
^^^“Sejauh manapun kaki melangkah rumah adalah tempat pulang ternyaman yang selalu di rindukan. Adakalanya kita menjadi kembali dan pulang setelah berjalan jauh dan merasakan banyaknya lelah. Kita tak lagi mejadi bocah seperti dulu, namun kita akan kembali dengan segala pekerjaan menanti serta tanggung jawab. Kita sudah berproses dengan baik. Kita sudah mandiri. Saatnya kita kembali dan berkarya sembari menatap tawa berseri dari orang-orang yang kita kasihi."^^^
...***...
Ia tengah sibuk mempersiapkan banyak hal untuk di bawa pulang. Ia mungkin tidak akan ke sini lagi, tapi dalam benaknya suatu waktu ia hanya akan mampir seraya mengenang masa sulit yang banyak terlewat di tempat ini.
Setelah di pastikan tak ada yang tertinggal ia sedikit bersantai sambil menunggu sahabatnya terbaiknya yang akan mengantarnya ke bandara pagi ini.
Sesaat ia menikmati susana apartemen yang ia tempati beberapa tahun terakhir ini membuatnya sedikit terguncah seakan tidak rela meninggalkan semuanya secepat itu.
Ia sudah mengukir banyak kisah di tempat ini, dikota ini. Ia benar-benar menjalani bagaimana hidup memperlakukannya dengan banyak warna.
Deringan ponselnya terdengar jelas diantara kesunyian dengan cepat ia menggerser tombol hijaunya, “Halo Ma!” ujarnya saat tau siapa yang menelonnya.
“Kamu kapan pulang? Apa perlu Mama sama Papa ke sana untuk menjemputmu?” ujar sang ibu di seberang sana.
“Sepertinya Rendi gak pulang dulu Ma. Masih betah disini. Lagian Rendi juga udah punya istri lho Ma!” ujarnya menjahili wanita terhebat di hidupnya. Ia memang sengaja tidak memberitahukan kepulangannya.
“Yak. Bocah!! Kau akan tahu akibatnya jika tidak kembali! Tidakkah kau merindukan ibumu ini hah?” ujar sang ibu mendramatis.
“Aku sudah lupa jalan pulang Ma. Beritahu Papa aku butuh watu beberapa tahun lagi untuk kembali.” Ujar Rendi terkikik tanpa suara. Ia yakin betul disana sedang terjadi suasana mencekam akibat sang ibu yang menada.
“Yak! Kembalilah jika kau tidak ingin tercoret dari kartu keluarga!” ujar sang ibu kesal dipermainkan oleh anak semata wayangnya.
“Ia Ma. Rendi bakal pulang kok. Tapi belum tahu pastinya kapan, masih banyak yang ku urus dulu sebelum kembali.” Ujar Rendi seadanya.
“Baiklah. Istirahatlah yang cukup. Kau sudah banyak lelah selama ini, kapanpun kau kembali Mama akan menunggumu. Sudah dulu ya. Mama mau hangout bareng tante Siena sekarang, dia udah nungguin Mama dari tadi.” ujar sang ibu kegirangan.
“Iya Ma. Salam buat tante Siena. Kapan-kapan Rendi bakal telpon tante buat tukar kabar,” ujar Rendi dengan telpon yang sudah di akhiri oleh sang ibu.
'
__ADS_1
“Woah, sebentar lagi gue akan menemui mereka yang dimasa sulit pernah bertemu dan tak saling menyapa. Bagaimana kabar mereka ya? om Radit, tante Siena terlebih lo, apa kabar? Udah lama banget ya. Ku harap mereka sudah lebih baik dari hari kemarin.” Rendi tersadar akan sapaan temannya yang akan mengantarnya hari ini.
“Uda siap?” tanyanya sahabatnya itu.
“Udah nih, tinggal berangkat aja.”
“Woah, gak terasa ya kita hari ini akan berpisah dan kembali ke rumah yang sesungguhnya. Jangan lupain gw bro! Sukses buat lo.”
“Waktu berjalan begitu cepat. Lo benar kita gak menduga hari ini ternyata kita akan terpisah. Terimakasih buat kebersamaan ini. Gue janji gak akan lupain lo. sukses buat kita.”
“Ayok berangakat!”
^^^Airpot Frankfurt am Main in Jerman...^^^
“Hati-hati Bro! Kapan-kapan kalau sempat gue bakal ke Indo.”
“Terimakasih banyak Max udah nganter gue. Gue kalau sempat bakal liburan ke sini nanti. Jangan lupa harus ke Indo buat liburan. Gue tunggu lo di sana. Selamat berpisah!” rendi menepuk punggung sahabat baiknya Max saat akan berpisah.
“Gue akan ke sana nanti. Salam buat kedua orang tua lo! selamat berpisah dan selamat sampai tujuan!” ujarnya menatap bahu Rendi yang semakin menjauh dari pandangannya. Mereka adalah sahabat baik. Ia bersyukur pernah mengenal sosok Rendi di negara kelahirannya, “See you next again Brother!” ujarnya membatin mengiringi langkah Rendi yang berbalik melambaikan tangan di pintu masuk ujung sana.
...***...
Sementara di tempat lain....
SIENA dan RENATA jalan-jalan.
“Mba Rena! Emang Rendi udah mau balik Indo?” Siena sedikit kaget mendengarnya tadi saat di rumah ketika ia berbincang dengan anak tersebut.
“Iya dong. Belum tahu pastinya kapan ia kembali. Yah, dia memang harus pulang. Kasihan ayahnya bekerja terlalu keras tanpa henti setiap harinya. Ku harap dengan kembalinya dia, bisa meringankan perusahaan agar ayahnya sedikit istirahat,”
“Benar mba. Apalagi nak Rendi anak laki-laki, sudah saatnya ia mulai berkarya.”
__ADS_1
“Ketika ia kembali nanti. Perusahaan akan di berikan padanya untuk di pimpin. Ayahnya sudah cukup tua untuk memimpin. Mereka juga sedang menunggunya kembali sekarang. Tapi, anak itu masih mau bersantai. Itu sebabnya aku sedikit kesal jika ia sering mengerjaiku dengan alih-alih belum pulang seperti ucapannya tadi.
“Heheh, nak Rendi memang dari dulu gak pernah berubah. Saat bareng Gres juga, sering ku lihat ia memuat Gres banyak kesal. Wah, jika mengingatnya ternyata mereka begitu dekat ya. sayang aku tak menghabiskan waktuku untuk melihat dan memantau pertumbuhan mereka dari kecil. Kamu beruntung banget mba bisa ngeliat Rendi maupun Gres bertumbuh dan berkembang dari masa ke masa sampai mereka dewasa dan memilih jalan mereka.” Siena sedikit tersenyum dengan penyesalan untuk waktu yang banyak terlewat.
“Kamu bisa melihat mereka bertumbuh dan berbenah diri dengan baik saat dewasa. Kamu masih punya kesempatan mba. Ayok bersama-sama untuk melihat dan memantau mereka kembali dan melihat kekeliruan dan keputusan yang mereka ambil dengan dalih mereka dewasa! Kita masih punya satu kesempatan lagi, sebelum mereka berumah tangga dan memilih jalan mereka lagi,” Renata tersenyum lebar sambil merangkul sahabatnya yang kembali akrab dengannya setelah hampir 2 tahun lebih mereka kembali bertemu dan bersama. Saat Siena hiatus dari dunia pekerjaannya ia memang menghabiskan banyak waktu sepenuhnya bersama Renata sampai saat ini. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama.
Siena tanpa adanya sang suami di sampingnya sementara Renata yang berusaha membangkitkan Siena dari penyesalan masa lalunya.
“Hm. Mari bekerjasama lagi untuk itu. ku harap Gres juga bisa kembali suatu saat nanti. Agar kita bisa memantau mereka berdua dengan pandangan jeli yang kita miliki.”
“Gres anak baik. Dia hanya perlu waktu sedikit lagi untuk kembali. Apa dia belum juga bisa dihubungi?” Renata masih merangkul lengan sahabatnya.
“Setelah menghadiri acara kelulusannya 3 bulan yang lalu. Ia kembali tidak bisa dihubungi lagi. Ku harap dia baik-baik saja. Aku tahu persis dia memang akan tetap baik-baik sekalipun aku tidak bersamanya. Dia sudah dewasa dan hidup dengan baik dengan pilihan dan caranya sendiri. Membuat aku sedikit berpikir kembali. Aku begitu kejam ternyata, membiarkannya hidup tanpa kehadiran sosok ibu di sepanjang perjalanan masa mudanya. Wajar jika ia memang tidak pernah mengabariku lagi.
Saat mendengar ia akan wisuda saat itu. aku begitu syok.
Ketika aku menutup mata dan kembali membuka mata waktu begitu cepat dia sudah wisuda saja. Aku merasa seperti tidak memberikan apapun padanya, tapi dia membawa keberhasilan yang tidak ku tahu persis bagaimana ia menghadapi banyak kesulitan. Aku ibu yang gagal untuknya. Lebih menjadi sakit lagi saat ia berterimakasih untuk kehadiranku di puncak keberhasilannya tanpa tahu bagaimana jatuh bangunnya dari awal. Aku sangat merasakan kesekakan di dalam dada. Ingin rasanya aku pergi jauh saja dan menghilang saat itu. Tapi aku degan egoisnya merasa bangga atas pencapaiannya.” Siena terkekeh lirih dalam ucapannya.
“Gres anak yang baik. Ia tidak akan mengingat itu sebagai hal yang menyakitkan. Ia adalah sosok yang memahami dengan baik. Sayang jika kau tidak bersyukur dan menghabiskan waktu untuk menyesal pada hari ini. Padahal kau sendiri tahu ia masih ada dan kamu masih punya kesempatan untuk memulainya lagi. Aku yakin dia akan menerimamu dengan baik. Kalian hanya butuh waktu untuk kembali dekat.” Renata menguatkan sahabatnya.
“Terimakasih banyak sudah memberikanku banyak dorongan dan motivasi sejauh ini. Maaf belum bisa menjadi sahabat yang baik untuk masa lalu maupun mas kini.”
“Kamu sudah melakukan yang terbaik. Tinggal bagaimana kamu berusaha membuat keluargamu kembali dalam kehangatan untuk saat ini, itu yang dibutuhkan Gres jika ia kembali nanti.”
“Hm. Kamu benar aku harus lebih bersemangat lagi sebelum Gres benar-benar kembali dan menemuiku ketika aku belum melakukan apa-apa untuknya!” siena membalas pelukan sahabatnya.
“Mari kita terlebih dahulu menunggu Rendi yang akan kembali. Kita memulainya dari anak itu saja.” Ujar Renata yang diakhiri tawa dan pikiran mereka masing-masing sambil melihat suasana taman kota di sore hari waktu itu. mereka menghabiskan waktu terlalu lama sampai lupa waktu.
“Mama akan tetap menungguMu pulang. Entah itu kapan pastinya. Aku begitu melewatkan banyak hal dalam hidup untuk bersamaMu. Bisa kupastikan kamu akan ku buat lebih berharga setelah kamu kembali dan mendapati semua masa lalu telah pudar beriringnya waktu menyisahkan senyuman hangat dan suasana hangat dalam rumah, diluar rumah maupun dimana kita berada.
Ku harap kamu masih memberiku sedikit waktu yang sedikit lama untuk kita hidup bersama dan memperbaiki diri. Maafin Mama Gres. Mama egois tapi Mama kangen kamu sayang! Kembalilah. Mama sadar mama bahkan tidak punya nyali untuk menghubungimu dan meminta untuk kamu kembali untukKu ataupun untuk PapaMU bahkan untuk kelurga kita. Kamu sudah terlalu lelah jika harus kulakukan itu. lebih tepatnya sekarang Mama hanya akan menunggu sembari memperbaiki diri untuk lebih pantas.” Batin Siena dalam senyuman penuh harap.
__ADS_1
“Gres! Jika kamu bisa mendengar ku saat ini. Mama Rena Cuma mau bilang. Pulanglah! Kedatanganmu sedang dinantikan dalam waktu yang begitu lama oleh sosok wanita cantik di sampingku saat ini. Ia begitu menyesal untuk semua tentang masa lalu. Mama Rena melihatnya sendiri, ia hidup dalam penyesalan sampai hari ini. Dia bahkan berpura-pura baik untuk setiap keadaannya. Rendi juga akan kembali. Tidakkah kau merindukan masa kecil bersama dan kembali bersama di masa sekarang? Semoga kamu baik-baik saja. Jika kamu masih lelah, tidak apa-apa, kamu masih punya waktu untuk beristirahat lagi saja. Intinya untuk saat ini, kamu masih punya pikiran untuk kembali dan pulang nanti. Kami menunggumu!” batin Renata sambil memandang jauh ke jalanan dan sesekali melirik sahabatnya yang terduduk manis dengan pandangannya yang penuh arti.
^^^_22 des. 2021^^^