
Apartemen Antonio Bianchi di Washington DC
"Ada apa Deya? Kenapa wajah kamu jadi berubah begitu?" tanya Antonio melihat perubahan wajah cantik Savrinadeya.
"Lihat ini." Savrinadeya memperlihatkan foto Yunita bersama dengan Antonio Bianchi.
"Hah? Kapan aku foto sama Valak?" celetuk Antonio membuat Savrinadeya terkikik. "Editan ini Deya, lihat deh! Halus sih editannya."
Savrinadeya lalu mengetik pesan ke Yunita. Kamu bertemu dimana?
📩 Yunita : Starbucks dekat white house
Antonio tertawa terbahak-bahak. "Ngimpiiuu! Aku sama Savrinadeya! Sama Savrinadeya!"
Savrinadeya menepuk bahu Antonio pelan. Biarkan saja, biarkan dia menghalu.
"Deya, bagaimana kita kesana? Usilin dia?"
Savrinadeya menggelengkan kepalanya. Tidak usah bang. Biarkan saja. Ada waktunya nanti.
"Kamu kok bisa sabar banget sih Deya? Aku sudah tidak sabar, tinggal dor, buang ke Empangnya Luke. Selesai! Mengurangi orang sarap di muka bumi."
Savrinadeya tertawa. Bang Antonio lucu. Macam mas Luke.
"Kan aku sama Luke sepupu Deya. Jadi wajar lah kalau aku sama lucunya."
Bang, mas Luke itu nggak pernah lucu. Isinya emosian sama trio kampret.
"Siapa itu trio kampret?" tanya Antonio bingung.
Ketiga kakak sepupu aku, namanya Arkananta Baskara, Valentino Reeves dan Shinichi Park. Hobinya? Bikin darting mas Luke.
"Tapi aku setuju Luke dibuat darting. Dia terlalu serius bikin mukanya tambah tua!"
Savrinadeya tertawa.
***
Antonio menikmati acara makan malam bersama dengan Savrinadeya yang memesan masakan Melayu akhirnya karena Antonio tertarik dengan nasi lemak.
"Kamu makan pakai tangan?" Pria Italia itu mengernyitkan dahinya melihat gadis cantik di hadapannya makan dengan tangan.
"Kalau di Indonesia dan Malaysia biasa bang..." jawab Savrinadeya dengan nada celad. "Biasanya pakai kaki diangkat satu begini." Savrinadeya menunjukkan pose cangkrukan macam di warung Tegal.
"Astagaaa! Deya!" Antonio melotot melihat cara Savrinadeya makan. "No...no... jangan ya anak cantik. Itu tidak sopan!"
Savrinadeya tertawa. Aku kan hanya mencontohkan bang. Tidak mungkin aku makan seperti ini, bisa kena Omelan mommy tujuh hari tujuh malam.
"Ah syukurlah Tante Astuti paham" ucap Antonio. Savrinadeya lalu menurunkan kakinya dan melanjutkan makannya.
***
Antonio dan Savrinadeya memilih mempelajari bahasa isyarat lebih intens diselingi dengan kekacauan jari pria itu.
__ADS_1
Bang, bukan begitu!
"Gimana? Ini salah?" tanya Antonio bingung.
Savrinadeya mengangguk. Harusnya kalau mau bilang 'bukan salahku tapi salahmu' itu begini. Savrinadeya menunjukkan cara berbicara dengan bahasa isyarat.
"Deya..."
"Ya?"
"Pacaran yuk?" cengir Antonio.
Mata coklat Savrinadeya melotot. Bang Antonio... Gadis itu meletakkan punggung tangannya di kening Antonio. "Waras?"
Gantian Antonio yang melongo. "Deya! Aku itu waras 100%! Tidak macam valak itu! Aku tuh serius Deya. Dan aku akan menunggu sampai kamu berusia 20 tahun dan aku akan menembung Oom Rama."
Bang Antonio, apa sudah yakin? Tidak mudah lho masuk ke keluarga aku? Persyaratan berlapis dan itu mutlak.
"Apa? Khitan? Deya, jujur sama Abang. Apakah khitan itu...punya Abang bakalan habis? Kira-kira berapa centi?" Antonio menatap Savrinadeya polos membuat gadis itu melongo dan wajahnya memerah.
PLAK!
"Aduh, Deya ! Kok Abang dipukul?" Antonio mengusap bahunya.
"Abang meshum!"
"Deya, Abang itu nggak meshum, cuma bertanya. Salah gitu?"
Savrinadeya menggelengkan kepalanya dan berjalan masuk ke kamar meninggalkan Antonio yang masih bingung.
Savrinadeya berbalik dan menatap judes ke Antonio. "Googling saja sendiri!" hardik gadis itu kesal.
***
Keesokan harinya...
Antonio terbangun akibat mencium bau masakan dan seketika terduduk karena mengingat dirinya tidak belanja isi kulkas sebelumnya. Hanya ada beberapa botol air mineral, juice dan kaleng bir.
Perasaan aku belum belanja tapi kok bau masakan? Tadi malam juga makanan sudah pada habis.
Antonio pun keluar dari kamar dengan hanya menggunakan celana panjang tanpa baju. Dirinya terkejut melihat Savrinadeya mengenakan Hoodie dan celana jeans sibuk memasak di dapur apartemen.
"Kok masak?" tanya Antonio membuat Savrinadeya terkejut. "Kamu beli dimana?"
Bang Antonio, pakai baju dulu kenapa, mandi dulu!
"Deya, bilang sama Abang. Kamu ke pasar tadi?"
Savrinadeya yang sedang membuat omurice, hanya mengangguk. "Kan ada pasar dekat apartemen. Aku juga biasa kesana kalau sama Linda di hari Minggu."
Antonio memeluk gadis itu dengan perasaan yang campur aduk. "Duh, rasanya kok kita sudah nikah ya Deya. Sudah terbayang kalau hidup berdua, bakalan aku dimasaki sama dirimu."
Wajah Savrinadeya memerah karena baru kali ini ada seorang pria memeluk dirinya diluar keluarganya dan tanpa baju. Savrinadeya terbiasa dipeluk oleh Bayu, Eagle, Dewananda, Valentino, Arka, Gasendra atau pun Shinichi dengan harum maskulin yang berbeda. Tapi harum tubuh Antonio berbeda. Savrinadeya belum pernah mencium parfum yang samar-samar teruar dari tubuh pria itu.
__ADS_1
"Aduh... Maaf Deya. Abang terlalu semangat." Antonio melepaskan pelukannya dan sedikit merasa bersalah melihat wajah ayu itu menjadi memerah karena malu.
"Abang... mandi dulu. Maaf yang tadi ya?"
Savrinadeya hanya mengangguk. Antonio pun bergegas masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi. Bodoh kau Antonio! Siap-siap dicincang Oom Rama kamu!
***
Antonio yang sudah rapi dan segar, melongo melihat hidangan yang ada di meja makan. Baru kali ini dirinya melihat hidangan yang unyu macam yang buat.
Omurice
"Deya? Ini apa?" tanya Antonio.
"Omurice."
"Cara makannya?"
Savrinadeya menunjukkan cara makannya dengan membelah bagian tengah telur dadar itu yang langsung terbuka membuatnya menutupi nasi goreng di dalamnya.
Antonio melongo. "Siapa yang mengajari cara membuat ini?"
"Mbak Leia."
***
Asrama Gallaudet University Washington DC
Menjelang sore, Savrinadeya tiba di asrama tempatnya tinggal. Disaat dirinya sedang berjalan menuju kamarnya, Yunita menghadangnya.
Kamu habis darimana?
Savrinadeya menatap bingung ke Yunita. Apakah kamu mommyku? Apa-apa harus laporan ke kamu?
Yunita berdecih. Bilang saja kamu patah hati kan? Bang Antonio bersamaku?
Savrinadeya hanya tersenyum. Tidak. Dan aku ikut senang, Yunita. Senang akan kehaluan kamu.
Yunita melotot. Halu apanya! Aku benar-benar bersama dengan Antonio Bianchi!
Savrinadeya tertawa sinis. Lalu, siapa yang semalam makan malam bersama dengan aku di apartemen? Gadis itu menunjukkan foto dirinya dan Antonio berpose makan nasi lemak.
Wajah Yunita memucat.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️