Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Sumpah Pramuka


__ADS_3

Washington DC.


Usai makan pizza, Antonio dan Savrinadeya pun menikmati acara jalan-jalan siang mereka. Meskipun Antonio masih berusaha belajar bahasa isyarat, keduanya bisa berkomunikasi meskipun sering butuh waktu karena pria Italia itu masih suka salah posisi jarinya.


Nggak gitu bang. Jarinya seperti ini. Savrinadeya menunjukkan susunan jari untuk membuat satu kalimat.


Keduanya kini berada di taman kota Barnard Hill yang hijau dan segar udaranya. Banyak para penduduk Washington datang kemari hanya untuk berjalan-jalan, piknik atau membawa anjing mereka ke taman anjing yang terdapat disana.


Antonio sendiri sudah mempersiapkan kain piknik dan tadi usai dari restauran pizza, mereka memutuskan untuk ke restauran Jepang guna membeli beberapa kotak sushi, bento dan beberapa minuman untuk acara piknik.


"Deya, soal teman sekamar kamu... Apa bisa kamu mencari kamar asrama lainnya? Terus terang Abang takut kalau bocah itu nekad. Kamu kan tahu sendiri bagaimana labilnya anak remaja?"


Bang Antonio bilang aku juga labil?


"Lho kan biasanya. Kalau kamu Abang yakin berbeda. Kamu itu peraduan Oom Rama dan Tante Astuti."


Maksudnya gimana?


"Oom Rama itu kalem tapi mematikan..." ucap Antonio sambil memperagakan gaya Rama yang cool dengan tatapan matanya yang tajam.


Savrinadeya tertawa melihat Antonio meniru gaya ayahnya. Pria Italia itu posisinya sedang tiduran miring menatap Savrinadeya yang duduk dengan tatapan mesra membuat gadis itu memerah wajahnya.


Abang kenapa lihatinnya seperti itu? Tanya Savrinadeya sambil mengambil sushinya.


"Melihat ciptaan Tuhan yang membuat Abang berdesir jantung setiap memandang kamu.."


Savrinadeya yang hendak memasukkan sushi ke mulutnya terkejut dengan rayuan Antonio. Bang, rayuannya receh banget.


Antonio melongo. "Hah? Masa sih?"


Savrinadeya tertawa. Memang receh.


"Kamu kok gemesin dan nyebelin Deya. Aku tuh serius, sumpah Pramuka..."


Gadis itu semakin tertawa melihat wajah manyun Antonio yang semakin menunjukkan ketidaksinkronan antara usia dan sikapnya.


Antonio sangat menikmati kebersamaan dengan gadis berwajah ayu blasteran Inggris Indonesia itu.


"So Deya. Apa yang kamu lakukan ke teman sekamar kamu?" Antonio menatap Savrinadeya concern.


Tenang saja bang. Aku sudah punya rencana.


Mata coklat Antonio terbelalak. "Savrinadeya! Apa yang kamu rencanakan?"


Savrinadeya hanya tersenyum misterius.


"Ya Ampun, Deya. Kamu itu benar-benar cucunya Opa Arjuna. Kalem tapi menghanyutkan kalau soal merencanakan sesuatu." Antonio memegang tangan Savrinadeya. "Abang tahu, Abang dibilang melangkahi Oom Rama tapi kalau kamu mau pindah, Abang bisa Carikan apartemen buat kamu tinggali daripada kamu harus sekamar dengan cewek tidak tahu malu itu!"

__ADS_1


Savrinadeya menggelengkan kepalanya. Tidak usah bang. Deya masih ada Daddy dan terimakasih sudah perhatian dengan Deya.


Antonio mengangguk. "Habis ini kita kemana Deya? Pulang atau masih mau jalan-jalan lagi?"


Pulang saja bang. Besok Minggu, mau tidak menemani Deya ke perpustakaan?


Antonio menatap Savrinadeya bingung. "Perpustakaan? Deya sayang, hari begini kamu masih ingin ke perpustakaan? Penuh buku?"


Deya mengangguk. Aku suka bau buku, bau kertas dan silencenya. Aku memang tidak bisa mendengar, bang tapi perpustakaan membuat aku tenang selain membaca buku di bawah pohon.


Antonio membenarkan posisi duduknya dan mengusap kepala Savrinadeya lembut. "Kamu kok gemesin. Jujur bang Antonio tidak menyangka kalau kamu sangat old fashion. Masih suka membaca buku, real book, bukan digital."


Savrinadeya tersenyum manis. Nggak usah baper. Meskipun bang Antonio gayanya sok kayak cowok jatuh cinta, bukan berarti iya! Ingat Deya, gap usia kalian terlalu jauh. Anggap saja ini macam bang Luke, mas Bayu dan mas Radeva. - batin Savrinadeya.


***


Asrama Gallaudet University


Menjelang Maghrib, Savrinadeya tiba di kamarnya dan melihat Yunita sedang asyik menonton Netflix dari laptop mahalnya.


Sudah pulang kamu Deya? tanya Yunita yang melihat teman sekamarnya melepaskan jaket jeans nya.


Sudah. Ini buktinya aku disini senyum Savrinadeya.


Tadi pergi sama siapa?


Senang pergi dengan dia?


Savrinadeya melihat ada kilatan cemburu di mata Yunita namun gadis itu memainkan perannya sebagai perempuan polos untuk melihat sejauh mana teman sekamarnya bertindak.


Senang. Ditraktir pizza juga.


Yunita cemberut. Kenapa aku tidak sekalian dibawakan pizza nya?!


Savrinadeya berdiri dan meletakkan sepatunya di lemari sepatu miliknya sendiri. Deya dan Yunita memang sepakat semua perabotan sendiri-sendiri agar tidak terjadi keributan akibat salah ambil barang.


Kan kamu tidak suka pizza dingin jadi aku tadi tidak membawakan untukmu.


Yunita terdiam. Bilang saja memang kamu tidak mau berbagi sama aku! - batin gadis itu.


Savrinadeya kemudian mengambil handuk dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap ibadah Maghrib.


Diam-diam Yunita mengambil ponsel Savrinadeya yang berada diatas tempat tidur dan lagi-lagi ponselnya dikunci. Namun mata Yunita semakin melotot tidak percaya saat membaca pesan yang masuk muncul di layar.


📩 Bang Antonio : See you tomorrow ( sampai jumpa besok ). Kita jadi ke perpustakaan kan?


Appaaaaaa! Mereka akan pergi lagi? Yunita menatap tajam ke arah pintu kamar mandi. Aku kirim email ke tempat bang Antonio tapi tidak ada jawaban satu pun!

__ADS_1


Yunita buru - buru meletakkan ponsel Savrinadeya ketika mendengar suara kunci pintu terbuka dan kembali ke posisinya yang sedang menonton Netflix.


Savrinadeya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar melihat ponselnya masih berada diatas tempat tidur sebelah dengan tas selempang nya. Gadis itu mengambilnya dan tersenyum membaca pesan dari Antonio.


Yunita yang melihat wajah senang teman sekamarnya, merasa jengah.


"Kamu besok acara kemana, Deya?" tanya Yunita.


Savrinadeya menoleh ke arah Yunita yang berbicara dengan nada celadnya. Menemani bang Antonio ke perpustakaan.


Yunita mengerenyitkan dahinya. Perpustakaan?! Ngapain? Savrinadeya bisa melihat wajah meremehkan Yunita.


Ya baca buku dong! kekeh Savrinadeya.


Yunita mengacuhkan ucapan Deya yang kemudian mengambil ruquh dan sajadahnya untuk melaksanakan sholat Maghrib.


***


Menjelang tengah malam, Savrinadeya terbangun karena dirinya merasa haus dan melihat terdapat notifikasi dari ponselnya. Nama 'Mas Bayu' tertera di layar dan gadis itu pun membuka lock ponselnya.


📩 Mas Bayu : Aku akan datang besok ke Washington DC. Soalnya Senin aku ada acara konferensi insinyur mesin dan aku mewakili Giandra Otomotif Co. Kamu ada acara nggak?


Duh mati aku! Gimana ini?! Savrinadeya menggigit bibirnya.


📩 Savrinadeya : Maaf mas Bayu, aku tadi ketiduran dan baru baca pesannya. Aku besok dan bang Antonio jalan-jalan ke perpustakaan nasional.


📩 Mas Bayu : Antonio? Antonio siapa Deya.


📩 Savrinadeya : Antonio Bianchi, sepupunya mbak Leia, bang Luke dan mbak Blaze.


Lama tidak ada balasan dari Bayu membuat Savrinadeya menyangka Bayu ketiduran namun tak lama balasan itu datang.


📩 Mas Bayu : Mafia karatan itu modusin kamu ya Deya?


Savrinadeya melongo membaca pesan dari kakak sepupunya yang memiliki badan besar seperti ayahnya itu.


Memang modus mas...


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2