
Los Angeles California Sehari Sebelum Antonio ke Washington DC
Alexis dan Raveena tiba di apartemen gadis itu yang terletak dekat dengan kampus UCLA tempat putri Reana O'Grady kuliah.
Apartemen Raveena termasuk besar dan keluarga nya sudah menyewa sampai empat tahun dan sekarang tahun ketiga. Alexis sangat menyukai pemandangan kota Los Angeles yang terlihat dari lantai tiga apartemen Raveena.
"Ini kamar kamu, Al. Ada kamar mandi dalam juga." Raveena membuka pintu kamar tamu yang tertata rapi.
"Kamar kamu dimana?" tanya Alexis yang membuat Raveena melirik judes.
"Kenapa?"
"Ya ampun Veena, aku cuma bertanya" jawab Alexis santai.
"Itu kamar aku. Dan itu ruang kerja aku." Raveena menunjukkan dua pintu yang masih tertutup. "Apartemen ini termasuk lumayan besar, tiga kamar, tiga kamar mandi dua di dalam satu diluar dan lingkungannya sangat aman dan nyaman."
"Ada kolam renang juga..." ucap Alexis yang melongokkan kepalanya dari balkon.
"Kamu mau berenang?"
"Jika kamu mau temani" goda Alexis.
"Duh kayaknya aku salah mengajak kamu disini" gerutu Raveena.
"Kenapa?" Alexis mendekati Raveena dan memeluknya.
"Mulai meshum" kekeh Raveena.
"Pria kalau nggak meshum nggak normal" cengir Alexis.
"Apakah kamu meshum?" Raveena mengalungkan kedua tangannya ke leher Alexis.
"Aku meshum hanya dengan wanita yang aku sayangi. Lagian, aku jika sudah menyukai satu wanita, aku akan setia dengannya" jawab Alexis sembari menatap lekat wajah cantik di hadapannya.
"Benarkah?" Raveena mendekati wajah Alexis.
"Aku bukan Casanova, Veena karena aku tidak mau menyakiti wanita. Jika sudah tidak cocok, putus baik-baik jauh lebih nyaman. Aku pantang menduakan wanita karena itu menyakitkan... Begini, aku sendiri saja tidak mau diduakan kok aku mau menduakan..."
Mata hijau Raveena mengerjap-ngerjap tidak percaya. "Seriously, Al... Kamu, yang tinggal di Italia, yang bebas hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, yang bisa dengan cewek manapun, memiliki pola pikir seperti itu?"
"Boleh dikatakan aku kuno Veena. Aku sudah tidak perjaka dari kuliah tapi sejujurnya sejak bekerja dengan Signor Antonio, memikirkan mencari cewek saja tidak sempat..."
__ADS_1
"Lalu... Jika ada wanita bermata hijau di hadapan kamu... Apakah kamu akan tergoda?" Bibir Raveena menyapu pelan dagu Alexis yang ditumbuhi bulu-bulu.
"Jangan membangkitkan macan tidur dalam diriku, Veena. Aku sudah selibat lama dan jika kamu berubah menjadi peri penggoda, aku tidak menjamin kita akan berakhir di tempat tidur dan nyawaku melayang di tangan ayah dan saudara kembar mu..." jawab Alexis dengan suara serak dan mulai merasakan sesuatu yang mengeras di bawah tubuhnya.
"Paling Daddy hanya meminta kamu menikahi aku... " Raveena mencium bibir Alexis yang membuat pria itu menggendong tubuh langsing gadis itu dan membawanya ke atas sofa.
Keduanya saling berciuman, mema*gut bahkan Alexis berani menyentuh dada Raveena. "I love you Raveena" bisik Alexis di ceruk leher gadis itu.
"Kamu... bersedia..." suara Raveena terputus di sela-sela cum*buan Alexis.
"Of course" Alexis menghentikan cum*buannya. "Aku rasa kita harus berhenti... Bahaya."
Bang, eling bang...
Raveena menatap tidak percaya. Kapan aku melepaskan kemeja Alexis? Gadis itu melirik tubuhnya. Hah? Kemana bajuku?
"We need to stop Raveena." Alexis memberikan kaos Raveena tadi yang dilepasnya. "Aku harus melakukannya dengan benar karena kamu gadis baik-baik dari keluarga baik-baik..." Alexis mencium bibir Raveena sekilas. "Aku... selesaikan di kamar mandi saja..."
Raveena melongo melihat pria yang hanya mengenakan jeans bergegas menuju kamar mandi.
Oh my God! Tadi apa itu? Raveena menutup wajahnya yang panas. Bahaya... Bahaya!!
***
Antonio dan Savrinadeya menikmati acara pasar malam yang diadakan oleh walikota Washington DC untuk menyambut tahun baru. Linda, teman sekamarnya pun ikut serta bersama dengan sang ibu hingga tampak meriah. Apalagi Antonio dan Savrinadeya berhasil mendapatkan hadiah boneka dari stan menembak.
Aku tidak heran kalau kamu bisa menembak, secara kamu wajib bisa kan di keluarga kamu? Linda tersenyum sambil memeluk boneka yang didapat oleh Savrinadeya.
Iya sih. Tapi cuma kalau terpaksa aku lakukan, seperti di acara pasar malam macam begini cengir Savrinadeya.
Skill yang berguna supaya bisa dapat hadiah banyak kekeh Linda.
"Mr Bianchi saudaranya Deya?" tanya ibunya Linda.
"Bisa dikatakan begitu. Saudara sepupu jauh dan tidak ada hubungan darah langsung..." senyum Antonio.
"Saat Linda bercerita kalau Deya mendapatkan roomate yang menyeramkan, saya hanya berharap Deya bisa selamat karena kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan dengan orang seperti itu" ucap wanita berusia empat puluhan itu.
"Beruntung Deya bisa membela dirinya." Antonio menatap sayang ke gadis berambut coklat tua yang sedang mengobrol dengan sahabatnya.
***
__ADS_1
Antonio dan Savrinadeya kembali ke apartemen pria itu usai mengantarkan Linda dan ibunya ke rumah mereka. Di perjalanan, Deya tampak memejamkan matanya dan Antonio tahu gadisnya lelah setelah menikmati semua permainan di pasar malam.
"Tidur saja, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai" ucap Antonio lembut.
Savrinadeya mengangguk dan tak lama nafasnya yang teratur terdengar di telinga Antonio.
Kamu capek ya sayang. Naik berbagai macam atraksi dan tampak bahagia. Duh gini amat ya jalan bareng sama bocil. Biarpun pola pikirnya terkadang sudah dewasa, tapi dia masih remaja. Usianya baru mau 17 tahun depan. Antonio teringat ucapan Luke 'Deya masih bayi!'
Bayi yang cantik dan menggemaskan yang membuat aku jatuh cinta. Antonio mengusap kepala Deya sayang. Jika besok acara pernikahan Leia dan Dante, Oom Rama mengkonfrontasi aku, akan aku hadapi.
Antonio sudah nekad dan niat akan menunggu Savrinadeya sampai usia 20 tahun dan melamar nya. Pria Italia itu sudah yakin bahwa gadis cantik ini adalah jodohnya meskipun perbedaan usia mereka lumayan jauh.
Age is just a number. ( usia hanyalah sebuah angka ). Bukannya dapat istri usia muda, aku jadi awet muda?! Antonio cekikikan sendiri. Fix! Aku macam Oom-oom pedofil.
Antonio menepuk kepalanya. Oh otakku yang biasanya cerdas dan jenius, kenapa elu jadi blu'un? Memang benar, orang jatuh cinta itu membuat pola pikir seseorang kacau balau.
Mobil milik Antonio akhirnya tiba di parkiran apartemen dan pria itu menatap wajah ayu yang masih terlelap.
"Deya, ayo bangun... Sudah sampai." Antonio menepuk pelan bahu gadis itu.
"Hhhhmmm..."
"Bangun. Atau Abang gendong nih..." goda Antonio tapi Savrinadeya kembali terlelap. .
Haduuuhhh bocil ...
"Ya sudah, Abang gendong ya?" Antonio membuka pintunya dan berjalan memutari mobil lalu melepaskan sabuk pengaman gadis itu. Setelahnya Antonio meraih tubuh Savrinadeya dan menggendongnya. Sambil menggendong gadis itu dengan model bridal, Antonio mengunci mobilnya dan berjalan menuju lift yang dibukakan oleh penjaga apartemen.
Di dalam lift, setan alas mulai menggoda Antonio. Cium saja. Masa kalah sama asisten kamu?
Antonio menatap wajah ayu Savrinadeya yang terlelap dengan bibir sedikit terbuka. Duh seksihnya ... Cium tidak cium tidak...
Keringat dingin mulai menetes di dahi Antonio padahal ini musim dingin. Jantung nya berdegup kencang...
Ah persetan dengan jin iprit dan setan alas!
Perlahan Antonio mendekatkan wajahnya ke wajah Deya...
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️