
Dokter Amel masih di ruangan Refa mereka mengobrol sambil memakan makanan yang tersedia di atas meja, makanan itu adalah makanan gratis yang di bawakan Rey dan Samuel.
" Terima kasih ya Refa berkat kamu aku kenyang.. oh ia aku sebenarnya kesini ingin menanyakan seorang pasien yang sepertinya kenal dengan mu " ucap Amel membuat Refa heran
" Pasien kenal dengan aku?? siapa lagi semoga saja tidak berulah seperti Samuel dulu " ucap Refa mengingat bagaimana dulu Samuel yang rewel ingin di periksa olehnya
" Sepertinya tidak, namun dia tampaknya menyukai mu " ucap Amel
" Menyukaiku, kamu lucu aku juga tidak kenal dia, mana mungkin dia menyukai ku " ucap Refa
" Tapi dia memaksa ingin bertemu dengan mu tadi " ucap Amel
" Sebenarnya siapa orang yang di katakan Amel " batin Refa
" Apa benar Refa kenal dengan Pasien itu dari ucapan Refa sepertinya emang Refa tidak mengenali dia " batin Amel
" Sudah lah jangan banyak berpikir, cepat kembali ke pekerjaan mu, waktu makan siang sudah selesai " ucap Refa
" Baiklah kalau begitu, aku pamit " ucap Amel sambil tersenyum
Amel segera pergi dari ruangan Refa menuju ruang inap memeriksa keadaan pasien yang ada disana. sedangkan Refa kembali lagi ke ruang operasi untuk mengoperasi pasien yang sudah di jadwalkan.
.
...****************...
.
Keadaan Kevin sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, infusannya juga sudah habis namun ia tidak mau pergi dari rumah sakit ini ketika Dokter Amel berkata jika dirinya sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit ini.
" Tuan, setelah saya mengecek keadaan anda barusan hasilnya sudah bagus, anda sudah sehat dan bisa keluar di rumah sakit, saya hanya akan memberikan vitamin untuk anda untuk menjaga membantu tubuh Anda saja " ucap Amel sambil tersenyum
" Apa kata dokter aku sembuh, dokter pasti salah tubuhku masih lemas dan kepala ku pusing " ucapnya pura-pura sakit kembali agar dia tidak pulang dari rumah sakit ini
" Tapi Tuan " ucapnya
" Cepat kamu periksa lagi saya, hasil yang barusan pasti salah " ucap Kevin
__ADS_1
" Apa-apaan ini, ini pasti akal-akalan dia saja yang tidak mau meninggalkan rumah sakit " batin Amel
" Saya mau pindah kamar, ke kamar VVIP " ucapnya
" Maf Tuan.. " ucap Amel terpotong
" Saya ingin menginap disini, keadaan saya belum sembuh, yang tahu tubuh saya sembuh itu saya sendiri " ucap Kevin dengan tatapan marah
Tanpa sengaja ucapan marah Kevin terdengar di telinga Tia yang sedang berjalan melintasi ruangan Kevin.
" Wah, Amel sepertinya sedang ada masalah, biar aku memperkeruh masalahnya agar dia semakin kesulitan, siapa suruh dia jadi orang yang menyebalkan " batin Tia
Tia masuk kedalam ruangan Kevin, ia Melihat sosok Amel yang sedang di marahi oleh Pasien, ia segera menghampiri mereka dengan senyuman jahatnya.
" Siang Tuan, ada apa ini saya barusan mendengar keributan disini, maaf Tuan ini rumah sakit bisakah kecilkan suara anda " ucap Tia sambil tersenyum
" Datang nenek sihir.. pasti dia akan memperkeruh keadaan sungguh membuatku emosi tapi aku harus menahannya " batin Amel
" Maafkan aku dok, habisnya dia tidak mau menuruti keinginan ku " ucap Kevin
" Maafkan saya Tuan, Ini rumah sakit kami hanya menangani pasien yang sakit bukan pasien yang sudah sehat seperti anda " sindir Amel
" Wah, Tuan tampan ini sepertinya kaya.. tapi sayangnya di hatiku hanya ada Rey seorang " ucap Tia dalam hatinya
" Bisa Tuan, nanti saya bantu mencarikan ruangan " ucap Tia melihat kearah Amel dengan senyuman liciknya
" Malas rasanya berhubungan dengan nenek sihir ini, lebih baik aku pergi saja " ucapnya Amel dalam hatinya
" Karena Tuan Kevin senang dengan dokter Tia, saya pamit.. permisi.. Dokter Tia,, Tuan Kevin sekarang menjadi tanggung jawab mu.. saya permisi " ucap Amel dengan wajah marahnya pergi dari ruangan itu
" Oh, baiklah Dokter Amel.. " ucap Tia senang
Ini salah satu sifat Tia yang tidak di sukai oleh dokter lain seperti Amel, sifatnya yang sombong dan sering cari muka membuat dia dijauhi oleh karyawan lain disana.
" Dokter Tia secepatnya kamu harus Carikan aku ruangan yang nyaman " ucap Kevin
" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi untuk mencari kamar kosong untuk anda " ucapnya
__ADS_1
" Silahkan.. "
Dengan wajah senang Kevin merasa lega karena dirinya bisa tinggal di rumah sakit ini lebih lama, dia tinggal mencari alasan untuk bertemu dengan Refa nanti.
Sedangkan Tia kini sedang menghubungi pihak administrasi jika pasien atas nama Kevin meminta inap kamar dengan pelayanan VVIP yang kosong.
Setelah berdebat lama dengan pihak administrasi akhirnya ia bisa mendapatkan kamar kosong VVIP untuk pasien tersebut. Tia membantu Kevin karena ia ingin mempermalukan Amel namun ternyata ia di buat pusing juga karena permintaan kamar inap VVIP tidak semudah yang ia kira.
Setelah mendapatkan kamar tersebut Kevin di bawa oleh para suster di bawa keruangan pasien tentunya Kevin bahagia karena ini rencananya agar ia bisa sering bertemu dengan Refa.
" Aku sudah mendapatkan ijin kamar ini susah payah dan akhirnya aku bisa mendapatkannya, bagaimana hebat kan aku " ucap Tia dengan bangganya
" Ya, kamu cukup hebat " ucap Kevin tampak tidak memperdulikan Ucap Tia
" Kami tidak berterima kasih padaku " protes Tia
" Ah ia terima kasih " ucap Kevin
" Cih, Kenapa dengan pasien ini, untung kamu ganteng kalau kamu jelek mana mau aku bantu " batin Tia
" Dokter ini lebih cerewet di bandingkan dokter Amel, kalau bukan dia yang bantu aku malas ngomong sama dia " batin Kevin
" Kalau begitu kamu istirahatlah kalau ada apa-apa pencet saja tombol ini " ucap Tia menunjuk pada tombol emergency
" Tapi tunggu aku bisa manfaatkan dia agar bisa dekat dengan Refa " batin Kevin
" Tunggu " ucap Kevin
" Ada apa lagi " ucap Tia
" Apa kamu kenal dengan Dokter Refa " tanya Kevin
" Jadi dia juga kenal Refa, ini saatnya aku jelek-jelekin Refa biar semua orang membencinya " batin Tia sambil tersenyum licik
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...