
“Waktu yang masih akan datang lebih berharga dari pada waktu yang telah terjadi. Yang penting adalah terus melangkah maju.” -Taeyeon
.
.
...••🌾••...
Saat kau terlalu menyayangkan hal-hal yang sudah terjadi membuat mu menjadi lupa kalau yang akan datang lebih wow dari pada yang telah kau lewati.
Kau kira mereka tak akan lagi bisa kembali dan membaik tapi kau hanyalah manusia yang selalu punya pemikiran jauh tentang kenyataan yang seharusnya terjadi.
Lihatlah ketika kau sudah tak punya harapan untuk pulang malah kau ingin sekali untuk pulang tapi keadaan yang malah menekanmu agar tak pulang. Saat kau akhirnya memutuskan untuk masuk dalam dunia kerja, sang ayah pada akhirnya mengalah untukmu.
“Woah... padahal aku baru saja mengeluh tentang mengapa dan bagaimana manusia sepertinya tak benar-benar lelah. Ternyata ia sedang menungguku memulai dan ia memperhatikan ku saja, kalau ini yang Papa mau dari dulu kenapa gak pernah jujur aja ke Gres, biar Gres bisa langsung kerja saja setelah lulus,” ujarmu tak habis pikir, bagaimana mungkin sang ayah memilih pulang ke Indo menghabiskan masa dan usianya yang makin senja kala tahu kamu sudah mulai masuk bekerja di cabang perusahaan milik keluarga. Ia bahkan hanya memantau dari jauh beberapa hal yang perlu ia tangani langsung di perusahaan. Selebihnya, jadwal yang seharusnya ia punya di alihkan secara perlahan padamu dibantu oleh beberapa orang kepercayaannya juga. Ia tidak membiarkanmu sendirian. Walaupun secara tidak langsung ia sudah percaya padamu. Ia hanya ingin menghabiskan masa luangnya untuk pulang dan menemui sang istri yang sudah lama berhenti dari pekerjaannya dan memilih menjadi ibu rumah tangga yang akan mengurus kamu dan ayahnya. Walaupun sudah terlambat menjadi rumah untuk kalian pulang tapi sedikit tidaknya ia sudah berjuang dengan keras.
“Mungkin dia gak mau memaksa lo lagi, bukankah ini kesempatan untuk kamu perbaiki semuanya? Dengan begini kamu perlu bekerja lebih keras agar ia bisa lebih percaya dan membiarkanmu yang bekerja saja tanpa harus turun tangan. Beri dia waktu untuk istirahat dari kerja panjangnya, sedikit tidaknya saat ia rehat kamu mengerjakan semua yang perlu di kerjakan.” ucap Sean menyakinkan.
“Lagian lo juga ga sediri kan, ada banyak orang kepercayaannya yang bisa membantumu. Soal ide atau solusi kamu juga bisa konsultasi denganku,” tambah Sean lagi.
“Wah,,, seharusnya gw balik dulu sih. Hanya gw gak mau mengganggu waktu istirahatnya. Dia terlalu lelah akhir-akhir ini. Dan lagi pula jadwal ku bukan main di kantor padahal kalo dilihat ulang gw cuma karyawan baru lho,” ujarmu melemah.
“Mau elo baru ataupun lama. Kerjaan lo ya ini, yang punya perusahaan kelak juga bakalan elo. Ngapain buang-buang waktu buat lo berleha-leha dengan memulai dari awal. Kalau begini kan percuma lo lulusan terbaik luar negeri kan!” sindir Sean halus.
“Gak usah berlebihan! Bikin gw jadi malas kalo gini ceritanya. Sadar, elo juga lebih cumlaude dari gue!” sini Gres memutar bola matanya jengah.
“Salah mulu gw di mata lo perasaan, iyain biar kelar. malas ribut juga,” balas Sean tak habis pikir.
“Siapa juga yang ngajakin ribut!” ngegas juga kan maungnya.
“Tuh, elo ngajakin benaran. Udah mirip ke maung betina lepas kandang aja,” gumamnya pelan takut makin menjadi-jadi.
“Sean! Gw masih denger ya elo ngomong!” tuhkan selain kecepatan mulut dan emosi yang seimbang nih makhluk juga tajam pendengarannya.
“Engga kok. Gw habis nyanyi tadi. Sayangnya aku kenapa ngegas aja tiap lagi ngomong. Aku beliin kiranti mau?” Sean sepertinya kau menggali kuburan mu sendiri.
__ADS_1
“Apaaa? Lo bilang apa barusan?” teriak juga maungnya.
“Ga ngomong apa-apa kok.” sialnya Sean tak bisa minggat lagi setelah pukulan brutal diarahkan padanya. “Sayang, jangan menggila seperti ini, nanti badan kamu sakit! ” bujuk Sean menangkis pukulan Demin pukulan walaupun tidak terasa sakit tapi bikin sang lawan kelelahan sendiri nantinya.
“GAK USAH SAYANG-SAYANGAN LO. TUH MULUT KENAPA JADI LICIN BANGET HAH!” teriakan makin menjadi-jadi ya Lord.
Sean hanya meringis pelan karena cakaran maungnya ini. “Udah. Udah. Gw kalah!” Sean berusaha menenangkan Gres di pelukannya. Ia tak melepaskan sedikit pun karena ia semakin marah. Ia yakin nih bocah benaran PMS, buktinya senggol dikit langsung bacok!
Beberapa menit kemudian, Gres sudah tenang dalam pelukan Sean yang sudah duduk anteng di sofa singlenya. “Masih marah, hm?” Sean mengeratkan pelukannya.
Tak ada jawaban dari Gree, selain balasan pelukan ia berikan untuk Sean. “Udah sore banget ini, kau gak jadi berangkat ke kantor buat beresin berkas yang di kirim kemarin?” tanya Sean, karena tadi pagi mereka ke bandara untuk mengambil kirim berkas asli dari Papanya Gres untuk di tinjau ulang perencanaannya.
“Malas. Lagi pengen cuddle kayak gini aja.. ” manja Gres makin mengeratkan pelukannya. Hal seperti ini memang sudah biasa mereka lakukan untuk menyemangati tapi bukankah jika selalu seperti ini, Sean akan makin membenarkan perasaannya. Menurutnya Gres hanya bingung saja tapi jauh di dasar hatinya ia pasti mau mengakui bahwa perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.
"Ya udah. Rasa ngantuk ga? Atau perut kamu terasa nyeri ga kayak kemarin?" Tanya Sean yang sudah hafal sikap maungnya kalo lagi PMS.
"Tahu dari mana aku lagi PMS?" Heran Gres yang masih memeluk Sean nyaman.
"Kamu kan selalu kayak gini kalo PMS, dikit-dikit marah, tiba-tiba pengen peluk, atau ga kram perut sama jam tidur lebih panjang dari sebelumnya." Jelas Sean mantap.
"Cinta aja sama gw. Gapapa, aku terima dengan lapang dada kok. Lagian selain elo juga ga ada lagi yang cinta sama gw," balas Sean pelan dan makin memeluk Gres erat.
Sean bahkan sudah mengecup kepala Gres dari tadi.
Tiba-tiba Gres melepaskan pelukannya cepat dan beralih menatap Sean lekat dengan masih berpelukan, "boleh gw mastiin sesuatu biar ga bingung lagi?" Pinta Gres mendongak dari pelukannya.
"Mastiin apa?" Bingung Sean.
"Boleh ga?" desak Gres mendekatkan wajahnya ke arah muka Sean.
"Ma- maksud Lo apaan?" Sean kaget dengan pergerakan maungnya.
.
.
__ADS_1
.
.
"Membunuhmu dengan perlahan,"seringai Gres mengakali Sean dengan pisau buah ditangannya.
"YAK! JANGAN GILA!" teriak Sean tak habis pikir.
"Wuahahahh....." Tawa Gres melengking melihat muka panik Sean.
"Anak Dajjal lo! Musnah sekalian, heran gw masih ada aja, cewe modelan dia di era ini woah,,," Sean mendramatis.
"Mampus Lo! Mati muda aja benaran!" Gres makin bengek melihat muka panik Sean dicampur kesal.
...••🌾••...
.
Sementara di lain tempat.
Papa serius mau ikut Mama ke pantai?" tak percaya suaminya kekeh untuk ikut karena penasaran dengan rasa dan suasana pantai di malam hari.
"Papa serius kok. Lagian Papa penasaran Mah!" Ujarnya terkekeh.
"Makanya jangan sibuk kerja Tuan, udah tua gini juga belum pernah ke pantai saat malam. Malu noh sama anakmu, dari kecil seringkali kali liburan ke pantai," ujar Siena mengejek.
"Mama juga gitu ya, kemarin-kemarin juga sibuk kerja tuh." Balas CEO kaya raya tersebut.
"Eh, tapi Mama sedikit tidaknya udah puluhan pantai pernah ku singgahi saat liburan ya, pegunungan juga. Belum lagi suasana berkemah di puncak udah tuh Mama rasain!" Antusias Siena.
"Iya deh. Mama menang, nanti ajakin liburan di tempat-tempat kayak gitu ya. Papa kan ga kerja lagi sekarang!" Mohon tuan Presmana tersebut.
Seperti itulah perbincangan hangat diantara mereka.
..
__ADS_1
.