
Kini mereka sudah menyantap makanan itu sampai habis, walau yang sebenarnya menikmati makanan itu adalah Bu Rani dan Tia.
Refa hanya memakan satu piring saja karena ia merasa canggung diantara mereka. apalagi dari tadi Tia tampak mengobrol dengan Bu Rani sedangkan ia hanya diam dan memperhatikan mereka berdua.
" Lihatlah Refa bagaimana Aku dan Bu Rani terlihat akrab, aku tahu kamu iri padaku apalagi ibu sangat menyukai ku, aku ingin kamu bisa lihat kedekatan ku dengan ibu, aku harap kamu bisa berpikir ribuan kali untuk mendekati Rey, karena ibu pasti akan membela ku dan memarahi kamu " batin Tia
" Sebenarnya mereka mau apa mengajak ku kesini, mereka tampak asik berdua " batin Refa
" Bu ayo mulai bicara " ucap Tia berbisik pada Calon mertuanya itu
" Baiklah "
" Refa " panggil Bu Rani
" Ia Bu, ada apa?? " tanya Refa dengan nada sopan
" Maksud ibu membawa mu Kesini untuk membicarakan masalah Rey " ucapnya
" Masalah Rey, memangnya ada apa dengan Rey " tanya Refa bingung
" Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kamu masih cinta sama Rey kan.. Rey jadi tergoda lagi padanya Bu " ucap Tia dengan nada manjanya
" Maf Tia, aku tidak pernah menggoda Rey.. jangan asal bicara " ucap Refa
" Bu, lihat Refa itu tipe wanita kasar, barusan saja aku di bentak olehnya " ucap Tia pura-pura menangis
" Aduh drama apa lagi yang dimainkan Tia sebenarnya.. dia sepertinya mau aku terlihat jelek di depan Bu Rani " batin Refa
" Ayo Bu, terus marahin Refa, aku senang jika ibu marah karena Refa " batin Tia
" Tia kamu tenang dulu dong, ibu belum selesai bicara pada Refa " ucap Bu Rani pusing dengan sikap manjanya Tia, namu tidak bisa ia bicarakan karena ibunya Tia sahabat baiknya.
" Maafkan aku Bu " ucap Tia dengan wajah sedihnya
" Biarkan ibu bicara dengannya berdua.. " ucap Bu Rani
" Kalau ibu bicara berdua dengan Refa bagaimana ini, kalau ibu malah terpengaruh pada Refa, aku tidak bisa membiarkan ini semua " batin Tia
__ADS_1
" Tidak mau Bu, nanti dia bisa mempengaruhi ibu dengan ucapannya " ucap Tia
" Biarkan saja dia disini Bu, saya tidak keberatan " ucapnya Refa
" Lihat Bu, dia saja tidak keberatan " ucap Tia
" Baiklah tapi kamu janji tidak boleh memotong pembicaraan ibu dengan Refa " jawabnya
" Tia janji bu "
" Ibu yakin mau punya menantu seperti Tia, dia manja dan tukang ngadu, tapi itu bukan urusanku.. biarkan saja " batin Refa
" Kamu tidak akan bisa mempengaruhi ibu, aku yakin kamu dan Rey tidak akan bisa bersatu " batin Tia
" Ibu minta kamu tolong jauhi Rey " ucap Bu Rani menatap wajah Refa dengan perasaan tak tega tapi kenyataannya tidak akan berubah karena Tia dan Rey memang sudah bertunangan
" Aku tidak pernah mendekati Rey setelah kami berpisah bu " ucap Refa
" Bohong Bu, kemarin dia bertemu dengan Rey dan aku di restoran " ucap Tia
" Kalau boleh memilih aku juga tidak mau bertemu dengan Rey " batin Refa
" Tia diam, ibu belum selesai bicara dengan Refa.. kamu sudah janji barusan pada ibu " ucap Bu Rani kesal dengan sikap Tia
" Maafkan Tia bu " dengan wajah sedihnya
" Aku bahkan pergi ke negara ini sudah satu tahun lebih, semua aku lakukan agar tidak bertemu dengan Rey.. tapi Tuhan malah mempertemukan kita kembali, walau sebenarnya aku tidak mau ketemu Rey " ucap Refa dengan ekspresi sedihnya
" Sepertinya Refa tidak berbohong bisa di lihat dari raut wajahnya " batin Bu Rani
" Pura-pura sedih agar Ibu merasa iba dan kasian padamu.. dasar wanita licik " batin Tia
" Aku sudah meminta Rey untuk tidak menemui ku " ucap Refa
" Baiklah ibu percaya dengan ucapan mu, nanti ibu akan menyuruh Rey juga untuk jangan mengikuti mu lagi mulai sekarang " ucap Bu Rani
" Sepertinya aku memang tidak pernah berarti di hidupnya ibu, bahkan sekarang ibu terlihat begitu menyayangi Tia di bandingkan aku " batin Refa
__ADS_1
" Bu bisakah aku bertanya satu hal pada ibu " tanya Refa dengan raut wajah semakin sedih
" Katakanlah "
" Apa yang sebenarnya ingin di katakan Refa, Awas saja jika ucapannya malah mempengaruhi Ibu " batin Tia
" Apa alasan ibu tidak merestui aku dan Rey dulu, padahal ibu tahu aku dan Rey berpacaran sudah hampir setahun lebih tapi ke kenapa ibu mahal menjodohkan dia dengan Tia " lirih Refa
Ucapan yang sebenarnya ia tidak mau menjawabnya apalagi di depan Tia. karena alasan utama dia menjodohkan Rey dengan Tia adalah untuk balas Budi pada keluarga Tia yang selalu memberikan uang dan mencukupi keluarga Bu Rani.
Sebagai Singel Mather memang berat apalagi Rey adalah anak satu-satunya Bu Rani, ayahnya Rey sudah meninggal ketika Rey masih bayi. semua keperluan Rey selalu di berikan oleh Keluarga Tia.
Ketika mendengar jika Tia menyukai Rey dengan terpaksa Bu Rani menyuruh Rey putus dari Refa dan bertunangan dengan Tia.
Semenjak saat itu Keluarga Rey berubah derajat, mobil dan rumah semua itu pemberian keluarga Tia. Hingga sekarang saja semua baju, tas dan sepatu yang di pakai Bu Rani adalah pemberian Tia.
Bu Rani menganggap jika keluarga Refa tidak jelas karena Rey pernah bercerita jika dirinya belum pernah di ajak ke rumah Refa. Bu Rani menganggap jika Refa berasal dari keluarga miskin yang tidak mau mengenalkan mereka pada orang tuanya karena malu.
Anggapan itu di benarkan oleh Tia karena selama ia pernah jadi teman Refa, ia juga tidak pernah diajak main kerumah Refa. Semakin mengompori Bu Rani hingga akhirnya dengan terpaksa Rey memutuskan hubungannya dengan Refa.
" Bagaimana Ini, tak tega jika harus berkata kasar pada Refa, dia orangnya baik " batin Bu Rani
" Karena orang miskin " ucap Tia merasa geram karena calon ibu mertuanya itu tidak bicara lagi
" Tia diam " ucap Bu Rani
" Apa benar yang di katakan Tia, Bu?? " tanya Refa dengan wajah penasaran
" Karena ibu merasa Tia tang lebih cocok dengan Rey dalam segala hal " ucap Bu Rani
" Kenapa Bu harus Tia, apa karena dia kaya " ucap Refa dengan wajah marahnya
" ia aku memang kaya " ucap Tia dengan nada sombongnya
" Baik kalau begitu, terima kasih sudah memperlihatkan bagaimana sifat anda yang sebenarnya, aku tidak pernah menyesal putus dengan Rey.. dan katakan pada Rey tidak usah memperjuangkan cinta dia karena aku tidak mau bersama dengannya lagi,, aku permisi " ucap Refa langsung pergi dari sana
Sedangkan Bu Rani merasa bersalah karena ucapan Tia membuat Refa marah dan menangis tapi kita juga hidup harus realistis. Kehidupan tentang keluarga Refa terlalu tertutup hingga mereka berpikir jika Refa adalah anak orang miskin.
__ADS_1