
Hari itu Refa benar-benar mengambil cuti satu hari untuk ia beristirahat, biar bagaimanapun dia tidak mau badannya malah bertambah sakit jika memaksakan untuk bekerja.
Untung tempat ia bekerja mengijinkan ia cuti bekerja selama satu hari. ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya setelah kepergian Samuel.
Laki-laki yang selalu anggap sebagai seseorang pembuat ulah dan pembuat masalah malah terlihat dewasa ketika dengan telatennya merawatnya. Meskipun bayangan Samuel ketika mengompresnya dan memberikan minum terlintas di pikirannya.
" Ada dengan mu Refa, kenapa malah wajah Samuel yang kamu ingat.. ini pasti karena demam ku kemarin " ucap Refa.
Ia mencoba memejamkan matanya dan berusaha tidur kembali. ia benar-benar ingin besok sembuh total jadi hari ini ia akan mengistirahatkan tubuhnya.
Siang harinya, suara telepon membangunkan tidurnya, ia langsung mengangkat teleponnya dengan nada bicara khas bangun tidur.
Kring....
" Halo " ucap Refa
" Maaf menggangu tidur mu, aku hanya ingin memberitahu jika aku sudah memesan makan siang untukmu, sebentar lagi kurir akan datang dan memberikannya " ucap Samuel membuat Refa kaget
Lagi-lagi Samuel bersikap baik padanya, ia merasa tak enak hati jika terus-menerus di perlakukan seperti itu.
" Tidak apa-apa, sebelumnya aku ucapkan terima kasih tapi kedepannya kamu jangan repot-repot " ucap Refa
" Aku tidak direpotkan lagian ini juga tanggung jawabku sebagai Teman " ucap Samuel sambil tersenyum membayangkan wajah Refa yang tadi makan bubur di harapan
" Masa ia sikap teman seperti sikap seorang laki-laki pada pacarnya, tapi aku tidak boleh berburuk sangka, aku sudah janji tidak akan berpikiran negatif lagi tentang Samuel " batinnya
" Rasanya kangen sekali pada Refa padahal tadi pagi kita baru ketemu, semoga cepat atau lambat kamu bisa membuka hatimu padaku, aku akan menunggu hingga waktu itu tiba " batin Samuel
" Makanlah yang banyak, jangan lupa obatnya di minum, tadi aku simpan di meja samping tempat tidur mu " ucap Samuel
" Baiklah, terima kasih.. " ucap Refa
" Sama-sama.. " ucap Samuel merasa senang karena hubungannya dengan Refa semakin dekat
" Kamu juga jangan lupa makan siang.. aku tutup teleponnya " ucap Refa langsung menutup teleponnya
__ADS_1
" Apa Refa perhatian dan Peduli padaku.. akhirnya.. aku tidak akan melepaskan mu Refa kamu harus jadi milikku " batin Samuel sangat bahagia
Sementara Refa menutup teleponnya ia merasa malu bagaimana tidak ia malah mengingat Samuel jangan lupa makan siang seakan ia peduli dan perhatian pada sosok laki-laki yang membuatnya kesal kemarin-kemarin.
" Astaga ada apa denganmu Refa, kenapa malah berucap begitu, tapi kamu hanya menganggapnya teman saja.. dia pasti tidak akan berpikiran macam-macam " ucap Refa dalam hatinya.
Handphone milik Refa kembali lagi berbunyi namun kali ini yang meneleponnya adalah sahabatnya siapa lagi kalau bukan Amel. Ia segera mengangkatnya.
Kring...
" Halo " ucap Refa
" Halo Ref, aku dengar kamu sekarang lagi sakit.. kamu sakit apa?? nanti pulang kerja aku ke apartemen mu " ucapnya dengan nada khawatir
" Aku tidak apa-apa hanya demam saja " ucap Refa menyakinkan sahabatnya itu
" Are you sure " tanya Dokter Amel
" Aku sangat yakin, lagian aku sudah minum obat.. besok juga sudah kembali bekerja " ucap Refa sambil tersenyum
" Kabar Baru apa? " tanya Refa penasaran
" Ada dua dokter baru di rumah sakit ini " ucap Amel
" Oh, bagus dong kalau begitu " ucap Refa
" Ia sih bagus, tapi yang aku dengar mereka sepasang kekasih, dokter wanita itu terlihat jutek sedangkan dokter itu terlihat tampan dan ramah " ucap Amel memberikan informasi sesuai dengan apa yang dia lihat
" Apa dokter laki-laki itu Rey, tapi mana mungkin dia bekerja di rumah sakit itu,, tapi aku bertemu dengan dia kemarin disana " batin Refa
" Kamu mau tahu nama dokter itu " tanya Amel
" Ish, apa-apaan sih Refa, kenapa kamu malah berpikir yang macam-macam, kamu tidak boleh memikirkan Rey lagi.. dia laki-laki jahat " ucapnya Refa dalam hatinya
" Sudah jangan bergosip terus.. makan yang banyak, kamu harus ekstra bekerja sabar dengan dokter jutek itu " ucap Refa
__ADS_1
" Kamu benar, dia kerjaannya marah-marah terus.. kenapa dia harus satu Departemen dengan ku " ucap Amel mengeluh
" Aku tahu kamu mampu dan kuat.. jadi kamu harus semangat " ucapnya Refa memberikan suntikan semangat untuk sahabatnya itu
" Terima kasih Ref, cepat sembuh biar aku bisa leluasa bercerita padamu tentang dokter itu " ucap Amel
" Sudahlah jangan banyak bicara, habiskan makananmu dan kembali bekerja " ucap Refa tahu kebiasaan sahabatnya itu
" Baik dokter Refa sampai ketemu besok.. cepat sembuh " ucapnya menutup teleponnya
Refa meletakan Handphonenya di meja tempat dimana ia menyimpan Handphone itu sebelumnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. ia segera bangun dari tempat tidur menuju pintu apartemennya.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek,,
" Apa betul ini apartemen Dokter Refa " tanya kurir tersebut
" Ia benar " ucap Refa dengan wajah pucatnya
" Saya mengantarkan makanan untuk anda dari Tuan Samuel " ucapnya memberikan paper bag itu pada Refa
" Terima kasih ya, berapa harganya " tanya Refa
" Maf Nona, makanan ini sudah di bayar oleh Tuan Samuel, kalau begitu saya permisi " ucapnya
" Baiklah Terima kasih " ucap Refa sambil tersenyum
Kurir itu segera meninggalkan Apartemen Refa sedangkan Refa langsung masuk kedalam dan menutup pintu apartemennya kembali.
Ia membuka paper bag tersebut berisi soto ayam lengkap dengan nasi dan jus alpukat seperti kemarin ia memberikan makan siang pada Refa.
" Bahkan dia tahu makanan kesukaan ku " ucap Refa duduk di kursi meja makan
Refa langsung menyantap makanan itu, terasa enak di lidahnya itu karena rasa pahitnya menghilang tidak seperti tadi pagi. ia segera menghabiskan makanannya sampai habis. Setelah itu ia kembali ke kamarnya dan meminum obatnya yang ada disana.
__ADS_1
Rasa bosan mulai menghinggapinya ia langsung menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa bosannya.