
"siapa yang melakukan ini,,???" jerit adiba dengan nada marah. matanya membulat sempurnah seperti singa lapar yang akan memakan mangsanya.
tak ada satupun yang menjawab,, diam... sunyi... hanya itu yang terlihat diruangan itu, padahal diisi oleh banyak penjaga dan para sandera yang lainya.
adiba kembali melihat kearah seorang anak yang bersimbah darah ditubuhnya, yang sudah tergolek lemah tak berdaya dilantai. ia terduduk memegang dak memeluk bocah tersebut dengan sejuta sesal yang melanda. adiba menangisi kematian bocah malang itu, emosi yang mulai tumbuh dan berkembang memgobarkan api amarah yang tak dapat terpendam. semua orang yang ada di dalam ruang itu merasakan ketakutan, begitupun dengan para pemberontak itu.semua pengawal yang ada didalam ruang itu mengangkat senjatanya menghadap ke arah adiba, dengan sedikit gemetar.
" kalian akan merasakan akibatnya karena tak menuruti omonganku.." adiba berkata sambil memelototi lawannya satu per satu.
tak ada yang bisa memadamkan api kemarahan yang berkobar di diri adiba, ia kembali melihat tubuh bocah kecil yang bersimbah darah dihadapanya. kemarahanya membuat akalnya tertutup, ia langsung menganggkat senjatanya yang disimpa itu dan langsung menembakkan ke semua sisi penjaga yang ada di ruang itu.
kecepatan dan keakuratan tembakan yang adiba arahkan membuat para penjaga itu roboh tak bernyawa. karena menembus ke titik titik fatal tubuh masing masing dan kini tinggalah sang ketua kelompok yang tak bisa lagi berkutik, wajah emosi yang diperlihatkanya pada orang itu, serta mata tajamnya yang langsung menusuk ke musuhnya itu membuat sang musuh bergidik ngeri.
adiba yang diliputi kemarahanpun berjalan mendekat kearah ketua GPK itu sambil menodongkan senjatanya dan berkata
" kau...!! sudah aku bilang jangan sampai menyakiti anak anak! jangan sampai ada pertumpahan darah tetapi kenapa hanya gara gara menangis kalian tega membunuh anak tak berdosa..!!!" (menjerit beringas)
ketua GPK hanya bisa mundur gemetar melihat adiba yang hanya seorang wanita bisa berubah menjadi singa ganas yang siap memangsa lawan.
adiba trus maju perlahan, sampai tak ia sadari ada satu penjaga yang baru menyusup ke ruangan tersebut dan mencoba ingin menembak dirinya. tetapi ada seorang guru muda yang melihatnya, tembakan itu melesat diiringi dengan seorang guru muda yang melihat penjaga tersebut melepaskan arah tembakanya.
tidak menunda waktu sang guru muda berlari mngejar arah tembakan dan didapati arah tembakan tersebut mengarah ke adiba.sang guru bergegas lari langsung beranjak menerpa adiba bagai hewan yang mendapatkan mangsanya. ia melompat ke arah adiba langsung memeluk dan jatuh berdua ke lantai. peluru tembakan itu meluncur dan singgah di ujung bahu sang guru yang menangkap adiba, mereka terhempas ke lantai dimana adiba yang berada di bawah sang guru.
adiba terkejut dengan seseorang yang tetiba menerbab tanpa persetujuan dan mereka berdua berguling di lantai.
__ADS_1
mata adiba beradu pandang dengan sang guru muda itu, ia memandang adiba dan tersenyum,
hingga tak lama kemudian matanya pun sayup sayup terpejam. sang guru pingsan karena syok dengan tembakan itu.
adiba kaget bukan kepalang karena tiba tiba ada yang datang menerbabnya hingga berguling. masih saling adu tatap, adiba yang memegang pundak guru itu tersadar ada yang menetes dari atas pundak lelaki itu. adiba meraba bahu pria itu dan mendapati luka tembak di situ.
terkejut... itu yang adiba rasakan.
ketua GPK itu memanfaatkan peluang tersebut untuk lari dari ruangan, ia pun menghilang bersama penjaga itu.
adiba yang tersadar dengan penembak itu langsung mengarahkan tembakan itu ke arah sipenembak tadi, dan ternyata gagal karena sang pengawal itu sudah lari bersama sang ketua GPK dan menghilang.
adiba yang mendapati sang guru pingsang mengangkat badan sang guru dari atas badanya dan membalikanya kelantai kenudian menghubungi tim medis.
disisi luar gedung aryan dan pasukan melumpuhkan para pengawal diluar dan berhasil mengepung kawasan itu dengan baik. semua pasuka masuk kedalam dan mulai menyisir satu persatu gedung sekolah itu.
adiba yang mendengar kabar bahwa situasi aman bernafas lega, ia menghempaskan badanya yang setengah duduk ke lantai dengan sedikit berurai air mata, ia sedih karena ada korban dalam penyekapan itu, dan merasa senang karena para sandera dapat terselamatkan, dan melirik seorang guru muda yang pingsan telah menyelamatkanya dari tembakan.
terdengar suara sepatu boot yang berlari memasuki ruangan yang menuju kearah adiba, seorang pria berlari menuju adiba dan memeluk tubuhnya yang terduduk lemas. hangatnya pelukan yang menenangkan bagi adiba, sedikit membuat lega hatinya yang merasakan kesedihan. adiba menumpahkan tangisanya dipelukan aryan, aryan hanya diam sambil sesekali mengusap punggung adiba agar bisa sedikit tenang.
" zahrah... tenanglah.. mereka sudah selamat." bisik aryan
adiba hanya membalas dengan anggukan didalam dekapan aryan
__ADS_1
"sekarang.. berhentilah menangis, ayo kita selesaikan tugas kita mengamankan semuanya, kita masih punya tugas yang lain karena siketua itu melarikan diri."
" iya... sebentar saja..." jawab adiba
dari luar semua tentara dan rey masuk ke dalam ruang untuk membawa para sandera, semua sibuk dengan tugasnya masing masing. rey bergegas mencari atasanya itu, dengan muka cemas ia mencari keberadaan adiba, rey memasuki ruangan tersebut ingin melihat keadaan adiba, ia terus menelisik keramaian yang ada dan dapat, terlihat olehnya seorang yang ia cari, mukanya berubah muram, sebuah keterlambatan dan sedikit kecemburuan melihat orang yang disukaianya dipeluk orang lain, lagi lagi ia tertinggal oleh aryan. rey pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan sedikit kekesalan dan memerintahkan orang lain untuk mengurusi para sandera yang sdah selamat rey menghilang dari kerumunan orang orang dan mengerjakan tugas yang lainya.
tim kesehatan datang kedalam ruang itu membawa guru muda yang tertembak.
semua orang habiss,, bersih tak ada lagi orang yang bersisa di dalam ruang itu,, hanya ada adiba dan aryan yang belum beranjak dari situ.
sudah mlam aryan mendekap adiba, dan aryan merasa kalau adiba sudah tenang,
" zahrah ayo kita pergi dari sini.! kau sudah terlalu lama didekapku, apa kau tidak capek?" goda aryan
adiba mengangkat wajahnya dan menatap aryan, terlihat muka sembab karena tangisan tadi yang membuat aryan sedikit tertawa dan timbul niat untuk menjahili adiba.
" waahh... beginikah seorang letnan yang ditakuti dan disegani orang bermuka sembab dan sangat lucu"
adiba yang terkejut mendengar kejahilan aryan pun tersadar dan berkata
" kau sungguh mengejekku..??" sambil memibcingkan matanya sebelah
" sudah sudah ayo kita pulang ke markas dan beristirahat, masih banyak yang harus kita lakukan" ucapanya menggantung membuat adiba merasakan keanehan
__ADS_1
" sudah... aku tau yang kau fikirkan... ayo kta pulang.." kembali aryan mengajak pulang adiba
mereka berdua pun beranjak dari dalam ruangan itu dan pulang ke markas mereka.