Mengapa ?

Mengapa ?
Start Again


__ADS_3

Keesokan harinya....


Masih di tempat yang sama, gue bahkan udah berdiri dari 1 jam yang lalu di depan pintu rumah ini. Tanpa ada niat untuk mengetuknya lagi.


Untuk apa lagi kalo bukan hanya untuk datang dan menemuinya, gue yakin dia ada dan hanya butuh waktu untuk mau bertemu denganku. Dengan cara gue akan terus datang dan terus menerus mungkin bisa membuatnya sedikit luluh dan mencoba memberi gue satu kesempatan lagi.


Sambil menunggu sedikit waktu yang pas gue sedikit kembali mengingat saat pertama kalinya gue mulai tidak suka akan keberadaannya sampai gue secinta sekarang.


Bakan untuk mengajaknya ke jenjang yang lebih serius pun gue bisa untuk saat ini. Gue gak mau kehilangan lagi.


'


'


Flashback on


Siapa sih yang gak tau gue dan hubungan gue sama seorang Sena Andin pada masa kuliah?


Bahkan jika ditanya pada seluruh mahasiswa jurusan Bisnis pun tahu bagaimana berusahanya gue untuk bisa dapatin cintanya.


Gua sadar dengan cara gue yang seperti ini, Sena bahkan sudah menganggapnya biasa saja dan tidak peduli dengan perasaan gue. Mengapa?


Karena kami dekat, dekat sekali saking dekatnya, gue bisa jadiin rumah dia sebagai rumah kedua gue untuk pulang. Rumah dia adalah tempat gue beristirahat melepaskan banyak lelah, berlari dari kenyataan kehidupan gue. Tempat gue makan dan main sepuasnya dan masih banyak lagi.


Kemana-mana gue pasti akan selalu ada bareng Sena. Gue tahu perasaan gue, gue cinta dan itu tulus buat dia seorang. Makanya gue segigih itu hingga sampai perjuangan gue dianggap biasa saja. Dan itu sama sekali tidak membuat gue menyerah.


Hingga sampai suatu ketika kehadiran Rey yang tiada lain tiada bukan adalah senior kami menjadi awal dari semuanya. Gue akui gue kalah telak saat Rey melakukan pendekatan dengannya. Gue merasa kalah aja, karena gue yang dekat, dekat banget sama dia bisa di kalahkan dengan mudah begitu saja. Rey membawa banyak perubahan dalam kedekatan kami, Sena yang sudah terbiasa pun menjadi bergantung padanya.


Dan pada suatu saat, gue bisa lihat Sena memang sudah jatuh cinta padanya. Gue liat keberadaan gue pun sudah hampir bergeser begitu jauh dari kehidupan Sena. Gue akui gue udah kalah dan mau menerima kekalahan gue saat itu.


Kami sering beradu mulut jika membahas kedekatannya dengan Rey. Gue tahu gue sedikit aneh jika harus melarangnya dekat dengan cowok lain. Tapi gimana pun juga perasaan gue gak bisa di ajak kompromi. Gue gak suka liat dia dekat dengan orang lain apapun itu. Hingga sampai dia menyebutkan suatu kalimat pertama "Lo siapa ngatur-ngatur gue? Lo juga bukan siapa-siapa kan!" Kira-kira seperti itulah kalimatnya dan itu untuk pertama kalinya gue mempertanyakan hubungan kami pada diri gue sendiri. Ternyata sejauh ini kami tidak terlalu dekat. Bahkan gue bukan siapa-siapa. Benar kan gue bukan siapa-siapa. Tapi, bagaimana pun pertanyaannya gue gak bisa liat dia seperti itu.


Gue emang bukan siapa-siapa. Tapi entah kenapa gue gak rela dia dekat sama cowok lain. Gue emang sengaja bertindak malas tau dan pura-pura ceria setiap bersamanya, semua itu karena perasaan gue yang membingungkan, membawa gue terlalu jauh dan lama. Bahkan mirisnya lagi gue udah terbiasa dengan tingkah konyol gue untuk buat dia bete atau kesal setiap bersamanya. Semua itu, hanya karena gue mau dia terusik dengan kehadiran gue, biar dia juga terbiasa akan kehadiran gue.


Intinya, gue takut kalau suatu waktu seseorang datang dan membawanya pergi dari pandangan gue, gue pengen buat istirahat sebentar namun selain gue ada orang lain juga yang berusaha dan gue takut kehilangan jejak.


Dia emang susah buat digapai sama orang kayak gue. Gue sadar gue emang lemah dalam berjuang. Gue juga manusia biasa adakalanya gue berada diwaktu yang sedikit melegakan tapi nyatanya gue bahkan gak bisa buat berhenti sebentar. 


Nyatanya, gue tetep sayang dan gue cinta sejauh kedekatan kami sampai saat ini.


Puncaknya, gue bisa mencintai dan membencinya diwaktu yang bersamaan adalah dimulai dari pertengkarannya dengan senior kami di kampus saat itu.


Gue emang tahu persis permasalahannya, tapi saat gue sampai di ruangan itu, gue hanya melihat mereka berantem dengan Sena yang terus berucap bahwa dia bukan ******.


Lebih tepatnya, saat perkataan Selly yang membuat gue tiba-tiba tersadar selama ini gue melupakan sesuatu bahwa 'Sena mengalami banyak hal menyakitkan tidak saja dirumah bahkan di kampus salah satu penyebabnya adalah gue dan kak Rey yang terus hadir di kehidupannya'


Kita emang ga pernah sadar bahwa kehadiran dan perhatian yang kita beri itu yang membuatnya merasa sakit. Dan yang lebih mirisnya dia bahkan gak paham apa yang terjadi dan menimpanya saat itu'


Menyadari akan hal itu gue pun merasakan suatu dorongan yang mengatakan gue berhenti dan menyerah saja. Sadar juga akan perjuangan gue sepertinya sia-sia selama ini.


Dan gue pun coba berkompromi lagi sama diri gue. Pada akhirnya gue sadar Dia akan tetap dan menetap tapi bukan lagi sebagai harapan untuk menjadi satu-satunya.  Adakalanya hidup ini juga harus tentang gue dan diri sendiri. Gue juga butuh waktu dia gak salah. Hanya saja gue yang terlalu berharap lebih tentangnya.


Gue akan memperbaiki semuanya tapi bukan sekarang, pandangan ku saat itu sebelum meninggalkannya tanpa alasan apapun.


Detik gue mulai membencinya adalah dengan bodohnya gue percaya berita yang tersebar di kampus tentangnya. Banyak sekali kejelekannya yang diungkap dan pada posisi itu pun sangat mendukung perasaan gue untuk mulai membencinya tanpa dasar.


Gue hanya ikut-ikutan lebih tepatnya.


Gue emang sebodoh itu jika kalian beranggapan.


Gue membencinya karena memaksa diri untuk percaya berita diantaranya, ia yang dikatakan terlibat dalam penceraian orang tua Ivan, Skandal obat terlarang yang disertakan fotonya membuat gue makin percaya.  Dia bahkan masuk dalam daftar mahasiswi yang melakukan pembulian di kampus, walaupun tidak gue tahu betul dan percaya akan hal itu. Dan ini yang membuat gue sakit hati dan memantapkan diri untuk membencinya dia terhitung sebagai cewek yang main ke klub malam hanya kerena kesepiannya. Dan semua makin meyakinkan gue dengan menghilangnya kak Rey bahkan sebelum ujian akhirnya juga dilakukan karena berawal dari masalah Sena.


Semuanya terungkap setelah kami selesai dengan semua tentang kampus dan saat itu ia berlari secepat mungkin untuk keluar drai lingkungan kampus. Dapat ku lihat ia begitu frustasi karena mungkin sudah melihat beritanya. Namun saat bertatapan dengan gue saat itu ia bahkan terlihat begitu miris dan itu berhasil membuat gue muak karenanya. Belum lagi gue sudah meyakinkan diri untuk membencinya saat itu.

__ADS_1


Gue benci Sena pada saat itu.


Namun, beriringnya waktu gue akhirnya paham. Sena gak salah semua terbukti adanya. Bukan dia, dia hanyalah korban keegoisan orang-orang tak berperasaan seperti contohnya gue salah satunya tidak perlu jauh-jauh untuk mengambil contoh. Gue termasuk orangnya. Gue bahkan dengan sadar bukan dia yang membuli tapi kamilah yang membulinya secara tidak langsung. Dia sangat baik. Tapi kenapa harus orang seperti kami yang ada di sekitarnya.


Gue baru tahu semuanya adalah ulah Mira yang melakukannya. Ia bahkan hampir mengancam nyawanya, dia terancam, dia rapuh tapi gue malah datang tambah menaburi garam diatas lukanya. Gue salah satu manusia yang mengerikan. Menyakiti tanpa dasar atau alasan.


Mengetahui semua kebenarannya, dan gue pun sadar menghilangnya Rey semata-mata hanya untuk membuatnya tidak tersakiti lagi, membuatnya aman dan hidup dengan baik tanpa ada pengganggu lagi. Gue pun akhirnya mengambil langkah yang sama. Pura-pura menjadi bego atas semua yang terjadi atas kami. Hanya semata-mata untuk membuatnya hidup dengan baik.


Dia butuh istirahat atau mungkin berhenti dan hidup dengan baik. Dia terlalu baik dan terlalu rapuh untuk dibuat sakit lagi. Walaupun tampangnya terlihat kuat namun ia yang paling lemah dan harus di jaga dari jauh jika demikian kejadiannya.


Gue kembali memperbaiki diri dan kembali menata perasaan yang ternyata gue gak bisa membencinya dengan hal sepele. Gue emang bodoh udah menyakiti orang yang gue sayang. Gue baru bisa memilah dengan baik mana yang sekedar sayang dan mana yang benar-benar sayang setelah semuanya terungkap dengan jelas.


Sampai pada saat ia mengajak ku bertemu saat itu. Gue udah seperti semula. Jeno yang dulu, hanya kepura-puraan saja yang tersisa dengan tujuan untuk kebaikannya.


ia hanya datang untuk bertanya alasan sekali lagi. mungkin ini kesempatan terakhirnya untuk mengalah tapi demi membuatnya aman ia harus tetap hidup tanpa tahu apa-apa dulu sampai ia paham dengan sendirinya nanti, menurutku saat itu.


Maafin Jeno yang kemarin!


Flashback off


'


'


Dan jika waktu bisa diputar gue mau kembali ke masa saat dia berlari dari tatapan kebencian orang-orang saat itu dan menjadi satu-satunya tempat ia bersandar dan menjadi tempat ternyamannya untuk melepas pilu.


Namun, bukankah penyesalan itu selalu datang di akhir?


Ya, gue menyesal dengan sangat, sangat menyesal untuk semuanya.


Jika saja, ah sudahlah jangan memakai kata 'jika' lagi.


Gue mau Sena sekarang.


Gue mau ia tahu bahwa sosok manusia rumitnya ini sudah sangat menyesal.


Gue mau bertemu dengannya sekarang juga.


Ya, sekarang waktunya.


"Selamat sore Mang!" Ujar ku saat pertama kali masuk di pekarangan rumahnya lagi setelah tadi sempat keluar dari gerbang rumahnya.


"Selamat sore nak Jeno! Wah, mang gak tahu kalau ada kamu disitu!" Ujarnya sedikit merasa bersalah karena hampir menutup pintu utama tersebut.


"Gapapa mang. Boleh saya masuk?" tanyaku.


"Oh, mari nak. Silahkan!" Mang Edi.


"Sebentar ya. Mang kebelakang dulu," mang Edi.


"Iya mang," jawabku.


Beberapa menit berlalu...


"Silahkan diminum. Maaf ya, orang-orang rumah lagi keluar buat belanja jadi tinggal saya sendiri disini!" Mang Edi.


"Oh, gapapa. Mang baru balik ya? Soalnya saya baru liat sekarang?" Tanyaku.


"Iya nak. Ada banyak urusan di kampung." Mang Edi.


Setelah berbincang sedikit lama akhirnya gue berinisiatif untuk sedikit bertanya.


"Ehm, mang mereka masih lama baliknya?" Tanyaku karena belum ada tanda-tanda mereka kembali.

__ADS_1


"Tidak tahu nak. Mereka sepertinya agak lama karena sedang belanja bulanan!" Mang Edi.


"Memangnya mulai sekarang udah jadi tugas Sena sama Ivan yang bantu bibi IM belanja ya?" Tanyaku lagi. Karena sedikit aneh jika Sena juga ikut belanja bulanan. Biasanya kan dia kurang tahu bahan yang mau dibeli.


"Gak juga. Yang kesananya kan cuma den Ivan sama bibi Im!" Mang Edi.


"Lha Senanya kemana?" Tanya gue kaget.


"Maksud nak Jeno?" Mang Edi sedikit bingung.


"Gue nanya Sena kemana emang?" ucapku sekali lagi.


"Lho, non Sena kan emang gak ada!" Mang Edi serius.


"Lagi keluar bareng siapa dia?" tanyaku kembali seperti biasa sambil menyesap minuman.


"Bu-" dan betul ucapan mang Edi terhenti karena pintu utama yang tiba-tiba dibuka oleh bibi Im tentunya dan gue yakin setelah ini Ivan akan muncul juga.


"Eh, ada nak Jeno! Udah lama nak?" Bibi Im.


"Iya Bi. Lagi abis belanja ya?" Tanyaku basa-basi sambil membantu bibi im membawa belanjaannya ke dapur karena gue udah tahu letak dapurnya dari dulu masih sama.


Setelah acara mengangkat belanjaan, kami pun duduk santai sambil bercerita diseberang sofa ada Ivan yang serius dengan ponselnya dan sesekali menatap ku tajam. Dan mang Edi yang lancar bercerita disamping gue sekarang. Lebih tepatnya gue sama mang Edi doang yang cerita.


"Hm, mang bisa tinggalin kita sebentar?" ucap Ivan pada akhirnya.


"Oh, silahkan den. Kebetulan mang lupa mengambil peralatan kebun di depan tadi!" Ujar mang Edi dan beranjak dari situ.


"Ngapain kesini?" Tanya Ivan langsung.


"Mau ketemu Sena!' jawabku yakin.


"Kan gue udah bilang sama lo. Gak usah ke sini lagi!" Ivan.


"Kenapa?" bodohkan pertanyaan gue bisa-bisanya. Udah tahu gue bahkan menghilang dalam hitungan tahun, ia tahun Jeno!. Yang jelas manusia di depan gue sekarang akan tertawa dong.


"Lo kalo mau ngelawak jangan disini bang. Gue gak ngerasa lucu sama sekali!" Ivan ketus.


"Maaf! Please kasih gue kesempatan buat ketemu dia, sekali aja!" Ujarku memohon pada akhirnya.


"Balik ajalah bang. Gue gak ada waktu!" Ivan.


"Gue mau ketemu Sena kok, bukan lo!" Jawabku.


"Pulang aja. Ngapain lo ketemu dia?" tanya Ivan.


"Gue butuh waktu buat kesini, cuma mau memperbaiki semuanya. Lo bisa gak dukung gue sekali aja!" ucapku.


"Ngapain gue dukung Lo. Buat apa?" Ivan sinis.


"Buat gue perbaiki kekeliruan ini!" jawabku serius dan berharap.


"Balik ajalah. Gue cape. Dan gue rasa percuma!" Ivan bangkit dan hendak pergi dari ruangan ini.


"Oke. Lo istirahat aja. Biar gue tunggu Senanya disini. Gapapa!" Jawabku sedikit merasa lega.


"Percuma! Gak usah buang-buang waktu lo!" Ivan berhenti melangkah.


"Kenapa? Gue gapapa kok nunggu disini!" Jawabku antusias karena Ivan sedikit pelan berbicara.


"Lo balik aja!" Ivan beranjak pergi ke kamarnya dan berakhir gue yang menunggu sapa tahu Sena baliknya malam.


^^^_13 nov. 21^^^

__ADS_1


__ADS_2