Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Dua Pria Yang Harus Mengsabar


__ADS_3

Apartemen Antonio di Washington DC


Antonio menarik wajahnya usai mencium bibir Savrinadeya lembut. Wajah pria itu tampak senang sedangkan gadis belia yang mendapatkan pengalaman pertama dewasanya hanya menatap pasangannya dengan mata sayu dan pipi memerah.


"Deya..." panggil Antonio dengan suara serak. Seriously Tomat! Kamu itu sudah pengalaman dengan banyak wanita, sudah tidak perjaka pula! Kenapa masih gugup sama bocil sih? Tapi memang berbeda rasanya... Dulu mantan-mantan kekasihnya kebanyakan sudah Diatas usia dua puluh dan baru kali ini dia bersama remaja usia belia.


"Deya, tadi itu sangat ... spektakuler" ucap Antonio lagi. "Abang mau jujur dengan Deya. Abang memang dulu pacarnya banyak tapi semenjak abang mengambil alih bisnis keluarga enam tahun lalu, Abang sudah tidak memikirkan pacar apalagi kita sempat mengalami resesi ekonomi, jadi Abang mana sempat pacaran karena yang penting menyelamatkan bisnis anggur...."


Savrinadeya masih menatap wajah tampan Antonio yang seperti sedang melakukan pengakuan dosa.


"Deya, jika suatu saat Abang dipanggil sama Oom Rama dan Devan karena memacari putri dan kakaknya, Abang akan terima. Abang ini laki-laki, masa tidak berani!" sambung Antonio yang meskipun di keluarga Bianchi dan di kampus dia disegani, tapi bertemu dengan orang tua gadis yang disukainya lumayan bikin keder juga.


Apalagi kalau Oom Rama sudah menatap dengan mata abu-abu nya yang super dingin... Duh aku bisa jadi mafia kucing ... - batin Antonio. Tunggu , meong dong?


Savrinadeya lalu bangun dan duduk berhadapan dengan Antonio. Tangan gadis itu terulur ke wajah Antonio dan memegangnya. Terimakasih bang Antonio karena menyayangi Deya.


Mata coklat Antonio terbelalak mendengar kalimat sederhana dari bibir yang menggemaskan itu meskipun sedikit celad.


"Abang sayang Deya, banget! Bersabarlah menghadapi mafia karatan yang sedang jatuh cinta ini ya, sayang..." senyum Antonio yang membuat Savrinadeya terbahak.


Gadis itu memberanikan diri mencium bibir Antonio sekilas. "Abang juga bersabar dengan Deya ya..." ucapnya lembut.


"Pokoknya isinya saling sabar ya Deya" kekeh Antonio. "Sudah, Abang kembali ke kamar Abang. Kamu ... Selamat tidur. Mimpi indah." Antonio mencium kening Savrinadeya lembut lalu berdiri untuk berjalan keluar kamar gadis itu.


"Bang..." panggil Savrinadeya.


"Ya Deya?" Antonio berbalik dan melihat Savrinadeya mengatakan dengan bahasa isyarat.



Siap-siap lu ketemu ma Rama dan Devan


Deya sayang bang Antonio.


Wajah Antonio memerah. "Ditto, Deya. Good night" balasnya sambil mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu kecil.


Good night.


***


Kamar Antonio.


Antonio yang sudah membersihkan diri, meletakkan tubuh tinggi besarnya ke atas tempat tidur. Kedua tangannya diangkat menyangga kepalanya dan matanya menatap langit-langit kamarnya.


Semua peristiwa tadi membuatnya terbayang kembali... Duh Oom Rama, maaf sudah memerawani bibir putrimu... Mata coklat itu terpejam tapi sejurus kemudian terbuka lagi.

__ADS_1


Tunggu... kan ada aturannya di keluarga Deya! Apaan itu, khitan? Mata Antonio melotot sempurna. Dipotong mananyaaaa! Antonio bergegas mengambil ponselnya yang berada disebelahnya dan mulai membrowsing tentang khitan.


Ah syukurlah, kena potong sedikit saja. Antonio meletakkan ponselnya lagi. Tunggu, si Inferno kan mau nikah dengan Leia, berarti dia melakukan hal yang sama. Apa sebaiknya kita barengan saja ya menuju meja pemotongan? Biar aku tidak sendirian - batin Antonio.


Antonio mengambil ponselnya lagi dan langsung menghubungi Dante Mancini tanpa memperhatikan pukul berapa di Turin dan pria itu sedang apa.


"Halo Inferno..."


***


Los Angeles California


Raveena terbangun seperti jam biasanya dan mulai melaksanakan ibadah paginya. Usai melaksanakan kewajibannya, gadis itu memilih mandi dan mengenakan pakaian yang lebih sopan meskipun biasanya dirinya lebih suka pakaian terbuka karena Los Angeles tidak bersalju.


Gadis itu keluar dari kamarnya dan mencium bau kopi serta masakan lezat, membuat kakinya melangkah menuju ruang makan. Betapa terkejutnya melihat Alexis sudah menyiapkan sarapan mereka pagi ini dan lagi-lagi tanpa baju!


Raveena harus menetralisir debaran jantungnya. Ini orang memang bodinya ehem, tapi apa ya harus dipamerkan ke aku? Imanku bisa goyah, apalagi yang namanya Imron!



Sabar ya neng... Sabaaarr


Alexis menoleh ketika mendengar suara langkah Raveena yang masuk ke area makan. "Good morning" sapa Alexis.


"Good morning" balas Raveena sedikit ngelag.


"Yes, thank you." Raveena pun duduk di kursi dan Alexis memberikan mug berisikan kopi dengan mendekati gadis itu.


Raveena terkejut ketika Alexis mencium pucuk kepalanya. "Morning darling..." bisik pria itu membuat gadis itu deg-degan.


"Morning... Al..." panggil Raveena.


"Yes?" sahut Alexis sambil meletakkan dua piring bread toast dengan sosis dan scrambled egg di atas meja setelah sebelumnya ada dua mangkok buah-buahan dan salad.


"Pakai baju dulu kenapa..."


Alexis duduk di depan Raveena. "Kenapa Veena?"



Lu pakai acara nanya lagi Al!


"Seriously! Ini kita mau sarapan bukan nonton Mighty Mike!" omel Raveena. "Hmmm enak..." ucapnya sambil memakan scrambled eggs buatan Alexis.


"Los Angeles termasuk lembab, Veena dan aku tidak suka terlalu berkeringat. Lagian sekalian saja habis ini aku mandi..."

__ADS_1


Raveena melongo. "Kamu belum mandi?"


"Bukankah enak sarapan dulu baru mandi?" jawab Alexis sambil menyesap kopinya.


"Haaaaahhh, kamu mirip Deva dan sebagian besar sepupu pria aku..." gumam Raveena sambil manyun.


"Bukankah pria suka seperti itu?" kekeh Alexis.


"Terserah lah!!"


Mata biru Alexis menatap Raveena lembut. "Kenapa aku terbayang setiap hari kita seperti ini ya?"


"Aku sudah mengajukan untuk masuk ke Quantico..." potong Raveena membuat Alexis melongo.


"Kamu serius mau masuk FBI?" tanya Alexis tidak percaya.


Raveena mengangguk. "Tahun depan aku lulus dan aku sudah mengisi aplikasi masuk Quantico dan ingin menjadi bagian dari BAU ( Behavioral Analysis Unit ), jadi juniornya bang Pedro."


Alexis menatap sendu ke gadis itu. "Bagaimana dengan kita?"


Raveena menatap Alexis. "Al, bukankah aku sudah cerita padamu kalau aku memang ingin berkarir di FBI sebelumnya."


"Siapa itu Pedro?"


"Kekasihnya mbak Nadira. Dia agen FBI sama seperti bang Omar Zidane."


Wajah Alexis tampak tidak nyaman. "Aku tahu Veena, kita baru berhubungan dan aku tidak melarang kamu mau berbuat apa selama itu baik bagimu tapi kamu juga harus memikirkan hubungan kita hendak dibawa kemana karena Veena, aku sangat serius padamu dan ingin menjadikan mu sebagai pasanganku seumur hidupku..."


"Gap usia kita ternyata mempengaruhi pola pikir ya Al. Aku masih ingin bekerja, mengejar karir aku tapi kamu sudah memikirkan pernikahan."


"Apa kamu tidak mau menikah denganku?"


Raveena menghela nafas panjang. "Aku ingin menikah dengan mu tapi tidak secepatnya. Kamu belum bertemu papaku, belum bertemu dengan saudara kembarku. Dengar Al, kita jalani saja dulu, dan aku minta kamu berikan aku ruang untuk bisa menikmati apa yang sudah aku rencanakan..."


Alexis mengangguk. "Mungkin aku yang terlalu cepat untuk ingin segera berumah tangga..."


Raveena tersenyum lembut. "Jomblo kelamaan begitu ya Al?"


Alexis menatap sebal ke gadis cantik itu. "Awas kamu Raveena..."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2