkan diri tanpa merubah apapun," ucap Rendi pelan dengan pandangan serius menatap jauh sambil mendengar dengan baik.
"Hm ya ya. Berarti kamu hanya pernah menyintai namun berakhir sebelum kamu menggapainya. Tidak sempat bersama namun sudah memilih jalan masing-masing. Kamu sedang berada di fase belajar menjadi dewasa untuk mengerti apa itu mengikhlaskan. Satu hal perlu kamu ingat cinta itu berjuang jika cinta tersebut berkorban. Dan sekarang kamu tengah membuktikannya, menurutku ini pelajaran yang cukup manis.
Cobalah berhenti untuk menipu diri sendiri!"
"Woahh, sepertinya aku merasa sedang berkonsultasi pada pakarnya sekarang!" seru Rendi tersenyum walaupun tak ada yang bisa melihatnya seperti itu.
"Berhentilah membual! Berkuliah lah dengan cepat dan segera pulang dan mungkin jika ada bonusnya bawalah juga menantu, sepertinya Mama mu kesepian makanya cerewet sekali di usia senjanya!"
"Ya, Tuan gak lupa kan semuanya butuh proses. Jadi bersabarlah bukankah Tuan pandai dalam hal menunggu?" ucap Rendi menjahili ayahnya.
"Yak, sudahi saja. Belajar yang giat bocah tengik!" ucap sang ayah mengakhiri telpon tersebut.
"Hahah. Wah sepertinya ini adalah hobi baruku. Membuat mereka kesal sepertinya bukan ide yang buruk. Dan juga bisa membuat ku lebih baik lagi," gumam Rendi terkekeh.
Hidup penuh dengan hal-hal untuk ditunggu. Mungkin beberapa orang tidak akan paham.
Tapi bagaimanapun juga dalam hidup ada beberapa hal yang tak bisa di tunggu, ada yang tidak pantas di tunggu juga ada yang ditunggu tapi tak pernah pulang.
It's hard.
"Semoga di suatu waktu aku masih mendapati kamu dalam penantian panjang tanpa berbalik arah," ucap Rendi pelan dan beranjak masuk ke kamarnya untuk beristirahat karena hari ini cukup melelahkan bagi.
_18 Agust. 2021
__ADS_1