
Los Angeles California
Alexis menatap Raveena yang sedang terlelap di sofa dengan tatapan lembut. Gadis itu tampak lelah setelah mencuci semua baju kotor yang dibawanya dari Turin. Alexis salut, meskipun Raveena cucu Sultan, tetap melakukan semuanya sendiri.
Pria itu pun berkeliling apartemen mewah gadis itu dan mengakui seleranya 'mahal' tapi artistik. Duh, apa bisa aku memenuhi semua keinginannya Veena? Mengingat dia anak orang kaya dan semua ini barang-barang tidak murah...
Alexis pun memilih untuk duduk di kursi empuk yang terletak area balkon sambil membawa MacBook lalu menenggak bir dingin. Alexis menemukan bir disana yang masih ada banyak yang diyakini ada kalau teman-teman Raveena datang. Lagipula disini di LA, jika tidak ada bir untuk tamu, kurang.
"Veena, kalau kita nanti hidupnya tidak semewah sekarang, tidak apa ya..." gumam Alexis. Pria itu mengambil MacBook nya dan mulai memeriksa pekerjaannya yang di Turin.
Alexis memilih untuk bekerja di balkon karena dia tidak yakin bisa konsentrasi jika berada di dalam melihat seorang gadis cantik yang menjadi putri tidur sekarang.
***
Apartemen Antonio di Washington DC
"Deya? Ngapain?" tanya Antonio ketika melihat gadis belia itu memasak.
Masak lah bang.
"Iya tahu masak. Tapi Abang kira kita makan siang diluar saja" ucap Antonio sambil mengambil sekaleng juice apel dari dalam lemari es.
Deya lagi ingin masak apalagi lihat bahan makanan lumayan lengkap. Savrinadeya menatap Antonio serius. Kalau bang Antonio pulang ke Turin, ini bahan makanannya?
"Kan ada orang yang bagian bersih-bersih apartemen jadi dia boleh ambil isi kulkas sampai bersih tapi tidak bersama kulkas nya" jawab Antonio yang membuat Savrinadeya cekikikan. "Tidak ada yang mubazir Deya karena Abang juga tidak suka buang makanan."
Syukurlah karena sayang kalau sampai busuk. Kan dibelinya juga pakai uang.
"Deya, kamu itu anak orang kaya tapi kenapa pemikiran kamu berbeda?"
Karena aku dididik oleh mommy harus selalu menghargai segala sesuatu. Mommy pernah hidup susah dulu saat masih kecil jadi mendapatkan keberkahan sekecil apapun, tetap harus dihargai. Savrinadeya meletakkan sepiring chicken curry ala Jepang buatannya Diatas meja makan.
Mommy menikah dengan Daddy yang notabene sultan pun masih tetap low profile bukan langsung silau harta dengan kekayaan Daddy. Aku dan Devan malah dididik untuk bisa mandiri nantinya setelah dewasa.
"Apa kamu akan tetap bekerja?" tanya Antonio sambil membantu Savrinadeya membawakan salad dan tempura udang buatan gadis itu.
Savrinadeya mengangguk. Kalau diijinkan, aku ingin bekerja di rumah sakit untuk anak-anak kebutuhan khusus seperti mbak Zee dulu. Tapi kalau aku lebih fokus dengan yang mengalami cacat fisik untuk mengembalikan self esteem mereka.
Antonio menatap gadis ayu di hadapannya yang memiliki pola pikir jauh lebih dewasa dari remaja sebayanya. Savrinadeya bahkan sudah memiliki rencana untuk bekerja di rumah sakit dan membantu menkonseling anak-anak berkebutuhan khusus. Disaat remaja lain berebutan pamer barang mewah di akun sosial media, Savrinadeya malah memilih untuk kuliah dengan serius untuk segera lulus dan bekerja.
Padahal Deya nganggur saja, celengannya banyak! - Batin Antonio yang tahu sistem saham keluarga klan Pratomo. Tapi memang gadisku berbeda dan inilah yang membuat aku jatuh cinta.
"Bang?" panggil Savrinadeya yang bingung melihat Antonio seperti melamun. Mikir apa?
__ADS_1
"Mikir khitan..." jawab Antonio asal.
Siapa yang mau dikhitan?
"Abang lah!"
Kenapa?
Antonio melongo. "Savrinadeya sayangnya bang Antonio, apa kamu lupa siapa ayahmu? Jika Abang tidak bisa menjadi imam yang baik, bisa-bisa Abang di blacklist oleh Oom Rama dan kamu dibawa pergi dari Abang. Bisa merana Abang..."
Savrinadeya melongo lalu cekikikan. Masa Daddy begitu?
Antonio cemberut. "Bisalah!"
Kenapa?
"Karena jika Abang punya anak perempuan, Abang akan melakukan hal yang sama!" jawab Antonio tegas.
***
Apartemen Raveena di Los Angeles California
"Apa Signor? Saya harus pulang malam ini?" seru Alexis saat menerima telepon dari Antonio. "Bukannya saya mendapatkan libur lima hari? Ini baru tiga hari!"
Raveena yang terbangun mendengar suara Alexis kesal pun berjalan menuju pantry untuk minum air putih lalu mendatangi pria yang sedang marah-marah itu.
Mata hijau Raveena menatap Alexis bingung. Apanya yang kapan?
"Baik Signor, kalau itu alasannya, saya masih bisa terima. Saya akan pesan tiket pesawat malam ini." Alexis pun mematikan panggilan dari Antonio.
Pria bermata biru greyish itu lalu menatap Raveena yang memandangnya bingung.
"Ada apa Al?" tanya Raveena. "Bang Tomat kenapa ?"
Alexis memegang tangan Raveena. "Veena, kamu tahu kan aku sangat serius padamu?"
Raveena mengangguk. "Bang Tomat kenapa Al?"
"Signor Antonio tidak apa-apa hanya saja, mengajak saya pulang...."
"Apa ada masalah di kebun anggur?"
Alexis menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak. Kebun anggur baik-baik saja, pabrik wine baik-baik saja."
__ADS_1
"Lalu?"
Alexis menghela nafas panjang. "Aku dan Signor Antonio hendak berkhitan."
Raveena melongo. "Apa?"
"Kamu dengar sendiri kan Veena, kami akan berkhitan tiga hari mendatang bersamaan dengan Signor Mancini."
Mulut Raveena semakin ternganga. "Are you serious? Really serious?"
Alexis mengangguk tapi setelahnya terkejut ketika Raveena meletakkan punggung tangannya ke keningnya.
"Kamu tidak demam kan? Kamu tidak sedang mengigau kan?" tanya Raveena serius.
"Ya ampun Veena, aku tuh tidak sakit!" gelak Alexis. "Aku hanya ingin kita bisa bersama dan jika suatu hari nanti menemui ayahmu, aku sudah siap."
Raveena lalu pindah tempat duduk dan berbaring bersama dengan Alexis. "Thank you."
"Aku juga berterima kasih padamu yang mau bersamaku, pria yatim piatu, yang hanya seorang asisten, tidak memiliki banyak uang seperti kamu ... Addduuuhhh!" Alexis memegang dadanya yang dipukul Raveena.
"Memangnya kenapa? Apa aku se materialistis itu? Apa aku silau dengan barang-barang seperti itu? Nggak, Al. Kalau mau aku bisa beli setiap hari tapi buat apa? Aku hanya ingin dicintai sebagai Raveena bukan Raveena anaknya pak Pandu Dewanata, bukan Raveena cucunya Kaia Blair dan Rhett O'Grady, cicitnya Duncan Blair dan Rhea Giandra, punya saham di MB Enterprise dan Giandra Otomotif... No! Aku sudah cukup kenyang dengan barang mewah! Aku lebih suka hidup sederhana, bisa tiap hari seperti ini, berduaan dengan pria yang mencintai aku seperti aku mencintainya..."
Alexis mencium bibir gadis itu. "Terimakasih."
Raveena tersenyum lalu memeluk Alexis erat.
***
Turin Italia tiga hari kemudian....
Leia Bianchi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ketiga pria tampan itu macam hendak ikut khitan masal.
"Seriously kalian itu!" gerutu Leia sambil memegang pangkal hidungnya.
"Kalau sakit kan ada temannya Lele" cengir Antonio dengan wajah polos.
"Oh my..."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️