
Merasa tak tega melihat Refa menangis karena hal ini, Samuel pun mengajak Refa untuk pergi ke taman yang tak jauh dari sini.
Menangis bukan cara untuk menyelesaikan masalah namun dengan mennagis bisa mengurangi beban di dalam hatinya. Samuel tak mau jika Refa menangis di sini, banyak orang yang akan melihat nanti ia dikira menyakiti Refa.
" Kamu ikut aku " ucap Samuel
" Tapi kita mau kemana " ucap Refa kaget
" Ayo ikut aku saja " ucap Samuel berdiri dan mengajak Refa pergi dari cafe itu setelah membayar makananya.
" Ayo " ucap Samuel membuka pintu mobilnya, agar Refa masuk kedalam
" Tapi Mobilku bagaimana " tanya Refa bingung
" Kamu tenang saja, biar asisten ku yang mengantarkan mobilmu ke apartemen " ucap Samuel
" Baiklah " ucap Refa masuk ke dalam mobil Samuel.
Sebelum mereka pergi terlihat Samuel mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan pada asistennya itu untuk mengambil mobil milik Refa di sebuah Cafe untuk di bawa ke apartemen Refa.
Senyum terlihat ketika Samuel sudah mengirimkan pesan itu. ia segera mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. ia juga melihat Refa tidak sesedih tadi.
Tak lama kemudian Refa dan Samuel sudah sampai di taman yang sudah banyak orang disana karena waktu juga sudah gelap mereka tampak melihat sunset disana sama halnya dengan Refa dan Samuel.
" Wah indah sekali " ucap Refa kagum dengan keindahan yang ada di hadapannya.
" Benar-benar indah " ucap Samuel sambil melihat wajah Refa
Yang Samuel maksud indah itu bukan sunset melainkan wajah Refa ketika tersenyum Mampun membuatnya kagum dan bahagia.
" Kalau kamu sedang sedih datanglah kemari, lihat semua orang tanpa senyum bahagia biasanya rasa sedih ku akan hilang ketika melihat senyum orang lain " ucap Samuel sambil tersenyum
__ADS_1
" Kau benar " ucap Refa memberikan senyuman pada Samuel
" Ga rela jika kamu tersenyum begitu pada lelaki lain.. kapan kamu bisa jadi milikku, tapi aku tidak boleh terburu-buru nanti Refa malah menolak ku " batin Samuel
" Yuk kita duduk di sana " ucap Samuel menunjuk kursi kosong yang ada disana
" Ayo " ucap Refa mengikuti langkah Samuel yang sudah duluan duduk di kursi itu
" Aku kalau rindu keluarga ku pasti aku kesini " ucap Samuel
" Oh, memangnya dimana keluarga mu " tanya Refa bingung karena Samuel tidak pernah membicarakan keluarganya
" Aku hanya punya ayah angkat ku saja dan saudara perempuan " ucap Samuel
" Lalu dimana orang tua kandung mu " tanya Refa
" Entahlah " ucap Samuel
" Ternyata sisi lain Samuel juga menyedihkan, kasian juga dia bagaimana pun dia juga pasti merindukan keluarga kandungnya " batin Refa
" Untuk apa, hanya akan menambah luka di hatiku saja, mereka membuang ku di panti asuhan lalu kenapa aku harus mencari mereka keberadaan mereka saat aku sudah besar begini " ucap Samuel dengan nada marah
" Biar bagaimanapun mereka keluarga mu " ucap Refa
" Apa mereka pernah menanyakan keberadaan ku, apa mereka peduli jika aku hidup atau mati.. " ucapnya Samuel menahan rasa sakit hatinya
" Maafkan aku sudah membuatmu sedih, aku tidak bermaksud " ucap Refa
" Tidak masalah, memang selama ini aku ingin mengungkapkan kemarahan ku pada mereka " ucap Samuel
" Kamu orang yang kuat, kalau di posisi seperti mu aku mungkin tidak akan sekuat itu " ucapnya Refa merasa sedih melihat raut wajah Samuel yang tampak meneteskan air matanya
__ADS_1
" Refa bolehkah aku memeluk mu " ucap Samuel
" Bagaimana ini, rapi aku merasa kasian juga pada Samuel.. " ucap Refa dalam hatinya
" Baiklah " ucap Refa sambil tersenyum
Samuel langsung memeluk Refa setelah mendapat ijin, disana ia meluapkan emosinya. Rasa sakit hati yang di rasakan Refa tidak sebanding dengan rasa sakit Samuel semala ini.
Bagaimana ia harus hidup dengan ayah angkatnya, bagaimana ia menjalani hidup yang keras ini, untungnya ia mempunyai ayah angkat yang menyayangi dia sehingga apapun yang ayah angkatnya minta pasti ia lakukan seperti mengelola perusahaan milik keluarga ayah angkatnya
Ia menjadi murid yang pintar dan beberapa kali mendapatkan penghargaan atas pendidikannya, ia lakukan itu untuk membuat sang ayah angkat bangga.
Beda halnya dengan orang tua kandung Samuel yang terlihat tampak tidak peduli padanya. ia sudah mencari tahu bagaimana dia bisa berada di panti asuhan.
Ibu panti hanya mengatakan jika dulu ia menemukan Samuel dalam keranjang bayi bersama susu dan beberapa baju, Samuel di temukan di depan pintu Panti Asuhan.
Setelah ia menyelidiki siapa orang tuanya ternyata dirinya hanya anak yang dilahirkan tanpa ikatan pernikahan. Ibu dan ayah kandungnya memiliki hubungan tanpa restu dari keluarga mereka.
Awalnya mereka memperjuangkan cinta mereka namun setelah Ibu Samuel hamil, laki-laki itu malah menikah dengan wanita lain, ibu kandung Samuel marah lalu memtuskan untuk meninggalkan Samuel bayi di panti asuhan lalu ia menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya.
Refa bisa merasakan kesedihan ketika Samuel menangis dipelukkan Refa. Sosok yang di kenal galak ternyata punya sisi sangat menyedihkan dalam hidupnya.
Refa mengusap punggung Samuel seakan menenangkan Samuel untuk tidak sedih lagi.
" Kamu laki-laki kuat.. sudah jangan menangis, masa ia laki-laki nangis " ucap Refa membuat Samuel terdiam ia ingat jika memang laki-laki tidak boleh menangis apalagi di depan Refa
" Sial, bagaimana kalau Refa malah benci padaku gara-gara aku nangis " batin Samuel
" Kenapa diam " tanya Refa bingung
Samuel mempererat pelukannya, niatnya hanya ingin menghapus air matanya dahulu agar Refa tidak melihat wajahnya yang berlinang air mata.
__ADS_1
" Kenapa aku nyaman ketika dipeluk seperti ini oleh Samuel.. ah aku nyaman karena dia teman baikku sekarang " batin Refa
" Tunggu Bisa memeluk Refa seperti ini bahagia sekali.. rasanya nyaman dan tak mau lepas, tapi bagaimana kalau Refa malah marah padaku " batin Samuel