Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Jin Iprit Dimana mana


__ADS_3

Washington DC, apartment Antonio Bianchi


Deg! Deg! Deg!


Antonio bersumpah bisa mendengar detak jantungnya ketika bibirnya hendak bertemu dengan bibir Savrinadeya. Ketika dua bibir itu nyaris bertemu dalam jarak sekian milimeter... ingat milimeter...


TING!


Suara lift sampai dan terbuka membuat Antonio menarik wajahnya dan melihat ada penghuni yang hendak masuk, mempersilahkan Antonio yang sedang menggendong Savrinadeya untuk keluar terlebih dahulu.


"Your girlfriend dude ( pacarmu bro )? Is she drunk ( apa dia mabok )?" tanya orang itu.


"No, dude. She's just sleeping ( dia hanya tidur )" jawab Antonio dingin lalu keluar dari lift menuju apartemennya.


Sedikit susah payah, akhirnya Antonio bisa membuka pintu apartemennya lalu masuk kedalam dan menutup pintunya dengan kaki.


"Ya ampun Deya, ternyata setan demit jin iprit pun tidak mengijinkan Abang mencium kamu..." gumam Antonio sambil membawa Savrinadeya menuju kamarnya.


Dengan lembut Antonio meletakkan tubuh langsing itu keatas tempat tidur empuk lalu melepaskan sepatu Savrinadeya. Antonio menatap geli ke arah gadis ayu yang tidak bergeming ataupun terganggu.


"Ya ampun Deyaaa, kamu benar-benar kebo kalau tidur..." Antonio meletakkan sepatu Savrinadeya di sudut kamar.


Pria Italia lalu duduk di pinggir tempat tidur dan memandangi wajah ayu Savrinadeya. Jari Antonio menelusuri pipi mulus gadis itu dan jantungnya pun berdegup kencang.


Masa kamu kalah sama Alexis? Mereka tinggal bersama lho di Los Angeles... Apapun bisa terjadi antara keduanya... Suara jin iprit mulai ngedumel super kompor di otak Antonio. Cium saja... Sekilas info tak apa, yang penting sudah tidak penasaran...


"Setaaannnn!" umpat Antonio pelan. "Hush! Hush! Menjauh kau!" Pria itu menggelengkan kepalanya seolah berusaha menghilangkan suara-suara rusuh di otaknya.


Mata coklat Antonio menatap bibir Savrinadeya. Dosa nggak ya cium bocil? Nggak lah! Dosa itu kalau bikin bayi sama bocil...


PLAK!


Antonio menampar pipinya sendiri. Kelamaan jomblo sih kamu, Tomat. Otomatis semuanya karatan, serba takut-takut... Sudah, cicip sedikit saja. Kamu itu pria atau kecoa sih?!


"Shut up!" desis Antonio berperang dengan suara-suara meresahkan yang semakin membuatnya amburadul.


"Nnngghhhh..." suara gumaman Savrinadeya saat saat berganti posisi tidurnya membuat Antonio blingsatan.


Kenapa suara kamu kok mengundang marabahaya, Deyaaa! Ini setan-setan lagi konferensi di kepalaku, kamu malah mende*sah sok syahdu begitu...


Antonio pun berdiri untuk berjalan mondar-mandir bingung mau bagaimana.


"Ah bodo amat! Mau kamu hajar aku, tembak aku, terserah! Yang penting sudah merasakan biar aku nggak mati penasaran!" putus Antonio.


Pria itu pun duduk kembali di pinggir tempat tidur dan memegang dadanya. "Pelan Tomat... pelan... Anggap saja putri tidur ketemu pangeran rusuh!"

__ADS_1


Antonio pun mendekati wajah Savrinadeya dan dengan lembut mencium bibir ranum itu sekilas. Tidak sampai tiga detik tapi Antonio langsung menarik wajahnya dengan jantung berdegup kencang.


"Kok enak..." gumamnya. "Oom Rama, maaf jika aku harus mencium bibir Deya... "


Antonio lalu mencium Savrinadeya perlahan dan tiba-tiba dia merasakan balasan dari bibir Deya membuat pria itu membuka matanya.


"De...Deya..." Antonio menarik wajahnya kesekian kalinya ketika melihat Savrinadeya terbangun dengan wajah memerah. "Maaf... tapi Abang... Well ... Abang sayang Deya jadi..."


Savrinadeya mengerjap-ngerjapkan matanya yang indah. Abang cium Deya?


Antonio mengangguk.


Abang sayang Deya?


Antonio pun mengangguk lagi. "Sayang seorang pria yang jatuh cinta dengan seorang wanita. Abang tidak perduli jika Luke bilang kamu masih bayi... eh tapi kamu nggak bayi kok..."


Savrinadeya tersenyum. Deya bukan bayi, Abang.


"Iyalah mana ada bayi sudah punya dada yang tumbuh... Aaadduuuuhhhh!" Antonio menjerit kesakitan saat Savrinadeya mencubit pinggangnya. "Kamu kalau cubit pedas!"


Biarin! Savrinadeya cemberut.


"Deya, Abang serius sama Deya. Dan Abang akan menunggu sampai Deya umur 20 dan Abang akan melamar ke Oom Rama."


"Dengar Deya, Abang tidak perduli kamu tuna rungu karena Dimata Abang, kamu itu sempurna. Kalau seorang pria sudah mencintai seorang wanita dengan serius, semua kekurangan akan selalu menjadi kelebihan..." Antonio menatap lembut ke Savrinadeya.


Mata Savrinadeya tampak berkaca-kaca. Bohong jika dirinya tidak terpesona mendengar ucapan Antonio yang dia tahu dari Leia bukan tipe playboy meskipun dulu sudah beberapa kali berpacaran. Iyalah, bang Antonio sudah kepala tiga jadi wajar lah sudah dekat dengan banyak wanita sebelumnya.


"Abang sayang dan cinta kamu, Savrinadeya Aisyahzaara McCloud..."


Kok Abang tahu nama lengkap Deya?


"Tahu lah! Abang kok dilawan!" jawab Antonio sombong membuat Deya tertawa. "Deya, maaf Abang mencium Deya tanpa ijin..."


Tidak apa-apa. Wajah Savrinadeya memerah lagi.


"Sekarang Abang mau melakukan dengan benar. Bolehkah Abang mencium Deya?" tanya Antonio.


Savrinadeya menatap Antonio lembut lalu mengangguk. Antonio pun tidak melewatkan kesempatan dan ijin Savrinadeya lalu mencium bibir gadis itu lembut.


***


Apartemen Raveena di Los Angeles California


Raveena menatap langit malam kota Los Angeles yang tampak cerah malam ini. Gadis itu memilih menikmati dengan secangkir teh herbal panas di kursi dekat jendela kamarnya.

__ADS_1


Gadis itu masih terbayang kejadian tadi Diatas sofa ruang tengah. Biasanya Raveena bisa menjaga dirinya tapi entah kenapa bersama Alexis, dia bisa terhanyut seperti itu.


Duh kalau sampai Pak Pandu dan Deva tahu... Mati aku!


Raveena menghela nafas panjang. Benar-benar deh kamu Veena, cari penyakit... tapi penyakitnya enak...


Gadis itu pun berdiri untuk keluar kamarnya untuk menambah air panas ke teh nya. Hanya dengan mengenakan tank top ketat dan celana panjang batik kesukaannya, Raveena pun keluar kamar dengan santainya karena mengira Alexis sudah tidur.


"Kamu tidak bisa tidur, Veena?"


Raveen terlonjak kaget mendengar suara bariton yang berada di meja sudut ruang tengah. Tampak Alexis sedang berada di depan laptop nya... tanpa baju! Membuat jantung Raveena berdegup kencang.


Damn it ! Pakai baju dulu kenapa cummiii!



Bang, jangan bikin anak gadis orang blingsatan dong...


"Aku hanya mau ambil air panas untuk... teh aku..." jawab Raveena.


"Tapi kamu tidak bisa tidur kan?" sahut Alexis dengan nada dalam.


Raveena memerah wajahnya. Semua latihan selama di teater bubar gara-gara bersama dengan pria yang mulai dicintainya.


"Sudah jam 12 malam Veena. Tidurlah, kamu pasti lelah..."


Raveena menuangkan air panas dalam cangkirnya. "Iya Al. Good night." Raveena pun berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya tapi tiba-tiba dia merasakan pelukan dari belakang.


"Good night Veena. Love you" bisik Alexis di sisi telinga gadis itu lalu Raveena merasakan bibir Alexis mencium pundaknya yang telan*jang membuat semua tubuhnya bergelenyar.


"Damn it Veena..." Alexis mencium leher Raveena. "Aku akan menghadap Mr Dewanata... "


"I... iya... " jawab Raveena dengan nada bergetar. "Aku masuk kamar dulu ..." Raveena berusaha melepaskan pelukan Alexis yang tidak menahannya lalu gadis itu menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Alexis lalu menyandarkan tangan dan kepalanya di pintu itu seolah tidak mau berpisah dengan Raveena.


"Damn it! Kamu sudah berdiri saja!" gumam Alexis ke juniornya yang sudah siap. "Air dingin .. air dingin..." Asisten Antonio Bianchi itu pun masuk ke dalam kamar mandi.


**


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2