Mengapa ?

Mengapa ?
Turns out, He's the one


__ADS_3

^^^Gue udah berharap ini cuma mimpi saja, yang pada saat bangun nanti akan kembali seperti semula. Tapi apa? ini bahkan sudah terjadi melampaui ekspektasi gue saat ini. Ya, dia melakukannya.^^^


....o0o....


...H a p p y ____ R e a d i n g...


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


Setelah acara makan-makan selesai kami pun memutuskan menghabiskan waktu dengan nonton acara di televisi.


Dengan Sean yang katanya kangen banget sama gue walaupun gue juga demikian sih, hahah.


Berakhir dia yang terus duduk disamping gue dan dengan satu tangannya merengkuh pinggang gue. Gue merasa nyaman aja sih, lagian hal kek gini juga udah sering dia lakuin dan gue gak merasa risih.


Ditengah acara nonton kami pun terdengar bunyi bel apartemen dan berakhir Sean bangkit untuk membuka pintu apartemen dan mengambil beberapa bungkus yang gue yakin ia tengah memesan sesuatu.


"Saatnya kita menikmati suasana malam, ayok!" Ucapan yang sudah menarik tanganku setelah mengangkat katong pesanan yang ia pegang.


"Eh, kita mau kemana?" Tanya gue heran, namun dia hanya tersenyum dan membuka pintu kamarnya. Satu hal yang terlintas dalam pikiran gue pas pertama kali masuk kesini adalah, kamarnya rapi, wangi dan warnanya tidak terlalu kontras dan terakhir nyaman dan terasa hening.


"Ayok!" Ajaknya membuyarkan lamunanku gue.


"Gue tau lo baru pertama kalinya masuk ke kamar gue kan?" Ucapnya terkekeh.


"Ia. Gue baru kali ini liat kamar lo!" Ujarku membenarkan.


"Berarti gue menang banyak dong!" Ujarnya sambil tertawa.


"Maksud lo?" ucapku sinis, gue paham betul dia sedang mengejekku sekarang.


"Gue kan udah gak bisa hitung tuh, berapa kali masuk ke kamar lo. Dan kayaknya gue juga lebih tahu banyak tentang lo, tahu setiap sudut apartemen lo, gue bahkan udah sering tuh tidur disana. Hanya yang belum, tidur bareng aja tuh belum gue lakuin!" Ujarnya terkekeh dan sudah menghindar.


"Yak!!! Laki mesum lo!" Ujarku meneriakinya.


"Udah dong ampun!" Ujarnya saat gue terus memukuli kepala dan badannya.


Kami pun berakhir menghabiskan malam di balkon apartemennya. Suasananya hampir sama dengan balkon apartemen gue, hanya bedanya disini gak ada bunganya. Tapi tetap indah kok karena ada aquarium sedang yang dihiasi lampu. Dan itu terlihat bagus karena selain lampu dari aquarium tersebut tidak dinyalakan lagi karena sengaja untuk sedikit lebih estetik katanya.


Gue mah ngikut aja.


"Gres! Seminggu ini lo kangen gak sama gue?" tanyanya.


"Nggak tuh. Gak sama sekali!" Tegasku.


"Bener? Padahal gue sempet denger lo bilang kalo lo juga kangen sama gue!" Ejeknya.


"Gue gak ngomong gitu ya!" Teriakku membantah.


"Yahh, berarti gue salah dengar ternyata!" Dengan sedikit tersenyum ia menatapku.


"Napa lo liat gue seperti itu?" tanyaku memicing.


"Salah ya?" tanyanya menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Tau ah. Gue masu balik aja. Udah malam disini dingin juga!" Ujarku yang sudah bangkit dan beranjak pergi namun sekali lagi ia berhasil menarikku kembali duduk . Lebih tepatnya gue dipangku sama si manusia rumit ini sekarang.


Deg-degan? Jangan ditanya lagi jantung gue mah udah hampir meledak karena memompa terlalu cepat sekarang.


Dia bahkan hanya menatapku saja sekarang tanpa bicara apa-apa. Yang gue tangkap hanya satu dia terlihat lebih tampan dari dekat seperti sekarang. Dia dan tatapan lembutnya membuat gue seakan nyaman saja berada diposisi ini hingga sampai...


"Gres! Gue-" ucapannya menggantung saja tanpa gue potong.


"Kenapa lo?" Tanyaku dengan balik menatapnya.


"Tetap seperti ini sebentar saja!" Tegasnya dan makin mengeratkan kedua tangannya di pinggangku.


"Tapi, gue sedikit risih!" Jujur gue emang risih. Siapa yang gak risih coba dipangku sama sahabat lo disuasana seperti sekarang pula.


"Gue kangen banget sama lo! Kangen banget!" Ujarnya dengan wajahnya yang sudah hampir menciumi leher gue sekarang.


"Please jangan tolak perlakuan gue sekarang! Gue gak akan apa-apain lo serius! Gue cuma nyaman aja dengan keadaan seperti ini!" ujarnya sedikit pelan.


"Tapi gue merasa geli. Lo buang nafas dileher gue anjer!" Ujarku menahan diri.


"Ya elah. Lo mah, gak bisa di ajak kompromi. Mau romantis dikit aja gak bisa!" Ujarnya yang sudah menarik kembali wajah dan beralih menatap gue sekarang.


"Ya. Gue kan ngomong kebenarannya!" Ucapku.


"Iya lo benar!" Ujarnya.


"Masuk yuk. Di sini dingin tau. Gue juga mau balik!" Ujarku karena gue gak mau lama-lama lagi. Gue bisa terbawa suasana. Gue juga manusia dan otomatis gue punya batasankan.


"Disini dulu. Sebentar aja! Gres!" Panggilan lagi dengan tatapan yang serius.


"Apaan?" Tanya gue kesal sama sikapnya yang aneh.


"Sakit lo?" tanganku sudah menempel di keningnya, namun tangannya sudah menarik tangan gue dan berujung digenggam olehnya.


"Gue nanya, lo balik nanya!" Ujarnya serius.


"Gak boleh!" Tegas gue.


"Kenapa gak boleh?" tanyanya lagi.


"Ya, gak boleh aja" jawabku.


"Kalo gue maksa?" ucapnya dengan menantang.


"Ya gak bisa dong! Gue punya hak buat nolak," jawabku.


"Tapi, gue pengen cium lo sekarang!" Ujarnya memelas.


"Dan gue gak peduli!" Ujarku memutar bola mata.


"Ya udah deh. Gue gak maksa lagi. Maaf!" Ujarnya yang kembali memeluk gue dengan posisi dia masih memangku gue sekarang.


"Gue minta maaf. Seharusnya gue ngejaga lo!" Ujarnya pelan dengan pelukan yang makin erat.


"Gapapa. Santai aja kali!" Ujarku sambil menepuk bahunya.


Setelah pelukan itu berakhir dia masih menatapku hangat.

__ADS_1


"Gue gak tahu ini dari kapan yang jelas, ini udah sangat mengakar Gres. Gue rasa gue emang cinta sama lo. Gue suka sama lo. Bukan dari pertemuan kita disini ataupun di saat pertemuan kita di kampus waktu itu. Tapi, gue sadar kalo gue suka sama lo sejak kita bertemu waktu di Indo saat itu.


Gue sayang sama lo! Gue jatuh cinta untuk pertama kalinya sama lo. Dan sebenarnya lo yang menang, karena lo bahkan udah pernah tidur di kamar gue saat itu. Dan perasaan gue muncul pertama kali waktu liat lo tidur dengan nyaman sambil sesekali merancau karena mabuk saat itu!" Ujarnya panjang lebar dan membuat gue tersentak.


"T-tunggu! Maksud lo??" Gue kaget sama ucapannya barusan.


"Oke. Gue mau jujur sekarang. Tapi dengan syarat lo tetap gue pangku!" Ujarnya menaikkan alisnya.


"Gue gak ngerti sumpah!" Ujarku makin bingung mengingat kembali masa waktu gue SMA.


"Iya. Gue yang bawa lo pulang dari bar waktu itu. Gue cowok yang lo muntahin seragamnya karena lo mabuk saat itu. Dan kamar yang lo liat pas bangun waktu itu adalah kamar gue. Ya, itu rumah gue dan gue emang sengaja ninggalin lo sama maid di rumah karena gue gak mau lo liat dan tahu siapa gue! Dan sebenarnya pertemuan pertama kali kita itu di bar saat lo mabuk!


Jelaskan?" ucapnya tersenyum dan sedikit mengejek.


"Astaga gue kira dunia ini begitu luas dan tak akan bertemu sama orang itu lagi tapi ternyata dunia begitu sempit gue rasa sekarang!" Ujarku menganga dengan keadaan Sean masih memangku gue sekarang.


"Dan orang itu adalah orang didepan lo sekarang!" Ucapnya terkekeh dengan kepala yang ia sandarkan di bahu gue sekarang.


(yang sedikit lupa, bisa buka ulang Chapter 7 Titipkan Terimakasih. Disitu pertemuan pertama mereka ya :))


"Woah! Pantas saja lo seakrab itu nyapa gue dijalanan waktu itu!" Ucapku.


"Tentu saja! Dan satu hal lagi," ucapannya menjeda karena gue beralih menatapnya.


"Apa lagi yang gue gak tahu?" Tanyaku penasaran.


"Sebenarnya gue udah cium lo waktu itu!" Ujarnya tersenyum nakal.


"Gue gak percaya, masa!" Ucapku sedikit emosi sekarang.


"Benarkan kok. Gue udah pernah nyium lo waktu itu," ucapnya meyakinkan.


"Lo bohongin gue. Gue gak ngerasa juga!" Ucapku tetap meyakinkan.


"Lo udah gue cium pas lo tidur nyenyak," ucapnya lagi.


"Gak gue ngerasa, kar-" dan ucapan gue pun menggantung.


Ya, menggantung karena bibirnya udah menempel di bibir gue sekarang. Kejadiannya cepat saja, terasa kilat saja. Dan bibirnya yang sedikit tebal dan memerah itu, sudah berhasil menempel di bibir gue. Masih dengan keadaan menempel tanpa pergerakan sampai tangan Sean sedikit menarik tubuh gue udah lebih dekat tanpa jarak.


Ia pun sedikit menggerakkan bibirnya dan memangut secara perlahan kedua belah bibir tipis gue, yang gue rasa adalah lembut, hangat dan nyaman tanpa ada gerakan memaksa. Semua terjadi secara perlahan saja. Hingga gue terbuai dan gue bahkan gak membalas sama sekali kegiatan itu selain menikmatinya saja.


Ya, Sean memperlakukan gue lembut.


Dan ia pun mengakhiri kegiatannya dan berucap "udah rasa kan?"


"Hm?" Gumamku penuh tanya sambil tangannya terus membersihkan air liurnya yang menempel di ujung bibirku.


"Udah rasa kan ciumannya? Waktu itu gue emang mau nyium lo tapi gak sampai karena lo nya udah keburu merancau gak jelas, heheh" ujarnya sambil terus melap sudut bibir gue.


"Gue kira lo bakal balas ******* gue! Tapi, gak sesuai ekspektasi ya," ujarnya terkekeh.


"Hah?" Gue pun masih mode off ya. Siapa coba yang gak kaget sama apa yang terjadi barusan. Dan itu first kiss gue anjer.


"Udah. Maaf kalo lo gak nyaman!  Ayok masuk, disini makin dingin!" Ajaknya dan kami pun masuk.


"Nginap aja ya? Udah larut juga!" Ujarnya dan gue cuma menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


Dan berakhirlah gue tidur di ranjang ukuran king size itu dan Sean tidak di sofa kamar tersebut.


Karena gue masih bingung dengan apa yang terjadi berakhir gue memaksa diri untuk tidur saja. Dan berharap saat bangun besok ini semua cuma mimpi.


__ADS_2