
11.30 GMT-5 New York, Amerika Serikat.
Empat Hari Kemudian...
“Satu hal yang aku pelajari dalam kehidupan adalah bahwa kita tidak bisa menggunakan kata ‘selamanya’ untuk sesuatu yang masih berlangsung. Mencintai seseorang selamanya hampir mustahil, tapi kehilangan seseorang selamanya itu mungkin. Namun, kita selalu hidup untuk hal-hal yang tidak bertahan selamanya. Mimpi adalah salah satunya. Atau hal-hal seperti kenangan juga seperti penyesalan. Atau beberapa orang hidup demi cinta, mimpi, kenangan dan bahkan orang lain_anonim”.
Disinilah aku datang, bertahan lalu hidup sewajarnya demi mimpi dan juga demi orang-orang yang ku istimewakan dalam hidup. Seperti mimpi yang tak akan bertahan selamanya itu, maka aku berusaha melakukan yang terbaik semasih bisa ku gapai dalam kesenjangan waktu.
Orang sering bilang ‘berpisah itu menyenangkan. Menyapa orang, lalu berpamitan. Jika ingin bersemangat saat bertemu lagi, maka haruslah mengucapkan perpisahan yang layak sebelumnya’.
Namun bagaimana jika hidup berjalan tak sesuai rencana? Mungkinkah takdir kejam bagi beberapa orang?
Tapi mustahil untuk menjadi orang-orang yang terbaik. Karena mereka selalu pergi. Mereka selalu punya tujuan yang pasti, tidak seperti aku. Saat inilah aku menyadarinya. Bahwa kehidupan ini tidak memiliki akhir. Walaupun beberapa sangat mustahil untuk menjadi selamanya.
Aku sampai pada kota ini, ditempat ini dan di detik yang sekarang. Tidak ada kata perpisahan yang sempat ku ucap untuk mereka yang ku tinggal. Aku pergi dengan diam, tanpa kabar dan bahkan tanpa jejak.
Orang-orang rumah bahkan hanya tau aku akan berkuliah tapi tidak tahu entah kemana pergiku. Hanya kedua orang tuaku yang tahu persis letakku berada sekarang. Aku memohon pada mereka untuk tidak memberitahukan apapun tentang aku.
Bukan karena aku ingin mereka melupakanku, tapi semata aku mau mereka hidup semestinya tanpa ada kejanggalan tentangku. Aku tahu persis bagaimana hidupku yang hanya ku habiskan dengan banyak sakit-sakitan.
Aku tahu betul bagaimana membuat mereka hidup dengan ketakutan-ketakutan yang ada, kalau-kalau aku akan mati dan menghilang dari kehidupan mereka disaat aku berada di titik paling terendah menurut hidup.
Biarlah mereka sedikit menikmati hidup dengan kebebasan dan tanpa tanggung jawab. I feel like a loser now, when people love me so much. I even care about my ego. Hopefully we will be better someday according to fate!.
“Haah,, rasanya seperti baru kemarin kami masih jalan bersama sepulang sekolah dengan status sebagai siswa. Dengan melihat yang sekarang, kita pada akhirnya di sibukkan dan dipisahkan oleh mimpi.
Padahal kalau dilihat kita sejujurnya kurang pintar dalam belajar.
Yaah!! Hidup benar-benar tidak bisa ditebak. Kita sudah berusaha dengan keras dalam hidup yang kemarin,” gumamku yang sudah terbuai dengan pemandangan jalalan di kota tersebut, di sampingku tampaknya Papa sedang sibuk dengan ipad-nya.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Papa di sampingku.
“Entahlah. Aku baru saja merasakan kehilangan!” jawabku dengan pandangan di jalanan.
“Bukankah sebagian besar hal yang hilang itu indah?” ucap Papa tersenyum.
“Aku tidak suka hujan turun. Tapi hujan juga dibutuhkan!” ucapku yang sudah mengeluarkan tangan kiriku dari kaca mobil untuk merasakan butirannya yang jatuh dan menghilang menyisahkan rasa.
“Orang-orang yang baik selalu menghilang. Selalu seperti itu. Tidak pernah ada pengecualian. Begitu juga orang-orang yang akan ditinggalkan, mereka akan bersikap baik karena tahu bahwa mereka akan kehilangan. Mengapa? Bagaimana? Dimana? Apa? Atau bahkan seperti apa?. Pada akhirnya tidak ada apapun yang bisa kamu lakukan. Dan kamu akhirnya mengerti kenapa kamu selalu merasa sedih saat melihat sesuatu atau seseorang menghilang!” ujar Papa dengan pandangan jauh entah sampai kemana.
“Kenapa, kenapa harus aku Pa?” tanyaku serius menatapnya.
“Karena hidup adalah serangkaian melakukan banyak hal. Walaupun bukan sekarang, kamu akan menemukannya lagi sambil tersenyum saat kamu benar-benar bisa menemukannya sebagai pemenang!” jawab Papa.
__ADS_1
“Haaah! Betul kata bang Fiersa ‘Obat dari segala permasalahan adalah ketiduran. Sesudahnya bermasalah lagi’. Tapi bahkan sampai sekarang pun aku masih terjaga,” ucapku melegakan diri.
“Jangan terlalu memaksa kepala kecilmu untuk berpikir keras sayang!” ucap Papa mengacak pelan rambutku.
“Aku mau jadi seperti Papa!” jawabku asal.
“Mengapa begitu?” tanyanya heran.
“Bisa hidup sewajarnya, seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Lalu kemudian menjadi hebat dan salah satunya orang baik yang pernah ku temui dan ku miliki dalam hidup!” ucapku yang sudah memeluknya erat.
“Sorry mister. Is she olnly daughter?” tanya sang sopir taxi tersebut.
“Yes. Doesn’t she look quite chatty?” ucap Papa mengejekku.
“Yeah, she looks so observant in speaking. You are very lucky sir!” jawab sopir tersebut sambil tersenyum hangat.
“Do you also have a daughter?” tanya Papa kepada sang sopir tersebut.
“Yes. I have a daughter too, but sadly she’s all grown up and I never hear her complain to me again,” jawab sopir taxi tersebut.
“Hm, there comes a time when they will go and enjoy their own lives. Isn’t as big a loss it’s wonderful!” ucap Papa dengan senyuman yang tipis.
Dan sopir taxi yang sudah paruh baya tersebut tidak menjawab lagi melainkan ia hanya tersenyum mendukung apa yang Papa ucapkan barusan. Karena kami juga sudah sampai di apartemen yang papa sudah siapkan sebelumnya.
Apartemennya tidak terlalu mewah, juga tidak terlihat biasa saja. Sangat pas untukku tinggal beberapa tahun kedepan. Semuanya sudah lengkap baik perabotan dapur, alat-alat tidur, pakaian bahkan semuanya sudah siap untuk digunakan.
“Sempurna?” tanya Papa.
“This is very wow!. Mama paling the best dah!” jawabku antusias.
“That’s right!” jawab Papa lalu berlalu kekamar sebelah yang kebetulan apatemen tersebut ada dua kamar. Yang satu untukku dan yang satunya lagi untuk tamu jika ada yang datang mengunjungi ku.
Aku yang sudah membersihkan diri. Sedang berbaring di kasur king size milikku. Aku mengambil ponsel di nakas lalu mendial nomor mama.
“Halo Mama!” ucapku girang.
“Hallo sayang. Gimana suka kejutan Mama?”
“Wah mamaku sehebat itu ternyata! Suka banget. Makasih Ma!” jawabku lagi.
“Ya sudah kamu kan baru sampai tuh, istirahat sana biar sorenya bisa ajak Papa jalan-jalan!”
“Ok, siap Ma!” ucapku seraya mengakhiri telfon tersebut.
__ADS_1
Besoknya....
Hari ini jadwal aku lapor diri ke kampus. Aku sudah didaftar seminggu yang lalu oleh sekeretaris Papa. Dan hari ini, aku diantar Papa ke kampus menggunakan mobil sekretarisnya yang sudah di siapkan untuk digunakan selama Papa berada disini.
Aku tidak di kasih mobil ya, karena jarak ke kampus dari apartemen tidak terlalu jauh. Paling perjalanan 10 menit jika menggunakan taxi. Dan sepertinya untuk beberapa tahun ke depan aku akan menjadi pengguna setia taxi di kota ini. Haah, serunya jika seperti ini.
“Selamat pagi pak Banu!” sapaku pada sekeretaris Papa yang sudah menunggu di taman depan kampus untuk menemaniku lapor diri, karena aku belum tahu di mana tempatnya untuk mengurus segala administrasinya.
“Pagi nak Gres. Gimana New York bagus gak?” tanya pak Banu.
“Bagus, cocok banget buat hidup merantau disini,” ucapku tersenyum.
“Oke let’s go untuk memulai semuanya sekarang!” ucapnya.
Kami pun menyelesaikan segala administrasinya dan siap untuk mengikuti kuliah saja. Karena masa ospeknya udah selesai 2 minggu yang lalu saat aku masih di Indonesia. Setelah kami mengelilingi gedung fakultas Bisnis dan melihat-lihat ruang kelasnya. Kami pun mampir untuk sekedar beristirahat di kantin fakultas.
“So, mulai besok kamu akan masuk kuliah dan ini jadwal kelasnya!” seru pak Banu menyodorkan kertas yang beisikan jadwal disana.
“Waah, pak Banu udah bekerja keras banget sampai semuanya sudah tersiapkan secara sempurna!” ucapku kagum.
“Dan sekarang beri penilaiannya dong bintang berapa?” tanya pak Banu tertawa.
“Bintang lima pokoknya!” ucapku antusias.
Pak Banu seorang asisten dan juga sebagai sekeretaris Papa kemana pun dan apapun yang berkaitan dengan urusan keluarga kami pasti ia akan terlibat banyak. Ia adalah orang kepercayaan Papa dari dulu. Mereka sebagai senior junior dari masa kuliah.
Umurnya lebih muda empat tahun dari Papa jadi dia tentunya masih lebih semangat bekerja baik urusan di dalam negeri maupun diluar negeri berkaitan dengan perusahaan dan keluarga kami.
•
•
•
Yap. Hari ini jadwal kuliah ku pagi jam 09.00 mulainya dan sekarang aku bahkan udah duduk santai di kursi mahasiswa ditemani salah satu teman kelas yang sempat ku ajak berkenalan barusan. Namanya Joana.
Hari ini ada dua mata kuliah yang akan berlangsung dalam kelas. Oh, iya seperti kataku sewaktu masih berada di Indonesia kalau aku akan mengambil jurusan Bisnis saat kuliah. Dan sekaang disinilah aku di kelas bisnis. Ada tiga kelas yang dibagi untuk angkatan aku. Dan aku berada di kelas B.
Tidak terlalu banyak mahasiswanya karena kami sudah diatur betul-betul pembagiannya. Karena menurut orang sini, jika masuk di jurusan ini akan cukup susah untuk lolos tapi aku pun heran bisa-bisanya dengan otak biasa-biasa saja tapi bisa masuk di kelas B pula. Wah daebak.
Sepertinya setelah pulang dari sini aku harus memeberikan ucapan selamat pada diriku sendiri. Bagaimana tidak, aku hanya mengikuti tes online waktu masih di indonesia dan bayangkan pas pengumuman kelulusan aku masuk peringkat 25 besar.
Banggalah gue, ini bukan di Indonesia ya, jadi masuk peringkat 25 besar itu hal biasa, malah terlalu rendah. But, ini di New York dan yang mengikuti tes tidak hanya sedikit dari berbagai negara ada lho!. So, jangan pernah menilai diri kita sendiri tidak mampu jika kita belum melakukannya!.
__ADS_1
Aku menikmati setiap momen dan setiap hal yang sedang dan akan datang menhampiriku seraya bersyukur pernah melangkah sejauh sekarang dengan meninggalkan banyak hal baik dan beberapa orang baik di kehidupan sebelumnya. Semoga akan baik-baik saja beriringnya waktu dan takdir yang sudah digariskan.
_04 July 2021