
"Ketika saya berada di titik paling memahami saat ini, saya kembali merenung kalau saja saya menyerah hari itu, mungkin saya tidak akan bisa mendapati hari ini dan merasakan dewasa itu seperti apa sebenarnya"
°
°
°
Suasana rumah yang terasa berubah, setelah aku menelusuri sepanjang sudut rumah dan ruangannya ada banyak sekali perubahan. Mungkinkah mereka mengantikan semua isi rumah ini?.
Tapi entahlah, semua sudah berubah tidak dengan kamarku, masih mereka biarkan dengan dekorasi ternyaman untuk ku saat berada dalam ruangan tersebut. Terasa sekali dingin yang mampu membuat nyaman untuk ku beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit.
Ada suatu hal yang berubah secara drastis dalam rumah ini, kedua orangtuaku mengapa mereka sudah kembali dengan begitu cepat, bahkan ku lihat Papa tengah menghabiskan hari-harinya dengan bersantai dan sesekali ke ruangan kerja. Ku lihat ia tidak seperti biasanya, apakah ia sudah tidak bekerja lagi?.
Begitupun Mama, ia bahkan hampir setiap menit akan datang dan membuka pintu kamarku dengan menyapaku pertanyaan yang sama apakah aku merasa sudah lebih baik!. Setelahnya ia kembali berkutat di dalam rumah entah itu memasak atau membersihkan kamarku yang seharusnya adalah tugas bi Ima. Perubahan ini serasa begitu asing selama aku kembali baik.
Dan satu hal yang membuat aku bingung dengan diriku sendiri, entah sudah berapa lama dari aku sadar saat di rumah sakit saat itu, aku bahkan tidak berbicara sepatah kata pun terhadap kedua orang tua ku. Setiap aku berada di sekitar mereka, lidahku seakan kaku untuk di ajak berbincang sehingga berakhir mereka tidak ku respon sekali pun.
Sama halnya sekarang, aku tengah duduk di balkon kamar sambil menatap jauh ke seberang jalan yang cukup ramai sampai aku menyadari ada seseorang yang membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Sayang, apakah kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Mama yang sudah berdiri di samping kaca penghubung antara balkon dan kamar.
Aku bahkan tidak mengucapkan satu kata pun untuk menjawabnya, sama seperti biasa ku lakukan. Aku merasa sudah terlalu nyaman dengan ketidakberadaan mereka dalam hari-hari hidup ku. Sampai hari ini, aku cukup bersyukur karena sudah di mampukan untuk melewati banyak hal yang terjadi dan aku kembali baik tanpa memperdulikan keberadaan mereka lagi.
"Mama bawakan susu hangat untuk mu, sekalian membawa coklat hangat untuk Rendi juga" ucapnya sambil meletakkan kedua minuman tersebut di atas meja.
"Rendi masih dibawa, lagi ngobrol sama Papa. Mungkin sedikit lagi ia akan ke sini, Mama tinggal ya,"ucapnya dengan melangkah pergi dari penglihatan ku.
Aku tidak membenci mereka. Aku bukannya tidak menghargai keberadaan mereka, hanya saja aku sudah melewati banyak hal dengan seorang diri dan lebih tepatnya sudah terbiasa akan itu. Aku tahu betul ini keliru tapi bagaimana untuk kembali meyakinkan perasaan ku terhadap mereka. Aku tahu mereka sudah melangkah terlalu jauh dalam menafkahi ku, mereka mungkin punya lelah tersendiri yang tak sempat aku lihat. Namun, aku menyayangi mereka dan masih tetap sama sampai hari ini. Bedanya mungkin dengan tidak menunjukkan rasa itu lagi karena ku rasa aku sudah cukup memahami bagaimana menjadi orang dewasa yang bijak.
"Hmm.... Baiklah aku rasa ini saatnya untuk mengawali semua yang sudah terlewatkan" gumamku sambil menyesap susu hangat buatan Mama dengan cangkir yang sama, oh iya ini tak berubah.
"Hm!" Ucapku singkat.
"Biar bibi bawakan minumnya kebawah!" yang sudah mengangkat gelas susu dan coklat tersebut.
Menuruni tangga....
Dapatku lihat dengan jelas mereka tengah tertawa bahagia dengan hal-hal kecil yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Diruang keluarga tengah ramai karena kedua orang tua Rendi sedang berkunjung, mereka juga sudah ku anggap sebagai orang tua sendiri. Hanya saja beberapa bulan ini aku kembali tidak begitu akrab dengan orang-orang sekitarku terkecuali Rendi dan Sean.
"Sayang! Sini nak," panggil mama Rena ibunya Rendi yang melihat Gres berdiri mematung di ujung tangga tersebut.
Melihat hal itu, Rendi sudah berada di sampingnya dan perlahan mengajak ku untuk duduk bersama mereka.
Beberapa hari ini aku jarang bertemu Rendi di karenakan ia tengah sibuk melakukan tugasnya sebagai maba di kampus, dan hari ini ia baru kembali dari Jerman karena aktivitas perkuliahan dilakukan dua Minggu depannya lagi.
"Kamu apa kabar hm?" tanya Rendi setelah duduk.
"Baik!" jawabku singkat
"Mama kangen lho sama kamu! Kapan-kapan main ke rumah lagi ya, nanti mama masak yang banyak biar kamu sama Rendi bisa makan sepuasnya!" seru mama Rena yang sudah merengkuh tubuhku lembut, bahkan mamaku sendiri saja tidak berani menyentuh ku sejak kejadian itu.
"Ia Ma!" jawabku seadanya.
"Kamu nanti ke rumah ya nak! Tuh mama kamu kemarin udah beli banyak hadiah pas pulang." Ucap Andika Papanya rendi lagi.
"Ia om" jawabku karena sudah terbiasa memanggil papanya Rendi dengan sebutan tersebut.
__ADS_1
Banyak hal yang mereka perbincangkan dengan sesekali tertawa. Namun, bagiku itu cukup terasa asing dan bahkan tak pernah ku temui. Ku rasa aku mengalami kehilangan beberapa momen tentang mereka. Entahlah, sepertinya mereka sebelum tidak pernah melakukan ini atau mungkin perasaan ku saja.