
Mansion Bianchi Turin Italia
Leia yang penasaran dengan adiknya, lalu menyeret Raveena ke kamarnya untuk menginterogasi karena ini bukan kebiasaan gadis itu.
"Mbak, aku tuh mau dibawa kemana?" rengek Raveena yang masih bingung dengan kakaknya main tarik dengan tangannya yang tidak sakit.
Leia tidak berbicara apapun tapi langsung membawa ke kamar dan menguncinya. "Sekarang bilang sama mbak, kalian berdua tadi ngapain?! Kamu bilang sendiri atau mbak tanya ke pengawal bayangan kamu?"
Raveena menghela nafas panjang. "Tadi ke alun-alun kota Turin..."
"Terus?"
"Alexis mengajak minum kopi disana dan kami pun minum kopi plus sup cream. Sup nya enak lho mbak, roti baguette nya juga. Kapan-kapan mbak Leia..."
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Lanjut!"
Raveena manyun tapi melanjutkan ceritanya. "Kami ngobrol layaknya orang ngopi kan? Ya sudah..."
Leia memicingkan matanya. "Raveenaa..."
"Apaan sih!" cebik Raveena sambil buang muka.
"Raveena, dengar mbak. Kamu mending jujur atau Daddymu datang dan dengan Radeva menginterogasi Alexis?"
Raveena semakin memajukan bibirnya. "Kami berciuman! Puas!" jerit gadis itu kesal.
Leia melongo. "Kalian berciuman? Kalian berpacaran?"
"Well..." Raveena menggaruk kepalanya. "Belum sih cuma ciuman kok..."
Leia menggelengkan kepalanya. "Ya ampun Veena..."
"Hei, he's a good kisser dan aku suka caranya dia berciuman" jawab Raveena cuek.
"Veena, mbak tahu kamu sudah besar tapi apa yakin kamu dan Alexis?"
"Apa mbak Leia yakin dengan bang Dante?" balas Raveena yang membuat Leia sukses terdiam. "Mbak, aku orang yang jarang jatuh cinta tapi ini sih belum dibilang kita pacaran tapi setidaknya nyaman ciuman... dan aku suka Alexis."
__ADS_1
Leia melongo. "Kamu suka Alexis?"
"He's okay. Smart, funny, dan matanya itu lhooo, membuat aku gemas... blue..."
"Blue greyish" sahut Leia. "Biru kalau gelap, abu-abu kena terang."
"Exactly! Itu yang aku bilang sama Alexis" cengir Raveena.
"Veena, kamu tidak apa-apa dengan Alexis? Dan apa Alexis membalas kamu? Dia asisten Tomat lho!"
"Memang ada masalah mbak? Oma Danisha menikah dengan Opa Iwan yang notabene pegawainya, Oma Kristal menikah dengan Opa Ashley yang asisten Opa Junjun. So? Yang penting lolos screening tho?" eyel Raveena. "Gak usah jauh-jauh! Daddy dan mommy apa kabar? Pak Pandu kan dulu anaknya pegawainya Opa Duncan yang kemudian bekerja di MB Enterprise terus jatuh cinta dengan Bu Reana. Kalau Daddy masih ngeyel dan tidak setuja, tinggal aku remind dulu kayak apa ngejar mommy."
Leia memegang pangkal hidungnya, tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan adiknya yang memang dikenal keras kepala dan super ngeyel. Berbeda dengan Shinichi yang membuat darting dengan lebay, Raveena lebih menggunakan argumentasi yang masuk akal.
"Kamu itu benar-benar perpaduan Oma buyut Adara, Oma Rhea dan Oma Kaia. Stubborn!" sungut Leia kesal.
"Mbak Leia sayang, kalau kita nggak stubborn, kurang daya tariknya..." gelak Raveena.
***
Ruang Kerja Antonio Bianchi
"Apa yang kalian tadi lakukan saat jalan-jalan?" tanya Antonio dingin. Bukan apa-apa, kalau sampai si Alexis satu ini bikin perkara, bisa-bisa Oom Pandu dan Radeva datang! Dan aku tidak mau berhadapan dengan kembaran Raveena!
Radeva Dewanata adalah seorang atlit menembak di kampusnya di NYU dan sedang mengikuti seleksi olimpiade membawa bendera Amerika Serikat. Tak heran jika Antonio memilih menghindari konfrontasi dengan saudara kembar Raveena itu karena selain panasan, dia jago menembak!
"Hanya... jalan-jalan" jawab Alexis berusaha cool.
"Yakin hanya jalan-jalan?" cecar Luke.
"I-iya..."
"Alexis, kamu sudah bekerja denganku enam tahun dan aku tahu kapan kamu berbohong. Dan sekarang kamu sedang berbohong! Come on, kalian ngapain?" tanya Antonio.
"Kami minum kopi dan makan sup di cafe..." jawab Alexis. Ini aku tidak bohong. Jangan sampai Signora Raveena kenapa-kenapa.
"Hanya minum kopi?" Antonio menatap tajam ke asistennya.
__ADS_1
Alexis memajukan bibirnya pertanda dia berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Kamu mencium Raveena?" tebak Luke membuat wajah Alexis memucat.
Antonio melotot tidak percaya. "Kamu sudah mencium Raveena! Dasar asisten durjana! Kenapa kamu sudah duluan! Aku saja belum mencium Deya! Kamu sudah... Addduuuhhh!" Antonio memegang kepalanya yang terkena keplak Luke.
"Deya masih bayi! Dasar Oom - oom pedofil!" hardik Luke gemas. "So, Alexis, kamu dulu atau Raveena dulu yang mencium?"
Antonio melongo. "Apa maksudmu Raveena yang mencium terlebih dahulu?"
"Kamu tidak tahu saja kalau sepupuku itu terbiasa akting bahkan beberapa adegan di teater, dia mencium lawan jenis nya. Jadi untuk soal ciuman, dia sudah biasa. Sekarang jawab pertanyaan aku, siapa yang mencium?" Luke terkekeh melihat wajah Alexis memerah.
"Saya yang duluan..." jawab Alexis.
"Ya Tuhan, aku kalah lagiiii!" rengek Antonio.
"Kamu berani cium Deya, wassalam kamu sama Oom Rama!" hardik Luke kesal. "Alexis, apa kamu menyukai Raveena?" tanya Luke ke Alexis.
"Iya, dan mungkin sayang dengan Signora Raveena. Saya tahu saya hanya seorang asisten tapi saya dan Raveena sama-sama nyaman tadi." Suara Alexis mulai terdengar lebih percaya diri dibandingkan tadi saat dia agak takut - takut.
"Siapa yang tidak suka dengan adikku satu itu. Setidaknya perbedaan usia kalian berdua tidak separah" Luke melirik ke arah Antonio "Mafia wine Turin ini."
"Memangnya sejak kapan kamu tertarik dengan Raveena?" tanya Antonio yang manyun mendengar sindiran Luke soal perbedaan usia dirinya dan Savrinadeya yang jauh.
"Sejak di LAX."
Kedua Bianchi bersaudara itu hanya melongo.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️