Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Maafkan Saya


__ADS_3

Kamar Antonio Bianchi, Mansion Bianchi Turin


"Deya sayang, kenapa kamu tidak cerita sama Abang sih?" ucap Antonio lembut membuat Savrinadeya melongo.


Bang Antonio kok centil banget?


"Hah? Abang centil? Nggak ya Deyaaa... Abang tuh sayang banget sama Deya."


Savrinadeya memegang pelipisnya. Tidur deh bang. Otak Abang butuh istirahat. Good night.


"Lho? Deya?" panggil Antonio tapi layar FaceTime MacBook itu sudah off. Pria Italia itu pun manyun karena gadisnya sudah mematikan panggilannya. "Aaahhh Deyaaa, bang Tomat masih belum puas ini ngobrolnya!"


***


Keesokan harinya...


Semua orang bangun kesiangan karena memang kejadian semalam sangat melelahkan fisik dan mental bahkan Luke yang sudah keluar kamar pun pindah tidur di sofa ruang tengah membuat bibi Lusia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sepupu majikannya ngorok dengan cueknya.


Bibi Lusia dan para pelayan pun memutuskan untuk membuat brunch karena untuk sarapan sudah lewat waktunya. Menjelang pukul 10.30 semua orang baru keluar dari kamar masing-masing dan Luke sendiri memutuskan untuk mandi setelah merasa sudah cukup tidur.


"Kamu kenapa Tonio?" tanya Luca saat mereka semua menikmati brunch ke arah keponakannya yang tampak lesu.


"Deya hampir dihajar oleh cewek psycho."


"Lalu? Deya hajar balik kan?" sahut Luke cuek.


"Iya sih Luke tapi aku kan sedih tidak ada disana saat Deya menghajar cewek itu..."


Semua orang di meja makan melongo mendengar ucapan Antonio yang merengek macam anak perempuan.


"Seriously, Tomat! Kamu itu umur berapa? Kenapa jadi lebih childish dari Deya sih?" omel Leia.


"Masalahnya Lele, aku calon suaminya Deya."


Luke berdiri dan berjalan ke tempat Antonio duduk lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sepupunya. "Panas! Kamu habis ini istirahat! Tidur! Otakmu makin kacau!"


Antonio hanya cemberut sedangkan yang lain hanya tertawa geli mendengar Omelan Luke.


***


Raveena sedang membereskan semua barang bawaannya ke dalam kopernya karena menurut rencana, lusa gadis itu akan kembali ke Los Angeles untuk kuliah semester genap.


"Kamu nggak pulang ke New York?" tanya Leia di depan pintu kamar Raveena..


"Nggak mbak. Nggak cukup waktunya." Raveena menatap ke arah kakaknya yang masih mengenakan arm sling. "Bisa diamuk Daddy gara-gara kemarin. Kan tahu lah dari Tante Moon kalau aku jadi umpan buat bikin geblak si kecoa."

__ADS_1


Leia tersenyum tipis. "Jadi langsung ke LA ? Diantar Alexis ya sampai LA ?"


Raveena melongo. "What?! Ya ampun mbak, diantar ke bandara saja nggak usah sampai LA lagi."


"Sudah, diantar Alexis saja" sahut Antonio. "Lagian dia butuh liburan setelah kemarin bantuin aku buat Deya."


Raveena menatap sepupu dari pihak keluarga Leia. "Bang Tomat serius sama Deya? Apa yakin Oom Rama mau terima kamu? Umur mu kejauhan bang! Bisa-bisa Deya masih aduhai, Abang udah aki-aki..." cengir gadis itu membuat Antonio manyun.


"Ish, Abang awet muda tahu!" balas Antonio tidak terima.


"Kok aku nggak yakin ya mbak" bisik Raveena ke Leia yang sudah cekikikan.


"Veenaaa!"


***


"Jadi kalian besok juga akan kembali ke New York?" tanya Luca yang kini bersama Luke dan keempat agen FBI yang menginap di mansion Bianchi.


"Benar Mr Bianchi. Kami besok kembali ke New York untuk memberikan laporan kepada Isobel. Lagipula, semua pekerjaan sudah selesai meskipun tidak bisa membawa pulang Harland tapi setidaknya Turin aman sementara dari perang kartel dan polizia serta angkatan darat" jawab Omar Zidane.


"Baiklah." Luca mengangguk. "Biar besok kalian diantar Luke dan Vernon ke bandara."


"Terima kasih Mr. Bianchi."


***


"Signora, kita minum espresso panas dulu biar tidak kedinginan?" tawar Alexis ke Raveena yang harus menutup wajahnya memakai syal tebal hingga terlihat matanya saja.


"Boleh!" Raveena tanpa canggung menggandeng tangan Alexis karena hawa yang dingin sedangkan pria itu tampak senang dengan pemandangan seperti ini.


Kita macam pasangan kekasih.


Keduanya pun masuk ke dalam cafe dan Alexis memesankan dua espresso ditambah sup cream dengan roti. Setelah mendapatkan pesanan, mereka pun duduk di sudut cafe yang memperlihatkan pemandangan alun-alun.


"Besok semua agen FBI pulang ke New York, Signora. Anda juga pulang?" tanya Alexis sambil menyesap kopinya.


"Pulang lah! Aku sudah bolos sehari ini meskipun kuliah online dan meminta tugas dengan dosenku tapi lebih seru hadir di ruang kuliah" jawab Raveena sambil memakan sup nya dengan potongan roti baguette. "Hhhhmmm supnya enak. Terasa truffle nya."


"Saya antar."


Raveena yang hendak memasukkan roti ke dalam mulutnya hanya bisa melongo. "Kamu mau antar aku? Terus bang Tomat bagaimana?"


"Signor Antonio katanya hendak ke Washington DC menemui Signora Savrinadeya."


Raveena memanyunkan bibirnya. "Dasar Oom - oom tidak ingat umur. Deya masih bau kencur digombali!" gerutu Raveena yang membuat Alexis bingung.

__ADS_1


"Nona bicara apa?"


"Ah tidak, aku hanya mengomel memakai bahasa planet. Ngomong-ngomong, bang tomat memangnya serius sama Deya? Ketemu dimana sih?"


"Mereka bertemu di New York awal tahun dan Signor Antonio langsung jatuh cinta dengan dengan Signora Savrinadeya."


"Acara apa?" tanya Raveena sambil menyesap espresso. "Hhhhmmm ini enak!"


"Pameran wine yang diadakan RR's Meal di New York."


"Oh pameran wine yang itu. Anggur Bianchi ikut pameran ya?"


"Ikut Signora dan disana kami bertemu dengan Signora Nadira dan Savrinadeya."


"Memangnya bang tomat sudah bertemu dengan Oom Rama? Buat minta ijin mendekati anak gadisnya?"


"Sudah Signora."


"Lalu Oom Rama?"


"Belum kasih lampu hijau tapi Signor Antonio tetap nekad."


Raveena terbahak. "Dasar Oom-oom pedofil ngebet!"


"Signora Raveena..." Alexis menatap Raveena lembut. "Apakah Signora sudah punya kekasih?"


Raveena menatap mata blue greyish itu. "Kenapa Alexis? Kamu naksir aku?" tanya gadis itu gamblang.


Wajah Alexis memerah. "Apa tidak boleh?"


Raveena menggelengkan kepalanya. "Bukan tidak boleh, Al tapi banyak pria yang naksir aku hanya karena fisik dan aku anak cucu cicit siapa tapi aku hanya mau dilihat sebagai diri aku sendiri. Kamu tahu, orang lebih dulu mencari tahu aku dari keluarga mana baru berlomba-lomba mengejar aku dan itu terjadi saat aku SMA demi orang tuanya mendapatkan kontrak kerjasama dengan MB Enterprise ataupun PRC Group." Raveena menopang dagunya diatas meja. "Kamu melihat aku yang mana?"


Alexis mendekati wajah Raveena. "Aku melihat Raveena yang pemberani, urakan dan kalau berbicara sering asal."


Raveena pun mendekati wajah Alexis. "Kenapa kamu suka Raveena yang urakan?"


"Karena tampak aslinya... gadis yang spesial..." Alexis menatap mata hijau Raveena. "Maafkan saya tapi ... saya ingin melakukan ini padamu, Veena..."


Pria itu mencium bibir Raveena lembut.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2