Mengapa ?

Mengapa ?
Mereka tidak memahami


__ADS_3

✨✨✨


Pagi yang cerah. Ia tengah menikmati udara yang cukup dingin sambil sesekali melihat ada beberapa orang sudah dengan kesibukan di awal pagi mereka.


Gres benar-benar menikmati pagi ini. Dengan mang Juki yang tengah duduk mengemudi sambil sesekali berbicara ringan dengannya.


Siapa yang tahu bahwa pikiran dan hatinya tidak sejalan. Ia merasa pikirannya cukup kacau hari ini. Namun dengan mukanya yang datar dan tak bisa di tebak entah ia baik dan tidak. Membuat orang yang melihatnya biasa saja.


.


.


.


Di koridor sekolah terasa sepi hanya beberapa siswa yang lalu lalang. Ia memang sengaja datang cukup pagi hari ini, mengingat ia harus mengikuti ujian susulan karena tidak mengikuti ujian di hari pertama. Selain itu juga ia harus menjalankan hukuman karena berani membolos kan diri di hari ujiannya.


"Pagi yang benar-benar kejam" batinnya.


Ia pun tiba di ruangan guru. Di sana ia menghadap pada wali kelasnya untuk meminta lembar soal yg dilewatkan.


"Yaak!.  Bagaimana kau bisa tidak masuk sekolah di ujian pertama mu?" tanya pak Erdan wali kelasnya.


Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan wali kelasnya. Ia berlalu dan duduk di meja yang telah di sediakan untuk siswa yang mengikuti ujian susulan tersebut.


Gres tergolong siswa yang cukup pandai jadi tidak menjadi soal baginya dengan soal matematika yang ia hadapi untuk mengawali paginya kali ini.


.


.


.


.


Sementara di kelas. Sudah banyak siswa yang berdatangan. Ada yang sedang belajar. Ada pula yang hanya sekedar duduk dan bergosip. Biasalah suasana kelas memang selalu seperti itu.


"Gres belum juga datang" Rendi


"Iya. Setelah di pikir-pikir. Gue nyesal sama kata-kata gue kemarin" Eca


"Gue takut, kalau hari ini dia bolos lagi" Rendi


"Apa kita telfon aja kali ya?" Jek


"Gak papa kita tunggu lagi aja. Siapa tahu dia akan sedikit terlambat" Eca


"Kemarin Gue ke rumahnya. Tapi kata orang rumah, Gres belum pulang. Padahal kita kan ujiannya gak lama. Gue takut terjadi apa-apa padanya." Rendi.


"Dia tidak di rumah? Lalu dia kemana?" Jek.


"Lo di sana sampai jam berapaan emang?" tanya Eca.


"Agak sorean. Tapi gak sampai gelap" Rendi.


"Yah. Bikin kuatir aja tu anak!" Jek.


"Oh, ya. Nyokap sama Bokapnya juga udah gak di rumah lagi. Kata mang Juki, supirnya. Kalo Om sama Tante udah pindah ke paris dan menetap di sana" Rendi


"Jangan bilang Gres berubah karena hal itu. Secara dia kan dari dulu pernah trauma di tinggal pergi sama orang tuanya!" Jek.


"Dan kepergian orang tuanya pun sudah beberapa bulan yang lalu. Tepat saat Gres udah mulai berubah" Rendi.


"Kasihan Gres. Gue jadi gak enak sama dia. Kita udah marah dan parahnya lagi dari kita gak ada yang dukung dia, disaat dia butuh kita. Gue ngerasa bersalah banget" Eca.


"Semoga dia baik-baik saja" Rendi.


.


.


.


Suasana sekolah pun menjadi sepi, semua siswa tengah membaca soal ujian yang baru saja di bagikan. Sementara ketiga sahabat Gres tengah bingung akan keadaannya.


Di ruang guru....


Ia sudah menyelesaikan soal-soal yang dia kerjakan. Ia pun beranjak dari tempat duduknya sambil membawa lembar jawabannya untuk di berikan pada wali kelasnya.

__ADS_1


"Silahkan ke ruangan kelas untuk mengikuti ujian selanjutnya" Pak Erdan


"Baik pak!" Gres


Menyusuri sepanjang koridor sekolah. Ia tengah banyak pikiran sampai tiba-tiba ia teringat kembali kejadian dimana ia mabuk-mabukan di bar itu. Ia berusaha mengingat wajah seorang siswa yang menolongnya tapi sama sekali tidak terlintas di kepalanya.


"Dasar bodoh! Bagaimana kau bisa berterima kasih padanya kalau wajahnya saja kau tidak ingat sama sekali" runtuknya pada diri sendiri.


Di dalam kelas, suasananya begitu tenang dan mencekam. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kelas tersebut.


Tok tok tok....


"Silahkan masuk." Ucap guru yang sedang mengawas di kelas tersebut.


"Mengapa kau terlambat di hari ujian mu?" Guru


"Maaf" Gres


"Apa kau tidak bisa memberikan alasan apapun?. Apa kah tidak dibangunnya oleh ibu mu? Sehingga kau terlambat?"


Gres yang mendengar ucapan terakhir dari guru tersebut mampu membuat roman wajahnya seketika berubah seakan geram dengan apa yang di dengar.


Namun ia berusaha untuk tidak meneriaki gurunya itu. Ia cukup sadar bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya tidak bisa memahaminya dengan baik.


Ia hanya berpikir bahwa mereka tidak memerlukan alasan apapun jika pada akhirnya mereka tetap tidak akan mengerti.


Bahkan orang terdekat sekalipun. Ada saatnya mereka juga mengerti dengan diri mereka masing-masing. Mengingat bahwa tidak hanya dirinya seorang saja yang memiliki beban tersebut.


Mengingat apa yang sahabatnya katakan kemarin cukup membuat ia sadar bahwa semua tidak hanya berputar padanya saja.


Mengingat hal itu, ia merasa adalah orang yang tidak mandiri dan manja. Pantas saja orang tuanya meninggalkan dirinya agar ia berubah lebih dewasa lagi.


Setelah mendapatkan lembaran soal. Ia pun berjalan untuk duduk di tempat biasanya. Tanpa memperdulikan pandangan dari ketiga sahabatnya itu.


***


Di tempat lain. Tepatnya di suatu ruangan kelas. Seorang siswa tengah memikirkan sesuatu yang cukup menyita pikirannya pagi itu.


"Arghhh..!


"Kau kenapa?


Pagi-pagi sudah memikirkan sesuatu yang hampir membuat pesona mu itu hilang hah?" Tanya Leo sahabatnya.


"Entahlah. Aku hanya memikirkan gadis itu" Sean.


"Hei..! Seorang pria seperti mu, yang gila kerja di usia seperti ini sempat-sempatnya juga memikirkan hal itu. Ku kira kau hanya kerja dan kerja saja" ucap Leo sambil tertawa mengejek.


Seorang Sean memang sudah bekerja di Perusahaan ayahnya sambil sekolah. Kata orang tuanya ia harus dilatih memang agar ia bisa memimpin perusahaan ketika sudah lulus nanti.


"Yak...!  Aku juga laki-laki seperti yang lainnya" Sean.


"Bagaimana bisa kau memikirkan gadis mabuk yang kau ceritakan itu, yang nyatanya kau bahkan tidak tau dia tinggal di mana dan parahnya lagi kau bahkan tidak tahu kalian akan bertemu lagi atau tidak!" Ucap Leo sambil tertawa.


"Apa perlu aku menunggunya di bar itu lagi?" Sean.


"Yak..! Sean apa kau sudah gila hah. Jika kau mau kenapa kau tidak memilih saja cewek di sekolah kita ini banyak dan hampir semua menggilai ketampanan mu itu.


Jangan membuat sifat cool mu itu hilang hanya gara-gara gadis mabuk itu.


Atau ada yang sempurna darinya hah?" Leo.


Akhirnya mereka pun saling menatap satu akan yang lain. Dengan tatapan tajam Sean sudah menjelaskan bahwa ia sedang marah pada sahabatnya itu.


"Bagaimana aku tidak memikirkan gadis itu. Kalau perasaan ku saja tidak seperti biasanya ketika berada di sekitar gadis itu.


Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" batin Sean.


.


.


.


Jam istirahat pun tiba....


Gres yang sudah lebih dulu menyelesaikan soal-soal langsung mengumpulkan jawaban dan keluar dari ruangan kelas.

__ADS_1


Hal itu juga tidak luput dari  ketiga sahabatnya. Dia bahkan lebih dingin dan menampilkan muka datar yang menakutkan saat ini.


Ia menuju ke ujung koridor sambil menaiki tangga yang akan mengantarnya ke atap sekolah tersebut.


Di sana ia tengah duduk di bangku kayu panjang. Ia sedang menikmati matahari yang masih tidak terlalu panas saat itu sambil menikmati angin yang menerpa setiap helai rambutnya dengan tak lupa earphone yang sudah terpasang di kedua telinganya.


Ia sedang memejamkan mata. Sambil menikmati setiap lirik dari lagu tersebut.


Tanpa ia sadari seseorang mengambil posisi duduk juga di ujung bangku tersebut.


"Gres....!" panggilan tersebut tidak dihiraukan karena ia sama sekali tidak mendengar.


Tanpa menunggu pun sebuah tangan memegang bahunya.


Menyadari hal itu, ia perlahan membuka matanya dan melihat siapa yang sudah mengganggunya.


"Ren..!" Gres


"Ia. Aku cariin di mana-mana juga. Tau nya kamu disini" ucap Rendi sambil tersenyum.


Mereka memang cukup dekat. Mereka bahkan tidak biasa jika harus memanggil gue-lo.


Mereka sudah terbiasa memanggil aku- kamu.


"Anginnya enak.!" Ucap Rendi sambil sesekali melihat Gres yang tengah menikmati earphone di telinganya itu. Ia yakin kalau Gres tidak akan mendengar dari tadi.


Setengah jam kemudian....


"Cerita sama aku. Apa yang terlalu berat sampai membuat mu seperti ini. hmm!!" Rendi sambil mengangkat aerphone dari telinga gadis itu.


"Aku janji akan selalu ada buat kamu. Aku gak akan biarkan kamu sendiri lagi. Maafkan aku yang kadang gak bisa mengerti kamu!


Aku gak bisa jika kamu terus seperti ini. Hati aku sakit banget lihat kamu kek gini." Rendi dengan air mata yang sudah hampir mau keluar tapi di tahan


"Aku tahu aku cuma sebatas teman sejak kecil, sahabat, orang terdekat. Yang bahkan mungkin tidak begitu tahu dan memahami dirimu. Tapi dari kecil aku terus berusaha akan itu. Hari ini aku gak mau kamu merasa sendiri lagi seperti hari itu." Rendi


"Hmm....! Aku juga minta maaf. Aku gak pernah sadar kalau ternyata masih ada manusia seperti kamu yang udah berjuang dan belajar memahami ku dari dulu. Aku emang egois" ucap Gres sambil tersenyum miris.


"Kamu gak seperti itu. Aku sekarang benar-benar sudah memahaminya" ucap Rendi sambil mengelus bahu Gres.


"Aku cuma gak terima aja orang -orang terdekatku perlahan meninggalkan ku. Aku emang egois yang mau dipahami tapi tidak mau memahami. Aku emang buruk ya..!" Gres.


"Kamu manusia. Kamu pantas jika harus seperti itu. Siapa pun yang ada di posisi mu saat itu akan melakukan hal yang sama" Rendi.


"Maafkan aku.!" Ucap Gres yang sudah memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


"Aku tahu ini cukup rumit untuk mu. Tapi bisa kah kamu membaginya juga pada ku?.


Aku benar-benar mau menjadi orang yang kau datangi saat kau susah dan butuh sandaran. Kita udah kenal cukup lama.


Kamu terlalu berarti buat aku Gres" ucap Rendi sambil mengelus rambut Gres yang tengah memeluknya erat.


Ia tidak menjawab. Melainkan ia merasa beruntung memiliki Rendi di sisinya. Dari dulu ia merupakan orang yang selalu di datangi jika ia akan menangis setiap merindukan kedua orang tuanya. Bahkan orang tua Rendi begitu kenal dekat dengannya. Mereka bahkan menganggapnya anak.


Ia menyadari. Di setiap kejadian dan peristiwa yang ia alami Rendi akan selalu menjadi pemeran utama dalam hidupnya. Ia bahkan tidak bisa pada hari-harinya jika sosok Rendi tak ada.


Jika ia lelah, menangis, merasa hidupnya semakin pahit maka tidurnya pun rendi akan ada dan memeluknya itu akan membuat ia kembali percaya pada dirinya bahwa ia tidak sendirian.


Itulah yang membuatnya tidak bisa dipisahkan dari sosok Rendi. Beberapa bulan terakhir ini ia lewati tanpa sosok Rendi membuatnya merindukan kembali pelukan ini.


Mereka adalah dua sosok yang dihadirkan untuk saling menguatkan dalam hari-hari hidup mereka. Walaupun sampai sekarang Gres belum benar-benar memahami Rendi dengan baik.


***


Jam pulang pun tiba...


Hari ini cukup panjang. Mengesankan dan membawa pelajaran yang cukup berarti untuk setiap orang yang melaluinya.


Sama halnya ke empat sahabat itu sudah kembali seperti semula. Mereka bahkan sudah saling memaafkan tanpa harus menunggu lama.


Mereka hanya butuh waktu untuk melampiaskan segala yang mereka rasakan. Karena perihal menuju dewasa semua tidak akan berjalan seperti sebelumnya.


Ia punya cara tersendiri mendidik dan memukul kuat setiap mereka yang mau di proses agar lebih kuat menghadapi beban yang akan lebih berat kedepannya.


Begitulah awal dari dewasa kadang semakin ke sini semakin sedikit dari mereka yang mau terus bersama dengan kita.


Sama halnya mereka hari ini yang membuktikan bahwa mereka tidak hanya ada jika salah satu dari mereka senang saja tapi mereka ada di setiap sisi senang maupun buruknya hidup.

__ADS_1


__ADS_2