Mengapa ?

Mengapa ?
Memahami


__ADS_3

Bolehkah untuk sedikit egois perihal hidup?


Tapi, sedikit memahami juga perlu. Jadi memahami saja dulu sampai kau juga dipahami dengan baik pada akhirnya.


'


'


Setelah banyaknya waktu yang dilalui sampai juga di fase ia kembali mengingat dan merindukan mereka yang terus ada dan selalu ada untuk dirinya seharusnya saat ini.


"Woah, mereka akan kembali juga seperti biasa pada akhirnya," ucap Gres melemah.


"Bagaimana mungkin aku terus mengharapkan sesuatu yang tak akan pernah kuperoleh dari dulu. Hm, bahkan untuk saat ini pun aku tidak tahu mereka bagaimana dan dimana serta apakah masih baik-baik saja," tambah Gres menatap jauh.


"Oke. Mari kita coba menghubungi dan bertukar kabar saja!" serunya seraya mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi seseorang.


Deringan dari ponselnya terus berbunyi namun tak pernah di angkat oleh orang tersebut.


"Ini yang kesekian kalinya, semoga dia mengangkatnya!" Ucapnya tersenyum mengingat sudah berapa kali deringan telpon tersambung namun tak diangkat.


"Hmm, Papa benar-benar sibuk rupanya, Mama mungkin!" ucapnya tersenyum dan mencari kontak sang ibu di ponselnya dan melakukan panggilan juga.


Setelah deringan ketiga ada suara juga akhirnya.


"Halo,"


"Mama....!" panggil Gres melemah.


"Kenapa sayang? Mama lagi sibuk, ada apa hm?"


"Mama,," ucap Gres lagi setelah hampir setahun tak mendengar suara tersebut.


"Nanti Mama hubungi lagi ya, lagi sibuk ini!!"


"Ma-" ucapannya terpotong karena panggilan sudah diakhiri secara sepihak.


"Hahah, mereka gak akan punya waktu untukmu bodoh. So, belajarlah untuk memahami mereka dengan baik!" ucapnya untuk menguatkan diri.


"Hufhhh. Seharusnya memang seperti ini. Nikmati saja hidupmu tanpa mengharapkan sesuatu yang berlebihan. Kuatlah untuk baik-baik saja!" ucapnya pada diri sendiri.


"Ngomong sama siapa, hm?" tanya Sean yang sudah mengambil tempat disampingnya.


"Ngapain lo disini?" tanya Gres heran melihatnya berada dimana-mana.

__ADS_1


"Menghampirimu. Lo kenapa sih, ada masalah?" tanya Sean.


"Gapapa! Lo abis dari mana?" tanya Gres tersenyum.


"Gak sengaja lewat tadi. Terus gue liat lo duduk dan ngomong sendiri. Ya udah gue samperin!" ucap Sean.


"Oh, gimana kabar lo? Udah lama kita gak ketemu karena banyak kesibukan!" ucap Gres menatapnya.


"Baik. Seperti yang lo liat. Bedanya hanya ada sedikit rindu!" jawab Sean tersenyum.


"Hahh, lo selalu saja seperti itu. Sibuk banget pasti ngurusin perusahaan sama kuliah ya?" ucap Gres sambil menatap Sean dan sesekali menyesap cokelat hangatnya di sudut kafe tersebut.


"Biasa saja. Gres!" Panggil Sean.


"Hm?" gumam Gres pelan dan fokus menatapnya saat ini.


"Lo gak kangen sama gue?" tanya Sean memasang muka memelasnya.


"Woah. Sepertinya gak ada rasa rindu sama sekali. Hidup gue cukup aman akhir-akhir ini!" jawab Gres tersenyum mengejek.


"Yak!! Tidak bisakah kau bersikap seolah merindu saja!" teriak Sean cukup sarkas.


"Ya ya ya, gue gak ingin berbohong untuk saat ini, hm gue juga kangen sama lo!" jawab Gres pada akhirnya.


"Gue kangen sama lo-" ucapan Gres terpotong.


"Udah kuduga akan seperti itu!" teriak Sean tanpa mempedulikan keadaan yang sedikit ramai.


"Maksud gue, kangen sama traktiran lo, sama kunjungan ke tempat-tempat bagus dan masih banyak lagi. Bukan kangen sama lo!" tegas Gres sambil memainkan alis sebelahnya.


"Gres! Dosa gak ya kalo sekarang juga gue buat lo menghilang dari bumi ini!" ucap Sean dengan tatapan sengit.


"Berhenti berandai. Bagusnya sekarang juga lo bayarin semua pesanan gue. Guna apa lo kerja sambil kuliah dan sibuk selama ini, jika uang lo tumpukan begitu saja!" ucap Gres dengan tatapan mengejek.


"Wah, baru kali ini gue temuin spesies seperti lo, ternyata lo punya motif tersendiri dibalik pertemanan kita selama ini!" ujar Sean pura-pura terkejut.


"Hufhh. Ketahuan deh! tapi sedikit tidaknya gue membantu lo untuk menghabiskannya bukan!" Ucap Gres tak peduli.


"Yak! Gue cuma butuh perhatian dari lo, kenapa lo sekejam itu?" ucap Sean malas.


"Gak usah caper jadi cowok. Kenapa harus ngemis perhatian sama gue, semetara setahu gue nih ya, hampir semua mahasiswi satu fakultas ngejar-ngejar lo buat ngasih perhatian!" Ucap Gres serius dan memang kenyataannya seperti itu di kampus bahkan bukan di fakultas saja tapi hampir semua cewek di kampus tempat mereka berkuliah mengenal seorang Sean dengan ketampanan dan bahkan kerja kerasnya.


"Tapi dari mereka semua. Gak ada yang seperti lo!" ucap Sean serius.

__ADS_1


"Gue berharap lebih salah gak sih?" tambah Sean pelan.


"Berhenti membuatku bingung, masih banyak mata kuliah yang tidak bisa ku pahami tau lo," jawab Gres terkekeh.


"Gres, please serius sama gue. Mau tahu satu hal?" tanya Sean.


"Gak. Banyak hal udah ada dan terlihat rumit. Jadi jangan menambah beban lagi," Ucap Gres terkekeh.


"Jangan kerja terlalu lelah. Istirahat yang banyak. Bukankah kita masih muda?" ujar Gres lagi dengan tatapan bserius karena pertemuan mereka saat ini sedikit berbeda dengan melihat Sean yang sedikit kurusan.


"Lo khawatir sama keadaan gue?" tanya Sean menggodanya.


"Enggak. Gue cuma nyaranin sebagai teman lo aja. Berliburlah sedikit lama dari pekerjaan lo! Apakah sesibuk itu?" tanya Gres serius.


"Hm, akhir-akhir ini gue emang kurang istirahat. Perusahaan lagi banyak klien ditambah lagi ada beberapa permasalahan dari beberapa pihak. Gue harus lembur buat ngatasin semua hal berkaitan perusahaan yang gue pegang sekarang!" ucap Sean sedikit mengeluh.


"Setidaknya istirahatlah sejenak. Lo masih muda dan lo juga manusia pasti ada saatnya lo butuh waktu buat istirahat!" Ucap Gres menepuk pelan bahu Sean yang sedang menunduk dengan kepala yang bertumpu diatas meja.


"Bisa gak sih, gue jadiin lo tempat bersandar untuk kali ini. Gue benar-benar lelah-" ujar Sean seraya berpindah tempat dan duduk di samping Gres.


"Hm, kemarilah. Sepertinya lo udah benar-benar akan mati jika tidak ku beri sandaran sekarang," ujar Gres terkekeh seraya menarik kepala Sean agar bisa bersandar di bahunya.


Gapapa, Sean hanya berlaku seperti ini jika bersamanya. Selama mereka bersama sebagai teman. Gres adalah tempat ia menumpahkan banyak lelah dan berbagi cerita. Gadis disampingnya sekarang adalah satu-satunya yang paham betul bagaimana keadaannya dan bagaimana persolan dan setiap lelahnya. Begitu juga sebaliknya. Hanya saja sampai saat ini gadis disampingnya sekarang tidak benar-benar memahami perasaannya dari dulu.


"Gres," panggil Sean pelan.


"Hm?" jawab gadis itu dengan tetap fokus pada bacaannya sekarang. Ya ia tengah berhadapan dengan laptop didepannya.


"Haruskah kita minum-minum?" tanya Sean sedikit tersenyum seakan mengingatkan suatu hal.


"Yak! Minum saja air putih di depanmu sekarang! Bagaimana bisa kau mengajakku minum bersamamu yang nyatanya gak pernah merasakan bagaimana rasanya mabuk itu seperti apa!" ucap Gres sedikit kesal dan beralih dari bacaannya sekarang.


"Bukankah gadis yang disampingku saat ini adalah peminum juga?" ucap Sean yang mengangkat kepalanya dan berusaha menatap muka gadis itu dengan tatapan sedikit menggoda.


"Apa maksudmu? Sejak kapan kau pernah melihatku mengonsumsi minuman seperti itu?" tanya Gres serius.


"Oh, ya. Gue baru ingat lo kan peminum yang payah!" seru Sean sedikit menjauh darinya untuk mengantisipasi pukulan dari gadis disampingnya.


"Yak! Apa maksudmu!" teriak Gres sedikit berdecih.


"Bagaimana ia tahu aku peminum yang payah? Sedangkan aku saja tidak pernah minum saat berkuliah. Bahkan dari SMA pun gak seperti itu, kecuali, yak jangan bilang dia tahu aku pernah mabuk saat itu!" Batin Gres mengingat dulu ia pernah mabuk tapi itukan tidak ada yang tahu sama sekali.


"Sudahi saja pikiranmu itu. Kasihan otak kecilmu kau paksa untuk berpikir terlalu keras!" Ucap Sean sambil mengacak rambutnya lembut.

__ADS_1


_05 sept. 2021


__ADS_2