Mengapa ?

Mengapa ?
Nasihat Mama


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, Gres dan Sean kembali sibuk dengan dunia kampus. Dengan banyaknya tugas ditambah Sean yang lagi sibuk-sibuknya membagi waktu antara perusahaan dan kuliahnya. Tapi suatu yang luar biasa dia bisa melakukan keduanya dengan tidak ada yang dikorbankan. Ia bisa membagi waktu untuk ke kampus, perusahaan bahkan untuk sedikit meluangkan waktu bersama Gres juga ia sempatkan.


Kedekatan mereka lebih banyak perkembangan setelah banyak hal mereka lalui di tambah lagi ibu dari Gres juga sudah mempercayakan Gres padanya walaupun ia tahu Gres adalah gadis yang baik dan mandiri tapi ia cukup membuktikan bahwa ia cukup bertanggung jawab dalam segala hal setelah berusaha sedemikian mungkin dalam menjalani dan menghabiskan waktunya dalam hidup.


Menurutnya, Gres adalah gadis yang baik, tidak terlalu rumit untuk memahaminya. Ia tidak banyak merepotkan orang-orang disekitarnya. Ia banyak berubah juga gampang akrab dengan siapapun. Ia tidak lagi memperlihatkan sosoknya yang dingin dan tak berperasaan dari masa lalunya.


Sejauh yang ia amati, Gres banyak berubah, dia sudah lebih baik. Belajar dengan baik di kampus, mengatur waktunya dengan baik dan selalu bertata krama baik kepada siapa saja yang ia temui.


Namun, ada satu hal yang masih tetap sama dalam penilaian dan penglihatannya. Ya, Gres masih merindukan masa kecilnya bersama seseorang. Gres masih menganggap orang itu rumah untuk pulang. Gres masih mengharapkan suatu momen dimana ia berada dalam lingkaran masa lalu hanya untuk menghabiskan waktunya bersama orang itu.


Jika dilihat berdasarkan catatan dokter dan pengamatannya Gres hampir sembuh atau mungkin sudah sembuh dari trauma masa lalunya. Ia tidak lagi takut dan bahkan terlihat seperti banyak orang saja dalam menghadapi beberapa hal yang berkaitan dengan masa lalunya. Tapi, entahlah itu semua hanya kepura-puraan atau ia memang sudah sembuh.


Dari banyaknya hal tersebut, ia pantas sembuh dari masa lalunya, ia pantas bahagia dalam menikmati kehidupannya yang sekarang dan ia pantas mendapatkan semuanya sekarang.


Mungkin tugas ku hanyalah menjadi teman dalam berbagai situasi karena entah dorongan dari mana Sean hanya merasa kenyamanan itu ada saat ia bersamanya saja.


Jadi jangan salahkan Sean jika ia akan berusaha lebih kuat untuk tetap ada dan selalu ada. Walaupun ia mungkin tidak akan menang dari sosok masa lalunya yang masih menjadi harapan dan tempat pulang untuk Gres.


"Akhir pekan yang benar-benar melelahkan!" ucap Sean memecah suasana di ruangan apartemen miliknya. Tak lupa juga Gres tengah duduk dan menyamankan dirinya dengan bersandar di sofa tempat mereka duduk sekarang sambil menikmati cemilan di meja ruang TV tersebut.


"Namanya juga akhir pekan. Pasti puncaknya lelah berujung disini," jawab Gres tanpa menoleh kearahnya.


"Salah mulu gue di mata lo!" ujar Sean dengan kekesalannya.


"Terserah. Nih, makan biar gak banyak bacot!" Gres menyodorkan sebungkus cemilan ke depan mukanya.


"Buat lo aja, lagian mana ada gue seorang pemimpin perusahaan dan seorang mahasiswa terpopuler dikalangan dosen dan mahasiswa, makan cemilan yang kek gini, kan gak estetik!" ucapnya dengan smirk andalannya dalam mengejek.


"Yak!! Tuan yang sedikit tinggi hati! Ini cemilan lo juga yang beli kalo lo lupa!" Gres memukul kuat kepala Sean dengan bungkus cemilan yang belum di buka tersebut.


"Sakit Gres! Gue belinya juga karena kasian uang gue dah berdesakan di rekening kan kasian dibiarkan berdempetan dan tak di beri ruang!" Sean sedikit sombong memamerkan kekayaannya.


"Iya! Aku mah apa! Cuma segumpal rasa yang tak berduit!" Gres melemah mendengar kesombongan manusia dihadapannya sekarang.


"Tapi biar cuma segumpal gitu. Kalo di itung-itung uang bulanan lo juga kan bisalah membeli sebuah rumah minimalis yang elegan untuk ditinggali!" jawab Sean sedikit membenarkan bahwa memang setiap kiriman yang dia tahu kan selalu jadi persoalan bagi Gres karena menurut gadis itu terlalu banyak dan bingung juga mau di apakan selain membiarkan saja limit kreditnya makin melunjak.


"Dahlah, malas gue sama topik kek gini," ujar Gres malas.


"Seumur gue hidup, baru kali ini nemuin spesies kek lo yang merasa bosan dan malas membahas topik yang sekarang ini!" ucap Sean sedikit kagum. Karena banyakan ia bertemu cewek gak pernah bosan tuh jika berkaitan uang.


"Ya, walaupun maklum sih. Bokap sama nyokap punya aliran darah sultan jadi jangan heran. Tapi gue herannya kek lo sekarang nih," ucap Sean sedikit serius.


"Kalo lo masih bacot yang unfaedah kek gini, gue balik ajalah, malas!" Gres bangkit dan hendak pergi.


"Siapa sih?" Kesal Gres karena deringan ponselnya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Mama!" ucapnya sedikit heran. Karena setelah ia menghubungi seminggu yang lalu tidak pernah lagi ia berkomunikasi dengannya.


"Halo Ma!" ucap Gres sedikit antusias karena takut sang Mama merasa bersalah karena mengganggunya.


"Sayang, kamu lagi apa?"


"Hm, lagi santai aja Ma. Kebetulan akhir pekan," Gres sedikit tersenyum sambil kembali duduk disamping Sean.


"Kamu apa kabar? Gimana kuliahnya lancar?"


"Seperti biasa lancar Ma! Mama kapan balik ke Indo. Waktu itu kan bilang ke Gres kalo Mama mau balik?" tanya Gres penasaran.


"Mama udah di Indo kali! Udah seminggu di sini!"


"Hah!! Kapan Mama balik? Kok cepat banget!" teriak Gres sedikit kaget ditambah Sean disampingnya juga ikut kaget karena teriakannya dan Siena yang tiba-tiba sudah balik saja.


"Yang waktu itu Mama telpon kamu! Mama berubah pikiran dan pulang hari itu juga,"


"Terus Papa udah tahu?" tanya Gres lagi.


"Hm, mungkin!"


"Kok mungkin Ma?" Gres semakin heran.


"Ya ampun Ma, nanti kalo Papa nyariin Mama gimana?" Gres bingung dengan kelakuan sang Ibu.


"Gak bakal dicariin, tenang aja!"


"Mama sama Papa gak lagi tengkar kan?" tanya Gres hati-hati.


"Yang namanya rumah tangga gak berjalan selalu mulus sayang, didalamnya harus ada bumbu-bumbunya biar seru!"


"Ma! Mama baik-baik aja kan?" Gres sedikit khawatir.


"Baik. Mama sedang di fase baik-baik saja dan bahagia sekarang. Bisa menikmati kebebasan, bisa bermalas-malasan, Mama juga bisa merasakan indahnya bangunan kesiangan tanpa buru-buru mengejar waktu. Dan sekarang Mama juga gak pernah melewatkan senja di sore hari dan menikmati pantai di malam hari. Woah! Nikmat sekali kebebasan ini Gres! Mama nyesal gak pernah luangin waktu ketika masih muda dulu!"


"Heheh, Mama harus lebih banyak melakukan kegiatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mama juga harus jalan-jalan ke tempat wisata di Indo." ucap Gres tersenyum mendengar cerita Mamanya.


"Ia, kamu benar. Dan satu lagi, Mama sama tante Renata selalu menghabiskan waktu bersama. Ternyata seseru itu ya, punya teman yang satu pikiran sama sefrekuensi!"


"Ku harap Mama baik-baik saja.


Jaga kesehatan Ma! juga titip salam buat Mama Renata, Gres kangen," Ujar Gres tersenyum dan jangan lupa Sean yang juga belum melepas pandangnya dari muka Gres. Entah apa yang ia perhatikan dari tadi.


"Gres!"

__ADS_1


"Iya Ma," jawab Gres lembut.


"Jangan pernah sia-siakan masa muda kamu dengan banyak kesibukan dalam dunia bisnis dan bahkan dalam bekerja. Mama yang pernah ngerasain itu nyesal sekarang. Mama gak mau kamu menghabiskan masa muda kamu dengan terus berkerja terlalu keras. Kamu harus beda dari Mama. Banyak hal yang aku lewati dan terbuang sia-sia. Mama juga menelantarkan anak dan suami karena sibuk bekerja. Menjadi wanita karir itu gak mudah dan gak enak sayang.


Suatu saat nanti kalo kamu udah dewasa. Mama mau kamu cukup bekerja sewajarnya, kamu harus meluangkan banyak waktu untuk mengurus rumah tanggamu jika sudah berkeluarga. Kamu harus lebih memperhatikan anak-anakmu dari pada harus bekerja terlalu sibuk. Supaya kamu gak nyesel pernah muda tapi tak pernah melakukan banyak hal.


Mama mau kamu tetap sehat, tetap tersenyum, tertawa lepas tanpa adanya tekanan. Kamu harus bahagia. Kamu harus menerobos sesuatu yang beda dari apa yang kamu dapatkan ketika kamu masih hidup bersama kami.


Jangan berpikir terlalu keras, untuk bisa sukses dalam banyak hal. Jangan terlalu menyiksa diri agar tetap menjadi yang paling terbaik dalam banyak hal. Cukup kamu jadi gadis yang baik, melakukan hal yang bisa membuat kamu bahagia dan tersenyum di setiap saat.


Maaf. Mama bukanlah yang terbaik. Mama gak bisa meluangkan banyak waktu untukmu. Maaf untuk segala kelalaianku dan semua tanggung jawab yang ku lepaskan begitu saja. Maaf juga untuk setiap ketidakberadaan ku saat tumbuh kembangmu waktu itu.


Bahkan sampai kamu dewasa seperti sekarang juga. Mama rasa kita seperti tidak terlalu dekat. Mama mengerti dan tahu betul kamu gak seakrab itu sama Mama. Mama gak nuntut banyak. Mama akan berubah dan menghabiskan sisa waktu Mama untuk keluarga kita."


"Ma! Mama gak salah. Gres ngerti, toh semua juga yang mama lakukan untuk Gres. Maaf juga belum jadi anak yang berbakti. Gres dulu, dulu banget. Suka marah. Suka merasa gak adil. Suka bandel. Suka maki dan masih banyak lagi. Ketika Gres merasa seperti jadi korban dalam keluarga kita. Gres juga pernah mabuk saat ujian hari pertama waktu itu.


Dan Mama tahu, sampai sekarang orang yang nolongin Gres ketika mabuk dan membuat ku pulang sampai rumah dengan baik pun, Gres gak ngucapin terimakasih karena Gres emang sedikit egois dalam hidup, bahkan Gres memuntahkan bajunya waktu itu, heheh. Gres bahkan gak tahu seperti apa wajah orang baik itu. Sekarang, Gres jadi ngerti. Semua yang terjadi emang udah dirancang baik-baik buat Gres jalani.


Gak ada yang salah. Mari melupakan semuanya dan memulai yang baru. Gres seneng Mama bahagia!" ucap Gres tersenyum mengingat bagaimana masa SMA nya dulu.


"Hm. Mari kita memulainya kembali tanpa ada kesalahan lagi. Dan kita akan bahagia!"


"Baik-baik Ma! Gres sayang Mama!" ujar Gres akhirnya.


"Kamu juga. Oh, ia kalo boleh berharap. Mama mau kamu menemui orang di masa lalumu itu dan mengucapkan terimakasih padanya karena pernah baik disaat kamu tak memiliki siapa-siapa lagi.


Dan mama tahu semuanya, waktu itu kamu dan sahabatmu bertengkar hebat bukan!


Jadi, wajar jika kamu memutuskan untuk mabuk saat itu. Temui pemuda itu dan ucapkan terimakasih jika masih sempat kamu temui nanti!


Dan pulanglah jika waktu libur, Mama akan selalu di rumah menunggu setiap pulang untuk kamu dan juga untuk Papa. Mama udah berhenti bekerja sekarang!" Ucap Sang ibu dan mengakhiri telpon.


"Woahh. Akhirnya seperti ini ternyata. Gue bahkan bingung sekarang apakah harus bahagia atau bagaimana lagi!" ucap Gres melepas nafasnya kasar.


"Menerima adalah satu-satunya langkah yang tepat bukan! So, siapa lelaki yang menemui mu saat mabuk waktu itu. Kata lo gak pernah mabuk tapi-" Ucapan Sean menggantung.


"Stop. Mari jangan membicarakan yang satu ini. Gue akan menjadi malu jika mengingatnya sekarang!" seru Gres.


"Bahkan kau memuntahkan isi perutmu pada bajunya di jalanan dan gak mengganti rugi sama sekali. Dasar bocah nakal! bisa-bisanya mabuk di hari ujiannya seorang diri!" ucap Sean tak habis pikir.


"Tunggu. kok lo bisa tahu gue separah itu saat muntah?" Tanya Gres heran.


"Ya., ya kan lo yang cerita barusan bocah!" ucap Sean gugup.


"Sudah saja. Lebih baik kita makan sekarang. Gue lapar!" Sean bangkit menuju ruang makan meninggalkannya yang masih bingung.

__ADS_1


__ADS_2