Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Jangan Dibanting


__ADS_3

Asrama Gallaudet University Washington DC


Savrinadeya tertawa geli membaca pesan dari Antonio yang tampak marah... marah menggemaskan.


πŸ“© Bella Savrinadeya : Apa bang?


πŸ“© Bang Antonio : Kamu itu! Ya ampun, apa sih yang ada di otak kamu? Kok kepikiran membuat ide seperti itu? Benar-benar gadis klan Pratomo otak liciknya itu...


πŸ“© Bella Savrinadeya : Bang, apa Abang lupa siapa Opa aku? 😁😁😁


πŸ“© Bang Antonio : Damn aku lupa! Arjuna McCloud, salah satu pebisnis yang dikenal cerdas dan licik jika berurusan dengan ketidakadilan.


πŸ“© Bella Savrinadeya : Paham kan?


πŸ“© Bang Antonio : Tapi Abang salut kamu sampai bisa kepikiran memakai Alexis agar gaya bahasa Abang dipakai. Tapi Abang jadi serem sama kamu...


Savrinadeya cekikikan membuat Yunita menatapnya bingung. Siapa?


Savrinadeya tersenyum. Mas Bayu.


Yunita hanya mengedikkan bahunya lalu berlanjut dengan chat nya.


πŸ“© Bella Savrinadeya : Abang, aku hanya licik dan nakal ke orang yang celutak. Kalau mereka tidak mulai ya nggak Deya apa-apain.


πŸ“© Bang Antonio : Apa kamu akan ada rencana ganti roommate?


πŸ“© Bella Savrinadeya : Jika saatnya tiba. Aku sudah ada tawaran dari Linda, teman aku di fakultas psikologi.


πŸ“© Bang Antonio : Apakah Linda bersih?


πŸ“© Bella Savrinadeya : Bersih bang. Ibunya orang tua tunggal, ayahnya sudah meninggal. Ibunya bekerja di tiga tempat demi memenuhi kebutuhan Linda sekolah dan anak itu masuk berkat beasiswa.


πŸ“© Bang Antonio : Ya sudah. Kamu hati-hati ya Deya. Abang tidak mau kesayangan Abang terluka.


Wajah Savrinadeya memerah membaca kalimat 'Kesayangan Abang terluka'. Duh kalau Daddy tahu aku dapat rayuan gombal begini, bisa dihajar deh bang Antonio. Savrinadeya mengambil botol minumnya dan meneguknya.


πŸ“© Bella Savrinadeya : Deya tidur dulu bang.


πŸ“© Bang Antonio : Selamat beristirahat. Mimpiin Abang yaaa... 😁😁😁


Nyaris air yang ada di mulut Savrinadeya tersembur membaca kalimat receh pria Italia itu hingga dirinya harus batuk-batuk karena tersedak.


Yunita yang melihat teman sekamarnya hanya menatap datar. Are you okay?


Savrinadeya mengangguk sambil menepuk dadanya. Yunita kembali asyik dengan ponselnya tanpa mengindahkan kondisi gadis di hadapannya.


Ternyata memang ya, kamu anak manja yang nggak tahu diuntung. Savrinadeya tersenyum smirk lalu mematikan ponselnya agar tidak dibaca pesannya oleh Yunita. Semenjak teman sekamarnya berani mengambil ponselnya dan membaca pesannya, nyaris Deya tidak lepas dari benda pipih itu. Bahkan dia mandi pun, memilih mematikan ponselnya daripada meninggalkan di meja.


***

__ADS_1


Pagi harinya Savrinadeya bersiap untuk berangkat kuliah dan Linda sudah datang menjemput karena kamar gadis itu berada lima kamar dari kamar Deya.


Sudah siap? tanya Linda.


Savrinadeya mengangguk. Yuk berangkat, biar dapat tempat enak buat duduk. Deya menoleh ke Yunita. Aku kuliah dulu.


Yunita hanya mengangguk dengan wajah datar tidak suka melihat Savrinadeya bersama dengan orang lain.


Kedua gadis itu berjalan menuju kampus mereka karena gedung fakultas psikologi dan fakultas digital animasi berbeda.


Aku rasa temanmu rada rada deh! ucap Linda ke Savrinadeya. Kan dia tahu aku sekelas sama kamu jadi wajar jika kita berangkat bareng apalagi gedung dia beda dengan gedung kita. Aneh deh!


Savrinadeya hanya tersenyum. Sabar. Aku sedang berusaha untuk membuat Yunita sadar.


Linda mendecih. Batuk bisa diobati, watak tidak bisa Deya. Ingat basic psikologi klinis?


Savrinadeya tertawa. Kenapa aku jadi ingat mas Shinichi ya? - batin gadis itu. Wataknya mas Shin kan rada-rada ajaib meskipun sayang dengan keluarga.


Keduanya sampai di ruang kuliah dan mencari tempat yang strategis untuk belajar. Linda sangat bersemangat kuliah karena dia tidak mau nilainya turun karena bisa berpengaruh dengan beasiswanya. Gadis berdarah Amerika - Irlandia itu bersyukur berteman dengan Savrinadeya yang notabene anak orang kaya tapi humble dengan siapapun.


Hanya saja, jangan utak-atik privacynya saja. Yunita sudah melanggar aturan dan aku tidak heran jika Deya marah. Justru marahnya orang pendiam jauh lebih mengerikan karena mereka bisa membalas lebih sadis lagi. - batin Linda.


***


Turin Italia


Alexis hanya tersenyum geli melihat wajah lelah Gemma dan tampaknya dia sedikit kurus... meskipun hanya beberapa ons saja.


"Maaf saya tidak sopan tapi gadis itu lebih tidak sopan! Dia bilang Signora McCloud pasti anak angkat keluarga McCloud karena tidak sama wajahnya dengan Signor McCloud. Dia bilang Signora McCloud sok kecantikan, padahal dibandingkan dia, si Yunita merasa lebih cantik..." adu Gemma kesal.


Alexis melongo. Lha Signora Savrinadeya dibandingkan dengan Yunita ya beda jauh! Cantiknya Signora Savrinadeya mirip dengan Signora Zinnia. Kecantikan yang punya daya tarik tersendiri...


"Apa? Signora Savrinadeya dibilang tidak cantik? Lha, wajahnya saja membuat boss kita macam anak ABG sedang jatuh cinta!" Alexis mengambil ponsel yang dilempar oleh Gemma dan mulai membaca pesan chat disana karena memang hanya satu chat.


Mata biru Alexis melotot tidak percaya bagaimana Yunita menjelek-jelekkan Savrinadeya dan merayu Antonio untuk datang ke Washington DC.


"Duh kalau si boss tahu... Bisa ngamuk ini..." gumam Alexis.


"Si boss ngamuk kenapa?"


Alexis dan Gemma saling berpandangan, terkejut mendengar suara bariton di pintu.


"Apakah itu chat yang dipakai untuk menyamar menjadi aku?" Antonio menghampiri meja Alexis. "Kemarikan Al" pinta Antonio sambil mengulurkan tangannya.


Alexis menyerahkan ponsel itu dan membiarkan Antonio membacanya. Rahang pria Italia itu pun mengeras membuat Gemma bergidik melihat boss nya mode ingin membunuh orang.


"Boss, sabar boss..." ucap gadis itu.


"Sabar? SABAR? DASAR BIATCH!" Antonio hendak membanting ponsel itu tapi langsung dicegah oleh Alexis dan Gemma.

__ADS_1


"Jangan Signor. Itu buat alat bukti Signora Savrinadeya!" cegah Alexis.


"Hah?" Antonio menatap Alexis bingung.


"Signora Savrinadeya hendak mengumpulkan semua bukti chat bahwa Yunita ingin memiliki apa yang dimiliki oleh Signora Savrinadeya termasuk anda Signor!" Alexis menatap Antonio.


"Tapi... Aku kan milik Savrinadeya... akan menjadi milik Deya... Ehem..." Antonio berdehem sambil membenarkan dasinya.


Alexis dan Gemma hanya melengos mendengar ucapan absurd bossnya.


"Intinya jangan sampai anda hancurkan ponsel ini. Oke Sir?" Alexis menatap serius.


"Tapi aku akan hancurkan gadis itu!"


"Jangan!" seru Alexis dan Gemma bersamaan.


"Kenapa? Empang Luke butuh daging baru!"


Alexis menepuk jidatnya.


***


Fakultas Psikologi Gallaudet University beberapa hari kemudian


Apa ini Deya? Linda melihat paper bag bewarna orange yang menjadi impian para wanita di seluruh dunia.


Hermès.


Linda melirik judes. Aku tahu ini Hermès! Tapi buat apa?


Savrinadeya tertawa. Buat meminta Yunita menjadi testee kamu.


Linda melongok isinya dan melotot ke arah Savrinadeya. Ini asli? Savrinadeya mengangguk. Beneran asli? Savrinadeya mengangguk lagi. Kamu tahu ini bisa membayar biaya kuliahku dan kamu mau memberikan pada Yunita? Are you kidding me!


Savrinadeya hanya tersenyum manis. Kalau kamu mau, aku bisa berikan untukmu seri yang lain.


Linda semakin melotot. Aku minta cash nya saja!


Savrinadeya tertawa.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu β€οΈπŸ™‚β€οΈ

__ADS_1


__ADS_2