Mengapa ?

Mengapa ?
Pulih


__ADS_3

✨✨✨


Sebulan kemudian....


Aku bersama mama berjalan beriringan di lorong rumah sakit. Hari ini adalah hari terakhir aku konsul ke dokter dan sudah dinyatakan pulih dari kejadian yang ku alami beberapa bulan yang lalu.


Kami terlihat akrab, kembali mengingat mama benar-benar bersikeras mengajakku bicara dan terus menemaniku ketika saat aku sakit di rumah sakit sampai hari ini, ia betul-betul istirahat dari pekerjaannya dan fokus untuk kesembuhanku.


Dari sini aku bisa melihat wajah lelah mama setiap ia duduk dan mengajakku makan.


Saat ini kami tengah berada di dalam mobil yang dikendarai mang Juki.


Tanpa sadar aku terus dan terus memandangi wajah mama, seperti aku terbuai dalam pandangan itu. Ya, aku hanya sedang menerawang sejauh apa yang mama telah korbankan untukku. Aku terus meminta lebih padahal mereka begitu gigih bekerja dan memberiku kehidupan yang enak.


Dari sini aku dapat melihat dengan jelas wajah lelah mama. Juga kembali aku mengingat wajah papa yang selalu ku pandang dari jauh jika ia tengah sibuk membuka berkas pekerjaannya di rumah.


Mereka begitu baik. Mereka sama seperti malaikat tidak menuntut lebih terhadap apa yang mereka berikan kepadaku. Mungkin sampai hari ini jika ditanya sudah berapa banyak pengorbananmu untuk membahagiakan mereka aku mungkin akan berada di barisan paling belakang.


Bagaimana tidak sepanjang aku hidup dan hadir dalam kehidupan mereka, hanya terus menerus membuat mereka khawatir ditambah lagi aku banyak sakit, juga keras kepalaku.


Saat aku sudah terbuai dalam pikiran tersebut. Tiba-tiba musik yang di putar dengan volume pelan oleh mang Juki mengalun lembut di pendengaran ku


Bertaut_Nadin Amizah🎶🎶


Aku begitu meresapi tiap-tiap lirik yang dinyanyikan yang tak sadar aku sedikit terisak akan beberapa hal yang mampu membuatku menyesal.


Mama yang menyadari itu, ia tidak bicara sama sekali. Ia sengaja memberiku ruang lebih untuk ku nikmati.


Aku menyesal, disaat aku hampir menyerah di hidup ini. Aku banyak menyalahkan mama, mereka menjadi pelampiasan ku saat aku terpuruk.


Disaat aku terpuruk saja ia begitu memahami ku apalagi saat aku menjadi juara. Aku begitu keras kepala padanya. Aku  pun masih ada sampai saat ini melihatnya begitu kuat dan tegar. Tak peduli denganku, ia mengerti aku masih belum mengerti banyak hal yang sudah ia selami dan tapaki setiap jalan hidup.


Seketika aku tersadar ia sudah memelukku begitu erat dan hangat, seraya menepuk pelan bahuku dan berucap "Semuanya akan baik-baik saja".


Aku semakin menangis mengingat begitu jahatnya diriku terhadapnya. Ia tetap tidak membenciku dan masih kuat bertahan sampai aku kembali pulih dan lebih baik lagi.

__ADS_1


"Maafin aku Ma!" ucapku parau disertai isakan.


"Gapapa, semuanya sudah terlewati. Mama bangga, kamu masih kuat sampai hari ini!" ucapnya lembut di telingaku.


"Aku sudah sadar. Aku melewatkan banyak hal. Terimakasih sudah memberi pengalaman terbaik dalam hidupku" ucapku yang masih memeluknya erat.


"Terimakasih masih memahami ku ketika aku berada di titik paling rendah dalam hidup" ucapku pelan.


"Kamu sudah berhasil melewati banyak hal. Kamu sudah dewasa. Kamu akan menjadi orang baik setelah memetik makna dari semuanya. Kamu kuat dan mampu bertahan sampai hari ini. Maafkan mama yang tak turut melihat tumbuh kembangmu dengan baik!" ucapnya yang sudah menghapus air mataku dengan kedua jari tangannya.


"Maaf nyonya, kita sudah sampai" ucap mang Juki membuyarkan kegiatan kami.


"Oh, ia terimakasih mang. Belanjaannya nanti sekalian dibawa ke dapur ya!" ucap mama yang sudah mengajakku masuk karena di luar cukup dingin mengingat sekarang sudah musim hujan.


"Eh, kalian sudah pulang?" tanya Papa menyambut kami datang.


"Iya Pa" jawabku pelan dan agak sedikit gugup menanggapi sapaan Papa.


"Kamu duduk dulu. Mama ambilkan minum ya!" ucap mama berlalu ke ruang makan untuk mengambil minuman yang sengaja disimpan di kulkas ruang tersebut.


"Sudah membaik. Kata dokter aku udah pulih!" jawabku santai.


"Baiklah. Istirahat yang banyak biar lebih fresh lagi!" seru Papa sambil mengelus lembut rambutku.


"Hm, Pa. Kapan Gres bisa masuk ke kampus?" tanyaku tak sabar akan melanjutkan studi yang sudah hampir ditutup pendaftaran masuk untuk setiap kampus mengingat aku juga masih memulihkan diri dalam beberapa waktu terakhir ini.


"Kamu udah gak sabar masuk kampus?" tanya Papa dengan muka berseri.


"Iya. Masa Gres sendiri yang belum mulai kuliah sedang teman-teman yang lain udah pada sibuk tuh di kampus!" ucapku memelas dengan tatapan berharap kepadanya.


"Ya udah, kamu mau ambil jurusan kedokteran di kampus mana biar Papa suruh orang untuk segera daftarkan sekarang?" tanya Papa antusias.


"Hm, sebenarnya. Gres udah punya keputusan buat ngambil jurusan lain" jawabku pelan, yang tiba-tiba Mama sudah mengelus lembut rambut ku


"Kamu gak usah takut. Tinggal bilang sama kita mau kuliah dimana sayang!" seru Mama.

__ADS_1


"Gres udah gak mau kuliah dokter Pa!" ucapku takut.


"Lho kenapa gak jadi, Papa dukung kamu kok buat kuliah dokternya." jawab Papa fokus menatapku.


"Iya sayang. Kamu kenapa gak mau lagi?" tanya Mama.


"Sebenarnya, waktu Gres di rumah sakit. Gres bisa lihat waktu mereka merawat ku, pertama sampai. Ternyata jadi dokter gak sesuai dengan cara aku belajar. Mereka terlalu serius untuk bisa menyelamatkan nyawa orang dan Gres gak bisa ternyata" ucapku panjang lebar.


"Ya udah, kan masih kuliah sayang. Nanti dengan sendirinya kamu juga akan terbiasa dengan hal itu" ucap Papa meyakinkan.


"Terus kamu maunya ambil jurusan apa?" tanya Mama pelan.


"Aku mau ambil jurusan bisnis aja!" jawabku antusias.


"Sayang, Papa udah gak maksa kamu buat ambil jurusan itu lagi. Gapapa kalau kamu kuliah bukan jurusan yang itu kok!" jawab Papa.


"Tapi Gres mau kuliah kalau itu jurusan bisnis!" jawabku pasti.


"Ya sudah. Tapi kamu yakin?" tanya Papa lagi.


"Yakin Pa!!" jawabku pasti.


"Kamu maunya di kampus mana?" tanya Papa dengan muka yang berubah makin berseru ketika mendengar aku akan mengambil jurusan yang ia inginkan.


"Aku mau kuliah di kampus X Pa!" jawabku tenang.


"Kamu mau kuliah di New York?" seru Papa lagi.


"Iya Pa! Waktu aku di rumah  sakit aku udah cari-cari kampus yang cocok sama aku" jawabku pasti.


"Ya sudah, biar Papa hubungi sekertaris Papa dulu!" seru Papa yang sudah bangkit menunju ruang kerjanya.


Setelah itu, mama mendekatiku dan bertanya " Sayang, kamu yakin mau kuliah di sana?".


"Yakin Ma. Lagian kan Papa pernah bilang kalau aku harus kuliah diluar negeri. Di sana cara hidupnya juga bagus kan!" Ucapku santai.

__ADS_1


"Iya sih. Mama dukung pilihan kamu!" ucap mama yang sudah memelukku erat.


__ADS_2