
dimeja makan
" bu..." panggil bapak seraya ingin membuka percakapan. sang istri sedang mencidukkan nasi kepiring suaminya beserta lauk sarapan pagi.
" hmmm.. apa yah..?" sahut ibu
" MMM.. Arman baru saja pergi bu.. mendadak dia dapat telpon dari atasannya untuk melakukan perjalanan dinas bu, dan tak sempat berpamitan denganmu" ucap ayah sedikit gugup dan mencoba menutupi kegelisahan yang dirasakanya
" hmmm... anak itu sesibuk apapun dia alangkah baiknya memberitahuku terlebih dahulu baru pergi. " gerutu sang ibu.
sang suami tidak menyadari kalau istrinya sdah mengetahui kabar itu, setelah mendengar tangis dari sang putra tadi. kembali ia menguatkan dirinya agar tidak menjadi beban keluarganya karena sang istri sadar bahwa mereka sedang dilanda kecemasan yang sama yaitu kehilangan sang putri dan seorang adik yang sangat disayangi oleh kakaknya.
sekelebat kenangan tetang ia yang tidak setuju dengan keinginan sang putri yang ingin masuk ke dunia kemiliteran sangat tidak disetujui oleh sang ibu. karena ibunya takut... takut terjadi sesuatu kepada putrinya dan sang anak tidak kan bisa bertemu dengannya lagi dan sekarang sedang terjadi. kecemasan itu..!!
flash back on*
" ibu... aku lulus...." ucap adiba gembira saat pulang kerumah mencari sang ibu.
" lulus..? emang kamu ikut tes apa?" Tanya ibu
" iku lolos dalam tes tentara bu.. sekarang aku resmi jadi prajurit angkatan darat bu.." seru adiba bahagia
seketika sang ibu merasa kecewa. bukan tak merestui kenginan sang anak tetapi takut kehilangan.
" ibu.. kok diam.. apa ibu masih tak merestui keinginanku.. cita cita ku..? " tanya adiba dengan mimik muka sedih hampir meneteskan airmata.
" ibu hanya takut akan kehilanganmu nak.. karena menjadi prajurit tidaklah mudah. apa lagi kau yang sangat ambisius.." ungkap sang ibu
" Ibu... adek sudah besar bukan lagi gadis kecil, aku ingin meraih cita citaku bu... dengan restu yang ibu berikan insyaallah dimanapun aku berada. pasti selalu dalam lindungan yang maha kuasa, karena doa seorang ibu itu yangvpaling diijabah terlebih dahulu" ucap adiba sambil memeluk ibunya
__ADS_1
sang ibu hanya menganggukkan kepalanya seraya meng aminkan kata kata putrinya itu.
* flash back off
ingatan itu, membuat sang ibu memunajatkan doa kepada sang penguasa hidup agar putri kecilnya bisa ditemukan dengan keadaan selamat.
disamping itu ia tetap harus menutupi kesedihanya dihadapan suaminya, menghilanhkan kecemasan yang sedang melanda suaminya.
pagi itu tak ada lagi yang menikmati sarapan dengan hikmat dan nikmat. sekarang semua terasa hampa bagaikan hamparan kosong yang tak berpenghuni. raganya ada tetapi fikiran mereka menjelajah ke dunianya masing masing yang sedang berputar putar di dunia fikiranya sendiri.
tidak ada ada yang tahu apa yang sedang masing masing bayangkan,sedangkan nasi yang sedang berada di hadapanya sudah menjadi acak acak bak bekas makanan yang entah seperti apa rupanya.
KOTA B
pasukan aryan yang bru saja mendarat pukul 05.30 pagi. mereka dikejutkan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan yang telah dialami oleh kota B.
setetes bulir bening menetes dari kelopak mata tajam seorang aryan.. yah.. begitu miris fikirnya.. baru beberapa hari yang lalu ia meninggalkan kota ini. dalam waktu semalam sudah tersapu bersih tak ada lagi yang terlihat berdiri diatas dataran kota ini.
kembali kesedihan itu merasuki relung hatinya saat menyadari kekasih hatinya juga ikut terseret oleh arus kuat itu. perih bahkan tak bisa dipungkiri kakinya mendadak lemas dan ia pun terjatuh dengan dengkulnya yang menginjak pasir tersebut. ia menunduk dan menangis sejadi jadinya melihat kenyataan yang tak terbayangkan olehnya bahwa ia tidak bisa lagi melihat sang pujaan hati. ia menundukkan kepala, menekan dadanya berulang kali, entah menahan sesak yang sangat menyiksa bahkan seperti kehabisan nafas.
salah satu prajurit aryan melihat iba terhadap captenya, karena baru ini mereka melihat sang capten terlihat rapuh dan menyedihkan. mereka membiarkan sejenak sang capten meratapi kesedihanya dan setelah beberapa menit datanglah wakil aryan dan menepuk pundakknya.
" capten..." sapa wakil arya yang bernama sapta
"hik hik..." masih dengan air mata yang basah
" capten... hentikan kesedihanmu, kita harus melakukan pencarian secepatnya. semoga letnan adiba masih selamat. untuk itu kita harus melakukan pencarian secepatnya." ucap sapta
" apakah masih ada secerca harapan buat kita? apa masih ada kesempatan bagiku untuk melihatnya lagi?" ucap aryan prustasi.
__ADS_1
" ini bukanlah seperti capten yang selama ini aku banggakan! " ucap sapta
aryan menoleh padanya dengan muka emosi
"capten..! bangun tegakkan dirimu, ayo kita cari secerca harapan itu.. walaipun setitik cahaya saja masih dapat menyinari kegelapan, kita masiha ada tuhan yang melindungi kita dari apapun. capten harus kuat"
sementara itu. ia mengingat kenangan dulu saat aryan yang tak terlalu pandai juga malas. sedang mendapatkan nilai yang jelek di sekolah dan dimarahi oleh sang ayah.
flash back on.
" kau kenapa put? tanya adiba ( kecil 10th)
" aku habis dimarah papa karena mendapatkan nilai jelek disekolah.. sambil sesikit menangis jengkel karwna habis di marah sang ayah
" hhmmm... pantes lah kamu kena marah.. kamu kan malas...!!" ucap adiba
" kau.. sedang menghiburku atau mengejekku. kalau mau mengejekku pergilah aku tidak butuh biarkan aku sendiri.." ucap aryan kesal karena merasa diejek oleh adiba
" hi hi hi.. gitu aja marah.. kau seharusnya berterimakasih pada ayahmu karena menegurmu mendapat nilai jelek. jadikan motivasi agar besok nilaimu tidak lagi jelek dan ayahmu bangga. terus bersedih tidak akan mendapatkan apa apa. lebih baik berusaha agar mendapatkan hasil maksimal dari pada mengeluh kesal karena dimarahin." ucap adiba menasehati aryan
aryan menoleh pada adiba dan menatap kedua bola mata adiba. dan adiba pun melanjutkan nasehatnya. " masih ada harapan walau hanya setitik cahaya yang menerangi ruang gelap kita masih tetap bisa berjalan menyusuri ruang gelap itu. begitupun kau kalau mau serius belajar pasti bakal cerdas, aku pasti dapat kau kalahkan " ucap adiba memberi pikiran positif kepada aryan.
aryan pun tersenyum dan mencubit pipi gemas adiba." terimakasih kau telah memberiku harapan. aka ku coba meski hanya dengan sekecil apapun. aku akan berusaha memperbaiki nilaiku dan menjadi orang yang kuat dan punya kemampuan. " ucap aryan
adiba tersenyum memandang teman kecilnya itu dan berbicara dalam hati." aku ingin seperti ini selamanya, bersamamu " ucap aryan dalam hati
Flash back off
aryan menegakkan kepalanya dan mencoba menghibur diri, dengan sekuat tenaga untuk bergerak segera melakukan operasi pencarian orang orang yang hilaang tersapu oleh sang ombak raksasa..
__ADS_1