
✨✨✨
Seminggu terlewatkan, kedua orang tua Gres sangat sibuk bahkan tidak pernah pulang ke rumah. Ayahnya tengah sibuk dengan perusahaan utama yang dipimpin yang akan di pindahkan ke Paris. Sedangkan ibunya pun disibukkan dengan kontrak besar yang menjanjikan di Paris. Setelah melewati hari yang panjang kedua orang tuanya berniat untuk pulang ke rumah sekalian membicarakan hal penting dalam keluarga mereka.
Di rumah atau katakanlah seperti sebuah mansion, keduanya orang tuanya sedang berbincang serius,
"Bagaimana kita menyampaikan hal ini pada Gres?" ucap sang suami kepada istrinya.
"Kita tidak punya pilihan, kita harus bisa meyakinkannya, karena hal ini bukan hal sepele dalam dunia pekerjaan. Dan Gres harus bisa memahami itu, kita coba pelan-pelan menjelaskan padanya" jawab sang istri.
"Aku yakin Gres akan terpukul, tidak biasa kita meninggalkannya terlalu lama, ini pasti akan berakibat, apa sebaiknya kita pindahkan saja dia bersama kita?" sambung suaminya.
"Aku tidak yakin Pa, soalnya sebentar lagi dia akan ujian akhir, sekolah mana yang mau menerima siswa pindahan di penghujung semester seperti itu. Kamu kan tahu kalau Gres juga agak keras kemauan. Mama yakin dia tidak akan mau untuk pindah" timpal istrinya.
"Baiklah, kita tinggalkan saja dia disini. Toh kita hanya butuh setahun di sana".
"Bagaimana kalau Gres tidak bisa hidup tanpa kita Pa?, Dia masih terlalu muda untuk hidup mandiri, dia juga butuh kita." tambah istrinya.
"Kita bicarakan nanti saja, kita tunggu Gres pulang dari sekolahnya" sambung suaminya.
Sementara di sekolah Gres sudah hampir jam pulang.
"Eca, tuh pacar lo di depan" ucap Jek karena sudah dari tadi si Evan berdiri di depan kelas mereka. Jangan lupa Eca sudah punya pacar ya, anak IPS lebih tepatnya.
"Oh, ia makasih Jek" Eca berlari menghampiri sang pacar yang sudah tersenyum lebar dari tadi dan mereka berniat untuk pulang bersama.
"Gres, Lo pulang bareng siapa?" tanya Jek,
"Gue bareng Rendi, soalnya mang juki masih dikampung"jawab Gres.
"Eh Gres, gue boleh tanya sesuatu nggak sama Lo?".
"Mo tanya apa Jek?" timpal Gres.
"Hmm... Gue mau nanya selama ini, Om sama Tante kemana?, Soalnya waktu sering main ke rumah lo, selalu nggak ada. Terus akhir-akhir ini Lo datang sekolah juga nggak seperti biasanya di antar. Lo ada masalah ya??" tanya Jek panjang lebar.
"Papa sama Mama lagi sibuk di kantor. Bahkan mereka belum pulang rumah selama satu minggu kemarin sampai hari ini, sebenarnya gue juga nggak terlalu tahu mereka sibuk apa. Soalnya mereka tidak bisa dihubungi selama ini".
__ADS_1
Kemudian Jek menanggapi jawaban Gres "mungkin Om sama Tante benar-benar sibuk kali, kamu sabar aja ya." sambil mengusap kepala Gres.
Asyik bercerita tiba-tiba "Gres, katanya mau pulbar. Kok masih disini sih, yuk!" ajak Rendi yang baru datang entah dari mana.
"Kuy lah. Bosan juga disini liat tampang Jek yang membosankan" sambung Gres sambil berlari kecil meninggalkan Jek yang sudah siap mau menjitak kepalanya.
Skip..
.
.
.
.
.
"Aku pulang...!" Teriak Gres ketika memasuki ruangan utama.
"Eh, anak mama udah pulang? Sini sayang, tasnya biar mama aja yang bawa". ucap ibunya mengusap Surai rambut Gres dan mengambil alih tas ransel milik Gres.
"Maafin mama sayang, mama benar-benar sibuk akhir-akhir ini" jawab ibunya
"Iya ma, nggak apa-apa. Papa mana?" tanya Gres sambil berjalan menuju tangga hendak ke kamarnya.
"Papa lagi sibuk sayang, di ruang kerjanya. Mending kamu ke atas untuk ganti dan turun untuk makan siang, mama tunggu di meja makan ya!". jawab ibunya yang berlalu untuk menyimpan tas anaknya dan kembali ke meja makan.
Di meja makan, tampak kedua orang tua dan seorang anak yang lebih tepatnya mereka sedang makan siang bersama. Hanya ada bunyi alat makan yang mengisi kesunyian ruangan tersebut, tanpa ada yang berniat membuka suara.
Tiba-tiba " Gres, Papa sama Mama mau bicara sama kamu." Ucap sang ayah sambil meletakkan sendoknya di atas meja, karena makan siang mereka hampir selesai.
"Iya Pa, mau membicarakan apa?" jawab Gres sambil melirik kearah sang ayah.
"Begini sayang, Papa sama Mama dalam minggu ini akan akan berangkat ke Paris, soalnya kantor utama perusahaan tempat Papa mu bekerja akan pindah ke Paris. Sementara Mama, ada proyek besar yang harus mama tangani sampai selesai dan tidak tahu akan selesai kapan" ucap sang ibu sambil sesekali melihat anaknya yang terdiam.
"Sebenarnya, Papa niat mau pindahkan kamu juga supaya ikut bersama kami, hanya saja sebentar lagi kamu akan ujian dan kalaupun kamu harus ikut bersama kami, Papa takut di sana nanti tidak ada yang bisa mengurus kamu, karena kami akan disibukkan dengan pekerjaan yang banyak. Papa harap kamu bisa mengerti. Disini kan masih ada Bi Ima dan yang lainnya yang bisa menjaga dan merawat kamu dengan baik". ucapan sang ayah panjang lebar.
__ADS_1
"Benar sayang, mama juga nanti akan sibuk di sana. Jadi, tidak apa-apa kan kalau kamu tinggal sendiri di Indonesia sama bibi dan mang Juki" timpal ibunya sambil menatap sendu pada anaknya.
"Tapi,,, Papa sama Mama di sana sampai kapan tinggalnya?. Kalau hanya beberapa bulan saja. Tidak apa-apa, Gres terima" jawabnya sambil berusaha menyembunyikan wajah murungnya.
"Nggak sayang, kami di sana mungkin akan lama. Ini pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Mungkin bisa juga kita akan menetap di sana. Kamu juga sesudah lulus sekolah bisa langsung kuliahnya di sana" jawab sang ayah.
"Kamu harus bisa mengerti sayang. Papa sama Mama juga kerja untuk kamu, untuk biaya sekolah kamu, untuk biaya hidup kamu. Apapun yang kamu mau akan kami berikan" ucap ibunya sambil tersenyum.
"Tapi,,,, Gres nggak bisa hidup tanpa Papa sama Mama kalau terlalu lama. Gres nggak mau, Gres mau kalian tetap Keja disini".
" Gres, Papa nggak pernah mengajari kamu bersikap seperti itu ya. Papa cuma mau memberitahukan bukan meminta pendapat dari kamu, jadi kamu tidak boleh melawan begitu terhadap orang tua" ucap sang ayah dengan nada tingginya karena emosi dan capek dengan banyak hal juga.
"Iya sayang, benar kata Papa mu. Kamu harus lebih dewasa lagi, tidak boleh bertindak seenaknya. Papa sama Mama tetap akan berangkat besok, tanpa menunggu persetujuan dari kamu" lanjut ibunya ketika Gres bahkan sudah berdiri dan akan pergi dari ruangan tersebut.
"Kalau begitu, untuk apa kalian bertanya pada Gres. Kalau pada akhirnya kalian sendiri yang akan mengambil keputusan" jawab Gres dan beranjak pergi ke kamarnya lalu menutup rapat kamar tersebut.
Sementara di ruang keluarga.
Drrrrt drrrrt drrt...
Bunyi ponsel di atas meja.
"Halo,," ucap ayah Gres.
"................…"
"Apa? Sekarang?? Bagaimana bisa? Kita sudah merencanakan keberangkatannya besok. Apa yang terjadi?" jawab ayah Gres terlihat panik.
".……………"
"Baik. Siapkan tiket penerbangan malam ini, saya akan bersiap-siap" ucapnya, kemudian mengakhiri telepon tersebut.
Tuuut !
Rumah menjadi sangat ribut, karena kedua orang tua Gres akan menyiapkan beberapa hal untuk keberangkatan mereka malam ini, sementara semua orang rumah juga disibukkan dengan membantu Tuan dan Nyonya mereka yang akan berangkat ke luar negeri. Gres yang didalam kamar, tiba-tiba ingin mencari udara segar di luar, ia sudah menghubungi teman-temannya untuk sekedar bermain di luar. Ia membuka pintu kamarnya dan terlihat ia sedang menggunakan Hoodie kebesarannya dan jeans biru, dilengkapi dengan sepatu. Sepertinya mereka akan bermain ke mall.
Di luar kamar, "sayang kau mau pergi kemana?" tanya sang ibu yang tengah sibuk mengangkat beberapa bungkusan di kedua tangannya.
__ADS_1
Namun, Gres tidak menjawab, ia berjalan menuruni tangga tanpa menghiraukan ucapan ibunya tersebut.