Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena

Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena
Bobokin Raveena


__ADS_3

Mansion Bianchi di Turin


"So, Alexis. Sudah berapa lama ikut bang Tomat? Kamu umur berapa sih?" tanya Raveena sambil menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan menyandarkan kepalanya dengan lengan kanannya.


"Hampir enam tahun. Kalau usia...saya 28 tahun."


"Jiah beda jauh sama aku."


"Memang Signora usia berapa?" tanya Alexis ke gadis cantik itu.


"Aku mau 20 dan celakanya usiaku sama dengan sepupuku yang naudzubillah nakalnya..." jawab Raveena manyun.


"Siapa Signora?"


"Shinichi Park."


Alexis berusaha mengingat keluarga Park yang masih berkerabatan langsung dengan keluarga Bianchi.


"Apakah ibu Signor Hideo Park yang menikah dengan ayah mertua Signor Luca Bianchi?" tanya Alexis lagi mencoba mengingat silsilah keluarga bossnya.


"Yup. Heran aku sama Shinchan! Nuakaleeee amit-amit!"


"Hah? Anda bicara bahasa apa?"


"Eh sorry, aku kalau gemas malah keluar bahasa Jawa. Shinichi itu nakalnya luar biasa, hobinya bikin darting kami semua sepupunya."


Alexis tersenyum. "Anda itu yang mana sih Signora sebenarnya?"


"Maksudnya?"


"Aslinya anda seperti apa?"


"Dengar Alexis, jika aku bicara sudah amburadul macam ini, berarti akulah yang asli. Aku dikenal cewek urakan, seenaknya sendiri, tidak bisa dikekang dan jiwa seniku terutama akting sangat bersemangat meskipun masih kalah dengan Sakura Park yang jago main piano dan vocalnya bagus."


"Sakura Park?" tanya Alexis bingung.


"Adiknya Shinichi. Namanya Sakura."


"Ooohhh..."


Suara orang yang datang ke mansion terdengar yang berarti para pria Bianchi dan para agen FBI sudah selesai berurusan denga polizia Turin.


"Raveena, kamu tidak istirahat?" tanya Luke yang melihat adiknya masih mengobrol dengan Alexis.


"Masih belum bisa bobok" jawab Raveena manyun.


"Biasanya kamu gampang tidur..." celetuk Luca Bianchi.


"Mungkin masih kerasa adrenalin nya jadi aku susah untuk tidur Oom."


"Sini, bang Tomat bobokin... Addduuuhhh!" Antonio memegang kepalanya yang kena keplak Luca.

__ADS_1


"Kamu tuh! Ngejar Deya tapi malah mau main bobok-bobok sama Veena! Minta di dor sama Rama dan Pandu kamu?" hardik Luca kesal.


"Ih Oom Luca mikirnya kejauhan. Aku cuma mau ajak ngobrol sama Veena atau dongengin. Kan biasanya anak kecil kalau tidak bisa bobok harus ada dongeng sebelum tidur..." alasan Antonio. Dih, padahal aku kan ingin tahu Deya gimana. Kok tidak ada beritanya... Siapa tahu Raveena tahu.


"Tapi kalimatmu bikin ambigu tahu nggak! Dasar Tomat!" sungut Luke kesal.


"Iya aku salah kalimat..." jawab Antonio manyun.


Keempat agen FBI yang melihat kejadian itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Perasaan tadi sudah pada mau hajar kartel, bisa-bisanya santai banget ini.


***


Kamar Tidur Raveena.


Setelah drama harus tidur semua dan besok boleh bangun siang, akhirnya semua orang pun masuk ke dalam kamar tidur masing-masing. Raveena sendiri yang masih belum bisa tidur, memilih menghubungi Savrinadeya.


Melirik jam menunjukkan pukul dua malam, Raveena yakin Deya pasti belum tidur karena di Washington DC baru jam sembilan malam dan biasanya sepupunya itu masih membuat tugas.


Tak lama wajah ayu sepupunya tampak di layar MacBook nya.


"Hai" sapa Savrinadeya dengan menggunakan ketikan di layar karena Raveena tidak fasih bahasa isyarat berbeda dengan Nadira.


"Deya, kamu dicari."


"Sama siapa?"


"Bang Tomat!"


"Bang Tomat? Orang penjual tomat?" tanya Savrinadeya dengan wajah polos membuat Raveena terbahak.


"Oh mbak Veena di Turin ya. Gimana kabar bang Antonio? Sehat kan?" senyum Savrinadeya membuat Raveena melongo.


"Kamu hubungi deh! Aku tidak mau cerita soal kejadian yang menimpa kamu karena lebih syahdu kalau kamu yang cerita. Pasti jiwa sok pahlawan dan melindungi kamu akan muncul dengan seksama."


Savrinadeya tertawa. "Nanti aku hubungi bang Antonio deh."


"Sekarang, Deya! Kamu tahu, saking galaunya itu mafia tomat, sampai tadi bilang mau bobokin aku! Minta di dor sama Oom Rama dan Bokap beneran deh!"


Savrinadeya tertawa geli mendengar ucapan nyeleneh sepupu nya yang sama-sama kuliah di psikologi.


"Memangnya Oom Pandu tega gitu?" tanya Savrinadeya.


"Kamu tidak tahu saja kalau bokapku itu raja tega kalau sudah menyangkut anak wedhoknya satu ini yang cantik dan pintar ini."


Savrinadeya cekikikan. Tidak ada rasa cemburu saat mendengar celetuk Antonio ingin bobokin Raveena karena tahu sepupunya itu bukan tipe cewek baperan. Lagian ucapan Antonio Bianchi seperti itu sebelum terdengar oleh Daddynya, pasti sudah dihajar Oom Luca dan Abang Lukenya.


"Aku nanti hubungi bang Antonio. Belum tidur kan mbak orangnya?"


"Kayaknya sih belum..." Raveena menguap. "Dah, kamu urus tuh si Tomat daripada makin kacau otaknya!"


Savrinadeya tersenyum. "Selamat tidur mbak."

__ADS_1


"Night! Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


***


Kamar Antonio


Antonio Bianchi membuka jendela kamarnya dan menyalakan rokok untuk menghilangkan rasa galaunya. Gara-gara urusan dengan FBI dan Harland Rochester ditambah kelakuan keluarga besarnya Luke dan Leia yang main menghancurkan pabrik narkoba di Meksiko ( Baca The Bianchis ), dirinya sampai tidak sempat menghubungi Savrinadeya.


"Anak itu lagi apa? Semoga tidak terjadi apa-apa mengingat si Yunita masih menghubungi Gemma... Eh tapi seminggu ini Gemma kok tidak pegang HP terus..."


Suara panggilan video dari MacBook nya membuat Antonio menoleh dan wajah pria itu tampak sumringah melihat siapa yang menghubungi dirinya. Buru-buru Antonio mematikan rokoknya di asbak dan bergegas menerima panggilan video Savrinadeya.


"Halo sayang" sapa Antonio dengan wajah senang dan rindu yang tidak ditutupi. "Maaf ya sayang, tapi Abang di Turin ... Kacau deh! Tapi syukurlah semuanya sudah selesai. Kamu gimana kabarnya?"


"Kata Raveena, bang Antonio mau bobokin dia?" kekeh Savrinadeya dengan ketikan di layar.


Antonio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Salah ngomong aku tadi, Deya. Tapi sudah dikeplak Oom Luca. Lihat! Benjol!" Pria itu menunjukkan belakang kepalanya yang sebenarnya tidak apa-apa tapi tetap berdrama demi mendapatkan simpati pujaan hatinya.


Kasihan. Tapi salah bang Antonio sendiri, salah ngomong.


"Iya deh. Abang yang salah. Kamu ada cerita apa?"


Savrinadeya menceritakan tentang apa yang terjadi setelah Antonio kembali ke Turin hingga akhirnya Yunita ditahan akibat menjadi pelaku pembunuhan dan percobaan pembunuhan di dua negara.


Antonio hanya bisa terbengong-bengong mendengar cerita gadisnya dan bersyukur Savrinadeya terlindungi dari Yunita.


"Tunggu. Kamu beneran banting cewek itu?" tanya Antonio penasaran.


Savrinadeya mengangguk.


"Beneran dibanting. Dibanting... dibanting? Banting judo? Wuuussshhh gitu langsung terkapar?" seru Antonio tidak percaya dibalik wajah ayu dan kalem Savrinadeya tersimpan kemampuan bela diri disana.


Aku tahu semua anggota keluarga Pratomo harus belajar menembak dan bela diri. Tidak kusangka Deya bisa melakukannya.


"Bang Antonio, aku tuh bisa judo" jawab Savrinadeya.


"Yah sayang aku tidak disana" gumam Antonio.


Kenapa? Abang mau hajar Yunita?


"Bukan... Abang kan nggak bisa lihat kamu live banting orang."


Savrinadeya hanya menatap Antonio dengan perasaan tidak percaya.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2