
"Lo ngapain ngajak gue kesini?" Tanya Gres malas.
"Kita makan dulu, lapar kan?" Tanya Sean yang menarik tangan gres untuk masuk ke bistro tersebut.
"Gue lapar sih, ayuklah!" ucap Gres yang sudah diseret masuk oleh cowok tersebut.
Le French Dinner
Le French Dinner adalah sebuah bistro kecil di Manhanttan dengan 10 kursi tinggi bar, 3 meja, dan 2 koki yang menyajikan menu Paris.
Disana ada beberapa menu yang tersedia yaitu escargots, bebek rillettes, kerang scallop, kerrang mussle, dan berbagai makanan musiman lain.
Restoran ini memberikan sensasi serupa pengalaman makan di salah satu spot terkenal di Paris. Kita juga bisa memesan minuman wine dari produsen Paris yang tersedia di baris menu Bordeaux atau Chablis. Kita seperti sedang menikmati menu Paris dan suasana Eropa di 188 Orchard St, New York, NY 10002.
Dah gitu aja tentang penjelasan tentang nih restoran.
"Lo sering ke sini?" tanya Gres setelah pesanan mereka sudah ada.
"Hm, disini menunya enak banget. Jarang lo gue ngajakin teman kalo makan ke sini!" ujar Sean sambil menikmati makanannya tak lupa ia juga memesan wine untuk dirinya saja karena Gres tak suka.
"Oh, makanannya lezat banget. Gue bakal sering ke sini deh nanti!" ujar Gres tersenyum.
"Sama gue tentunya," tambah Sean.
"Sorry, gue udah tahu tempatnya. Jadi bakal datang sendiri nanti!" jawab Gres mengejek.
"Liat aja nanti!" ucap Sean.
Beberapa menit berlalu...
"Lo ngapain aja seminggu ini?" tanya Sean menatap Gres.
"Hm, kuliah sama nugas itu aja sih gue rasa," jawab Gres yang fokus pada ponselnya.
"Lo gak kangen gue?" tanya Sean yang masih menatapnya hangat.
"Gak!" jawab Gres santai.
"Tapi gue kangen sama lo," ujar Sean serius.
"Alay lo. Buang-buang waktu berharga lo aja, bukannya lo lagi sibuk sama perusahaan ditambah tugas yang banyak?" tanya Gres memutar bola matanya malas.
"Udah biasa gue disibukkan dengan hal kek gituan. Jadi, santai!" ucap Sean tersenyum.
"Hm, ia sih. Gue gak sadar lo kan dari SMA udah sesibuk ini. Tapi kuliah tuh berat juga ya!" ucap Gres melepas nafas kasar.
"Berat kalo lo gak belajar!" ucap Sean mengacak rambut Gres.
"Seketika gue merasa tertohok, ternyata prestasi gue di Indo gak ada apa-apanya di tempat ini," ucap Gres menyadari walaupun ia juara di sekolahnya dulu tapi tetap saja tentang bisnis ia harus belajar dari dasarnya.
"Kita tuh masih muda. Masih banyak waktu buat belajar," ucap Sean pelan.
"Gue sampai gak punya waktu buat santai-santai akhir-akhir ini," ucap Gres dengan pandangan ke luar jalanan.
"Belajar sewajarnya, jangan terlalu lelah nanti sakit," ucap Sean perhatian.
"Huuffh, gue seharusnya belajar banyak, waktu bareng Papa," ujar Gres.
"Belajar sama gue mau?" tanya Sean.
"Lo tuh sibuk, gue bisa belajar pelan-pelan kok. Lagian beberapa teman gue juga orang-orang pintar!" ucap Gres senyum.
__ADS_1
"Cantik," ucap Sean tak sadar melihat senyuman Gres di depannya dengan jarak yang begitu dekat.
"Hah?" ucap Gres memandang heran.
"Gak. Gue salah ngomong!" ucap Sean mengalihkan perhatian.
"Gres," panggil Sean lembut.
"Hm?" Gumam Gres menoleh ke arahnya.
"Gue berharap lebih bisa gak ya?" tanya Sean dengan tatapan hangat.
"Maksudnya?" jawab Gres bingung.
"Ia. Gue suka sama seseorang, tapi-" ucapan Sean menggantung.
"Tapi apa?" Tanya Gres serius.
"Gue gak tahu, heheh" ucap Sean bingung sama dirinya dan sendiri.
"Aneh lo!" Ucap Gres malas.
"Kalo seandainya gue suka sama lo gimana?" ucap Sean pada akhirnya.
"Hm?" Gres menatapnya bingung.
"Otak kecil segini mikirnya apaan aja sih? dikode aja gak paham," tanya Sean gemas sambil menepuk pelan kepala Gres.
"Lagian lo tuh buat gue ambigu tahu," ujar Gres kesal.
"Jangan banyak lelah. Sehat-sehat ya!" ucap Sean tersenyum hangat.
"Lo kenapa sih?" tanya Gres makin heran.
"Kemana? Lupa lo gue baru balik dari kampus dan langsung kesini!" ucap Gres.
"Gapapalah, itung-itung buat nebus seminggu kemarin kita gak ketemu," jawab Sean tersenyum.
"Gue balik aja ya, capek banget!" ucap Gres pelan.
"Ya udah gue main ke apartemen lo setelah ini, gue masih mau bareng lo gimana dong!" ucap Sean sedikit manja.
"Seorang Sean punya sisi kek gini juga. Ku kira lo hanya akan bertampang dingin dan ngeselin kalo sama gue, ternyata lo bisa bertingkah kek gini juga!" seru Gres tertawa ringan.
"Gue juga manusia Gres!" seru Sean dengan mode manjanya.
"Ya udah balik kita udah mau malam nih," ucap Gres bangkit.
"Ini kan emang udah malam Gres, gimana sih!" ujar Sean yang mengekorinya dari belakang.
Mereka pun pulang setelah membayar pesanan mereka.
Di apartemen Gres...
"Wah,, capek juga. Tapi apartemen lo selalu rapi ya, setiap gue ke sini!" seru Sean melihat sekelilingnya.
"Lo tuh baru kedua kali ini mampir ya. Bukan setiap kalinya. Udah gue ke kamar dulu," ucap Gres yang sudah memasuki kamarnya.
"Tuh kan ngegas mulu gue rasa. Tapi, mukanya bikin gemas anjir," ucap Sean terkekeh.
"Lo mau minum apa?" tanya Gres setelah kembali ke ruang tamu dengan tampang segar karena sudah selesai mandi.
"Pantasan lama, mandi ternyata!" gerutu Sean sambil masih setia berbaring di sofa panjang.
__ADS_1
"Dih, hak gue dong. Inikah di apartemen gue jadi gak salah dong! Mau gue buatin minum?" ujar Gres malas.
"Susu aja bisa gak! Gue gak sempat minum tadi pagi," jawab Sean yang masih dalam posisi berbaring.
"Ya udah lo tunggu disini," ucap Gres yang sudah berlalu menuju dapur.
"Gue kenapa sih, sama nih cewek bawaan mau ganggu dia terus. Ngerasain wanginya aja udah buat gue nyaman banget. Segitunya gue sekarang, apa ini karma karena sering teriakan bucin sama curut berdua itu?" Ucap Sean mengingat bagaimana ia mengatai kedua temannya bucin dari dulu.
"Nih, lo ngapain ngomong sendiri?" ucap Gres yang menyodorkan segelas susu ke arahnya.
"Oh, makasih. Gres lo duduknya disini aja, ada yang mau gue tanyain!" ucap Sean menepuk sofa disebelahnya sambil meneguk susu ditangannya.
"Ya tinggal ngomong aja, gue dengerin dari sini jugakan bisa!" ucap Gres yang duduk menyadarkan kepalanya di sofa sambil menikmati acara di televisi.
"Gue lagi gak mau jauh-jauh dari lo!" ucap Sean yang sudah duduk disebelahnya.
"Kesurupan apa nih anak?" ucap Gres tak peduli.
"Gres,"panggilan Sean.
"Lo pernah gak jatuh cinta sama seseorang?" tanya Sean yang juga ikut bersandar.
"Kenapa nanyanya gitu?" jawab Gres tanpa menoleh.
"Bisa gak sih, lo jawab aja gak usah balik nanya!" Sean kesal.
"Hm, gak pernah tuh!" ucap Gres setelah mengingat-ingat.
"Serius lo?" tanya Sean tak percaya.
"Hm. Mana sempat gue, orang masa kecil sampai masa remaja gue aja dipenuhi sama banyak hal yang menakutkan," ucap Gres meraih cemilan di meja tersebut.
"Iya juga sih, tapi lo gak pernah gitu dekat sama cowok?" tanya Sean tak menyerah.
"Kalo dekat sama cowok sih, mungkin Rendi. Secara dia dari gue orok udah bareng dia!" seru Gres yang sekarang tiba-tiba teringat sama Rendi yang ia tidak tahu kabarnya bagaimana.
"Lo sedekat apa sama dia, sampai waktu gue ketemu lo aja waktu itu lo seakan-akan lebih akrab sama dia dibanding kedua orang tua lo?" tanya Sean.
"Dekat. Dekaaat banget. Gue bahkan gak bisa mendefinisikannya lagi. Intinya, dia segalanya buat gue!" seru Gres memandang jauh di kaca sambil melihat pemandangan luar yang hanya terlihat awan di sana.
"Lo cinta sama dia?" tanya Sean yang ternyata sudah duduk dan menghadap ke arah Gres dengan fokus.
"Gue gak tahu. Dia berarti aja buat gue," ucap Gres yang kembali sadar dia tengah merindukan cowok tersebut.
"Dia cintai sama lo?" tanya Sean lagi.
"Awalnya gue gak tahu. Gue hanya merasa nyaman aja sama sih, dia tuh terlalu berarti banget buat gue. Tapi, dalam satu waktu gue mampu membuat dia sakit dan kecewa sama gue secara bersamaan," ujar Gres menunduk.
"Mengapa?" tanya Sean.
"Karena sekeras apapun lo berusaha nutupin perasaan lo suatu waktu juga akan terlihat bahkan gak bisa lo kendalikan lagi. Ya, dia nyantain perasaannya disaat yang bersamaan gue harus berpisah dengannya. Gue merasa paling jahat saat itu, gue kira gue yang paling mengerti tentangnya. Nyatanya gue gak pernah sadar kalau dia ternyata punya perasaan lebih untuk gue," ujar Gres.
"Lalu kenapa lo gak berusaha buat buka hati lo?" tanya Sean.
"Gue gak tahu harus gimana. Bahkan gue berada disini pun dia gak tahu. Gue berusaha lost kontak sama dia setelah itu," ucap Gres yang hampir menangis.
"Lo gak salah. Ini hanya perihal waktu saja!" ujar Sean.
"Lo benar ini hanya perihal waktu. Tapi, bagaimana jika setelah iniĀ dia benar-benar udah kubur perasaannya dan berbalik membenci gue?" Gumam Gres yang masih bisa di dengar oleh Sean.
"Gapapa, lo gak sendiri ada gue. Udah semuanya bakal baik-baik aja!" ucap Sean yang sudah memeluknya hangat dan tak lupa ia bahkan mengecup kepalanya.
_it's okay to not feel okay
__ADS_1