Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Terbuka


__ADS_3

Asrama Gallaudet University Washington DC


Yunita menatap Savrinadeya dengan wajah pucat pasi. Savrinadeya pun memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang nya.


Jika kamu hendak memancing aku untuk marah, kamu tidak akan mampu karena aku sudah bisa menebak jalan pikiran kamu.


Yunita mengepalkan tangannya dan bergerak maju untuk meninju Savrinadeya tapi gadis itu sudah siap. Tangan Yunita ditahannya lalu Savrinadeya membalikkan tubuhnya membelakangi Yunita, memberikan tinju di perut dengan sikutnya lalu menarik badan Yunita dan membantingnya dengan teknik judo.



Aksi Savrinadeya membuat para penghuni asrama heboh hingga memanggil pengawas asrama karena terjadi perkelahian. Linda yang baru saja datang dari rumah ibunya, hanya bisa melongo melihat bagaimana temannya dengan santainya membanting Yunita.


Deya! Are you okay? Linda menghampiri Savrinadeya yang mengambil hearing aidnya yang jatuh.


I'm okay Linda tapi tidak tahu kalau Yunita. Savrinadeya menatap dingin ke arah gadis yang baru saja dibantingnya. Jangan kamu anggap semua orang bisa kamu manipulasi karena aku bukanlah orang lemah seperti yang kamu kira.


Yunita menatap marah ke arah Savrinadeya sambil meringis kesakitan akibat perutnya terkena pukulan sikut.


Tak lama para pengurus asrama dan pihak keamanan kampus datang. Yunita dibawa ke klinik kampus sedangkan Savrinadeya dengan didampingi oleh Linda, harus menghadap polisi kampus memberikan keterangan.


***


Ruang Wawancara Polisi Kampus Gallaudet University


Savrinadeya dengan Linda kini berada di ruang wawancara bersama dengan Letnan Brandon yang fasih berbahasa isyarat.


Jadi nona McCloud hendak dipukul oleh nona Laksono? tanya Letnan Brandon. Masalahnya apa?


Savrinadeya menatap pria yang berusia sekitar empat puluhan itu. Saya hanya meluruskan bahwa jadi orang jangan suka berbohong.


Letnan Brandon menaikkan sebelah alisnya. Berbohong tentang apa?


Savrinadeya lalu menceritakan bahwa sebelumnya dia berada di apartemen Antonio Bianchi untuk menginap disana membuat Linda terkejut tapi mengingat mereka bersaudara sepupu, tidaklah heran jika mereka bersama.


Jadi nona Laksono tidak terima karena ketahuan berbohong dan emosi dengan anda lalu hendak menyakiti anda tapi anda ternyata punya kemampuan bela diri. Letnan Brandon menggelengkan kepalanya. Baik, saya proses laporan anda, nona McCloud. Untuk sementara anda saya ijinkan pulang tapi saya sudah meminta kedua orang tua anda datang kemari besok.


Savrinadeya mengangguk. Apakah kedua orangtuanya Yunita juga datang?


Letnan Brandon mengiyakan. Nona Laksono hendak menuntut anda, nona McCloud.


Linda melotot. Tidak bisa begitu, Letnan! Itu salah Yunita sendiri! Kenapa jadi Deya yang disalahkan! Protes Linda dengan berapi-api.


Itu memang hak nona Laksono, tapi besok saat kedua orangtua datang, baru kita bisa memperjelas semuanya. Letnan Brandon mencoba menenangkan teman Savrinadeya itu.

__ADS_1


Linda, sudahlah. Tidak apa-apa. Besok kan Daddy dan Mommy datang jadi tenang saja. Savrinadeya mengusap bahu temannya.


Malam itu Savrinadeya dan Linda kembali ke asrama namun Linda masih tidak puas karena Yunita main menuntut Deya padahal gadis itu tidak bersalah.


***


Kamar Savrinadeya dan Linda


Rama hanya mengusap wajahnya kasar sedangkan Astuti memegang pelipisnya. Apa yang mereka takutkan terjadi juga, Savrinadeya membanting Yunita akhirnya.


"Jadi kamu tinju ulu hatinya pakai sikut kamu lalu kamu banting. Gitu Deya?" tanya Rama sambil menatap sayang ke putri sulungnya.


Iya Daddy.


Linda hanya bisa melongo melihat bagaimana santainya kedua orangtuanya Savrinadeya menanggapi kasus putrinya. Coba kalau itu ibuku, sudah heboh semua tetangga tahu - batin Linda.


"Sekarang Yunita dimana?"


Di klinik kampus. Oh Mom, Dad, Yunita berencana menuntut aku.


Rama hanya mengangguk. "Sudah Daddy duga. Besok jadinya kedua orangtuanya datang kan?"


Savrinadeya mengangguk.


Hah? Kejadian aku dan Yunita mau dijadikan studi kasus mas Nelson? Savrinadeya memegang pelipisnya. Kakaknya yang kuliah di Harvard Law School itu memang sedang menyelesaikan skripsinya.


"Kan sekalian Deya, macam kamu tidak hapal Nelson saja" kekeh Rama.


Kedua orangtua Savrinadeya lalu mengobrol beberapa hal lalu mematikan hubungan video-nya.


Linda yang tidak tahan kepo, akhirnya bertanya dengan Savrinadeya. Kalian kok tenang-tenang saja sih? Kalau itu ibuku, sudah macam orang yang panik kompornya terbakar!


Savrinadeya tersenyum. Karena kami sudah biasa menghadapi banyak kasus yang jauh lebih berat dari ini, Linda. Bagi kami, ini kasus kecil.


Linda menggelengkan kepalanya. Kalian keluarga apa sih? Sultan tapi cuek dengan skandal.


Savrinadeya tertawa. Kalau skandalnya cuma ini, receh banget Linda. Sudah, kamu tenang saja. Yuk kita tidur, aku ingin istirahat.


***


Ruang Wawancara Polisi Kampus Gallaudet University Washington


Rama, Astuti, Travis dan Nelson Blair tiba di ruang wawancara Letnan Brandon. Kedua orang tua Yunita masih dalam perjalanan dari Pennsylvania.

__ADS_1


Letnan Brandon baru mengetahui siapa kedua orang tua Savrinadeya hanya bisa berharap Rama dan Astuti McCloud tidak menuntut balik.


Savrinadeya dan Linda yang datang usai kuliah, langsung mendapat pelukan dari sang mommy.


Are you okay? tanya Astuti.


So fine, mommy.


Rama lalu memeluk putrinya dan mencium pelipisnya. "Anak Daddy dan mommy memang deh!" senyum pria yang masih tampan di usianya yang mendekati kepala lima.


"Duh adik aku yang cantik. Puas banting nya?" kekeh Nelson sambil bergantian memeluk Savrinadeya yang dijawab anggukan gadis itu.


"Sabar ya Deya" senyum Travis sambil menepuk pelan kepala keponakannya.


"Iya Oom."


Tak lama kedua orangtuanya Yunita datang bersama dengan putrinya yang menggunakan kursi roda membuat Linda melengos sebal.


Lebay!


Budi Laksono lalu menyalami Rama McCloud begitu juga dengan Nurul Asih yang bercipika cipiki dengan Astuti. Lalu letnan Brandon mengajak kedua orangtua Yunita masuk ke dalam ruang wawancara bersama dengan Yunita.


Travis Blair ikut masuk juga sebagai perwakilan Savrinadeya sedangkan keluarga McCloud dan Nelson Blair serta Linda melihat dari balik kaca dua arah dengan ditemani deputi lainnya.


Di dalam sana, tampak Yunita menyalahkan semuanya ke Savrinadeya. Gadis itu memulai perannya sebagai korban kekerasan Savrinadeya.


"Jika memang Deya dengan sengaja melakukan penganiayaan itu, lalu ini apa?" Travis memperlihatkan rekaman CCTV dari iPad nya.


Budi Laksono dan Nurul Asih melihat bahwa bukan Savrinadeya yang memulai tapi putri mereka yang memulai.


Nurul Asih mengatakan pada Yunita bahwa ini adalah dirinya yang salah. Dan reaksi Yunita membuat banyak orang disana terkejut dengan beraninya membentak-bentak ibunya dengan bahasa isyarat yang Rama, Astuti, Savrinadeya dan Linda tahu bahwa itu kalimat kasar yang tidak pantas di ucapkan oleh seorang anak perempuan ke ibunya.


Wanita itu tampak menahan emosinya tapi akhirnya tidak tahan lalu menampar Yunita.


"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kalau saja Opamu tidak main gila dan memiliki anak haram macam kamu, tidak Sudi kami memelihara kamu! Masih bagus kami memelihara kucing atau anjing daripada monster seperti kamu!" bentak Nurul Asih emosi membuat semua orang terkejut kecuali Rama dan Savrinadeya.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2