
Definisi rindu yang sebenarnya adalah dimana kita sudah tidak bisa lagi saling sapa tapi masih menyebut namanya di setiap doa.
•
•
•
Setiap menjelang tidur, saya selalu berpikir jauh tentang banyak hal, tentang luka dan kesedihan yang selalu tersembunyi saat saya terjaga.
Terkadang juga saya merasa bahagia berkali-kali dibeberapa hari lalu kemudian saya juga merasa sedih setengah mati di hari berikutnya.
Ternyata memang gak akan ada yang selamanya, bahkan perasaan dan
takdir. Jadi saya berusaha, mengapresiasi semua yang hanya bersifat sementara dalam beberapa waktu. Karena semua itu adalah
bagian hidup seutuhnya.
Seperti hujan yang tak pernah tahu ia akan terjatuh dimana. Seperti pilihan yang tak bisa ditebak bagaimana akhirnya. Seperti takdir yang tak memberi kita pilihan untuk hidup seperti apa. Juga seperti hidup yang tak pernah tahu akan berakhir bagaimana.
Seperti itulah hidup ini kadang harus dijalani tak peduli seberapa sakit dan lelahnya kita.
Seperti kita yang kadang tak bisa memilih mana yang benar-benar serius akan keberadaan kita. Hari ini mungkin kita menjalani hidup yang jauh berbeda dari ekspektasi kita.
Tapi, seperti kenyataan terkadang kita
memang harus menerima dan ikhlas dengan apa yang sudah tersedia untuk kita.
Dan untuk kesekian kalinya. Aku mengalami penyesalan pada akhirnya.
Menyesal dengan banyak keputusan sama pilih yang tidak sesuai harapan.
Keputusanku untuk lost contac dari beberapa teman bahkan semua orang yang pernah hadir di kehidupan sebelumnya.
Beberapa momen kembali teringat dan memenuhi pikiranku saat ini. Seperti yang sudah terjadi keberadaanku disini tak banyak orang tahu. Hanya kedua orang tuaku dan tak lupa Sean yang ternyata satu kampus dengan ku.
Setelah 1 tahun ini terlewatkan...
__ADS_1
Kembali aku merasa kehilangan. Aku merindukan beberapa dari mereka dan semua tentang mereka.
Nyatanya penyesalan paling menyakitkan dalam hidup adalah kehilangan yang sengaja kau abaikan sebelumnya.
"Ren!!!, Aku kangen!" ucap Gres dengan air mata yang tak terbendung.
"Haruskah aku memutar ulang waktu? Ku kira akulah yang paling tersakiti saat itu. Ku kira akulah yang paling berada di titik terendah saat itu. Tapi, kenapa! Kenapa??? Kalian gak pernah nunjukin semua kesedihan? Aku merasa paling jahat dan tak berperasaan sekarang. Aku menyesal terlalu memusatkan diri bahwa akulah yang paling terluka," teriak Gres dengan tangisan pilunya.
Bagaimana tidak. Setelah satu tahun ini berlalu. Mereka nyatanya sudah tak pernah kembali lagi. Mereka dengan kehidupan masing-masing, tak tahu lagi bagaimana keadaan mereka di tempat yang berbeda.
Pilihannya untuk melangkah jauh dan meninggalkan tanpa jejak saat itu, nyatanya keliru.
Setelah dia diangkat terlalu tinggi, ia pun dibanting berulang kali pada akhirnya.
Kejadian itu, terjadi kembali. Kehilangan, keputusasaan, ketakutan dan kekhawatiran.
Ya, kedua orang tuanya pun hilang tanpa kabar lagi setelah mengantarnya di kota ini. Mirisnya lagi, ia tak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak.
Semua berlalu tanpa ia sadari. Perlahan mereka akan pergi juga pada akhirnya.
Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan akan terasa sulit untuk dikendalikan.
"Gue harus gimana? Bahkan untuk kembali baik dan melupakan untuk memulai kembali saja sangat sulit ku rasa," ujarnya dalam keheningan malam di balkon kamar apartemennya.
"Ini mungkin takdir ku, bahkan sekarang aku sudah seperti tidak merasakan sakit lagi!" ucap Gres ketika ia masih dalam keadaan berjongkok.
"Ya, dan hal yang terburuk adalah tidak merasakan sakit lagi. Luka yang kamu rasakan sekarang adalah luka yang paling sakit karena sudah tak terasa lagi namun terus membekas. Kamu akan bisa melewati ini dan masih bisa untuk pulang!" ujar Sean yang entah sejak kapan sudah berdiri dan bersandar di kaca penghubung balkon tersebut.
"Sean! Gue jahat banget tau gak. Gue egois banget selama ini dan parahnya lagi gue gak sadar akan itu semua. Liat, mereka udah kusakiti berulang kali. Entah ini sudah keberapa kalinya tak bisa gue ingat lagi!" ucap Gres frustasi.
"Mereka adalah orang baik. Mereka gak akan memperhitungkan itu!" seru Sean yang sudah mengelus lembut kepalanya yang masih menunduk.
"Gue pantas dapatin ini semua!" ucap Gres pada akhirnya.
"Gue gak bisa janjiin lo buat selesain semua masalah hidup lo. Tapi, gue janji kalo lo gak akan sendirian hadapi ini semua!" seru Sean.
Tapi ya udahlah, manusia emang dilahirkan lewat pertemuan untuk menghasilkan pelajaran dan kenangan. Berterimakasihlah pada waktu yang telah membuat kita mengerti jika pada akhirnya kita hanya perlu menerima dan mengikhlaskan.
__ADS_1
Toh, nyatanya semampu apapun kita. Kita gak akan bisa mengubah masa lalu. Mengubah beberapa hal yang tidak kita sukai, dan kita pun tidak bisa memastikan akan hendak kemana dan dimana kedepannya. Bahkan pikiran pun gak akan bisa kita terka siapa yang akan mengalah pada akhirnya.
Teruntuk diri sendiri terimakasih sudah sampai sejauh ini, untuk kuat.
Perlahan semuanya akan pulih walaupun masih tertatih. Gapapa hari ini bersedih karena secara perlahan ia pun akan menghilang.
Yang terpenting bukan tentang melupakan, tapi bagaimana menjadikan rasa sakit sebagai pelajaran.
Benar sekali abadi hanyalah kata :)
'
'
'
"Gres!" panggilnya ketika mereka tengah menikmati dinginnya malam di penghujung terminal, entah kegabutan jenis apa lagi. Sehingga ia bisa membawa cewek tersebut jauh dari tempat tinggal mereka di waktu yang hampir menemui subuh.
Ya, mereka sekarang berada di ujung terminal yang terlihat sepi karena hari sudah terlalu malam. Ia, sengaja membawanya kesini untuk membuatnya kembali baik.
"Hm?" gumam Gres dengan kedua kakinya yang menggantung di ayunkan secara perlahan.
"Seseorang pernah bilang ke gue kalo 'hidup ini seperti metamorfosis. besiklus dari fase ke fase' dan gue akui bahwa benar seiring berjalannya waktu beban hidup semakin menambah level," ujar Sean memandang lurus.
"Lo benar. Gue mau menyerah rasanya, tapi sayang. Kadang suka capek tapi masih mau disini, sebenarnya salah gak sih jika harus lelah?" tanya Gres menatap Sean dalam diam.
"Lelah itu manusiawi. Gapapa karena lo juga manusia. Disaat lo merasa udah terlalu lelah cobalah untuk mengingat kembali bagaimana dengan gigihnya lo memperjuangkan banyak hal disaat lo dipaksa untuk menahan ego, menahan rasa marahmu, menahan rasa rindumu, dan bahkan disaat lo pernah berpura-pura tenang untuk buat beberapa dari mereka tersenyum. Disaat lo harus meyakinkan diri untuk percaya, lo meyakinkan diri akan baik-baik saja saat disakiti-" Sean.
"Tapi, bagaimana jika aku terlalu lelah untuk bertahan?" potong Gres.
"Tidak apa jika kamu harus lelah. Kamu pantas lelah. Kamu pantas menangis. Kamu pantas kecewa. Kamu pantas marah. tapi, KAMU LUAR BIASA UNTUK ITU" jawab Sean.
"Lelah kamu itu wajar, yang tidak wajar itu ketika sudah lelah karena bosan dan berusaha untuk menyerah dan melepaskan. Itu salah. Jangan sampai hal itu terjadi dan kamu lakukan," tambah Sean.
"Hm, lo benar. Gue hanya butuh waktu sepertinya," ucap Gres memandanginya dengan tatapan hangat.
"Lo hanya sedang di fase lelah tidak dengan menyerah!" jawab Sean merengkuh badan kecil dari manusia disampingnya.
__ADS_1
So, being tired is human
_Agust. 2021