
Happy Reading :)
Teruntuk seseorang di masa lalu. Terimakasih sudah menjadikanku sosok yang lebih baik dan mengerti untuk waktu yang sekarang. Kau mungkin akan tetap ada dan terus ada. Karena bagiku mengingat, melihat dan mendengar tentangmu rasanya seperti mengulang waktu dimana aku berada saat itu. Jadi, tidak apa-apa karena kau pun tetap ada dan bersamaku sampai waktunya datang kala itu.
•
•
•
"Gres!!" panggilnya dari luar pintu dengan tangannya yang tidak berhenti menekan bel apartemen tersebut.
"Kebiasaan tuh bocah. Kalau jam-jam kek gini pasti masih tiduran, Gres oee!" Teriaknya tidak peduli yang di panggil dengar apa tidak.
"Apaan sih? Gak paham lagi gue sama lo, bisa-bisanya teriak di depan apartemen orang. Gak malu apa di liatin, ini tuh bukan di Indo kalo lo lupa!" Ucap Gres yang sudah menjitak kepada Sean kesal.
"Sakit ih, misi mau masuk gue. Lagian udah di panggil-panggil juga gak bukain pintu cepat. Padahal lo lagi gak ngapa-ngapain, kesel gue sama lo bocah!" Gerutu Sean melangkah masuk sebelum di ijinkan masuk ke apartemen Gres.
"Wah, sejak kapan anda berubah menjadi banyak bacot tuan?" tanya Gres mengejek.
"Gak denger, gue lagi makan!" kesal Sean dengan terus memakan cemilan yang ada di atas meja ruang depan.
"Dan sejak kapan juga seorang Sean mahasiswa famous dan pemegang perusahaan makan makan kek gitu," tunjuk Gres pada cemilan yang di pegang Sean.
"Gres,, gue lagi kesel ya!" tegasnya sedikit pelan.
"Kan cuma nanya doang, kemarin-kemarin kan hampir gak pernah sentuh tuh makanan," Gres yang masih belum puas mengejek.
"Gue, lempar lo keluar lewat jendela dari lantai ini salah gak ya?" geram Sean.
"Ah, dan juga sejak kapan Sean kita berubah menjadi bodoh dengan pertanyaan unfaedah seperti ini?" Gres makin menjadi-jadi.
"Sinian dikit deh. Gue kayaknya perlu memukul kepala kecil lo yang sering punya pikiran licik seperti itu," kesal Sean sedikit sabar.
"Sebelum gue ke situ, gue nanya dong! Lo pernah liat gak seekor kelinci mendatangi singa untuk di makannya bulat-bulat?" tanya Gres dengan sebelah alisnya terangkat.
"Lo udah bosan hidup ya?" tanya Sean dengan tatapan menusuk.
"Kalo udah bosan mah, kemarin-kemarin gue udah bunuh diri kali," ucap Gres enteng dengan keadaan yang masih sama Gres berdiri di samping pintu apartemen dan Sean yang tengah duduk di sofa.
"Akhh!!! Gue kesal pokoknya. Jangan pancing emosi gue lagi kalo gak," teriak Sean menjeda.
__ADS_1
"Kalo gak kenapa?" tanya Gres terkekeh.
"Apartemen lo gue buat sama kek kapal pecah, mau?" tanya Sean antusias.
"Oh, sepertinya gue merasa haus sekarang. Ke dapur dulu ya!" ucap Gres meninggalkan Sean yang tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar makhluk licik! Lagian ngapain dia ke sini sore-sore gini, ganggu aja!" kesal Gres yang terus menghentakkan kakinya.
"Gres!! Gue masih dengar lo masa," ucap Sean tersenyum menang.
"Tau ah. Malas," jawab Gres yang kembali duduk di sofa sebelahnya.
'
'
"Lo ngapain ke sini jam begini? Bukannya lagi sibuk?" tanya Gres setelah meletakkan gelas kopinya yang masih terisi di meja balkon apartemennya.
"Lagi malas aja. Pengen istirahat bentar," jawab Sean dengan fokus memainkan ponselnya.
"Jangan bekerja terlalu keras! Lo masih muda dan harusnya umur lo yang sekarang dihabiskan buat main-main dulu," ujar Gres serius.
"Segitu traumanya lo sama orang yang terlalu bekerja keras?" tanya Sean mengingat bagaimana Gres yang punya orang tua super sibuk dan melupakannya bertahun-tahun, walaupun kedua orang tuanya juga sama. Tapi mungkin Gres sedikit kalah kuat darinya.
"Lo harus hidup dan menjadi Gres yang baru. Lo udah dewasa sekarang, dan gue yakin mungkin lo udah sedikit paham mengapa mereka sekeras itu, waktu itu, ataupun sampai sekarang!" Sean menatapnya dengan mimik tanpa arti.
"Hm, lo bener gue udah dewasa, dan seharusnya paham keadaan mereka. Ia. Gue udah ngelakuin itu, tapi mungkin lo benar gue masih sedikit trauma dengan masa lalu. Tapi, menurutku sudah seharusnya mereka beristirahat, kalaupun bukan istirahat total sedikit tidaknya jeda saja gapapa. Tapi mereka keras kepala ternyata," ujar Gres tertawa ringan.
"Tapi, bukankah nyokap lo udah balik dan istirahat dari pekerjaannya?" Sean sedikit penasaran.
"Istirahat untuk sementara ini mungkin! Gue juga gak paham sama diri gue yang sekarang. Seakan-akan untuk sedikit percaya ke mereka mungkin sedikit susah. Jadi gue anggap aja Mama hanya sedang istirahat," jawab Gres kembali menyesap kopinya.
"Lo harus hidup dengan cara yang sedikit beda. Lupain semua masa lalu lo jika itu menyakitkan," ujar Sean dengan tatapan berharap.
"Gue ingin melupakan semuanya.Tapi gak bisa!
Ahh.. seharusnya gue gak boleh percaya kepada siapapun.
Lo tahu, dulu gue pikir kalo gue gak berubah, orang-orang yang dekat denganku dan yang gue percaya gak akan berubah juga. Tapi gue salah, sampai sekarang gue hidup dengan terus mempertanyakan takdir mengapa hidup gue jadi seperti ini?" ucap Gres datar.
"Lo gak salah, begitu pun mereka ini hanya soal waktu saja. Lagian yang namanya manusia pasti punya banyak cara merefleksikan hidupnya dengan beberapa pilihan," Sean meyakinkan.
__ADS_1
"Woahh,, kenapa suasananya jadi gini sih?" Gres kembali tersenyum dan mulai mengganggu Sean dengan ejekan andalannya.
"Yak bocah lagi serius ini, ngapa jadi gak berakhlak sekarang?" teriak Sean kesal karena dikerjai dengan sedikit menumpahkan kopinya.
Beberapa menit kemudian...
"Tapi serius Gres,, gue mau nanya!" seru Sean .
"Nanya apaan?" Gres beralih menatapnya serius.
"Tentang teman lo yang sering lo ceritain itu," ujar Sean mengingat kembali.
"Rendi?" tanya Gres memastikan.
"Iya. Tentang tuh anak," Sean membenarkan.
"Tentang Rendi yang gimana?" Gres balik bertanya.
"Ya, lo cerita dong sedikit tentang dia. Atau sedekat apa sih lo sama dia?" Sean bertanya.
"Tentang tuh bocah. Kalau gue ceritain, mengingat dan melihatnya, rasanya kayak ngeliat waktu yang berlalu.
Itu hal yang sudah pasti tentunya, tapi karena kita bersama sejak kecil, mulai dari bocah sampai masa gue ngerti dia yang selalu ada bersama gue.
Sungguh bagaimana pun juga mulai dari masa itu hanya dia teman yang selalu bersama gue di setiap proses yang gue hadapi. Dia saksi mata teruntuk banyak hal yang gue alami.
Kalo lo bertanya seberapa deket gue sama dia, mungkin gue bakal bilang 'sedeket gue mau tidur dan dia yang terus memeluk gue, baik disaat gue patah semangat, menangis, merasa gak adil sama hidup'. Dia masih tetap pada posisi yang sama.
Deket lebih dari kedekatan gue sama kedua orang tua gue.
Singkatnya gitu!" jawab Gres kembali merindukan sahabatnya itu.
"Tapi kenapa kalian harus terpisah? Bukankah lebih bagus lo tetap ada di sekitarnya dan merasakan bagaimana perlakuan baiknya buat lo?" tanya Sean.
"Lo mungkin lupa, kita gak bisa menolak takdir! Sekeras apapun gue waktu itu tapi endingnya tetap kek gini, gue ada dan duduk di sini bareng lo," ujar Gres.
"Ia sih," Sean membenarkan
"Kalo saja bisa memilih saat itu.
Gue akan mereques hidup yang gak rumit. Cukup bahagia jika ada yang bahagia dan yang lainnya. Tapi realitanya gak gitu kan? Ya udah!" ujar Gres terkekeh.
__ADS_1
"Kedepannya. Lo akan baik-baik saja, apapun yang terjadi. Gue jamin lo gak bakal nyesel juga bertemu gue sebagai teman di takdir yang sama!" Sean tersenyum sambil mengacak rambut Gres pelan.
_21 sept. 2021