Mengapa ?

Mengapa ?
Maaf Sajalah


__ADS_3

....o0o....


Sudah seminggu ini Sean benar-benar tidak mau bicara denganku bahkan gue di abaikan sama sekali.


Apa sebesar itu persoalannya sampai dia gak mau bicara dengan ku?


Kemarin di ruang kuliah lintas minat pun ia memilih tidak masuk dan berakhir gue sendiri ditemani Mark di kelas.


Bahkan Mark juga bertanya apakah kami sudah baikan apa belum?


Wah, baru kali ini gue dianggurin tuh bocah. Gak enak juga sih gue. Tapi ya gimana coba. Gue rasa gue gak salah deh. Dan sepertinya dia memang sedang marah besar sama hal yang sepele menurutku.


Dan gue udah memutuskan untuk memilih mengalah dan minta maaf sajalah walaupun gue gak salah sebenarnya.


Emang benerkan, masa gegara gue dekat sama Mark dianya jadi marah?


Gak lucu kan!


Tapi mengingat sikapnya seminggu ini, membuat gue takut untuk beradu bacot lagi. Bisa-bisa gue putus pertemanan tuh sama si bocah.


Udahlah demi mencari keadilan dan ketenangan, sore ini gue sedang menunggu kepulangannya di apartemen. Saking rajinnya, gue sampe tunggu di depan parkiran lantai bawah bayangkan.


Ya, selain rajin, gue juga kangen sama tuh bocah. Udah lama gak ketemu walaupun baru beberapa hari sih. Tapi ketidakberadaannya membuat gue merasa bersalah dan masih banyak lagi.


Gue bisa tebak, mungkin seminggu ini dia menghabiskan waktunya buat bekerja di kantor saja. Makanya di kampus gue gak pernah liat. Berpapasan di lift apartemen juga gak pernah makanya gue harus mengambil keputusan untuk menunggunya di lantai bawah saja. Sambil memantau kedatangan mobilnya yang gue hafal betul. Walaupun dia kadang makenya motor juga sih.


Dan perlu kalian tahu, gue udah hampir setengah jam di kursi tunggu lantai bawah ini. Jangan tanya kekesalan gue seperti apa, yang jelas gue udah memaki dalam hati sekarang.


Karena sosok yang gue tunggu belum juga kelihatan, apa mungkin sedang mengerjaiku atau memang dia sedang tidak ingin pulang tapi entahlah.


Mengapa gue sampai mendumel seperti itu, karena hal ini juga gue lakuin dihari kemarin. Ya, kemarin gue juga menunggunya pulang yang berujung gue sama sekali gak melihat batang idungnya. Hanya bedanya kemarin gue tunggunya di kursi tunggu depan pintu apartemennya.


Ah, jika kembali menceritakan hal tersebut membuatku naik pitam saja.


Gue merasa bodoh saja karena menunggu kepulangannya didepan apartemennya yang jelas-jelas disana ada kameranya. Pada tentunya dia sudah melihat semua kegiatan gue, dari gue menekan bel apartemennya sampai mengetok pintunya dan berujung menggedor pintu tersebut. Gue yakin betul, gue dihari kemarin dipermainkan olehnya.


Bagaimana tidak, karena sudah hampir larut malam gue menunggu pun dia tetap gak keliatan, pada akhirnya gue balik ke apartemen gue dan tidur saja untuk menunggu hari ini lagi. Gue bahkan udah rela membatalkan jalan-jalan kami demi mendapat maaf darinya yang habis di menunggu saja sekarang.


Hari sudah hampir gelap...


Karena lampu yang mengelilingi gedung apartemen kami banyak dan tetap nyala sepanjang malam maka malam tetap akan menjadi siang dalam penglihatanku sekarang. Jadi objek apapun yang gue liat pasti akan sangat jelas. Sama dengan kedatangan mobil yang gue tunggu dari kemarin pun tak luput dari pantauan gue sekarang.


"Hahhh!!! Akhirnya si tuan yang ditunggu-tunggu pulang juga!" ucapku setelah melepas nafas secara kasar.


"Ngapain coba, masih lama di mobil! Apa masih makan didalam sana?" Ujarku kesal karena belum melihat tanda-tanda ia akan keluar.


Posisi gue sekarang udah berdiri dan siap melangkah beriringan dengannya yang sudah hampir sampai di depanku.


Ku kira ia akan menegurku setelah lewat beberapa hari ini. Tapi, dia lewat begitu saja tanpa menoleh sekalipun.


Pada akhirnya gue membuang ego dan berjalan cepat disampingnya sambil berusaha meraih tangannya untuk digandeng. Dan itu berhasil.


"Sean!" panggilku sedikit kesal.

__ADS_1


"Apa kau akan terus seperti ini? Tidak bicara sama sekali atau tetap menganggapku tidak ada, hm?" tanyaku menghalangi jalannya.


Sama saja. Bahkan sikap imut yang gue rasa mungkin kalo mengingat ulang gue akan jijik dan muntah kali ya. Tidak sama sekali berpengaruh. Woah, sepertinya dia benar-benar marah sekarang. Maka gue pun memutuskan untuk menggandeng tangannya dengan posisi memperat gandengan tangan gue karena gue gak bohong gue benar kangen banget sama nih bocah. Gue kangen sama wangi parfumnya dan masih banyak lagi. Intinya, gue kangen  sama orangnya.


Dalam lift yang akan mengantarkan kami kelantai atas pun kami tidak bicara selain gue terus menempel padanya. Agar ia mau berbicara tetapi hasilnya nihil.


Sampai di lantai 25 liftnya berhenti itu berhasil membuat ia sedikit menimbulkan kerut pada wajahnya karena tak kunjung melihat gue keluar dari lift karena apartemen gue di lantai 25.


Gue juga memilih tetap diam dan terus menggandeng tangannya tanpa peduli dengan kebingungannya sekarang.


Dia yang merasa gak ada pergerakan dari gue pun memilih menekan lagi lantai 26 dimana apartemennya berada dan pada tentunya dengan gue yang masih terus berada disampingnya sekarang.


Di dalam apartemen...


"Lo kenapa sih?" Itu pertanyaan gue yang mungkin sudah kesekian kalinya gue lontarkan sambil terus mengikuti langkah Sean kemana ia berjalan mengelilingi apartemen tersebut.


Hingga sampai ketika ia memasuki akan kamarnya. Gue pun berhenti mengekorinya. Karena selama kami berteman, gue gak pernah masuk di kamarnya walaupun dia mungkin sudah berulangkali masuk ke kamar di apartemen gue.


Bukan karena dia ngelarang atau apa, tapi gue paham dan tahu betul bagaimana menjaga dan menghargai privasi orang. Toh, dia masuk ke kamar gue juga bukan karena dia mau. Dia sering masuk karena bertepatan gue sakit atau ada barang yang perlu dipindahkan dan kebetulan gue gak bisa mengangkat yang berat makanya gue perlu bantuan dia walaupun berakhir kadang kami menghabiskan waktu di balkon apartemen sih karena sedikit menghilangkan lelah sambil melihat pemandangan diluar dari atas gedung setelah kami beraktivitas mungkin. Tapi hal itu pun jarang sekali.


Kembali ke kegiatan gue saat ini adalah memilih duduk di lantai samping pintu kamarnya dengan sedikit bersandar ke tembok sambil menunggunya yang belum juga keluar dari kamar. Gue yakin dia sedang membersihkan diri didalam sana tapi bahkan waktu yang ia perlukan mengapa begitu sangat lama.


Karena lelah berdiri dan juga lelah dari sore menunggu ditambah lagi berjalan mengikuti kemana dia pergi gue pun terduduk lemas dilantai sekarang.


Bukan karena gak ada kursi diruangan ini, hanya saja gue sangat malas melangkah dengan jarak 5 meter mungkin dari keberadaan sofa di sana.


Satu jam kemudian...


Pintu kamar pun terbuka, dan satu hal bahwa gue bahkan gak mau berdiri lagi sekarang selain menunggu kapan reaksi kaget dari seorang Sean berhenti dan tatapan herannya juga ketika berhasil melihatku terduduk dibawah sini.


"Ya gak kenapa-kenapa!" Jawabnya singkat untuk pertama kalinya ia bicara.


"Tapi gue mau tahu alasan lo apa? Padahal kita gak berantem juga!" Ujarkan mempautkan bibir.


"Jangan mencari alasan dari gue. Cari pada diri lo sendiri!" ujarnya sambil terus berjalan didepan sana ada meja seperti pantrylah untuk membuat minuman dan lain sebagainya


"Ke gue?" Tanyaku sedikit heran.


"Sekarang lo ingin sekali mendengar jawabanknya, kan? Lo penasaran dengan jawaban gue, dan juga merasa sedikit sedih. Kalau lo ingin dapat jawabannya oke. Coba lakukan hal manis untuk gue!" Ujarnya makin bingung kan gue.


"Gue... Ke lo?" Tanyaku lagi.


"Iya, masa gue.  Kenapa, susah sekali ya buat lo?" Ucapan bukan seperti pertanyaan tapi sudah seperti ejekan bagiku sekarang.


"Sean, itu seperti rumus fungsi matematika yang rumit. Apa tidak bisa kita selesaikan dengan rapi secara objektif saja atau lebih tepatnya yang mudah!" ujarku memelas.


"Enak saja mau yang mudah. Gue tahu dengan jelas bagaimana diri gue berbeda dengan lo!" Ucapnya yang semakin membuat ku bingung dan gue yakin kalian pun bingung bukan. Persoalannyakan cuma karena gegara gue sedikit bersikap manja ke Mark minggu lalu, menurut pendapat si manusia rumit ini lebih tepatnya. Walaupun gue sedikit emosi dan berujung kami beradu bacot.


"Kalau begitu kasih gue sedikit petunjuk buat perbaiki kesalahan gue! Iya, gue yang salah!" ucapku dengan nada rendah pada akhirnya.


"Keluar sana, dan tinggalkan gue sendiri. Jangan temui gue, sampai lo bisa memikirkan hal manis dengan kepalamu yang pintar itu. Sampai jumpa!" ucapnya makin ambigu sambil berjalan menuju ruang kerjanya disebelah kamarnya dengan membawa gelas kopinya. Ya, gue tahu beberapa sudut apartemen ini, karena gue juga sering main ke sini.


Setelah mendengar ucapannya barusan hati gue sedikit sakit sih sama ucapannya. Tapi gue gak nangis. Gue kuat, gak nangis sumvah:v

__ADS_1


Berakhir gue melangkah dari ruang tengah tersebut menuju ruang tamu didepan. Saat hampir meraih gagang pintu gue sedikit berpikir. Apa mungkin dia mengerjai gue lagi?


Pada akhirnya gue pun dengan tidak tahu malunya kembali mundur dan mendudukkan diri di sofa ruang tamu dan meraih remote tv dan berakhir gue nonton sambil ngemil makanan yang tersedia didepan gue sekarang.


Jangan salah, walaupun si manusia rumit itu hampir jarang menghabiskan waktu untuk sekedar duduk dan ngemil sambil nonton tv, tapi stok makanan selalu ada setiap kali gue kesini. Dan pada akhirnya memang cuma gue yang makan makanan ringan di ruangan ini sih sejauh yang gue tahu.


Beberapa jam berlalu....


Hari yang sudah semakin malam, membuat gue sadar kalo gue nonton sambil makan di ruangan ini sudah lama. Gue pun merasa tak bisa menahan kantuk lagi.


Tapi, gue gak mau berakhir tidur disini, apapun yang terjadi gua gak mau tidur disini. Karena memang selama ini, gue hanya sering main dan gak pernah tidur disini ya.


Akhirnya gue pun bangun dan beranjak pergi menuju ruang kerja Sean yang pintunya tertutup. Setelah mengetuknya berulang kali dan tak ada jawaban sama sekali gue pun mutuskan untuk pamit saja.


"Sean. Gue tahu lo masih di dalam. Setelah gue pikir-pikir, ya udahlah gue aja yang salah. Maafin gue! Gue gak mau pertemanan kita renggang cuma hal sepele, makanya gue pilih buat mengalah," ucapku dengan rasa kantukku yang sudah hilang, tapi karena suasana yang mendukung akhirnya gue bawa perasaan. Kembali mengingat perjuangan gue dari minggu lalu buat minta maaf ke dia rasanya gak dihargai sama sekali. Gue sadar sekarang mata gue sedikit berkaca-kaca.


Lalu gue pun melanjutkan ucapan gue "gue gak tahu kalo masalah sepele menurut gue itu, ternyata emang masalah besar buat lo! Makanya gue memilih buat mengesampingkan ego dan datang buat bicara sama lo. Lo mungkin perlu tahu, untuk sampai kesini dan berhasil ketemu sama lo, gue udah ngerasa harus melakukan banyak hal. Lo mungkin gak tahu seberapa berusahanya gue buat hubungan kita kembali baik. Gue rela juga nunggu lo dalam waktu yang sedikit banyak dan lama yang berakhir dibeberapa hari kemarin lo tetap gak bisa gue temui.


Kalo boleh jujur, bahkan sekarang gue masih sedikit merasa gak bersalah sama apa yang terjadi di minggu lalu. Gue bahkan ngerasa kita seperti bersikap kekanak-kanakan sekarang dengan hal sepele. Tapi gue lupa, setiap orang punya sisi pandang berbeda untuk beberapa hal. Dan mungkin kita beda dari sudut pandang itu. So, gue minta maaf kalo gue ternyata salah menurut lo!


Dan sekarang gue udah datangin lo, dan gue rasa gue gak sia-sia buang waktu berharga gue dari kemarin cuma untuk hari ini!" Ucapku dengan air mata yang sudah jatuh untuk kedua kalinya sekarang. Dan gue pun beranjak pergi dari tempat itu setelah mengucapkan selamat malam dan berterimakasih.


Saat gue berhasil menarik gagang pintu apartemen, gue pun melangkah untuk keluar dan menarik pintu tersebut agar tertutup.


Namun, gue sedikit tersentak dengan tarikan tangan yang tiba-tiba dari dalam apartemen tersebut.


"Jangan pergi! Maaf," ujarnya yang sudah berhasil menarik tubuhku masuk dalam dekapannya sekarang. Ya, dia memelukku erat sekali. Dia terus mengusap punggung ku sambil mengatakan maaf untuk kesekian kalinya.


"Maafin gue! Gue tadi cuma mau ngerjain lo! Tapi, berakhir gue terlalu mendalami peran sampai buat lo nangis!" Ujarnya makin mengeratkan pelukannya, gue bahkan sudah mencium tulang dadanya sekarang karena eratnya pelukan ini.


"Gue lihat semua apa yang lo lakuin seminggu ini. Gue tahu semua apa yang tengah lo lakuin. Gue bahkan tahu kalo lo membatalkan acara sama teman-teman lo hanya karena mau datangin gue. Gue gak marah lagi. Gue hanya kesal sama lo waktu itu, tapi sekarang udah enggak," ujarnya dengan posisi yang masih sama.


"Kemarin juga gue tahu, lo udah nungguin gue dari sore sampai malam. Bukannya gue gak mau pulang tapi gue lagi ada sedikit masalah di perusahaan. Dan pas balik itu udah subuh banget jadi gue gak sempet samperin lo. Terus paginya gue juga buru ke kantor dan berakhir gue baliknya sore tadi. Maafin gue!" Ucapnya dengan suara rendah dan merasa bersalah sekali.


Gue bahkan gak ngomong apa-apa lagi sekarang selain membalas pelukannya dan menenangkan diri karena dari semua ucapannya barusan buat gue nangis. Elah, udah ke cewek baperan aja gue sekarang. Dan sekarang malah nyaman di peluk sama dia. Gue juga heran sama apa yang terjadi sekarang. Tapi, gue mau sedikit egois sama keadaan, makanya gue biarkan saja ini terjadi untuk sementara tanpa kesadaran penuh.


"Gres!" Panggilnya dengan suara rendah.


"Hm?" jawabku hanya deheman.


"Jangan nangis lagi!" ujarnya melonggarkan pelukan kami sekarang.


"Gak lagi! Lagian kenapa sih, jadi berakhir kek gini?" ucap gue kesal berusaha untuk tidak beradu tatap dengannya.


"Heheh, udah sini mana liat mukanya! Merah banget tuh muka, udah ke tomat!" Ejeknya lagi dengan terus terkekeh.


"Hiss, apaan sih. Udah lepas, gue mau balik!" Ujarku makin kesal.


"Eh, siapa yang ngijinin lo balik? Udah, lo nginap di sini aja!" ucapnya yang sudah menarik tubuh kecil gue masuk dan dia pun menutup pintu apartemennya.


"Gue mau balik!" ujar ku tegas.


"Gak bisa. Kita baru aja baikan. Dan lagian juga kita udah lama gak ketemu kalo lo lupa," ujarnya yang masih merengkuh tubuh gue menuju sofa ruang tengah.

__ADS_1


Dan berakhirlah kami kembali baikan dan melanjutkan kegiatan kami dengan gue boleh memesan makanan apa saja yang gue mau.


^^^^^^_25 Okt. 2021^^^^^^


__ADS_2