Mengapa ?

Mengapa ?
Kritis...


__ADS_3

✨✨✨


Di rumah sakit.....


Dalam ruangan yang tertutup rapat tersebut bisa terdengar seberapa sibuknya orang-orang di sana. Dokter yang tengah sibuk menangani pasien yang boleh di bilang kondisinya parah saat ini. Kondisi pasien bahkan tidak memiliki harapan dengan melihat darah yang terus mengalir dari kepala kecilnya.


Perawat yang tengah menemani dokterpun sangat gesit tangannya dalam mengambil alat yang di perlukan untuk operasi tersebut. Ya mereka tengah berusaha mengatasi pendarahan hebat pada otak pasien tersebut. Mereka dengan telaten menggunakan alat-alat tersebut tanpa berbicara satu kata pun.


Sementara di luar ruangan itu, seorang pemuda tengah dilanda kebingungan apa yang akan ia lakukan melihat ruangan operasi yang tak kunjung terbuka. Ia cukup gelisah sambil berjalan sekitaran pintu ruang tersebut, berharap di dalam sana akan baik-baik saja. Di tengan kebingungannya terdengar dering ponsel dari saku pemuda tersebut.


Drrrt, drrrt,,,drrrt!


“Halo” Sean


“...................”


“Tolong batalkan meeting kita hari ini, saya dalam kesibukan yang tidak bisa di tinggal” Sean


“...................”


“Batalkan saja. Bila perlu cari waktu lain. Saya sedang berada di rumah sakit. Teman saya mengalami kecelakaan. Setelah itu, kamu ke rumah sakit Santo Borromeus untuk membantu saya mengurus administrasinya. secepatnya kesini.” ucap Sean lalu mengakhiri telfon tesebut.


Di lain tempat, seorang wanita tengah berjalan sambil menarik kopernya keluar dari bandara tersebut. Di luar ruangan sudah ada Mang Juki sopir andalan mereka yang dengan setia menunggu. Ya, perempuan tersebut adalah Nyonya Presmana lebih tepatnya ibu dari Gres. Ia dengan senyuman melangkah menuju mobil dengan Mang Juki yang sudah membawakan koper sang majikan.


“Selamat sore Mang, udah lama nunggunya?” tanya Siena.


“Selamat sore Bu. Selamat datang kembali. Belum lama kok Bu.” Mang Juki.


“Bagaimana kabarnya Mang?” Siena.


“Baik Bu. Bagaimana kabar Tuan?” tanya Mang Juki sambil membukakan pintu untuk majikannya.


“Bapak baik-baik saja” ucap Siena sambil masuk ke mobil.


“Langsung ke rumah atau masih ada tempat persinggahan Bu?” tanya Mang Juki


“Langsung ke rumah aja Mang. Sekalian mau istirahat” jawab Siena.


“Baik Bu” Mang Juki.


“Oh ia. Gimana dengan Gres? Apa dia meresahkan?” Siena.


“Sejauh ini, Non baik-baik aja Bu. Dia kebanyakan menghabiskan waktunya di rumah. Sesekali non main juga ke temannya” mang Juki.

__ADS_1


“Hmm.. ku kira dia tidak bisa di tinggal lama” ucap Siena sambil tersenyum.


Sesampainya di rumah.


Siena dibantu oleh para maid untuk menurunkan barang yang di bawa. Ia mengucapkan salam pada orang-orangg rumah yang setia menjaga rumahnya dengan baik.


“Bi, barang-barangnya di teruskan di kamar aja ya. tapi ole-olenya di simpan di ruang keluarga aja, sekalian di bagikan untuk yang lainnya” Siena.


“Baik Bu. Oh ya, Ibu kabarnya gimana?” tanya Bi Ima sambil membereskan barang majikannya.


“Baik Bi. Gres mana ya? kok nggk kelihatan dari tadi?” tanya Siena karena tidak melihat sang putrinya di rumah.


“Tadi sore Non pamit mau ke supermarket Bu, tapi belum balik-balik. Mungkin lagi main di rumah den Rendi temannya kali” bi Ima.


“Oh. Kalau gitu saya ke kamar ya dulu ya. nanti kalau Gres pulang jangan lupa beritahu saya ya!” Siena.


Sementara di rumah sakit, Sean tengah menunggu dokter yang tak kunjung keluar dari ruangan tertutup tersebut. Disana sudah ada sekretaris Sean yang tengah sibuk mengurus adminstrasi dari pasien yang tengan di operasi tersebut.


“Maaf Tuan muda. Apakah keluarga dari korban sudah di hubungi?” tanya Eza sekretarisnya.


“Sudah ku bilang, kalau di luar kantor jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu. Panggil saja nama saya” ucap Sean dengan kesal pada sekretarisnya.


Sekretarisnya masih cukup muda mereka hanya berpaut 3 tahun. Sean yang berumur 17 tahun sedangkan Eza sudah berumur 21 tahun. Mereka di luar cukup akrab karena umur yang tidak terlalu jauh. Namun dalam keadaan genting seperti sekarang membuat mereka harus formal.


“Mereka belum tahu. Aku saja tidak tahu nomor telfonnya” Sean.


“Baiklah biar saya cari tahu dulu alamat dan nomor keluarganya” ucap Eza yang sudah berlalu meninggglkan Sean sendiri.


Ketika Sean tengah duduk termenung di kursi tunggu. Pintu ruang operasi pun terbuka dan dokter serta perawat yang lain keluar.


“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Sean sambil berdiri.


“Bisakah kita berbicara di ruangan saya sebentar?” dokter.


“Baik dok.” ucap Sean sambil berjalan mengikuti dokter ke ruangnnya.


Di ruangan dokter


“Apa lukanya parah dok?” Sean


“Pasien sedang dalam keadaan kritis. Ia mengalami pendarah otak yang cukup berat, sehinggan mengakibatkan kami melangsungkan operasinya. Tapi melihat kondisinya setelah operasi tersebut sepertinya tidak mempengaruhi keadaannya. Untuk sementara kita tidak memiliki harapan sama sekali. Berdoa saja.” Ucap dokter.


“Tapi dia masih bisa di sembuhkan kan dok?” Sean.

__ADS_1


“Saya tidak bisa memberikan harapan apa-apa. Sejauh itu kami akan pantau perkembangannya untuk kedepannya. Sedikit kemungkinan pasien akan kehilangan ingatan sebagian atau bahkan seluruh ingatannya” dokter.


“Ba-bagaimana bisa dok?, dia pasti akan baik-baik saja. Lakukan apa saja untuk dapat menyembuhkannya. Berapapun akan saya bayar dok” ucap Sean frustasi.


“Akan kami usahakan yang terbaik. Apakah anda keluarga satu-satunya?” dokter.


“Saya temannya dok. Kami sedang berusaha untuk menghubungi keluarganya” Sean.


“Secepatnya anda harus memberitahukan keluarganya. Mengingat kondisi pasien yang sangat mendukung” dokter.


“Baik dok. Kalau begitu saya permisi!” Sean.


Sean yang tengah frustasi dengan keadaan gadis yang di temui beberapa bulan terakhir ini membuatnya tidak mempedulikan keadaan sekitar. Di mana bayak sekali pengunjung yang sedang menatap heran padanya, bagaimana tidak seorang CEO muda dan tampan tengan duduk di sudut ruangan rawat dengan penampilan yang cukup kacau.


“Ada apa denganku?. Mengapa aku sekhawatir ini pada gadis itu!” batin Sean.


“Entahlah,, mungkin karena aku sempat bertemu dengan gadis itu sebelumnya, tapi mungkinkah ia merupakan salah satu siswa dari SMA sebelah itu?. Ah.. sudahlah” ucapnya kemudian.


“Sean!. Aku sudah mendapatkan data diri gadis itu. Ternyata dia seorang siswa yangg sama angkatan denganmu!” Ucap Eza.


“Yak!! Kalau itu aku juga tahu Za!. Yang ku tanyakan nomor telfon yang bisa di hubungi untuk memberitahukan keluarganya!” jawab Sean kesal.


“Santai bro. Tenang aku akan menghubungi keluarganya sekarang juga” timpal Eza.


Ketika deringan telfon terhubung pada orang di seberang, Eza pun memberikan ponsel tersebut pada bosnya.


“Halo....” terdengar suara perempuan dari saluran telfon.


“Halo, apa betul ini nomor telfon rumah dari gadis yang bernama Gres??” tanya Sean, karena sudah mengetahui nama gadis tersebut dari data yng di dapatkan Eza.


“Ia betul sekali. Ada keperluan apa dengan Non Gres?” jawab suara dari telfon tersebut.


“Oh, saya hanya ingin mengabarkan kepada kalian bahwa Gres mengalami kecelakaan sore tadi. dan sekarag berada sedang di rawat di rumah sakit. Akan saya kirimkan alamat rumah sakitnya melalui pesan.” Sean


“Baik tuan. Kami akan segera ke sana. Terimakasih”


Sementara Siena yang tengah berdiri di tangga, entah sudah berapa lama ia di situ. Merasa kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Kakinya seketika melemah seakan tidak mampu lagi menopang tubuhnya, jika saja bi Ima tidak secepat mungkin memapahnya.


“Apa yang terjadi pada putriku?” ucap Siena dengan mata yang berkaca-kaca.


“Ibu tenang dulu. Non akan baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita harus ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya” ucap bi Ima.


“Kalau sampai terjadi apa-apa padanya! Apa yang harus aku lalukan?” ucap Siena yang sudah tidak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2