
Refa melihat jika bayangan seseorang yang sedang mengintip dirinya ketika keluar dari ruangannya, ia tahu jika itu pasti Tia yang masih mencari sosok Rey.
Ia mengambil handphonenya dan langsung menelepon seseorang ia ingin memancing Tia untuk mengikutinya agar Rey bisa keluar dari ruangannya.
" Halo, kamu dimana " ucap Refa sengaja meninggikan suaranya
" Ada hal yang ingin aku bicarakan " ucap Rey masih meninggikan suaranya
" Baiklah, kita ketemu sekarang juga.. " ucap Refa langsung menutup teleponnya dan segera pergi dari sana.
Tia yang mendengar hal itu langsung mengikuti Refa, rencana Refa kali ini benar Tia benar-benar mengikutinya apalagi ketika sebuah mobil mengikutinya dari belakang.
" Kenapa kami harus seperti itu padaku Tia, aku bahkan sudah melepaskan Rey untuk mu " ucap Refa kini menangis sendiri di dalam mobilnya
Rasanya masih sakit entah mengapa, ia tidak tahu harus bagaimana lagi, bagaimana bisa Ibunya Rey tidak merestui dirinya padahal mereka sangat dekat dulu.
Apa ada kesalahan hingga Ibu Rey tidak menyukai dirinya atau memang mereka dulu berpura-pura menyukai dirinya. Entahlah itu masih jadi misteri yang belum di pecahkan Refa.
Sedangkan seseorang yang hubungi oleh Refa adalah Samuel, siapa lagi yang bisa membantu dirinya kalau bukan Samuel, jujur saja dia memang sedikit tertutup pada teman lelaki. Namun bersama dengan Samuel ia merasakan lebih nyaman.
Ia menghubungi kembali Samuel untuk menjelaskan kenapa dia bisa menghubunginya sekaligus meminta bantuan Samuel untuk membantunya kali ini.
" Kamu dimana, aku sudah di Cafe " ucap Samuel sambil tersenyum karena dari tadi ia menunggu panggilan telepon dari Refa, sekalinya menelepon malah meminta bertemu.
" Aku masih di jalan, kamu tunggu sebentar lagi sampai " ucap Refa
" Baiklah " ucap Samuel
" Sam, Sebenarnya aku mengajakmu ke cafe ingin mengalihkan perhatian Tia " ucap Refa jujur
Walaupun sudah membuat Samuel kecewa tapi itu bukan alasan Samuel untuk menjauhi Refa, ia justru senang karena Refa mengandalkan dirinya di bandingkan orang lain. Ia akan membantu Refa melupakan Rey salah hidupnya.
" Oh tidak masalah kalau seperti itu " ucap Samuel
__ADS_1
" Kamu tidak marah padaku " tanya Refa dengan raut wajah ragu-ragu
" Kenapa marah, kita kan teman wajar jika aku membantumu " ucap Samuel bersikap lapang dada
" Terima kasih Sam, kamu memang baik " ucap Refa merasa lega
" Aku sudah bilang jangan segan jika butuh bantuan ku, aku siap membantu mu " ucap Samuel
" Baiklah kalau begitu, kamu tunggu disana " ucap Refa
" Baiklah "
Refa langsung menutup teleponnya mencoba menetralkan perasaannya untuk tidak sedih dan menangis lagi. ia harus terlihat bahagia di depan Tia agar Dia terbebas dari tuduhan yang di lontarkan Tia.
Kini ia sudah sampai di Cafe dimana ia akan bertemu dengan Samuel dan melancarkan rencananya. ia masuk kedalam di ikuti oleh Tia tentunya.
Tia kaget ternyata yang Refa temui bukan Rey melainkan laki-laki yang tadi siang ia bertemu di Lobi rumah sakit.
" Sial, dimana sebenarnya Rey.. susah payah aku mengikuti Refa kesini aku kira dia akan bicara dengan Rey tapi malah laki-laki galak itu " batin Tia
" Kenapa dia malah mengikuti Refa.. dasar nenek lampir harusnya dia jaga tuh tunangannya itu " ucapnya Samuel dalam hatinya
Refa duduk saling berhadapan dengan Samuel. ia melihat sosok Tia keluar dari cafe tersebut. Refa tersenyum karena melihat reaksi Tia yang pergi dengan perasaan kesal.
" Kamu mau pesan apa, aku sudah pesan duluan tidak apa-apa kan " tanya Samuel
" Tidak masalah, lagian aku mau minum saja " ucap Refa
" Kenapa cuma minum, kamu baru sembuh harus makan yang banyak " ucapnya Samuel
" Makannya nanti saja " ucap Refa
" Ku melawan mereka harus punya kekuatan yang kuat, harus punya energi, kamu harus makan yang banyak, atau mau aku pesankan " ucap Samuel
__ADS_1
" Tidak usah biar aku saja " ucap Refa memanggil pelayan disana
Refa tidak mau membuat Samuel kecewa apalagi dia sudah membantu dirinya mengusir Tia secara halus. ia pun memesan makanan dan minuman.
" Biarkan aku egois untuk sekarang Refa, aku ingin lebih lama bersamamu.. " ucap Samuel dalam hatinya
" Yang di katakan Samuel benar, lagian aku juga tak enak jika menolak tawaran Samuel, biar bagaimanapun dia sudah membantu ku mengusir Tia " batin Refa
Tak lama kemudian makanan yang di pesan Refa pun datang, mereka mulai menyantap makanan mereka masing-masing. hingga makanan itu habis.
" Bagaimana, apakah mau tambah lagi makanannya " ucap Samuel
" Sudah cukup aku kenyang sekali " ucap Refa sambil tersenyum
" Oh ia kenapa Refa sampai mengejar kamu kesini " tanya Samuel membuat Refa berwajah sedih kembali
" Maafkan aku Ref, bukan maksudku membuatmu sedih " ucap Samuel yang merasa bersalah membuat Refa sedih
" Tidak apa-apa, aku harus mulai bercerita di mana yang jelas Tia memang selalu curiga padaku, apalagi aku dan Rey bekerja di rumah sakit dan departemen yang sama " ucap Refa
" Aku tahu kamu orang baik mana mungkin kamu jadi orang ketiga diantara mereka " ucap Samuel mencoba mengingatkan Refa jika dia tidak seharusnya ada di antara hubungan Rey dan Tia
" Kamu benar, aku memang tidak seharusnya tidak ada di antara hubungan mereka tapi Rey selalu mengejar ku dan berkata dia masih mencintai ku " ucap Refa meneteskan air matanya
Air mata yang sedari tadi tidak mau ia teteskan apalagi di hadapan Samuel, ia tidak mau Samuel menganggapnya cengeng.
" Lalu apa rencana mu " ucapnya Samuel memegang tangan Refa sebagai dukungan agar Refa kuat, ia tahu jika Refa juga masih mencintai Rey
" Aku tidak tahu " ucap Refa
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...