
" naah itu dia ruanganya.." ucap dokter cantik itu.
capten aryan pun menolehkan kepalanya kearah ruang yang ditunjuk oleh dr.nana, ia pun melihat arman sedang ngobrol dengan seorang dokter, percakapan yang twrbilang serius karena dokter tersebut juga seorang dokter ahli. hanya saja dia masih asistenya dokter randi.
" hai dokter willy.. kok sendiri dokter randi mana?" sapa dr.nana, ia mengedarkan pndanganya hingga kepintu ruangan icu unyuk mencari dr. randi.
" ooh... tadi beliau sudah disi, karena dia sedang ada urusan yang sedikit darurat, jadi dua pergi dulu. kita diminta untuk menunggunya sebentar dsini. mungkin 30menit lg ia akan kembali kesini" ucap dr.willy
" mmm.. begitu.." jawab dr. nana.
" bang..." sapa aryan kepada arman sambil memeluknya karena sudah agak lama mereka tak bertemu, aryan menangkap pandangan heran dari sang ipar, ia pun berbisik dan menjelaskan
" jangan salah sangka bang, dia bukan pacarku dia hanya teman sudah seperti adik buatku, saya hanya mencintai dia bukan wanita lain"
arman langsung tertaawa dan menepuk pundakknya ia pun menjawab aryan" saya sudah iklas jika kau ingin mencari yang lain, karena adikku tidak mungkin kembali. "
" tidak bang.. dia pasti akan kembali, kita bahas nanti setelah pemeriksaan ibu selesai" ucap aryan tegas
" eheemm.." cegat dr.nana
" sepettinya serius sekali sampai saya mrrasa diabaikan.."
aryan pun menoleh dan memperkenalkan dr.nana kepada arman.
" bang arman ini dr.nana temanku"
" nana ini abang saya komandan arman" ucap aryan mrmperkenalkan mereka berdua
arman merasa senang karena ia melihat kembali gadis cantik yang pernah menggetarkan hatinya setahun yang lalu
" eeemmmm.... s3pertinya kita pernah bertemu...!" ucap dr.nana
" aahh.. ternyata anda mengingatnya juga.. kita pernah bertemu pasca tsunami di kota b.
" waaah... sebuah kebetulan atau jodoh ne..." celetuk dokter willy yang sengaja untuk meramaikan pembicaraan.
__ADS_1
semuanya tertawa bersama dengan kebetulan yang terjadi.
tetapivarman menangkap tatapan dr.nana yangvtakbpernah lepas dari mwmandang arman membuatnya sedikit terbakar cemburu. tapi rasa itu ditekanya dalam dalam karena ia tahu sang adik iparnya itu sangan mencintai adiknya.
ada tanda tanya besar dihati arman akan cerita yang akan disampaikan aryan tadi. karena masih harus mengurus ibunya ia pun bersabar dengan rasa ingin tahunya setelah pemeriksaan ibunya selesai.
30 menit sudah berlalu mereka lewati dengan berbincang hangat tanpa ada kecanggungan diantara mereka. yang ditunggu pun ahirnya muncul, dokter randi tiba dan memasuki ruang icu.
"maaf menunggu lama?" sapa dr.randi basa basi
semua yang berada diruang itu berdiri. dan lagi lagi aryan dan randi saling pandang(" kita bertemu lagi??) ucap kedua insan itu dalam hati.
" aah.. tidak masalah dok, kami tahuvanda pasti sangat sibuk" jawab arman
aryan yang bingung menoleh ke dr.nana , dr.nana membaca raut bingung dari sang capten.
" dia dokter randi bang.. kepala rumah sakit ini dan juga dokter yang akan menangani pasien ini" aryan pun mengerti.
dr. randi masih dalam lamunannya " takdir apa ini,,? kenapa saya tidak bisa lepas dari laki laki ini"
" aahh.. iya.. sejauh ini bagai mana keadaanya.." tanya dr. randi
" masih seperti biasa dok. seperti sedang tertidur.semua tanda fitalnya baik. hanya saja karena dia sudah tua jadi agak mengalami kelumpuhan. beberapa sistem sarafnya mulai mati." penjelasan dr.nana membuat aryan dan arman terkejut.
" siapa keluarganya...?"
" saya dok.. " ucap arman
" begini pak... kondisi ibu ini sebenarnya baik baik saja, hanya saja keinginannya untuk membuka matanya belum ada. dan ini berdampak pada sistem saraf ibu yang mulai mati karena sdah lama tak bergerak."
" jalan satu satunya hanyalah menumbuhkan rasa ingin hidupnya, agar ia bisa membuka matamya. setelah itu baru menormalkan kembali sistem saraf yamg mulai kaku dengan terapi."
penjelasan dr.randi membuat arman terduduk lesu, karena ia tahu ibunya begini karena kehilangan anak perempuan satu satunya yang sangat ia sayangi.
" saya mohon pamit pak.. semoga saja ada keajainan buat si ibu." ucap dr. randi dan bergegas keluar bersama kedua dokter yang mendampinginya.
__ADS_1
" kami pamit dulu.. kalau ada apa apa jangan sungkan untuk menghubungiku." ucap dr randi sebelum meninggalkan ruangan itu.
" bang .. saya pamit.. masih ada pasien yg hsrus saya urus.." pamit dr. nana
" ya..." jawab aryan
arman tak dapat berkata apapun, ia masih terduduk lesu setelah ketiga dokter itu keluar dari ruangan itu.
" bang..." panggil aryan sambil menepuk punggung arman
" ada apa.." tanya arman
" saya ingin mengatakan sesuatu. tapi sebelum saya bercerita saya ingin bertanya satu hal.
" apa itu?" tanya arman
"apa abang yakin kalau adikmu sudah meninggal atau masih hidup???"
pertanyaan itu menyentak diri arman, rasa sakit akan kehilangan adiknya menyeruak kembaki dan ia pun menangis...
" entahlah... sampai sekarang pun jasadnya belum ditemukan atau memang sudah hancur lebur, karena ini sudah setahun lebih.. kabar darinya pun tak ada.." jawab arman gelisah
" bagai mana kalau dia masih hidup..??"
tanya aryan lagi
arman langsung menoleh kpada aryan dan berkata" apa maksudmu..??!"
" sebenarnya...." ucap aryan menggantung, sedikit ragu
arman masih menatap penasaran akan apa yang dikatakan aryan.
" sebenarnya... mungkin dia masih hidup..!!" ucap aryan tanpa ragu lagi, dengan jelas ia perlihatkan kesungguhan dalam mengungkapkan semua itu.
" apaaaa..??"
__ADS_1